
Di tempat Gibson dan lainnya berada.
Kini mereka dibuat panik karena salah satu kawan mereka diculik oleh seorang penyihir, tapi wujudnya seperti nenek-nenek.
"Jimmy!" panggil Nicolas lantang berlari ke arah remaja yang kini jatuh tersungkur di tanah.
Penyihir yang terkena panah Nicolas berusaha untuk bangkit menahan sakit.
"Cepat tangkap dia!" titah Gibson yang berhasil mendekati Jimmy dan membantunya berdiri meski mengalami lecet di telapak tangan.
Azumi dan Tina kini bersiap dengan tali yang mereka keluarkan dari tas ransel. Saat Mandarin dan Timo akan memegangi penyihir itu, tiba-tiba ....
"Wah! Apa ini?!" pekik Ryan panik saat tiba-tiba saja kabut tebal menyelimuti kumpulan mereka.
Praktis, pandangan mereka terganggu. Anak-anak yang awalnya yakin jika kawan mereka berada di sebelah, tiba-tiba tak terjangkau.
"Tina!" panggil Azumi lantang dengan panik karena sosok Tina tak tertangkap oleh matanya.
"AAAA!" teriak Lazarus tiba-tiba yang tadinya berada di sebelah Rangga.
"Zar!" panggil Rangga panik karena kawannya seperti tertarik oleh sesuatu hingga sosoknya tak terlihat.
"Berubah menjadi manusia! Mereka mengejar wujud Mitologi!" seru Gibson yang keberadaannya tak diketahui oleh anak-anak lainnya karena tertutupi kabut. Beruntung, Jimmy bersamanya.
"Juby! Berubah jadi manusia!" perintah Rex menatap kekasihnya tajam. Jubaedah kebingungan.
"Ju-Juby gak tau caranya berubah. Juby gak tau, Rexy!" jawabnya panik.
Praktis, Rex melebarkan mata karena baru mengetahui hal tersebut. Namun, pemuda itu menyadari akan sesuatu. Tiba-tiba saja, PLAK!
"Ah!" rintih Jubaedah saat Rex malah menampar pipinya. Rex terlihat pucat dan gugup saat melihat kekasihnya tampak terkejut.
PLAK! PLAK!
"Hiks, hiks, Rexy ... kamu jahat!" teriak Jubaedah dalam air mata yang mengucur deras karena ditampar oleh kekasihnya.
Seketika, langit bergemuruh. Jubaedah menangis sedih seraya memegangi pipinya yang merah.
Anak-anak terkejut saat langit tiba-tiba menjadi mendung dan angin bertiup kencang. Rex menatap Jubaedah lekat.
"Bego banget sih! Kenapa bisa gak tau caranya berubah? Kamu ngapain dari kemarin? Malah keenakan dengan wujud Mitologi ini?" bentak Rex yang membuat tangis Jubaedah makin menderu karena sakit hati.
Gadis manis itu menutup telinganya saat Rex mengatakan hal-hal buruk tentangnya. Embusan angin kencang membuat kabut di sekitar wilayah itu lenyap.
Sayangnya, langit ikut marah dan bersedih. Petir menyambar dengan tetesan air hujan mulai membasahi daerah itu.
Namun, sebuah kejutan baru membuat mata anak-anak melebar ketika mereka menyadari jika telah dikepung oleh beberapa penyihir di sekitar dengan wujud yang menyeramkan.
__ADS_1
"AAAAA!" teriak Nicolas histeris saat melihat seorang penyihir di sebelahnya.
Jubaedah yang masih terlarut dalam kesedihan tak menyadari hal itu. Gibson dan anak-anak lainnya berusaha melawan para penyihir yang mencoba untuk menangkap mereka.
Rangga terkejut saat melihat Lazarus telah berubah menjadi manusia, tapi wujud manusianya tergantung di sebuah pohon unik seperti jelly dan tak sadarkan diri. Ia dijaga oleh kucing hitam dari penyihir yang berhasil ditangkap.
"Hihihihihi!"
Rangga menoleh dan melihat seorang penyihir tua seperti ingin menangkapnya. Rangga yang masih berwujud Minotaur segera mengayunkan kapaknya dan CRAT!!
"Arrggg!" erang penyihir tersebut saat kepalanya tertancap kapak Rangga.
Namun, Rangga yang shock karena tak menyangka dengan perlakuannya langsung melepaskan kapak yang menancap di kepala penyihir itu. Rangga gemetaran dan jatuh di atas tanah dengan mata melotot.
CRATT!! BLUG!!
Penyihir itu melepaskan kapak Rangga yang menancap di kepalanya lalu melemparkannya jauh. Lepasnya kapak dari genggaman tangannya membuat Rangga berubah menjadi manusia.
Namun, Rangga yang shock malah terpaku di tempatnya duduk. Ia ketakutan saat melihat kepala penyihir itu berdarah dengan luka robekan besar, tapi tak membunuhnya.
Penyihir itu malah kembali mendatanginya seperti ingin menangkapnya dengan seringai iblis.
"Hah, hah, haaaa!" teriak Rangga histeris karena penyihir itu terbang melayang ke arahnya. Rangga memejamkan matanya rapat dengan tubuh menegang.
Seketika, "Oakkk!"
Wujud Phoenix dari Kenta membakar para penyihir yang mencoba untuk menangkap kawan-kawannya. Para remaja itu berlari kencang menyelamatkan diri dari semburan api Kenta.
"Bakar mereka semua, Kenta!" seru Laika lantang dan Kenta dengan sigap melakukan tugasnya.
Sayangnya, langit yang ikut menangis membuat usaha Kenta serasa sia-sia. Para penyihir yang terbakar itu berhasil memadamkan api di tubuh mereka, meski sebagian tubuh terbakar karena tersiram air hujan.
"Juby! Juby!" panggil Tina mencoba membuat kawannya berhenti menangis.
Timo terlihat panik karena ia berubah menjadi merman karena terkena air hujan dan para penyihir kini mengincarnya.
Rex yang merasa bersalah langsung memeluk kekasihnya. Jubaedah menangis sesenggukan sampai tubuhnya bergetar.
"Rex minta maaf, Juby. Rex sengaja melakukannya. Kemampuanmu bisa menolong kita. Hanya saja, kalau Rex minta kamu nangis, pasti kamu gak bisa. Jadi ... Rex sengaja nampar kamu. Maaf ya," ucap Rex seraya mengelus punggung kekasihnya lembut yang ikut basah kuyup karena hujan.
Seketika, tangis Jubaedah reda. Rex terkejut saat hujan deras itu tak lagi mengguyur dan berubah menjadi gerimis.
Rex melepaskan pelukannya dan menatap kekasihnya lekat. Rex tersenyum karena Jubaedah bisa mengerti kondisinya.
Namun, PLAK! PLAK! PLAK!
__ADS_1
"Aw!" rintih Rex yang mendapat balasan tamparan tiga kali di pipinya dari sang kekasih.
"Rex ngeselin. Juby sebel sama Rexy. Pokoknya, kita putus!" ucapnya marah dan langsung pergi dari pemuda tampan itu.
"What?" ucap Rex terkejut kebingungan. "Juby! Rex minta maaf! Kan Rex udah bilang kalau Rex sengaja biar kita selamat," teriak Rex mengejar sang kekasih yang dirundung amarah itu.
"Dasar dinosaurus nyebelin! Pokoknya Juby marah! Kita putus, gak mau tau!" jawab Jubaedah berjalan dengan gusar dan napas menderu.
Seketika, langit kembali berubah. Tiba-tiba saja, udara panas berhembus seperti di padang gurun. Anak-anak kembali panik karena badai gurun datang ke arah mereka.
"Semua berlindung!" teriak Gibson yang bersusah payah untuk menyelamatkan diri dari penyihir, tapi kini malah harus berusaha menghindar dari badai yang membawa butiran pasir ke arah mereka dalam jumlah banyak.
"Run!" teriak Vadim lantang dan semua anak berlari kencang menghindari amukan badai dari suasana hati Jubaedah yang sedang kalut.
Rex melihat kekasihnya terus melangkah menjauh darinya ke arah badai seperti tak takut jika dia akan diterjang.
"Juby!" panggil Rex lantang berlari kencang ke arah Jubaedah meninggalkan kopernya.
Ryan yang melihat jika Rex meninggalkan benda berharga itu berlari mengambil koper tersebut dan mengamankannya.
Sedang Rex, terus berlari melawan angin kencang yang siap untuk menghempaskan tubuhnya.
"Juby!" panggil Rex lantang yang tak bisa melawan dahsyatnya badai gurun. Benar saja, "AAAAA! JUBY!"
WHOOM!!
"AAAAA!"
Semua anak dan para penyihir di wilayah itu terhempas oleh badai gurun. Jubaedah berdiri diam dengan wajah sendu penuh kesedihan seperti kehilangan jiwanya.
"Rex jahat. Rex bikin Juby sakit hati. Juby gak mau nikah sama Rexy. Juby gak mau," ucapnya sedih dengan air mata menetes.
Gadis manis itu berjalan begitu saja menerobos badai buatannya dengan sendu.
Seketika, badai gurun itu lenyap setelah menerbangkan makhluk-makhluk yang masuk dalam jangkauannya.
Cuaca kembali berubah dan kini menjadi tenang seperti tak berangin, tapi terasa dingin. Hujan salju mulai turun dan membuat daratan itu kini berubah putih.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy makasih tipsnya mbk Aju❤️ yg lain mana uyy~
__ADS_1