
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Kenta panik karena Lazarus tertangkap oleh salah satu raksasa. Saat Kenta siap untuk berubah, tiba-tiba, SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!
"Harggghhh!" raung raksasa itu ketika lengannya tertancap tiga anak panah sekaligus dari sosok Elf Nicolas yang telah membidiknya di kejauhan.
JLEB!
"Arghh!" erang raksasa itu lagi ketika Lazarus menghunuskan pedang Centaur miliknya yang selalu ia kaitkan di pinggang.
Cengkeraman raksasa terlepas karena tusukan pedang itu merobek kulitnya. Lazarus jatuh dengan keras ke atas tanah, tapi dengan sigap berdiri. Kenta melongok untuk melihat kondisi sahabatnya.
"Fokus pada cerminmu, Kenta! Aku baik-baik saja!" teriak Lazarus seraya mengambil pedang dan perisainya yang terjatuh.
"Oke!" jawab Kenta mantap dan mempercayakan kawan-kawannya untuk mengalahkan para raksasa. "Cermin ajaib! Katakan padaku barang-barang berharga milik 13 para raksasa yang dicuri dari Oag!" serunya lantang.
Seketika, cermin menunjukkan ketigabelas benda itu. Kenta mengamati benda-benda itu seksama dengan bibir bergerak seperti mencoba untuk mengingat, hingga akhirnya tampilan itu hilang.
Kenta langsung membuka tasnya seperti mencari sesuatu. Ia terlihat panik saat tak menemukannya.
Namun, Kenta tak kehabisan ide. Ia menggunakan debu di lantai menara batu dan menuliskan di tembok.
Bibir Kenta bergerak seirama dengan telunjuknya. "Agh, baru sepuluh. Tiga lagi apa tadi? Inget baik-baik Kenta," ucapnya seraya memejamkan mata rapat seraya mengetuk-ngetuk kepala. "Yah! Aku ingat!" serunya kemudian. Kenta lalu berdiri dan melihat kawan-kawannya berada. "Ryan! Ryan!" panggil Kenta lantang dari atas menara.
Ryan yang kini berwujud Tuan Pohon segera menoleh. Ia melihat Kenta berseru padanya dan meminta untuk datang.
"Pergilah! Akan kuhadapi mereka!" seru Harun dalam wujud Yeti dan pedang Elf dalam genggaman.
Ryan segera berlari, tapi lebih tepatnya seperti berselancar di atas tanah. Para raksasa yang melihat pergerakan Tuan Pohon terkejut karena tak pernah menyaksikan sosok itu bergerak demikian.
"Kalian lihat itu? Dia seperti meluncur di atas tanah," ucap seorang raksasa menatap Ryan saksama di kejauhan.
"Kau kehilangan fokusmu, Tuan!" seru Rex lantang yang terbang menukik tajam ke arah tiga raksasa yang bergerombol.
Tiga manusia besar itu terkejut dan menoleh seketika. Namun, WHURRR!
"Hargghh!" erang tiga raksasa itu saat mulut naga Rex menyemburkan asap hijau beracun.
"Yeah! Bagus, Rex!" seru Harun yang dengan sigap menghindar saat tahu jika Rex akan menyerang.
Ryan berhasil tiba di bawah menara dengan selamat dan langsung meninggikan tubuhnya.
"Ryan. Aku pinjam buku dan pulpenmu. Cermin ajaib memberitahukan ketiga belas benda itu. Cepat!" serunya.
Ryan terkejut, tapi mengangguk. Kenta dengan sigap naik ke atas kepala Tuan Pohon untuk dibawa turun.
Ryan mengubah dirinya menjadi manusia lagi lalu membuka tasnya dengan sigap. Kenta merobek selembar kertas menjadi 13 bagian dan meminta Ryan untuk memberikan kepada kawan-kawan lainnya.
Ryan menatap Kenta lekat yang dengan sigap menuliskan satu per satu dari benda-benda itu. Kenta lalu melipatnya kasar dan memberikan pada Ryan.
"Aku akan melindungimu dengan sosok Phoenix. Jika aku yang memberikannya, kertas itu akan terbakar," ucapnya seraya memberikan sekumpulan lipatan kertas tersebut.
"Oke! Aku siap!" jawab Ryan mantap.
__ADS_1
"Eakkk! Ayo!" seru Kenta saat ia berubah wujud.
Ryan dengan sigap berlari. Kenta terbang di atasnya melindungi Ryan yang mendatangi Timo di mana sahabatnya tampak terdesak karena tak bisa kabur dari seorang raksasa yang berdiri di hadapan.
"Timo!" panggil Ryan lantang yang kemudian berubah menjadi Tuan Pohon.
Timo dengan sigap menoleh dan melihat Kenta serta Ryan datang padanya. Raksasa itu menyadari kedatangan bala bantuan. Timo memanfaatkan hal tersebut dengan berkelit ke samping untuk melarikan diri.
WHOOM!
"Harghh!" erang raksasa itu saat Kenta menyemburkan napas apinya.
Ryan dengan sigap merunduk sebelum serangan datang dan menangkap tubuh Timo yang berlari ke arahnya.
Kenta berlari membawa Timo ke istana para raksasa. Timo bingung saat diturunkan ke sebuah jendela terbuka dan duduk di bingkai.
"Cari benda-benda ini. Aku akan bawa lainnya untuk membantumu. Cepat dan temui aku di menara saat kau berhasil mendapatkannya," ucap Ryan seraya memberikan sekumpulan kertas dari genggaman tangan kayu.
"Hah, oke, oke!" jawab Timo dengan napas tersengal.
Pemuda itu dengan sigap turun dari bingkai jendela dibantu Ryan menggunakan tangan kayu yang menjadi panjang seperti tongkat.
"Hati-hati. Mereka sungguh kuat!" ucap Timo seraya memasukkan kumpulan lipatan kertas itu dalam sakunya.
Ryan mengangguk dan segera pergi. Timo berlari menyusuri koridor dan berhenti di saat menemukan tangga. Ia berjongkok dan membuka semua lipatan kertas itu.
"Oh! Ini pasti benda-benda milik para raksasa yang dikatakan berharga itu," ucap Timo saat mensejajarkan semua lipatan kertas yang sudah ia buka. Namun seketika, keningnya berkerut. "Eh, benda ini kan?" ucapnya seperti menyadari sesuatu.
Saat semua anak dibuat sibuk untuk melumpuhkan para raksasa yang ternyata sulit ditaklukkan, Timo kembali keluar dari istana.
"Kau sudah menemukannya semua? Cepat sekali!" seru Kenta dengan wajah berbinar, tapi Timo menggeleng cepat.
"Hah, hah, benda-benda ini ada pada tubuh para raksasa itu. Lihatlah!" seru Timo seraya menunjuk seorang raksasa dengan satu mata seperti Cyclops.
Kenta dan Ryan yang kembali dalam wujud manusia saling memandang. Mereka yang sudah membaca isi kertas dan mengingat benda-benda itu mengamati satu per satu para raksasa tersebut.
"Kau benar, Timo! Pantas saja aku merasa aneh dengan nama benda-benda ini. Ternyata, mereka memasang di tubuh! Mengerikan sekali!" ucap Kenta bergidik ngeri.
"Maaf, aku tak bisa berubah. Namun, aku bisa membantu," ucap Timo dengan keringat bercucuran.
"Naiklah ke kepalaku. Kita kabarkan pada kawan-kawan lainnya!" ajak Ryan yang dengan sigap berubah menjadi Tuan Pohon.
"Aku akan melindungi kalian. Ayo!" sahut Kenta langsung berubah menjadi Phoenix.
"Ayo!" teriak ketiganya penuh semangat.
Tiga anak itu terlihat serius saat membidik salah satu raksasa yang memiliki tanduk.
"Bagaimana kita melepaskan tanduk itu? Memenggal kepalanya? Kejam sekali!" tanya Timo yang langsung pucat.
"Tanduk itu tertanam di kepalanya. Kurasa itulah satu-satunya jalan," jawab Kenta yang membuat Timo langsung memejamkan mata.
"Oh, aku tak sanggup melihatnya. Aku tutup mata saja dan berharap, saat ia mati tubuhnya masih utuh dengan kepala," ucap Timo lemas.
__ADS_1
Raksasa bertanduk yang kini sedang mencoba untuk melawan naga Rex menyadari kedatangan tiga anak manusia itu.
"Rex! Kita butuh tanduknya! Itu barang berharga raksasa tersebut!" seru Timo lantang.
Rex yang baru menyadari hal itu langsung melebarkan mata, tapi raksasa tersebut mendengarnya.
"Dia kabur!" seru Rex saat melihat raksasa itu berbelok tak jadi melakukan serangan balasan.
"Tangkap dia atau jatuhkan! Kita harus menyelesaikan misi ini apa pun yang terjadi!" seru Ryan, dan semua anak mengangguk setuju.
"Rex! Serangan kombinasi!" ajak Kenta.
Rex mengangguk dan melesat cepat saat membidik raksasa yang kabur dari mereka.
"Sekarang!" titah Rex mengomandoi.
Seketika, WHOOM!
"Harghhh!"
Raksasa itu mengerang saat tubuh bagian belakangnya terkena semburan api panas dari Phoenix Kenta dan asap hijau beracun naga Rex.
Ryan dengan sigap menjatuhkan raksasa itu dengan akar pohonnya yang mencuat dari dalam tanah.
Timo melotot tajam saat Ryan dengan sigap menggunakan jari kayunya untuk melilit tubuh raksasa itu yang kini meraung kesakitan di atas tanah.
"Akan kutahan! Cabut tanduknya!" seru Ryan bertahan dengan sosok Tuan Pohon.
"Aku saja!" sahut Mandarin yang berlari dengan cepat ke arah raksasa itu.
"Aku bantu!" sambung Rangga dalam sosok Minotaur.
"Harghhh!" erang raksasa itu ketika ia tak bisa bergerak karena tubuhnya dililit kuat dan terluka parah.
"Hitungan ketiga! Satu, dua, tiga! Tarik!" seru Rangga saat ia memegang kuat salah satu tanduk.
"HARRGHH!" raung raksasa itu hingga seluruh ototnya menegang.
Timo sampai menutup dua telinganya karena rintihan kesakitan tersebut membuatnya ketakutan. Rangga dan Mandarin berusaha keras mencabut tanduk itu.
CRATT! BRUKK!
"Yeah! Berhasil!" seru Mandarin senang, begitupula Rangga sembari memegang sebuah tanduk di tangan mereka.
"Hah ...."
BRUK!
"Timo! Timo! Dia pingsan!" pekik Ryan karena Timo langsung tergeletak di atas kepala Tuan Pohon.
"Wajar. Aku juga sampai berkeringat dingin, padahal tubuhku dipenuhi api," sahut Kenta saat melihat raksasa itu berdarah di kepala, tapi masih hidup meski tergolek lemas.
***
__ADS_1
masih eps bonus dari tips kemarin. smg gak ada tipo. nyambi temenin anak renang uyy~