
Timo dan timnya segera bergegas pergi untuk mencari keberadaan Tina. Merman itu sangat cemas, mengingat adiknya pasti ketakutan dan sendirian di tempat tak dikenal.
Kegelapan mulai menyelimuti wilayah tersebut. Beruntung, tubuh Hihi berkilau seperti kunang-kunang sehingga tim yang mengikutinya masih mendapatkan penerangan saat menyusuri tepian sungai.
Di tempat Tina berada. Gadis itu terbangun karena mendengar suara derap langkah seperti menuju ke arahnya.
Tina langsung membuka mata dan menyingkir dari tempatnya. Ia bersembunyi di balik sebuah batuan sungai seraya mengintip.
Tina baru menyadari, jika hari sudah gelap. Anehnya, tempat ia bernaung tetap terlihat terang karena lumut yang tumbuh di batuan sungai bersinar terang dengan cahaya biru. Tina tampak kagum saat menyentuh lumut-lumut itu.
Namun seketika, senyumnya sirna. Mata Tina melebar ketika melihat makhluk hampir setinggi tubuhnya tampak menyeramkan muncul dari baik hutan. Tina berasumsi jika makhluk-makhluk itu adalah Goblin.
Tina melihat para Goblin membawa beberapa telur naga dalam dekapan. Mata Tina melebar ketika dua Goblin meletakkan telur-telur itu di tanah seperti ingin melakukan sesuatu.
Sayangnya, Tina tak mengerti dengan ucapan dari para Goblin itu. Tina terus mengamati hingga matanya melotot saat melihat seorang Goblin mengambil sebuah batu cukup besar seperti ingin memecahkan telur naga.
Padahal, dalam telur itu terlihat embrio naga yang bergerak. Sontak, Tina langsung keluar dari persembunyiannya.
"Hentikan!" teriaknya lantang dengan mata melotot.
Ternyata, teriakan Tina terdengar sampai ke tempat tim Timo berada. Dengan sigap, anak-anak itu bergegas menuju ke asal suara. Timo terlihat tergesa saat berenang menyusuri sungai dan berharap jika adiknya baik-baik saja.
"Orrggg," erang para Goblin saat melihat sosok Tina yang berdiri di samping batu melindunginya.
Tina tampak gugup, tapi perlahan, tangan kanannya merogoh ke dalam celah leher baju yang dikenakannya. Para Goblin berjalan mendekat seperti siap untuk menyerang.
Tiba-tiba, seringai gadis cantik itu muncul saat ia menunjukkan sebuah taring yang ia jadikan kalung.
"Org! Org!" seru para Goblin saat melihat gadis cantik itu mulai berubah wujud dengan bulu muncul di sekujur tubuhnya.
Namun kali ini, bulunya berwarna putih tak hitam seperti biasanya. Sayangnya, Tina tak menyadari perubahannya karena ia fokus untuk menyelamatkan telur-telur naga.
"Goarrr!" erang Tina ketika dirinya telah berubah sepenuhnya menjadi gadis serigala. "Auuuuu!" Lolongnya yang membuat semua pendengar bergidik ngeri.
"Apa itu? Serigala?" tanya Pasha panik saat menikmati makanan dalam kemasan sebagai bekal terakhirnya.
"Jangan-jangan ....," sahut Gibson menduga.
"Tina!" seru anak-anak lainnya yang merasa jika lolongan serigala itu adalah adik dari Timo.
"Suaranya deket loh. Kita susul aja gimana? Juby yakin kalau Tina gak jauh dari sini," sahut Jubaedah bersikeras.
Semua anak saling memandang terlihat bingung dalam bersikap.
"Begini saja. Mandarin dan Harun tetap di sini melindungi Kenta, Vadim, Pasha dan para kurcaci. Aku dan siapa pun yang ingin ikut kupersilakan. Namun, jika kita tak menemukan jejak Tina, kita harus segera kembali," tegasnya langsung berdiri.
"Jika kalian tak datang sampai besok pagi?" tanya Azumi cemas.
"Kalian tetaplah pergi ke sarang naga. Kesembuhan Kenta prioritas kita sekaligus mengembalikan telur-telur itu ke induknya," jawab Gibson cepat.
"Hati-hati," ucap Kenta merasa dirinya menjadi beban.
__ADS_1
Gibson mengangguk dan segera memimpin kawan-kawannya menuju ke asal suara lolongan itu. Namun kali ini, Juby nekat memanggil nama adik Timo seraya terus berlari.
"TINA! TINA!" panggilnya tak terlihat takut jika ditemukan oleh makhluk Mitologi lainnya.
Rex menyiagakan belati Silent Blue dalam genggaman untuk melindungi kekasihnya.
Gibson memimpin di depan menyusuri tepian sungai memimpin kawan-kawannya yang ingin menolong Tina karena dirasa, gadis itu dalam bahaya.
Ternyata, suara lolongan Tina ikut terdengar oleh anggota kelompoknya. Bobby dan Oscar dengan sigap berdiri. Mereka mematikan api unggun. Keduanya menggunakan obor untuk menyusuri hutan mencari asal suara.
"Goarrr!" erang Tina yang kini menjadi serigala putih.
Ia berusaha melindungi telur-telur naga dengan berbagai species dari cengkeraman para Goblin karena ingin memecahkannya.
"Horg!" erang Tina saat ia melompat dan menerkam salah satu Goblin bertubuh hijau tersebut.
Para Goblin melakukan perlawanan. Mereka memukuli tubuh serigala Tina dengan batang kayu saat ia berhasil menggigit salah satu tangan Goblin hingga makhluk itu mengerang kesakitan di atas tanah.
BUAKK!
Serigala putih itu merintih saat punggungnya dipukul kuat dengan sebuah batang kayu. Gigitannya terlepas meski lawannya terluka parah.
Tubuh serigala Tina ditarik lalu dilempar oleh salah satu Goblin hingga gadis malang itu tersungkur di atas tanah.
"Org! Org!" Para Goblin mulai menyuarakan kekuasaannya. Tina merasakan sakit di punggungnya hingga ia tak bisa bergerak lagi.
Tina memejamkan matanya rapat yang masih dalam wujud serigala putih saat para Goblin berlari ke arahnya untuk menyerang dengan batang kayu dalam genggaman.
Ia terkejut melihat sekumpulan anak muncul menyerang para Goblin tak terlihat takut. Tina berusaha bangun, tapi ia roboh lagi karena merasakan sakit di punggungnya.
"TINA!" panggil seorang lelaki yang suaranya seperti ia kenal.
Tina menggeser kepala serigalanya dan melihat sosok lelaki berambut panjang keluar dari sungai merayap ke tepian. Mata Tina sayu dan penglihatannya menjadi samar.
Dingin ... apakah ... salju turun? ucapnya lirih dalam hati saat ia merasakan hamparan tanah di depannya berubah menjadi putih seolah ia berbaring di atas tumpukan salju.
Tina melihat bulir-bulir salju turun di sekitarnya. Perlahan, Tina memejamkan mata. Napasnya mulai melemah dan tubuhnya tergolek lemas.
"Yeah!" teriak anak-anak saat mereka berhasil mengusir para Goblin dengan semangat.
"Tina! Tina!" panggil Timo yang sudah berwujud manusia lagi.
Remaja itu berlari mendekati adiknya yang lunglai seperti tak bertulang saat ia memangkunya.
"Tina, hiks, Tina ...." tangis Timo karena adiknya tak menjawab panggilannya. Timo bisa merasakan jika Tina masih hidup, tapi seperti sekarat.
Semua anak berkumpul terlihat sedih. Kurcaci topi biru mendekati telur-telur naga yang ditinggalkan. Ia mengambil sebuah telur yang sudah retak. Kurcaci itu memejamkan matanya sejenak lalu membawa telur itu ke arah Timo.
"Apa yang akan kaulakukan?" tanya Nicolas bingung saat ia melihat kurcaci itu memegang sebuah batu dan KRAK!
__ADS_1
"Oh!" kejut anak-anak termasuk Hihi karena kurcaci itu memecahkan ujung dari telur itu.
"Rebahkan dia, buka mulutnya. Cepat!" pinta kurcaci tersebut seraya memegang telur naga yang sudah kehilangan lapisan pelindung pada bagian atasnya. Cahaya dari dalam telur itu mulai meredup.
Timo melebarkan rahang serigala putih yang diyakininya adalah Tina. Kurcaci tersebut menuang isi dari telur naga dengan embrio ikut tertelan dalam mulut serigala.
Timo dan anak-anak lainnya yang melihat hal itu langsung memalingkan wajah dengan mata terpejam melihat kengerian itu.
Kurcaci itu dengan sigap menutup rahang serigala putih agar cairan telur dan embrio tersebut tak keluar. Ia meminta Timo untuk mengangkat serigala itu.
Dengan sigap, Timo dibantu Nicolas mengangkat tubuh serigala besar hampir setinggi tubuh mereka, dan membuat makhluk itu dalam posisi berdiri dengan dua kaki.
Ryan memegang rahang serigala itu dengan mengarahkan kepalanya ke atas seperti orang mendongak menantang langit. Tiba-tiba, sebuah keajaiban terjadi.
"Wow! Wow! Wow!" seru Nicolas terkejut saat tubuh serigala putih itu melayang.
Anak-anak mundur dengan mata terbelalak lebar ketika muncul dua buah sayap dari tubuh serigala putih tersebut.
Seketika, mata serigala itu terbuka lebar. Cahaya kuning menyala terang di kedua matanya. Kurcaci Topi Biru dan Hihi tampak terkejut.
Kedua makhluk itu malah bersujud seperti melakukan hormat pada serigala putih yang bercahaya dan memiliki sayap layaknya burung.
"Ti-Tina?" panggil Timo tergagap karena perubahan wujud dari adiknya.
"Timo?" jawab serigala putih itu yang tubuhnya kini memijak tanah di mana sekitar tempat itu berubah putih seperti musim dingin bersalju.
Ryan dan Nicolas dibuat kagum akan kekuatan magis yang baru dilihat oleh keduanya.
"Hahaha! Tina!" seru Timo senang dan langsung berlari memeluk adik perempuannya.
Tina balas memeluk dengan tubuh serigalanya. Kakak beradik itu tampak bahagia karena akhirnya bertemu meski tragedi naas hampir merenggut nyawa Tina.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Tina sedih dengan air mata menetes di balik kilau warna emas bola matanya.
"Maaf jika aku baru bisa menemukanmu," ucap Timo ikut bersedih.
Serigala itu tersenyum dan malah menjilat wajah Timo. Pria itu langsung memejamkan mata terlihat jijik karena ia seperti dijilat oleh seekor anjiing.
"Suer. Ini keren banget. Nico sampai merinding," ucapnya melihat keajaiban dari perubahan dalam diri Tina.
Tina melihat kurcaci dan Hihi yang masih membungkuk hormat padanya. Tina mendekati keduanya lalu mengendus dua makhluk itu. Seketika, kurcaci dan Hihi langsung berdiri terlihat gugup.
"Aku sempat melihat kau melakukan sesuatu padaku. Aku ingin mengucapkan terima kasih," ucap Tina yang kini bisa berbahasa Mitologi.
"Sama-sama, Lady Wolf," jawab Kurcaci yang membuat semua pendengar terkejut karenanya.
"Lady Wolf?" tanya Timo, Ryan dan Nicolas bersamaan. Tina ikut bingung dan hanya mengedipkan mata serigalanya.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE
.