
Di penjara bawah tanah tempat Rangga dan kawan-kawannya disekap.
Terlihat, anak-anak itu mulai tak betah terkurung di sana. Meskipun mereka tetap diberi makan, tapi mereka selalu menolak untuk diminta ikut berperang.
"Kalian ini budek apa gimana sih? Dibilang, cari tahu semua informasi tentang Oag, baru kami pikirkan tawaran untuk berperang. Kalian buang waktu selama ini. Gak ada gunanya juga nyekap kami. Keluarin cepet!" seru Bara emosi.
Minotaur yang menjadi pemandu anak-anak itu seperti mengatakan sesuatu, tapi Rangga yang kehilangan kapaknya karena disita, tak paham dengan yang diucapkan oleh banteng tersebut.
Rangga juga terlihat kecewa pada makhluk itu karena ia malah dikurung dengan alasan tak masuk akal.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Rangga gak peduli, kita semua gak peduli. Pembohong," ucap Rangga kesal yang duduk menyender pada dinding penjara seraya melipat kedua kakinya.
Minotaur itu mendengus keras lalu pergi meninggalkan kumpulan anak-anak yang dikurung itu.
Setiap hari, mereka memakan buah yang berada di planet Mitologi. Buah-buahan itu tampak aneh, meski rasanya enak.
Rangga dan kawan-kawannya tak ambil pusing. Mereka harus tetap makan agar bisa bertahan di tempat tersebut.
Hingga malam itu, C dan L terbangun dari tidur. Keduanya bergerak mendekat ke arah tembok saat merasakan ada suara di balik dinding.
"Hei," panggil L ke arah Lazarus yang tidur di lantai samping Rangga. Ia menyenggol paha pemuda itu dengan kaki kanannya.
"Hem?" jawab Lazarus seraya membuka mata yang masih terasa lengket.
"Sttt, jangan berisik. Pakai gelas kalengmu," pinta L berbisik. Lazarus segera mengambil gelas kalengnya dan menempelkan di dinding.
Pemuda keturunan Benedict itu berjongkok di antara C dan L yang kini menatapnya saksama. Lazarus terlihat serius mendengarkan hingga tiba-tiba, matanya melebar.
"Apakah dugaan kami benar, jika ada manusia di balik dinding? Aku mendengar suara orang seperti berbincang. Aku yakin, itu bukan makhluk Mitologi, itu bahasa manusia," tegas C berbisik dan Lazarus setuju.
"Kita harus mengirim sinyal. Namun, bagaimana caranya?" tanya Lazarus penasaran.
C dan L melihat sekeliling. Mereka tak ingin membuat keributan. Sayangnya, di sekeliling mereka tak ada celah keluar.
Namun mereka yakin, meski berada di bawah tanah, tapi ada jalan tersembunyi karena ada manusia yang melewatinya.
"Oh, aku punya ide," ucap C melepaskan sepatunya dan kini menggenggamnya kuat.
L dan Lazarus menatap C saksama yang terlihat serius menghadap ke dinding.
DUK! DUK! DUK-DUK!
"Kau mengirimkan semacam kode?" tanya L saat C mengetuk dinding dengan sepatunya. C mengangguk membenarkan.
"Apa yang kaukatakan?" tanya Lazarus penasaran.
"Tak ada. Aku hanya ingin tahu, apakah panggilanku ini diterima oleh mereka atau tidak," sahut C. Lazarus dan L mengangguk.
Namun, suara di balik dinding tiba-tiba menghilang. Tiga remaja itu kemudian putus harapan.
Lazarus terlihat lemas saat kembali ke tempatnya tidur yang ternyata, aksi mereka membangunkan Bara dan Rangga.
Saat C dan L juga terlihat lesu karena usaha mereka untuk mencari bantuan tak membuahkan hasil, tiba-tiba ....
BLUARR!!
KRAKKK!!
"WOAH!" seru Bara panik karena dinding penjara itu jebol terkena ledakan dahsyat hingga puing-puingnya berhamburan di sekitar dan mengenai mereka.
__ADS_1
Rangga dan lainnya merintih. Mereka menggelepar di lantai karena bunyi yang memekakkan telinga.
Namun tiba-tiba, terlihat kaki seseorang melangkah masuk dengan sinar warna emas menyilaukan mata dari sebuah benda dalam genggaman. Praktis, anak-anak dalam penjara itu melebarkan mata.
"Oh! Mereka di sini!" seru Mandarin dengan pedang Silent Gold dalam genggaman.
Rangga dan lainnya kebingungan saat melihat banyak anak memasuki ruangan itu. Mereka terkejut karena ada beberapa remaja yang hampir seumuran mereka dan membantu untuk berdiri.
Lazarus dan lainnya menerima sambutan dari gapaian tangan itu, meski keraguan masih menyelimuti hati mereka.
"Potong besi itu!" perintah Gibson.
Mandarin dan Rex dengan sigap mendatangi jeruji besi. Mereka menggunakan laser dari senjata untuk melelehkan logam. Rangga dan lainnya dibuat bengong dengan alat yang dimiliki oleh anak-anak tak dikenal.
"Are you okay, Guys?" tanya Tina ramah dan anak-anak itu mengangguk dengan wajah lugu. Tina tersenyum berikut remaja lain dalam kelompoknya.
"Who are you?" tanya Bara penasaran.
KLANG!
"Ayo, kita keluar cepat!" seru Rex dan semua anak dengan sigap berlari menuju ke pintu sel yang berhasil dibuka.
Namun, saat mereka berlari di koridor menuju ke atas, tiba-tiba sekumpulan Minotaur muncul. Langkah anak-anak itu terhenti seketika.
"Harg! Horg! Horg!" ucap salah satu Minotaur terlihat kesal menghalangi jalan.
Jubaedah dengan sigap membuka sleting tas Rex dan membagikan daun merah muda ke semua orang termasuk kelompok Rangga.
Tentu saja, C dan kawan-kawannya tampak bingung ketika melihat orang-orang yang menyelamatkannya memakan daun tersebut.
Dengan sigap, Gibson melangkah maju diikuti Mandarin dan Rex di sebelahnya. Sedang yang lainnya, tampak tegang.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Kalian memiliki alat hebat untuk bertempur. Bergabunglah bersama kami melawan Oag," jawab salah satu Minotaur.
Rangga dan lainnya terkejut karena ia bisa mengerti yang diucapkan oleh Minotaur tersebut tanpa kapaknya.
"Daun merah muda itu, seperti penerjemah. Sayangnya, hanya berlaku selama satu hari saja. Kita bisa mengetahui semua ucapan makhluk di Planet Mitologi ini," ucap Jubaedah menjelaskan.
Rangga dan kawan-kawannya mengangguk paham.
"Siapa Oag?" tanya Gibson penuh selidik.
"Dia adalah makhluk yang membuat kalian terperangkap di Planet ini. Jika ingin kembali ke Bumi dan membangunkan orang-orang dewasa yang terkena hypersleep, kita harus mengalahkannya," jawab Minotaur berbulu hitam.
"Kenapa kami harus bekerjasama dengan kalian? Apa untungnya buat kami?" tanya Gibson makin mendetail.
"Kami tak ingin Planet kami dihuni oleh anak-anak Adam. Kalian pembawa bencana. Kalian akan menghancurkan Planet ini dan seluruh ekosistemnya!" seru Minotaur tersebut.
Gibson menoleh ke arah kawan-kawannya. Terlihat, anggota kelompoknya berkerut kening berpikir serius.
"Aku tak mau berperang tanpa tahu siapa lawanku. Aku ingin bertemu dengan Oag. Di mana ia berada?" tanya Gibson yang pandangannya kembali ke arah para Minotaur itu.
"Bernegosiasi dengannya? Kalian gila," ledek makhluk berwujud banteng tersebut.
"Apa kalian tahu cara berperang? Berapa yang akan maju bertempur? Jika tak tahu apa pun tentang Oag, sama saja kalian bunuh diri. Kita harus tahu berapa jumlah pasukannya, kelemahan mereka, persenjataan, dan tentu saja denah lokasi. Kita tak bisa serta merta maju bertempur dengan alasan menuduhnya. Aku tak mau jadi orang bodoh dengan mati sia-sia," tegas Gibson dan disoraki oleh semua anak-anak yang setuju dengannya.
Para Minotaur marah dan terlihat seperti siap untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak itu.
__ADS_1
Gibson melangkah mundur terlihat takut karena makhluk-makhluk itu mulai mengayunkan senjata tajam mereka.
Namun tiba-tiba, BRANGG!!
"HOARRGGGHH!!"
Erangan lantang hingga menggema di seluruh bangunan terdengar begitu menyeramkan. Semua anak bergidik ngeri. Namun, Gibson tersenyum miring.
"Kembali ke sel. Now!" serunya lantang mengomandoi.
Segera, anak-anak kembali berlari menuju penjara tempat mereka bertemu tadi. Para Minotaur dibuat panik saat mendengar suara langkah kaki besar menuju ke arah mereka.
Rangga dan kawan-kawannya yang penasaran, tak ikut kabur melalui lubang dari ledakan. Mereka malah mengintip di balik jeruji besi saat melihat makhluk bertubuh besar muncul dari pintu masuk penjara bawah tanah.
"Woah! Ada Yeti!" seru Bara sampai matanya melotot.
"Hei! Apa yang kalian tunggu? Cepat!" tanya Mandarin mendatangi kelompok Rangga yang malah terbengong di balik jeruji.
Rangga dan lainnya bergegas mengikuti Mandarin sebagai penunjuk jalan. Lorong gelap itu tampak bersinar dengan sinar dari Silent Gold dalam genggaman pemuda tersebut.
Lazarus dan kawan-kawannya terlihat panik karena aksi yang tiba-tiba tak pernah mereka sangka. Hingga akhirnya, SPLASH!
"Oh! Air!" pekik Bara saat kakinya menginjak genangan air yang semakin dalam hingga semata kaki.
"Cepat! Jangan takut. Temanku Tina menemukan jalan lain. Tempat yang kami lewati sebelumnya ambles karena bom yang dibuat. Aku tak menyangka jika granat itu ledakannya cukup dahsyat," jawab Mandarin menjelaskan seraya terus berlari dengan air yang kini setinggi lututnya.
Langkah anak-anak itu melambat karena air semakin dalam dan kini setinggi perut mereka. Rangga dan lainnya panik, karena tempat itu gelap meski kaki mereka masih memijak dasar.
SPLASH!
"Woah! Apa itu? Aku melihat ekor besar dari genangan di sebelah sana?!" pekik Lazarus panik dan membuat semua orang bergidik ngeri.
Mandarin mengarahkan pedangnya yang menyala ke arah genangan yang dimaksud. Namun tiba-tiba ....
"Oh! Apa yang terjadi?" tanya L ketakutan dan panik karena cahaya itu padam.
"Sial! Baterainya habis," jawab Mandarin yang membuat semua orang dalam gua pucat seketika.
SPLASH!
"Woah! Ada yang memegang kakiku!" teriak Rangga histeris dan membuat semua anak menjerit ketakutan.
Mereka yang tak bisa melihat apa pun dalam tempat gelap itu mulai panik.
"Oh! Ada cahaya dalam air!" seru C menunjuk ke arah cahaya di depan kelompok mereka yang berkumpul karena ketakutan.
"Hai!"
"WAAAA!" teriak Bara dan lainnya saat mendapati wujud Merman dari Timo.
Mandarin yang awalnya panik langsung mengembuskan napas lega.
"Maaf, maaf. Jangan takut, aku seperti kalian. Salam kenal, aku Timo. Ini wujud Mitologiku seekor duyung," sapanya ramah dengan sinar biru menyala dari ekor duyungnya seperti penerang, tapi hanya bersinar dalam air.
"Hai," jawab Rangga dan kawan-kawannya balas menyapa meski masih terlihat gugup.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE