
Azumi, Lazarus, Harun dan Boas memutuskan untuk beristirahat di tepi pantai. Mereka merasakan angin berhembus di sana.
"Mirip di Bumi. Hanya bedanya, bulan di Planet ini seperti lebih dari satu," ungkap Harun seraya memandangi langit.
"Ya. Aku juga merasa demikian. Oh iya, pakailah pakaian ini. Kami mendapatkannya di petualangan sebelumnya," ucap Boas seraya memberikan pakaian model kuno kepada Harun dan Azumi dari dalam tas.
"Wah! Aku sangat mengharapkan bisa berganti baju. Milikku sudah kumal dan bau," ucap Azumi terlihat senang saat mendapatkan sebuah gaun dengan rok panjang.
Azumi melihat sekitar seperti mencoba mencari tempat untuknya mengganti pakaian.
"Kami tak akan mengintip," ucap Harun meyakinkan, tapi Azumi terlihat ragu akan hal itu.
"Ya. Kami akan memunggungimu. Kami akan menikmati pemandangan laut dengan entah itu bulan atau planet yang tampak di langit, tapi itu lebih baik dari pada melihat gadis cantik berganti pakaian," sahut Lazarus yang ucapannya malah membuat kening semua orang berkerut.
"Baiklah, aku percaya. Kalian hitung sampai 100," pinta Azumi dengan pakaian baru dalam genggaman.
"Oke, oke," ucap Boas lalu duduk di atas pasir seraya menekuk dua lutut yang diikuti dua kawan lelaki lainnya.
"Kita bergantian berhitung dengan berurutan," usul Harun dan diangguki dua teman lelaki lainnya. "Oke, aku duluan. Satu ...."
"Dua," sahut Lazarus.
"Tiga," sambung Boas.
Azumi bergegas mengganti pakaiannya di mana ia tak melihat ada pohon atau sesuatu di sekitarnya yang bisa dipakai untuk bersembunyi.
Empat hewan penyimpan cadangan jiwa tampak asik berlarian ke sana kemari seperti menikmati suasana pantai.
Saat Azumi sudah mengganti seluruh pakaiannya dan sedang mengikat tali pada bagian dada, tiba-tiba, "Hei! Kenapa kalian berdiri?" tanya Azumi terkejut karena tiga kawannya itu langsung membalik tubuh dengan wajah gugup.
"Ka-kapal. Ada kapal!" jawab Boas seraya menunjuk.
Praktis, mata Azumi melebar seketika. Gadis itu bergegas berlari ke pantai mendekati tiga kawan lelakinya untuk memastikan penglihatannya tersebut.
"Ka-kapal. Ada kapal menuju ke arah kita!" ucapnya ikut berseru.
Harun, Lazarus dan Boas mengangguk cepat membenarkan.
"Hei! Hei!" panggil keempat anak itu senang seraya melompat-lompat kegirangan termasuk empat hewan penyimpan cadangan jiwa yang tampak tak sabar menanti kapal besar itu merapat.
Empat anak itu tampak antusias karena tak pernah melihat sebuah kapal selama berada di planet Mitologi. Terlebih, kapal tersebut cukup besar seperti pada zaman dahulu.
Saat kapal itu berhenti di perairan, terlihat sebuah perahu dayung menuju ke arah pantai. Mata anak-anak itu terkunci pada sosok manusia yang melambaikan tangan ke arah mereka sembari berteriak.
"Oh! Itukan," ucap Azumi menunjuk.
"Gibson!" panggil Harun lantang ikut menunjuk.
"Hei! Hei!" panggil Gibson seraya melambaikan tangan terlihat begitu gembira.
"Itu Vadim, Nicolas dan Mandarin!" seru Boas senang.
Lazarus dan lainnya tampak gembira. Mereka bergegas merapikan perlengkapan untuk bersiap menyambut kedatangan kawan-kawan mereka.
__ADS_1
SPLASH! SPLASH! SPLASH!
"Hahahaha! Aku senang sekali bisa menemukan kalian!" seru Nicolas berlari di perairan dangkal lalu memeluk Boas kemudian Lazarus.
"Ya, kami juga! Sungguh, ini hal tak terduga," sahut Lazarus dengan senyum merekah saat menerima pelukan dari lelaki berambut pirang tersebut.
"Woah! Kalian datang menggunakan kapal. Bisakah kami menumpang? Kalian mau pergi ke mana?" tanya Harun penasaran.
Gibson dan anggota timnya saling melirik dengan senyum penuh maksud. Gibson mengangguk mantap dan mempersilakan kawan-kawannya untuk ikut berlayar. Tentu saja, hal itu disambut suka cita oleh Azumi dan lainnya.
Gibson mengajak mereka untuk naik perahu. Kini, Harun dan Boas yang mendayung karena mereka penasaran bagaimana rasanya menaiki perahu dayung saat di lautan.
"Ini petualangan baru. Pasti akan seru!" ucap Boas semangat, tapi Gibson dan timnya hanya menahan senyum seperti menyimpan kejutan untuk kawan-kawannya.
Pada akhirnya, kumpulan anak-anak itu berhasil sampai ke tangga kapal. Gibson naik terlebih dahulu dan diikuti oleh Azumi lalu lainnya.
Azumi bergegas menaiki tangga kayu tersebut hingga akhirnya ia tiba di geladak kapal. Azumi tampak kagum karena kapal itu lebih keren dari bayangannya.
Harun, Boas dan Lazarus terlihat begitu senang karena senyum mereka merekah. Anak-anak itu menyusuri geladak di mana banyak benda yang menurut mereka sangat keren dan hebat.
"Lalu siapa yang mengemudikan kapal ini?" tanya Boas saat ia berdiri di kemudi kapal dan bergaya layaknya seorang pelaut.
"Horgg!"
"AAAAA!" teriak Azumi histeris saat melihat makhluk-makhluk yang tampak menyeramkan muncul dari balik pintu.
Boas dan lainnya ketakutan. Mereka langsung berkumpul bersama Gibson dan lainnya. Namun, Gibson dan timnya yang sudah mengenal para alien itu terlihat biasa saja.
"Ini, minumlah agar kalian tahu apa yang dikatakan oleh para bajak laut ini," ucap Mandarin seraya memberikan sebuah botol berisi cairan aneh kepada Lazarus.
Lazarus tampak pucat, terlebih saat ditatap oleh para alien aneh yang kini berdiri berhadapan dengan mereka.
Akhirnya, keturunan Benedict itu meneguknya meski terlihat terpaksa, tapi seketika ia batuk-batuk.
Azumi dan lainnya terlihat ragu usai melihat Lazarus sampai tersedak hingga wajahnya memerah.
"Cepat minum, tidak apa. Sebelum para alien itu marah," pinta Vadim mendesak.
Azumi terpaksa meminumnya dengan mata terpejam rapat. Gadis cantik itu ikut tersedak, begitupula Harun dan Boas karena rasa minuman itu begitu pahit dan pekat. Namun setelahnya ....
"Heh, ternyata jumlah kalian cukup banyak," ucap alien yang berbentuk seperti siput seraya berjalan dengan otot perut dan mengeluarkan lendir.
"Iyuh. Itu siput gede amat," keluh Boas terlihat jijik dan semakin merapatkan tubuhnya ke samping Nicolas.
Anak-anak terlihat geli saat alien siput itu mengitari mereka, tapi terlihat makhluk tersebut gesit karena jalannya cukup cepat tak seperti siput yang berada di Bumi.
Selain itu, cangkangnya seperti kura-kura tak berbentuk kerucut. Terlihat kuat dan kokoh berwarna hijau.
Dua matanya berada di atas kepala dan bisa naik turun tampak elastis. Praktis, gerakan menggelikan itu membuat anak-anak semakin jijik.
Alien itu bisa berdiri meski kakinya berupa otot perut. Memiliki dua tangan seperti katak yang bisa keluar masuk dari dalam otot perutnya dan juga mulut bergigi runcing.
Mata anak-anak itu terpaku pada pergerakan alien siput yang menatap mereka tajam.
__ADS_1
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Apakah kalian sudah semua?" tanya makhluk itu, tapi Gibson dan lainnya menggeleng.
"Masih ada yang lain dan kami tak tahu keberadaan mereka di mana," jawab Mandarin gugup.
"Argh! Ini akan sangat menghabiskan waktu!" gerutu kapten bajak laut.
"Namun, hasil yang akan kaudapatkan sepadan. Ingat harta karun sebagai hadiahmu!" seru Nicolas membujuk dan diangguki oleh Gibson, Vadim dan Mandarin.
"Harta karun?" tanya Harun bingung.
"Ya. Misi kita selanjutnya adalah berlayar menuju pulau Pelangi dan menemukan harta karun. Hanya saja, harta itu nanti untuk para alien itu sebagai imbalan kita karena menumpang kapalnya," jawab Vadim menjelaskan.
"Jangan lupa soal Kraken," sahut Gibson yang membuat mata Azumi, Boas, Lazarus dan Harun melebar seketika.
"Kraken? Gurita raksasa yang menyerang kapal dan memakan manusia?" tanya Harun memekik.
Gibson menghela napas dengan anggukan. Praktis, anak-anak yang belum mengetahui hal tersebut shock seketika.
"Tidak! Aku tak mau ikut! Aku mau turun saja! Aku akan terbang tanpa harus menaiki kapal!" ucap Azumi panik.
"Tidak akan bisa," sahut kapten bajak laut angkat bicara.
Sontak, Azumi langsung menoleh ke arah alien yang berbentuk mirip hiu martil itu.
"Apa maksudmu?" tanya Boas curiga.
"Saat kita memasuki wilayah Kraken, semua kemampuan hebat kita akan lenyap. Kalian, bahkan kami, akan menjadi seperti manusia biasa. Mau tidak mau, kita harus melawannya dengan cara pelaut sejati. Namun bedanya, saat kami tewas karena serangan Kraken, kapal hancur dan tenggelam, kami akan hidup kembali esok harinya. Hal ini seperti ... sebuah kutukan seumur hidup," ucap kapten kapal yang membuat mata anak-anak itu melebar seketika.
"Jika kami mati ... apakah akan dihidupkan kembali seperti kalian?" tanya Lazarus pucat.
"Jika nyawa kalian masih tersimpan pada hewan-hewan itu. Jika tidak, kalian akan tewas selamanya," tegas kapten bajak laut.
Praktis, anak-anak itu lemas seketika. Namun, Gibson tampak serius akan sesuatu. Ia menatap sang kapten tajam.
"Berapa kali kalian berhasil lolos dari Kraken sampai ke pulau Pelangi?"
Para alien itu saling memandang terlihat gugup akan sesuatu.
"Tidak pernah."
Gibson terhuyung dan roboh usai mendengar pengakuan sang kapten. Ia duduk menyender pada dinding kayu kapal dengan tatapan kosong.
Anak-anak itu tampak pucat saat mengetahui jika misi kali ini, mereka akan gagal dan mungkin tewas tak bisa kembali ke Bumi.
"Ini mustahil. Semua akan berakhir di level ini," ucap Vadim pesimis.
Semua anak diam dengan wajah tertunduk terlihat lesu seperti hilang semangat.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya utk diriku. lele padamu😆 kwkwkw. sudah hari senin jgn lupa vote vocer, tips koin dan poinnya ya~ likenya jangan ketinggalan 😘