MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
ISI HATI OAG


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Anak-anak meletakkan tas mereka dalam gua setelah dirasa aman. Mereka tak menyangka bisa berkumpul lagi dan kini bekerjasama untuk menyelesaikan misi level 10 di mana Oag sendiri seperti mengakui jika lawan kali ini tak bisa ia kendalikan. Para remaja itu membagi menjadi empat kelompok. Masing-masing tim memiliki minimal satu anggota pemilik kemampuan terbang.


"Meskipun wujud kita berubah, tapi aku yakin jika kemampuan yang dimiliki masih sama. Bedanya, kita dibekali pakaian tempur yang hebat berikut persenjataan. Dengan tubuh manusia, seharusnya, kita lebih leluasa bergerak," ucap Gibson sebelum melakukan uji coba kekuatan. Anak-anak mengangguk paham dan sependapat dengan Gibson. "Kita harus mengenali dulu fungsi dari perlengkapan tempur sebelum melatih kemampuan Mitologi. Sekarang, katakan padaku kelebihan dari benda yang terpasang dari tubuh kalian!" ucap Gibson lantang layaknya seorang komandan.


"Gibson, aku, aku! Akan kutunjukkan sesuatu!" seru Mandarin seraya mengangkat tangan dan semua anak menoleh ke arahnya. Gibson mengangguk mempersilakan. "Ayo, lemparkan bola salju itu!" pinta Mandarin dalam wujud manusia setengah Ogre kepada salah satu kawannya.


Harun dengan sigap mengambil setumpuk salju lalu mengepalkannya. Ia membidik baju perisai milik Mandarin. Dengan sigap, PLAK! Kening semua orang berkerut. Mandarin lalu tersenyum kepada semuanya.


"Lihat! Baju ini, mirip seperti kulit makhluk yang kita kalahkan di misi level 9. Makhluk yang terkena lumpur lalu bisa membersihkannya sendiri. Lapisan ini mengkilat dan semua benda yang mengenainya, akan langsung jatuh dengan sendirinya tanpa perlu kita bersihkan," ucap Mandarin.


"Ohh ...," seru anak-anak serempak seraya mengangguk.


"Bagaimana dengan api? Apakah perisai itu bisa menahannya?" tanya Gibson, dan Mandarin terlihat bingung menjawab.


"Biar kucoba. Bersiaplah, Mandarin," timpal Kenta seraya melangkah maju dengan senyum licik.


"Ja-jangan wajahku, oke. Bajunya, ingat, bajunya!" tegas Mandarin tampak takut. Anak-anak terkekeh.


"Inilah tujuannya uji coba, agar tahu kemampuan dari pakaian tempur kita," ucap Kenta seraya menahan senyum.


"Sial, kenapa aku jadi seperti manusia percobaan?" gerutu Mandarin terlihat panik. Anak-anak terkekeh lagi. "Oke, aku siap!" ucapnya mantap meski terlihat gugup.


Semua anak terlihat fokus ketika Kenta menarik napas dalam. Dada pemuda asal Jepang itu sampai membusung menyiapkan serangannya. Seketika, WHOOM!


"Woah!" seru anak-anak ketika mulut Kenta mengeluarkan semburan api panas bahkan salju di dekatnya seperti mencair.


Mandarin melindungi wajahnya dengan menyilangkan kedua tangan tepat di muka berikut Trisula.


"Hah, hah," engah Kenta saat ia menyudahi serangannya karena tak ingin Mandarin terluka.


"Mandarin, kau tak apa?" tanya Azumi cemas karena sosok Mandarin sampai hampir tak terlihat akibat semburan api Kenta.


Mandarin menurunkan dua tangannya. Ia masih berdiri tegap. Semua anak terlihat tegang karena khawatir jika kawan mereka terluka.


"Oh!" pekik Vadim saat melihat Mandarin baik-baik saja hanya berkeringat pada wajah.


"Tunggu sebentar! Perhatikan!" ucap Gibson langsung mendekati Mandarin dengan tergesa.


Anak-anak menyipitkan mata ketika Gibson mengelilingi tubuh Mandarin lalu menyentuh lengannya yang tak diselimuti bulu atau baju perisai itu.


CESS!


"Agh! Panas! Namun ... apa kau merasa terbakar?" tanya Gibson menatap Mandarin lekat, tapi pemuda itu menggeleng. "Luar biasa," ucap Gibson seraya menyipitkan mata dengan pandangan tertunduk.


"Ada apa, Gib?" tanya Rex penasaran.


Gibson lalu kembali menatap kawan-kawannya lekat. "Kulit Mandarin seperti perisai. Kalian lihat sendiri jika tubuhnya berasap. Kulitnya panas saat kusentuh, tapi dia tak merasakan dampak dari panas itu. Perisai baju ini, juga terasa dingin padahal sudah terkena semburan panas api Kenta di mana semua tahu jika kobarannya bisa menghanguskan makhluk hidup," jawab Gibson mantap.


"Lalu ... maksudmu? Maaf, aku masih tak mengerti," sahut Pasha terlihat bingung.

__ADS_1


Gibson mengembuskan napas pelan. "Kemampuan baju perisai kita mungkin sama, tapi ... kemampuan masing-masing anggota berbeda. Tubuh Ogre Mandarin begitu kuat meski terlihat seperti kulit biasa. Dia bisa menahan panas api, dan mungkin ... hal lainnya," jawab Gibson yang membuat anak-anak kembali mengangguk. "Mandarin, kau ingin mencoba serangan lain?" tanya Gibson menatap sahabatnya lekat. Praktis, wajah Mandarin pucat, tapi ia mengangguk pelan. Gibson tersenyum. "Nicolas!" panggil pemimpin kelompok tersebut.


Nicolas dalam wujud Elf barunya tersenyum miring. Mandarin semakin pucat ketika Nicolas menarik anak panah dari sarungnya di punggung dan mulai membidik. Mandarin salah tingkah karena ia tahu jika kini menjadi sasaran tembak wanita cantik bertelinga lancip itu.


"Ha-hati-hati. Awas saja jika sampai aku terluka parah," ucap Mandarin mengancam seraya menunjuk Nicolas.


Namun, pemuda yang berubah menjadi wanita itu tampak tak peduli. Ia malah seperti memanfaatkan ketakutan Mandarin untuk mengintimidasinya. Anak-anak kembali dibuat cemas karena mereka tahu jika lesatan panah Nicolas tak pernah meleset dan selalu bisa melumpuhkan lawan.


"Hem, bidik yang mana ya?" ledeknya.


"Jangan main-main! Kau-"


SHOOT!


"Oh!" pekik Laika sampai terperanjat ketika melihat anak panah Nicolas mengenai paha Ogre tersebut. Namun, para remaja itu kembali dibuat kagum karena Mandarin tak terluka sedikit pun.


"Woah, yang benar saja! Coba lagi," ucap Nicolas yang merasa tak puas karena anak panahnya terpental bahkan tak menggores kulit Mandarin.


Pemuda asal Hong Kong itu memejamkan mata karena panik sehingga tak menyadari jika Nicolas sudah memanahnya. Nicolas kini melesatkan anak panahnya bertubi-tubi ke seluruh tubuh Mandarin bahkan ke kepala. Namun, hasilnya sia-sia.


"Mandarin!" panggil Azumi, dan seketika ....


"AAAA!" teriak Mandarin panik ketika melihat sebuah anak panah meluncur dan membidik lehernya.


Mandarin dengan sigap berjongkok dan memegangi kepala. Anak-anak tertawa karena bagi mereka Mandarin lucu.


"Hiss, menyebalkan!" pekik Nicolas kesal.


"Hei, Mandarin. Kau kenapa?" tanya Gibson seraya mendekat, tapi Mandarin masih berjongkok dengan tubuh bergetar.


Seketika, mata Mandarin melebar. Ia melihat di dekatnya banyak anak panah tergeletak tanpa noda darah pada ujungnya yang tajam.


"Oh!" kejutnya dan langsung berdiri.


"Seperti dugaanku. Kulitmu sangat kuat dan tak bisa ditembus layaknya perisai. Kau akan baik-baik saja, Mandarin," ucap Gibson seraya menepuk pundak kawannya.


Anak-anak bertepuk tangan karena kagum. Mandarin tersenyum lebar usai mengetahui kemampuannya.


"Hahaha! Aku memang keren!" serunya senang, tapi membuat Nicolas mendesis kesal.


"Coba sini kau kutusuk. Aku penasaran," ujar Boas, tapi Mandarin langsung berlari menghindar. "Hei, coba dulu! Kau mau ke mana?" tanya Boas siap menusuknya dengan pedang Elf dalam genggaman tangan kiri.


"Tidak mau! Sudah cukup percobaannya! Kenapa tidak kau saja?" teriaknya yang bersembunyi di balik sebuah batu.


Anak-anak kembali tertawa. Usai melihat kemampuan Mandarin, satu per satu dari mereka melakukan uji coba. Mereka saling bergantian dan membantu kawan lain ketika membutuhkan serangan atau menganalisis kemampuan. Gibson melihat kawan-kawannya sudah berubah. Mereka tak terlihat payah seperti pertama kali datang ke Planet Mitologi. Ryan yang penakut bahkan kini terlihat paling menonjol karena kemampuan dalam mengendalikan kayu.


Di Markas Oag.


"Mereka ... memang anak-anak hebat. Hem, jujur kuakui, aku kagum dengan kepandaian dan ketangguhan mereka. Kuyakin, meskipun mereka tak menang melawan Leviathan, anak-anak itu bisa melindungi Bumi di masa depan," ujar sang Jenderal dengan senyum tipis.


"Hanya saja. Jika Leviathan tak dikalahkan, pintu portal sebagai penghubung planetmu dan planetku tak akan terbuka, Jenderal. Makhluk itu melindunginya dan memerangkap peninggalan leluhur," sahut Oag.

__ADS_1


Sang Jenderal diam sejenak. Perlahan, seorang cendikiawan mendekat. Oag dan Jenderal itu menoleh.


"Ini ... hanya dugaanku. Bisa saja Leviathan memang dibuat sedemikian rupa oleh para leluhur untuk melindungi pintu itu, Oag," ucapnya yang membuat Oag menatap wanita itu lekat.


"Apa maksudmu?" tanya Oag heran.


Wanita itu menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Seperti sebuah rumah yang ada di Bumi. Beberapa penghuni yang memiliki barang berharga di kediamannya, pasti berusaha melindungi rumah itu dengan berbagai cara. CCTV, perangkap, mungkin persenjataan otomatis bahkan anjiing penjaga. Semua itu dimaksudkan agar tak ada satu pun makhluk memasuki rumahnya dan mengambil benda-benda di dalamnya," jawab wanita itu.


"Maksudmu ... leluhur tak ingin peninggalannya itu diusik, bahkan oleh keturunannya sendiri?" tanya Oag menyipitkan mata.


Wanita itu mengangguk pelan. Tak lama, para cendikiawan lain muncul.


"Oag, apa kau tak menyadarinya? Leviathan yang berada di Planet Mitologi, berada jauh dari habitat kumpulan para makhluk lainnya. Dia seperti terisolasi dan tak pergi ke mana pun sejak diciptakan. Kau sendiri yang mengatakannya pada kami kala itu," timpal seorang lelaki berkacamata. Oag mengangguk pelan membenarkan.


"Itu berarti, dia memang memiliki tugas untuk menjaga tempat itu dari segala jenis serangan, bahkan olehmu. Mungkin dia memang ditugaskan oleh para leluhur agar tempat itu tak diusik sebelum mereka menghilang. Leviathan memang pernah meneror sekitar, tapi setelah kami cermati lebih dalam melalui rekaman yang kau berikan, dia seperti melindungi wilayah itu agar tak ada yang bermukim dekat pintu portal," tegas seorang pria dengan rambut beruban.


"Lalu, soal makhluk yang tak sengaja ditemukan oleh Jenderal dan kami di laut dekat Palung Mariana. Aku rasa, dia tahu jika selama ini kau mencari mereka. Namun, mereka memilih untuk tak kembali ke Mitologi karena ada alasan khusus. Makhluk itu bahkan memberitahukanmu titik koordinat planet leluhur. Kau menemukannya dan kini sedang mengirim tim untuk menyelidiki serta mempelajari lebih jauh. Aku rasa ... leluhur tak mau diusik dan mungkin ... akan lebih baik begitu," ucap wanita tua menimpali.


Namun, Oag seperti marah. Ia terlihat geram karena tentakel di dagunya bergerak dengan lincah. Para manusia dewasa langsung melangkah mundur terlihat takut. Alien sejenis Oag lainnya ikut menatap pemimpin mereka dengan saksama, tapi hanya diam.


"Hargh! Apa para leluhur tak tahu jika selama ini aku mencari mereka? Aku menghabiskan banyak waktu, seluruh hidupku agar bisa membawa mereka kembali meski dalam wujud mayat! Para leluhur meninggalkan banyak pekerjaan untukku di Planet yang diciptakan oleh mereka! Aku bahkan harus berselisih dan menerima cemooh dari makhluk-makhluk ciptaan mereka yang kulindungi selama ini! Kusingkirkan egoku demi bisa bertemu dengan mereka!" teriak Oag marah yang membuat corak biru di tubuhnya menyala terang bagaikan cahaya.


Baik alien sejenis Oag ataupun para manusia hanya bisa diam. Mereka baru mengetahui isi hati Oag yang selama ratusan atau bahkan ribuan tahun dipendam. Tubuh Oag bergetar dengan mata terpejam dan kepala tertunduk. Hingga tiba-tiba, sosok yang dikenal dalam ruangan itu muncul. Langkah kecilnya perlahan mendekat dan tangannya menyentuh lengan Oag. Seketika, alien itu membuka mata dan menoleh.


"Jangan sedih, Om Oag," ucap gadis kecil asal Perancis itu yang berani memeluk Oag.


Jenderal dan lainnya terkejut karena Hihi dan lainnya bisa keluar dari ruangan yang mengurung mereka selama ini. Oag dan semua orang manusia dewasa terpaku karena tak menyangka hal itu. Oag diam saja meski terlihat kaget.


"Bukankah ... saat itu kau sudah melihat dan mendengar rekaman dari indukmu? Kurasa itu sudah menjelaskan semua. Kau diciptakan karena dipercaya. Semua hal yang sudah dilakukan oleh para leluhur, pasti sudah dipikirkan dengan baik. Termasuk makhluk-makhluk Mitologi yang diciptakan," ucap Hihi pelan seraya melepaskan pelukan dan menatap Oag dengan wajah sendu meski harus mendongak.


"Benar itu, Om Oag. Kau sudah ditunjukkan jalan pulang agar tahu dari mana dirimu berasal. Kau bahkan sudah bertemu dengan jenis aslimu. Jika aku boleh menyimpulkan, mungkin kau sengaja ditempatkan di sini karena diminta untuk menjaga warisan mereka. Aku juga merasa jika planet asalmu sedikit menyeramkan karena banyak hewan-hewan yang bisa membunuh jenismu. Di sini, kau dijadikan pemimpin. Bagiku, itu keren karena kau bukan makhluk asli sini," sahut Bobby di kejauhan.


Semua orang terdiam, termasuk para alien sejenis Oag. Sedang pemimpin makhluk Mitologi itu tak berucap apapun dan masih memasang wajah sendu. Ia terlihat lesu dengan mata berlinang seperti akan menangis. Perlahan, Oag melangkah pergi meninggalkan ruangan. Semua makhluk terlihat iba karena Oag tak pernah bersikap seperti ini.


"Kau sudah melakukan hal yang benar, Hihi," ucap Oscar seraya mendekat diikuti Bobby dan Jimmy. Hihi mengangguk dengan menggenggam dua tangan depan dada seraya melihat kepergian Oag.


"Jadi ... bagaimana caranya kalian bisa keluar?" tanya sang Jenderal heran.


"Pintunya terbuka sendiri. Kami penasaran dan tiba-tiba sudah ada di sini. Jadi ... wow, ini semacam ... pusat kendali di mana kalian mengatur permainan? Woah, keren!" seru Jimmy dengan mata berbinar saat melihat sekitar.


"Kita ketahuan," celetuk sang Jenderal seraya memijat dahinya.


Hihi dan lainnya tampak tak takut dengan para alien yang bertugas. Mereka malah mendatangi makhluk-makhluk bertentakel itu dan penasaran dengan tombol-tombol yang ada.


"Menyingkir, Jelek," tegas salah satu operator mengusir Oscar.


"Ngomong-ngomong, kalian siapa?" tanya Hihi menatap sang Jenderal lekat berikut para ilmuwan yang berkumpul di sana.


Orang-orang dewasa itu terlihat bingung saat dipandangi oleh empat anak-anak yang secara tak langsung membongkar rahasia permainan Maniac.


"Itu ... adalah pertanyaan paling sulit yang kuterima sepanjang hidup," jawab sang Jenderal tampak tertekan. "Ada yang ingin membantu menjawab?" tanya lelaki itu seraya menoleh ke arah para cendikiawan, tapi para manusia dewasa itu menggeleng pelan. Sang Jenderal mengembuskan napas berat.

__ADS_1


***


smg pas epsnya naik gak ketuker krn sampai sekarang eps Leviathan belom lolos review 😩 mt oh mt, penyakitmu sejak 2019 gak sembuh2🥲


__ADS_2