MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MELAWAN LEVIATHAN?*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Para remaja pria yang dijuluki 13 Demon Kids bersorak gembira. Anak-anak itu begitu senang bahkan beberapa diantara mereka menangis karena tak percaya bisa bertemu kawan-kawan yang telah tewas saat menjalankan misi. Namun, kini berada di hadapan. Di sisi yang sama, Jubaedah dan lainnya juga tampak begitu senang.


Pesawat seperti gangsing itu lalu bergerak menuju ke tempat 13 Demon Kids berdiri. Para remaja itu tampak panik saat sinar putih dari bagian bawah pesawat menyorot mereka. Hingga Nicolas menyadari saat cairan darah yang mereka ambil melayang dan tersedot masuk dalam lubang pesawat. Cahaya langsung lenyap berikut pesawat besar itu.


"Wow!" celetuk Vadim dengan kepala mendongak karena baginya kejadian ini sedikit aneh untuknya.


Anak-anak kembali fokus atas pertemuan kembali itu. Namun, saat Harun dan lainnya yang tak memiliki kemampuan terbang ingin mendatangi kawan-kawan di seberang, mereka kebingungan.


"Gunung ini tinggi sekali! Bagaimana caranya kita ke sana? Tubuh Rex sudah tak sebesar dulu," tanya Harun ikut bingung.


Saat para remaja pria itu saling memandang, tiba-tiba saja ....


"Woah! Lihat itu!" pekik Mandarin menunjuk saat melihat di kejauhan, tanduk Azumi menyala terang di mana dulu ia sebagai Unicorn.


Mata para pemuda itu melebar ketika menyaksikan kawan-kawan mereka seperti terbang dengan wujud manusia setengah makhluk Mitologi layaknya kesatria. Anak-anak lain ikut memeluk dan menyalami kawan-kawan saat mereka dipertemukan lagi meski ada misi yang harus dituntaskan.


"Rexy my darling!" teriak Jubaedah histeris saat Rex menyambutnya dengan senyum terkembang.


Rex langsung memeluk Jubaedah erat terlihat begitu merindukannya. Rex bahkan berlinang air mata saat memegang wajah Jubaedah yang tetap terlihat manis, meski ia masih trauma akan kematian puteri Eko tersebut.


"Hai, sapa Tina dengan senyum menawan meski memiliki taring karena sosok Mitologi manusia serigala.


"Ka-kau sungguh Tina? Tina adikku?" tanya Timo berlinang air mata.


Tina terkekeh dengan anggukan. Timo langsung memeluk sang adik erat. Tina ikut meneteskan air mata karena bisa bertemu dengan saudaranya lagi meski lain Ibu.


"Maafin aku, Tina. Timo gak bisa jagain kamu," ucapnya sedih.


"Tina gak pernah salahin Timo. Selain itu, aku, Juby dan lainnya sudah melihat perjuangan kalian. Sungguh, kalian semua keren!" ucapnya seraya melepaskan pelukan.


"Maksudmu?" tanya Ryan heran seraya mendekat.


"Gini, gini. Juby ceritain," ucap Jubaedah yang sudah dipeluk manja oleh Rex dari belakang seperti enggan dilepaskan.


"Heh, heh, itu apa itu? Lepas! Dilarang peluk-peluk, cium-cium! Haram!" pekik Bara langsung melotot seraya menunjuk pasangan yang kembali bersama usai maut memisahkan.


"Haish. Udah, tutup mata. Rangga kepo sama cerita Juby," ucap Rangga langsung menggunakan satu tangan besarnya untuk menutup mata Bara. Praktis, semua anak terkekeh. "Kuy, lanjut, Jub. Rangga sekarang gak bakal ragu lagi sama ceritamu!" sambung Rangga yang disusul anggukan semua anak.


Akhirnya, Jubaedah pun berkisah. Para remaja pria yang belum pernah merasakan kematian melongo. Bahkan, mereka ikut dibuat kagum saat Azumi dan lainnya pergi ke Planet Oag untuk menjalankan misi khusus di luar permainan Maniac. Termasuk dibangkitkannya lagi Jimmy, Oscar, Bobby, dan juga Hihi.


"Tunggu. Kaubilang ... Hihi keturunan bangsawan? Dia tinggal di Perancis dan memiliki seorang ayah yang memiliki kastil megah di Inggris?" tanya Lazarus langsung memotong cerita Jubaedah.


"Iya. Kalau tidak salah ... nama ayahnya ada Ben-bennya gitu. Aduh, apa ya? Seperti ... nama baptis," jawab Jubaedah memegang kepalanya.


"Benedict. Ayahnya bernama Jonathan Benedict," sahut Pasha seraya menikmati buah apel yang diberikan Vadim.


Praktis, mata Lazarus melebar seketika.


"Apakah ... Hihi ... sepupuku? Eh keponakan? Aduh, aku bingung. Hanya saja, sepupuku yang kupanggil Paman bernama sama dengan Ayah Hihi. Woah! Ini sebuah kejutan yang tak pernah kuketahui," ucap Lazarus sampai mulutnya menganga.

__ADS_1


"Jadi ... Hihi saudarimu? Masih ada hubungan saudara denganmu?" tanya Vadim memastikan. Lazarus mengangguk cepat.


"Tak bisa disalahkan juga jika Lazarus tak mengetahui hal tersebut termasuk Hihi. Kalian tak pernah bertemu sebelumnya. Selain itu, Lazarus hanya tahu jika pamannya memiliki dua isteri. Hihi saja saat bertemu dengan kita dia sudah menjadi sosok peri. Dia baru memberitahukan siapa dia sebenarnya saat dibangkitkan dalam wujud manusia," ucap Boas, dan semua anak mengangguk setuju. Lazarus tersenyum karena terlihat senang.


"Aku berhutang budi pada Hihi karena ia mengorbankan kebangkitannya untuk menghidupkanku kembali," ucap Gibson dengan sosok barunya yang terlihat lebih hebat.


"Itu karena Hihi suka sama kamu, Gib. Dia mengidolakanmu!" sahut Jubaedah, dan diangguki semua anak yang dibangkitkan bersama Hihi kala itu.


Gibson tersipu malu. Terlebih setelah diberitahu jika Hihi sangat manis, pintar, dan lucu. Gibson tak sabar ingin bertemu Hihi saat di Bumi nanti. Lazarus berjanji akan mengenalkan saudarinya kepada Gibson jika mereka dihidupkan kembali.


"Hem, perasaanku saja atau ada yang aneh. Jika Juby, Tina, Pasha, dan Gibson dibangkitkan atas permintaan teman-teman, lalu ... siapa yang meminta kebangkitan Laika dan Azumi?" tanya Rex terlihat bingung.


"Oh, iya ya. Kenapa kami tak terpikirkan hal itu? Namun, entahlah. Saat kami dibangunkan dalam wujud baru, sudah ada Gibson, Azumi, dan Laika bersama kami," sahut Tina menjelaskan. Anak-anak diam sejenak seperti memikirkan hal tersebut.


"Jadi ... Leviathan ya?" sahut Laika yang duduk bersebelahan dengan Czar memecah keheningan. Semua anak mengangguk.


"Kenta. Bisa pinjamkan cermin ajaib? Ada yang ingin kutanyakan padanya," pinta Gibson.


Kenta mengangguk cepat dan segera memberikan cermin itu pada Gibson. Namun, kening Tina berkerut.


"Kok tasnya mirip punyaku ya? Kau suka warna merah muda, Kenta?" tanya Tina menatap Kenta lekat, dan pemuda asal Jepang itu malah mengedipkan mata sebagai jawaban.


"Hahaha! Itu karena aku. Tasnya rusak jadi kupakaikan punyamu. Kau ... tak keberatan 'kan?" sahut Timo, dan Tina mengangguk dengan senyuman.


"Kenta terlihat manis dengan warna merah muda," jawabnya, tapi membuat semua orang tertawa. Kenta tersipu malu.


Semua anak lalu kembali serius ketika Gibson mulai menatap cermin itu lekat. Mereka penasaran dengan pertanyaan yang akan Gibson berikan.


"Aku sangat senang Gibson kembali. Aku sungguh tak memiliki ide untuk melawan monster seram itu. Apalagi setelah tahu kemampuannya," bisik Ryan, dan diangguki semua anak.


Gibson tersenyum tipis karena mendengar hal tersebut. Ia tak menyangka jika kawan-kawan masih mengandalkannya. Bahkan, mereka menunjuknya lagi sebagai pemimpin kelompok. Gibson sulit untuk menolak karena melihat kawan-kawan menaruh harapan besar padanya. Gibson menyanggupi. Sayangnya, cermin ajaib kali ini terlihat seperti tidak berguna.


"Aku tidak tahu," jawabnya yang membuat Gibson dan semua anak terkejut.


"Kau tidak tahu? Akan kuberikan kauimbalan jika memberitahu kelemahan Leviathan," imbuh Gibson.


"Aku sungguh tidak tahu," jawabnya lalu menghilang begitu saja.


Mulut anak-anak menganga lebar karena tak percaya jika cermin ajaib yang serba tahu sampai menyerah dan kabur.


"Oh, aku jadi rindu Satyr," ucap Kenta langsung menutup wajah dengan dua tangan seperti putus asa.


Anak-anak itu duduk di atas batu besar dengan formasi melingkar. Mereka tampak berpikir keras mencoba mencari cara melawan monster air tersebut. Gibson diam sejenak seperti memiliki sesuatu untuk diutarakan.


"Ada yang tahu tentang kisah Leviathan di Bumi?" tanyanya seraya melihat kawan-kawan.


"Kalau tidak salah, monster itu ada dua jenis. Jantan dan betina. Lalu ... yang betina tewas karena dibunuh oleh Tuhan sebab beranak pinak dan merusak. Padahal Tuhan yang menciptkannya untuk menjaga lautan. Entahlah, aku masih tak begitu paham, tapi itu kisah yang kudengar saat di sekolah ketika pelajaran sejarah Mitologi. Aku mengantuk saat itu. Pelajaran sejarah sangat membosankan seperti lagu nina bobo," ucap Czar dengan wajah malas, dan Laika langsung menepuk lengan kawannya kuat. Czar terkekeh pelan.


"Hem, ada yang lain?" tanya Gibson menatap kawan lainnya.


"Namun, inikan makhluk ciptaan para ilmuwan Oag. Wujudnya saja berbeda. Yang ini pastinya lebih kuat dan hebat. Oag saja sampai mengirim kita karena tak bisa mengalahkannya. Bukankah itu menyeramkan?" sahut Pasha.

__ADS_1


"Kalau di buku yang pernah aku baca di perpustakaan, kemampuan Leviathan lebih dari itu. Dia bisa mendidihkan air di sekitarnya untuk membunuh lawan," sahut Ryan. Praktis, mata semua orang melotot.


"Juby masih trauma saat inget nyemplung di kolam lava," ucapnya bergidik ngeri.


Rex tiba-tiba memegang tangan Jubaedah erat. Gadis manis itu langsung menatap sang kekasih.


"Kali ini, Rex janji akan lindungi Juby mati-matian," ucapnya mantap, dan Jubaedah tersenyum.


"Heleh, gombal," sahut Bara dengan wajah malas. Jubaedah dan Rex langsung melirik sadis ke arah pemuda asal Indonesia itu. Rangga terkekeh pelan.


"Di sana juga tertulis, kalau Leviathan memiliki napas yang busuk. Siapapun yang menghirupnya akan mati," imbuh Ryan.


"Wah, seperti napasmu, Rex. Beracun," sahut Boas, dan diangguki semua anak yang sependapat dengannya. Rex diam terlihat serius.


"Hem, jika Leviathan kebal terhadap semua serangan, kenapa Oag memberikan kita senjata ini? Trisula ini mirip seperti cerita Dewa Poseidon," tanya Laika heran.


"Itulah yang sedang kupikirkan. Hem, bagaimana jika ... kita menjajal kemampuan? Oag juga belum memberikan arahan pada kita di mana Leviathan berada. Ini bisa memberikan waktu untuk mempersiapkan diri sebelum melawan," usul Gibson.


"Siap, Bos!" jawab Rangga mantap dan langsung berdiri.


Gibson menahan senyum dan meminta semua kawan-kawannya untuk turun dari atas tebing menuju ke lembah. Azumi yang ingin menguji kemampuan tanduk unicorn di dahi meminta kawan-kawannya untuk percaya padanya.


"Tanpa kauminta, kami percaya padamu, Azumi. Aku siap terbang!" seru Harun tak sabaran.


Azumi memejamkan mata terlihat fokus. Seketika, tanduk unicorn di dahinya menyala. Dalam diam, Azumi melirik Harun, Jubaedah, Laika, dan kawan-kawan lain tanpa kemampuan terbang. Anak-anak itu tampak terkejut dan kagum dalam waktu bersamaan. Tubuh mereka melayang saat Azumi tiba-tiba saja melangkah menuju ke tepian tebing dengan wajah datar.


"A-Azumi!" pekik Kenta panik karena khawatir adiknya terjatuh.


Namun, hal menakjubkan terjadi. Kaki Azumi bisa menapak di udara. Seperti ada anak tangga yang membawanya turun ke bawah dengan kawan-kawannya terbang melayang.


"Keren!" seru Mandarin sampai menganga lebar karena ia bisa bergaya bebas di udara dan perlahan turun.


"Azumi udah kaya penyihir aja!" seru Jubaedah ikut senang yang ikut bergaya seperti lainnya.


Para remaja yang memiliki sayap menahan senyum. Mereka terbang turun menyusul Azumi yang akhirnya berdiri diam, tapi seperti menaiki lift tak terlihat karena meluncur ke bawah dengan cepat. Anak-anak itu akhirnya kembali berkumpul di wilayah bersalju dan melihat sekitar.


"Oh, ada gua! Bagaimana jika kita berteduh di sana semalam seraya berlatih di sekitar tempat ini? Kurasa tempat ini cukup bagus untuk uji coba karena luas dan tak membahayakan siapapun," saran Gibson.


"Oke, Bos!" jawab Rangga lagi yang membuat anak-anak terkekeh.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Mumpung lagi cemangat up lagi biar cepet selesai. Lele fokus di sini dulu ya. Kalo udah baru ke Ghost Writer dan bulan depan King D. Jangan lupa bagi yang pakai aplikasi Mangatoon atau Audiotoon, dengerin kisah SIMULATION yang akan dipentaskan nanti malam ya. Don't miss it!

__ADS_1



__ADS_2