MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BOAS*


__ADS_3


Di sisi lain, Markas peninggalan para Minotaur.


Gibson akhirnya meminta semua anak untuk berkumpul di dalam bangunan. Para remaja itu setuju seraya saling mengenal satu persatu karena kini mereka menjadi kelompok besar.


Meski demikian, Boas masih diawasi ketat oleh kelompok Rangga karena pria itu tiba-tiba muncul dari portal dan membuat Jubaedah tak diketahui keberadaannya hingga malam menjelang.


"Jadi ... kauberasal dari Australia?" tanya Rangga karena Boas bisa berbahasa Indonesia.


"Yes," jawabnya mantap seraya menikmati cemilan terakhir pemberian dari Pasha.


"Sebelumnya, kelompokmu beranggotakan berapa orang?" tanya Lazarus ikut penasaran.


"Lima. Namun, hanya aku yang tersisa. Aku mendapatkan misi untuk mengalahkan Medusa. Aku berhasil. Dan, seperti yang kubilang tadi, ketika aku akan mendapatkan hadiahku, malah ini yang terjadi," keluhnya dengan kemeja tak ia kancingkan seperti sengaja memamerkan tubuhnya yang indah.


Tentu saja, Azumi dan Tina tertarik. Para remaja pria yang menyukai dua gadis itu terlihat kesal.


Sejak kehadiran Boas, pemuda itu seperti merebut kesempatan mereka untuk lebih dekat dengan dua bidadari cantik itu.


"Sepertinya, ada yang aneh," sahut C tiba-tiba.


"Tentang apa?" tanya L menatap kawannya serius.


"Setelah Boas keluar dari portal, benda itu menghilang. Padahal, yang menyelamatkan kita ada banyak orang. Kelompok dari Gibson belum mendapatkan hadiah mereka untuk berubah menjadi makhluk Mitologi," jawabnya.


Semua anak yang menyadari hal itu mengangguk setuju karena ucapan C benar adanya.


Boas yang sudah diceritakan tentang latar belakang dari kumpulan anak-anak di sekelilingnya mulai paham dengan situasi sulit yang sedang mereka jalani.


"Apakah ini pertanda Oag sedang lemah? Apakah karena itu, para Minotaur tersebut mengajak berperang?" tanya Bara menduga.


"Entahlah. Kita saja tak tahu di mana markas Oag. Seperti apa wujudnya, berapa pasukannya, apa peran dia dalam permainan gila ini, tak ada yang memiliki detailnya," jawab Timo menimpali.


"Aku pernah melihat sebuah pesawat aneh muncul dari balik awan," sahut Boas yang mengejutkan semua anak.


"Oh! Apakah pesawat itu seperti sebuah gangsing? Bentuknya unik," sambung Gibson seraya mendekat.

__ADS_1


"Ya, itu benar. Kau juga melihatnya?" tanya Boas menunjuk Gibson dan pemuda itu mengangguk.


"Maksudmu ... seperti pesawat alien?" tanya Tina memastikan. Boas dan Gibson mengangguk bersamaan.


"Apa kautahu, ke mana perginya pesawat itu?" tanya Kenta ikut mendekat.


"Tidak, tapi ... pesawat itu menjatuhkan sesuatu. Sebuah drone yang memindaiku sebelum aku tersedot ke sebuah portal," jawabnya yang membuat mata semua anak melebar.


"Drone? Oh, ya! Kami ikat benda terbang yang memancarkan sinar itu," sahut Nicolas ikut merapat.


"Lalu ... di mana drone itu sekarang?" tanya Harun penuh selidik.


"Ada di tas ranselku. Sayangnya, semua perlengkapanku tertinggal di tempat aku menjalankan misi. Aku pernah melihat perubahan beberapa anak setelah berhasil menyelesaikan misi. Aku berpikir setelah berubah menjadi makhluk Mitologi, aku akan tetap berada di tempat itu. Bukankah teknisnya mudah? Menyelesaikan misi, melewati portal, dan tada! Kita berubah menjadi makhluk Mitologi setelah berhasil mengalahkan makhluk itu sebelumnya," jawab Boas santai lalu memasukkan makanan ke mulutnya.


Anak-anak yang belum mengetahui teknis itu mulai mengangguk paham. Sedang anak-anak yang mulai menyadari hal itu terlihat makin serius berpikir.


"Apakah kau memiliki strategi khusus untuk menyelesaikan misi?" tanya Gibson penuh selidik.


"Aku pernah bertemu sebuah kelompok beranggotakan 3 orang. Semua perempuan. Mereka berhasil menyelesaikan misi. Dan kerennya, mereka bertiga berubah bersamaan menjadi Cerberus," jawabnya santai.


"Cerberus adalah makhluk dari mitologi Yunani, hewan peliharaan Hades. Cerberus digambarkan sebagai anjiing berkepala tiga yang mampu menyemburkan api. Makhluk itu merupakan penguasa dunia bawah. Tujuannya adalah menjaga agar tidak ada arwah yang melarikan diri dari dunia arwah. Namun, di sini tak ada hal seperti itu. Dewa seperti Zeus, dan lainnya tak ada di Planet ini. Semua anak yang telah berubah, tak ada yang menjadi Dewa seperti kisah Mitologi," jawab Boas yakin.


"Kau benar juga. Padahal kau mengalahkan Medusa. Kalau tidak salah, dia 'kan salah satu Dewi ya?" tanya Bara dan Boas mengangguk.


"Lalu ... sekarang kita bagaimana?" tanya Ryan mendekat.


"Kita bermalam di tempat ini. Lalu besok pagi, kita rencanakan misi kita berikutnya untuk mencari Jubaedah. Bagi yang ingin ikut, aku dan kelompokku persilakan. Namun, jika ingin pergi sesuai dengan rencana yang sudah kalian susun sebelumnya, silakan saja, tak ada paksaan," jawab Gibson menjelaskan.


Anak-anak terdiam, tapi memikirkan dengan serius ucapan dari pria berwajah seperti campuran Timur Tengah itu.


Boas mendekati Gibson saat anak-anak lainnya berpetualang di sekitar bangunan untuk mencari apa pun sebagai petunjuk dan penyambung hidup selama di Planet tak dikenal tersebut.


"Hei," sapa Boas saat Gibson sedang menyiapkan alas untuk tidur Azumi dan Tina malam itu.


Gibson yang sedang berjongkok saat menggelar kain biru milik Nicolas dan Harun dari temuan di gua Yeti, segera berdiri dan menyambut panggilan itu.


"Kau sepertinya pemimpin kelompok ini," ucap Boas menebak.

__ADS_1


"Bukan. Hanya saja, entahlah. Mereka seperti membiarkanku berbicara dan memimpin. Padahal, aku terserah saja siapa yang ingin menjadi pemimpin kelompok," jawab Gibson melihat kawan-kawannya, tapi para remaja itu malah memalingkan wajah seperti berpura-pura tak mendengar. Boas tersenyum tipis.


"Aku tak punya tujuan. Aku ikut saja untuk mencari kawan kalian itu. Jujur, aku tak tahu tempatku berada sebelumnya ada di mana. Aku tak memetakan wilayah," jawabnya mengembuskan napas lelah seraya bertolak pinggang.


"Aku memotret beberapa tempat yang pernah didatangi sebelumnya," ucap Ryan yang mengejutkan beberapa anak termasuk Boas.


"Ya, kami juga," sahut Vadim dan diangguki Pasha.


"Oke. Berkumpul," pinta Gibson kembali berjongkok dan diikuti anak-anak lainnya yang masih berada di ruangan tersebut. Boas menatap Gibson saksama.


"Ryan. Keluarkan peta buatanmu sebelumnya," pinta Gibson dan pemuda berwajah India campuran itu segera mengeluarkan bukunya.


Boas terlihat kagum karena mereka telah melewati banyak wilayah. Ryan memberitahu di mana saja mereka berpetualang selama ini.


Beberapa anak tak menyadari jika Ryan diam-diam memotret meski lebih banyak selfi ketimbang pemandangan alam.


"Oh! Gunung ini! Aku ingat gunung berapi ini. Tempatku menyelesaikan misi tak jauh dari tempat ini," ucapnya Boas semangat seraya menunjuk layar ponsel Ryan saat pemuda itu menggeser foto-foto yang berhasil dijepret.


"Itu ... jauh sekali. Tempat itu pertama kalinya aku bertemu naga api dan hampir mati. Beruntung, Rex dan Juby menyelamatkanku. Aku tak mau kembali," jawabnya menolak.


"Tapi Juby ada di sana, Ryan. Kita harus menjemput dan menolongnya. Selain itu, kau ingat tanganmu yang bercahaya? Kau mendapatkan keajaiban itu di sana. Tempat itu tak begitu buruk 'kan?" sahut Rex mengingatkan dan Ryan mengangguk membenarkan setelah teringat akan peristiwa unik itu.


"Rex, apa kauingat rute itu?" tanya Gibson menatap kawannya lekat.


"Ya, sedikit. Namun, jangan khawatir. Kalian ingat 'kan jika aku bisa berubah menjadi naga. Hal itu, akan menjadi mudah untuk membawa kita semua cepat sampai ke sana," ucapnya dengan senyuman.


"Wah, itu benar. Hidup, Rexy!" seru Pasha gembira.


Semua anak yang mendengar terlihat senang. Gibson menepuk pundak Rex seperti bangga padanya.


"Kita akan menyelamatkan Juby. Jangan khawatir, dia gadis tangguh," ucap Gibson menyemangati dan Rex mengangguk setuju.


***



pendek dulu ya epsnya. laper uyy dan badan masih pegel parah. tengkiyuw tipsnya mbak Aju. Lele padamu❤

__ADS_1


__ADS_2