
Gibson dan Rex memanjat dinding gua dengan hati-hati. Keduanya tak tahu di mana mereka berada nantinya. Dua remaja itu berharap, nasib baik akan membawa mereka untuk bertemu dengan kawan-kawan lagi.
Di tempat Timo dan kawan-kawannya berada.
Mereka kini menggunakan bahasa Indonesia. Hanya Ryan saja yang masih menggunakan bahasa Inggris.
"Jadi ... kita suruh tanda tangan pakai darah gitu? Serem amat sih," keluh Jubaedah terlihat enggan.
"Tidak usah tanda tangan, darahmu bisa habis. Cukup beri nama Juby," jawab Timo.
Semua orang terlihat enggan, tapi melihat mereka ditatap tajam oleh para duyung, anak-anak itu pun melakukannya.
Pasha yang memiliki pisau lipat memberikan benda tajam itu kepada Azumi. Gadis Jepang itu dipercaya karena ia memiliki ilmu medis ketimbang kawan lainnya.
"Namamu Juby 'kan?" tanya Azumi ramah seraya memangku tangan kiri Jubaedah di atas kedua pahanya.
Gadis cantik asal Indonesia itu berkeringat dingin karena panik. Anak dari Eko tersebut mengangguk dengan mata terpejam terlihat ketakutan.
"Seperti suntik imunisasi kok. Kamu nyanyi aja. Bebas nyanyi apapun," sambung Azumi mencoba menenangkan karena hanya Jubaedah seorang yang belum memberikan tanda.
"Juby gak bisa mikir! Juby gak tau mau nyanyi apa, huwaaa!" tangisnya padahal Azumi belum melakukan apapun dengan pisau itu.
Semua anak menghela napas panjang, termasuk para duyung.
"Kenapa harus pakai darah? Ambilnya pas Juby mens aja, kenapa harus sekarang?" tanyanya seraya meneteskan air mata.
Semua orang terlihat bingung, tapi hal itu dimanfaatkan oleh Azumi. Juby yang menangis dengan mata terpejam tak merasakan saat ujung jempolnya ditusuk dengan ujung pisau oleh Azumi.
"Sudah," ucap Azumi dengan senyuman, dan praktis, tangis Jubaedah lenyap.
"Ha?!" tanyanya kaget dengan air mata sudah menggenangi wajahnya.
Azumi memperlihatkan papan batu dengan nama 'JUBI' di sana, tapi gadis itu malah kembali menangis. Semua orang bingung.
"Pake 'Y' bukan 'I'. Tar bapak akikahan lagi. Benerin!" protesnya.
Azumi menarik ibu jari Jubaedah yang masih mengeluarkan darah. Gadis itu berteriak histeris dengan suara lengkingan memekakkan telinga.
Para duyung sampai menutup kedua telinga mereka dan beberapa diantaranya menyelam karena rengekan Jubaedah yang membuat sakit telinga.
"Udah, udah. Tuh, udah 'Y'. Udah ya, jangan nangis lagi. Malu ih dilihat sama cowok-cowok. Nanti kamu dikira cengeng loh," ucap Azumi, dan seketika, tangis itu kembali lenyap.
"Gitu ya? Emang, cowok gak suka cewek cengeng?" tanya Jubaedah seraya mengelap ingusnya lalu mencuci tangannya dengan air kolam.
Para duyung terlihat jijik dan menghindar dari sisi Jubaedah yang duduk di tepian kolam pada sebuah batu.
__ADS_1
"Duyung saja sampai pada kabur karena tingkah Juby. Dia bisa jadi jimat keberuntungan," sahut Pasha dan Vadim mengangguk setuju.
Timo mengumpulkan semua batu itu dalam dekapannya. Namun, Mandarin meminta agar semua batu itu disejajarkan.
Timo mensejajarkan semua batu termasuk yang sudah diberi tanda darah dari Rex, Gibson dan dirinya. Ternyata, Mandarin memotretnya dengan ponsel miliknya sebagai bukti.
"Ini untuk arsip kita. Kata ayah, semua hal yang berhubungan dengan perjanjian dan kesepakatan, harus direkam," tegasnya, dan anak-anak mengangguk setuju.
"Kami sudah berjanji, kalian juga. Jangan sakiti kawan-kawan kami lagi," tegas Timo dan puteri duyung itu mengangguk.
Duyung lainnya mengambil batu-batu yang disusun itu lalu membawanya sebagai bukti. Manusia setengah ikan tersebut kembali menyelam dan tak nampak lagi sosoknya.
Anak-anak bernapas lega. Timo naik ke daratan dan dibantu Ryan serta Jubaedah untuk mengeringkan ekornya.
Seketika, Pasha, Vadim, Azumi, dan Mandarin terkejut, karena ekor besar dan mengkilat itu berubah menjadi kaki manusia lagi.
"Mimi!" panggil Hihi yang baru disadari oleh semua orang jika peri itu bersama mereka.
"Oh! Hihi! Kau dari mana saja?" tanya Azumi mendekat.
"Hihi, hihihihi," jawabnya seraya menunjuk di atas tebing.
"Sepertinya Hihi meminta kita untuk ke atas. Ayo!" ucap Vadim dan semua anak mengangguk setuju.
Anak-anak yang kini bergabung menjadi satu tim mengikuti Hihi yang membawa mereka ke sebuah bukit yang belum pernah dijelajahi sebelumnya.
"Hoi! Hoi!" panggil Gibson dan Rex di kejauhan di tengah hutan.
Dengan sigap, anak-anak dari tim Timo segera berlari mendatangi Rex dan Gibson yang menunggu kedatangan mereka.
"Are you two okay?" tanya Ryan cemas. Gibson dan Rex mengangguk.
"Hei, kami menemukan sebuah tempat ajaib lagi. Ayo ikut, tapi sebaiknya kita waspada. Kami tak tahu ada penghuninya atau tidak, tapi patut untuk kita datangi," ajak Gibson, tapi membuat semua anak bingung.
Gibson mengajak mereka terus menaiki bukit seperti mendaki sebuah gunung. Napas anak-anak terengah. Bahkan Vadim dan Pasha meminum stokan air dari botol yang mereka bawa.
"Hah, berapa jauh lagi? Kau tahu tempat itu dari mana?" tanya Timo dengan kening berkeringat.
"Kami berdua melihatnya dari seberang bukit saat berhasil keluar dari gua. Gibson memanjat sebuah pohon tinggi dan melihat ada tempat unik di seberang. Sayangnya, ada jurang yang sangat dalam, jadi kita memutar untuk tiba di sana. Beruntung, Hihi datang dan Gibson memintanya untuk memeriksa. Kata Hihi, tempat itu bisa didatangi," jawab Rex.
"Kau berbicara dengan Hihi? Memangnya ... Hihi bisa bicara?" tanya Azumi terheran-heran.
Rex tersenyum seraya menunjukkan temuannya dari dalam tas. Semua anak melongok isi dari dalam tas tersebut. Seketika, mata mereka melotot.
"Aku mengambilnya saat kami berada di gua. Awalnya ... aku ingin memberikan ini kepada Juby, ya ... sebagai oleh-oleh, tapi saat Hihi melihatnya, ia langsung memetik satu daun lalu memakannya. Dan seketika, Hihi bisa bicara seperti kita, tapi dalam bahasa Inggris. Namun, hanya bertahan selama beberapa saat lalu ia kembali bicara dengan bahasa anehnya itu," jawab Rex dengan mata berbinar seraya menunjuk Hihi.
__ADS_1
"Kau harus menyimpan daun merah muda itu, Rexy. Itu sangat bermanfaat!" ucap Jubaedah riang, dan Rex mengangguk mantap lalu menutup sleting tasnya lagi.
"Asal kautahu, Hihi itu kanibal. Dulunya dia gadis kecil yang manis. Dia berhasil menangkap peri, tapi dimakannya. Lihat saja ukurannya, dia tak normal," tegas Pasha, dan hal itu membuat anak-anak yang tak mengetahui hal tersebut langsung terkejut.
Praktis, anak-anak yang merasa ngeri dengan Hihi langsung menjauh tak berani mendekat karena takut di makan. Pasha dan Vadim terkekeh karena ekspresi lucu kawan-kawan barunya.
"Kalian tak mungkin di makan. Lihat saja kami yang begitu menggiurkan ini. Hihi tak tertarik. Kita terlalu besar untuk ditelan," sambung Vadim, tapi tetap membuat anak-anak itu takut dengan sosok Hihi.
"Hei, ayo! Jangan sampai kita kemalaman saat turun nanti. Aku penasaran dengan rumah pohon yang kalian ceritakan itu," ucap Gibson memimpin jalan dengan Hihi terbang di depan sebagai penunjuk jalan.
Anak-anak itu bergegas mengikuti Gibson dengan jalan berurutan. Hingga akhirnya, mereka menemukan jalan setapak dari batu.
Praktis, anak-anak itu melebarkan mata saat mendapati sebuah rumah dari jamur ada di ujung jurang.
"Woah! Itu ... rumah jamur? Namun sepertinya ... kecil," ucap Mandarin menilai.
"Ayo kita lihat. Aku penasaran dengan makhluk yang hidup di dalamnya," ajak Gibson semangat dan anak-anak mengangguk setuju meski terlihat takut.
Jubaedah kembali bergandengan tangan dengan Rex. Terlihat, anak-anak yang berjalan di belakangnya saling berbisik dan malah tersipu malu. Ternyata, Jubaedah menyadarinya.
"Kalian kenapa cengangas-cengenges gitu?" tanya Jubaedah keheranan dengan Rex ikut memandangi kawan-kawannya.
"Kalian pacaran ya?" ledek Azumi dan membuat semua anak terkekeh pelan.
Jubedah dan Rex saling memandang.
"Oh. Aku dan Juby dijodohkan oleh ibu kami. Katanya, daripada susah-susah cari calon menantu, yang pasti-pasti aja ada di depan mata. Begitu kata ibuku," jawab Rex santai. Semua anak melongo.
"Awalnya papi Juby gak mau. Dia gak suka jodoh-jodohan gitu. Tapi ... setelah diomelin sama mami Dewi, diancem sama om Eiji dan dipelototin sama tante Monica, papi Juby pasrah. Dia takut Juby nanti malah kawin lari kaya di sinetron-sinetron," sahut Jubaedah menambahkan.
"Sinetron? Apa itu?" tanya Vadim heran.
Rex dan Jubaedah terdiam.
"Nanti kalau kalian ke Indonesia, Juby kasih tau," jawab Jubaedah dengan senyum terkembang.
Saat anak-anak itu asyik mengobrol dan malah menghentikan perjalanan, tiba-tiba, Gibson berteriak di kejauhan.
"GUYS!" panggilnya lantang dengan dua tangan terangkat berwajah tegang.
Praktis, anak-anak yang mendengar panggilan itu menoleh dan langsung melotot tajam.
***
__ADS_1
kalo tar pas baca typonya banyak maklum aja ya. ini ngantuk sumpah tapi di paksa melek karena nunggu monster pulang. masih eps bonus dr tips mak Ben ya. tengkiyuw❤️