MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MATI


__ADS_3

"AAAA!" Tina berteriak lantang karena dia jatuh dari ketinggian karena jembatan batu yang ia pijak runtuh.


Bara dengan sigap terbang dan menukik tajam untuk menyelamatkan Tina. Gadis itu berteriak histeris ketakutan karena jarak yang sangat tinggi dari permukaan.


Tina sudah membayangkan dia akan tewas dengan rasa sakit yang teramat sangat karena menghantam batu keras.


Adik dari Timo tersebut memejamkan matanya rapat karena tak sanggup melihat kengerian yang akan dihadapinya.


Namun, tiba-tiba, "Hah, hah, aku berhasil menangkapmu!" seru Bara saat cakar di kaki burung Garuda miliknya mencengkeram tas ransel yang Tina gendong.


Kepala Tina mendongak dan matanya langsung terbuka. Ia tersenyum lebar karena Bara berhasil menolongnya dengan wujud Kesatria Garuda.


Namun, gadis itu tersadar jika tiga hewan penyimpan cadangan jiwa jatuh bersamanya dan Bara tak menolong mereka.


"Bara!" teriak Tina langsung menunduk dan melihat tiga hewan malang itu melengking nyaring ketakutan.


"No!" teriak Bara panik.


"Cepat, Bara!" seru Tina dengan dua tangan siap menangkap tiga hewan malang yang jatuh dengan sangat cepat.


Bara kembali terbang dan menukik tajam. Tina berusaha keras mencoba menangkap tiga hewan itu dengan tangan terjulur ke depan, tapi ....


"Piii!!"


BRUKK!! BRUKK! BRUKK!!


"Tidak!" teriak Tina dengan mata membulat penuh saat usahanya gagal untuk menangkap tiga hewan itu karena tubuh mereka sudah menghantam bongkahan batuan keras di permukaan.


Bara ikut terkejut. Dua remaja itu seperti shock dengan apa yang dilihat. Tina berlinang air mata dan mendongakkan kepala hingga Bara bisa melihat wajah kesedihan dari teman perempuannya.


Bara mengepakkan sayapnya dan membuat keduanya perlahan turun dari tebing curam. Tina meneteskan air mata saat melihat tiga hewan penyimpan cadangan jiwa itu tak bergerak lagi dan tergeletak di atas tumpukan batu.


"Hiks, Bara ... apakah ... apakah mereka mati?" tanya Tina sedih saat kedua kakinya sudah menapak tanah berbatu.


"Aku tak tahu, Tina. Aku tak tega memegang mereka," jawabnya dengan suara parau.


Bara berubah menjadi manusia lagi dan terlihat seperti akan menangis ketika Tina mengambil hewan penyimpan cadangan jiwa miliknya yang berbentuk seperti kelinci.


"Hei, bangun. Jangan tinggalkan aku," ucap Tina dengan air mata menetes saat mendekap makhluk malang yang sudah memejamkan matanya.


Namun, makhluk itu diam saja tak menjawab. Air mata Tina tumpah begitu saja. Ia memeluk hewan miliknya erat yang sepertinya telah tiada.


Tina dan Bara duduk bersimpuh di atas tanah berbatu. Bara ikut berduka dan berusaha agar tak menangis dengan memalingkan wajah saat melihat hewan miliknya tergeletak tak bernyawa.


Hingga tiba-tiba, tiga hewan itu bersinar. Tina terkejut dan memandangi hewan miliknya saksama yang mulai memudar lalu menjadi butiran seperti kristal yang terbang ke langit.


"Hiks, Bara ... Bara," panggil Tina dengan tangan gemetaran saat hewan miliknya lenyap di atas pangkuannya.


Bara terkejut hingga matanya ikut bergerak tak beraturan saat melihat hewan miliknya dan juga Ryan memudar lalu lenyap.


Bara memegang batu tempat hewannya tadi tergeletak dengan pandangan tak menentu ketika ia menyadari jika hewan miliknya ikut hilang dari pandangan.


"Bara ... apakah itu berarti ... kita sudah tak memiliki cadangan jiwa lagi? Jika kita mati, kita tak bisa hidup lagi?" tanya Tina dengan wajah tergenang air mata tampak gugup.


Bara menggeleng tidak tahu terlihat tertekan. Tiba-tiba, keduanya merasakan hal aneh. Tubuh mereka bersinar seperti memiliki butiran kristal di sekeliling.

__ADS_1


Namun perlahan, butiran itu masuk ke dalam tubuh dan hilang. Keduanya saling memandang terlihat bingung.


Ternyata, hal serupa juga terjadi pada Ryan. Pemuda itu tampak terkejut melihat keanehan dalam dirinya. Kawan-kawan yang duduk bersamanya di punggung naga Rex ikut kaget.


"Ryan! Apa yang terjadi padamu?" tanya Timo dengan mata membulat penuh menatap sahabatnya lekat yang duduk di depannya.


"A-aku tak tahu," jawabnya gugup seraya melihat kedua tangannya yang bersinar dengan bulir-bulir bercahaya, tapi kemudian menghilang. "A-apa kalian pernah merasakan hal seperti ini?" tanya Ryan di mana mata semua anak tertuju padanya.


Namun, para remaja itu menggeleng pelan. Ryan tampak gugup dan seperti khawatir akan sesuatu.


"Kamu ngerasa mual? Mau muntah? Mau pingsan? Atau serasa mau mati gitu?" tanya Jubaedah menebak yang duduk di depannya, tapi Ryan menggeleng.


Semua anak kembali terlihat serius hingga pandangan Jubaedah tertuju pada jarum kompas yang bergerak.


"Eh! Belok kiri, Rexy!" seru Jubaedah saat melihat arah jarum itu berbelok.


Rex dengan sigap berbelok dan kembali fokus. Anak-anak itu kembali serius di mana tujuan mereka kini adalah di tempat Tina berada.


Sedang di tempat Tina dan Bara berada.


Keduanya dirundung duka dan kebingungan. Dua anak itu diam saja di bawah tebing seperti kehilangan semangat hidup usai kehilangan hewan penyimpan cadangan nyawa mereka.


"Rasanya ... hampa dan sia-sia, Tina. Semangat Bara luntur, lenyap seketika," ucapnya lesu sembari duduk di atas tumpukan kerikil.


"Bagaimana kita melanjutkan misi jika tak memiliki cadangan nyawa lagi? Sudah pasti kita akan mati," sahutnya pesimis.


Dua anak itu terlihat terpuruk seakan rasa percaya diri mereka padam seketika. Keduanya diam saja dengan wajah tertunduk terlihat sendu.


Tiba-tiba, "Tina!"


Sontak, kepala gadis itu mendongak, termasuk Bara. Keduanya yakin jika ada yang memanggil dari atas langit.


Perlahan Bara dan Tina menoleh ke arah langit. Terlihat, tiga makhluk bersayap seperti menuju ke arah mereka dari sisi wilayah terang.


"I-itu ...," ucap Tina dengan mata melebar.


"Rexy!" seru Bara dan Tina bersamaan.


"Hei! Hei!" panggil Bara dan Tina terlihat gembira.


Keduanya langsung berdiri dan melambaikan tangan. Bara dan Tina begitu senang karena akhirnya bisa bertemu dengan kawan-kawannya lagi. Keduanya berpelukan dan bersorak senang. Namun, tiba-tiba ....


"Tina!" teriak Timo yang mengejutkan gadis itu.


Bara melepaskan pelukan dan ikut berteriak lantang. "Tina! Awas!" serunya seraya menarik tangan gadis cantik itu.


Namun, Tina yang bingung malah berdiri mematung. Tiba-tiba, KRAKK!!


"TINA!" teriak Timo dengan mata terbelalak saat melihat leher adiknya digigit oleh rahang seekor manusia serigala.


Mata Tina terbuka lebar karena kaget dan berdiri dengan tubuh seperti mengejang saat darah mulai menetes dari gigitan itu.


"AAAAA!" teriak Jubaedah histeris saat melihat manusia serigala itu menjatuhkan Tina yang ambruk dengan mata terbuka dan gigitan tak terlepas dari lehernya.


"Harghhh! Kau lagi!" seru Bara marah dan dengan sigap mendatangi manusia serigala yang menyeret tubuh Tina seperti akan dibawa pergi.

__ADS_1


Sontak, semua anak dibuat shock atas tragedi itu. Bara marah dan terlihat tak takut saat ia melempari manusia serigala itu dengan batu-batu di sekitarnya.


"Argh! Lepaskan Tina!" teriaknya marah dan terus melempari tubuh lawannya dengan batuan besar.


Makhluk itu tampak gusar dan melepaskan gigitannya. Ia mengerang dan kini membidik pemuda yang mengusiknya. Praktis, Bara terkejut dan matanya melebar seketika.


"Harrghh!"


"AAAA!" teriak Bara histeris karena kini manusia serigala itu siap menerkamnya.


Namun, "Oakkk!"


"Roarrr!" erang manusia serigala itu saat ia diserang oleh seekor Griffin yang tak lain adalah Czar, berikut Manticore Pasha.


Bara yang melihat kesempatan dan menaruh dendam karena serigala itu melukai kawannya, ikut berubah.


"GOARRR!"


Manusia serigala itu dikeroyok dari tiga sisi. Tiga makhluk Mitologi dari kumpulan anak-anak itu terlihat buas dan beringas seperti hewan sesungguhnya.


Mereka tak segan menggigit, mencabik, bahkan merobek tubuh manusia serigala itu hingga, JLEB!!


"ROARR!" erang manusia serigala saat ekor kalajengking Manticore Pasha menusuk punggung manusia serigala itu hingga menembus dada.


Manusia serigala itu ambruk dengan darah warna biru menyeruak pada lukanya. Ia meringkuk kesakitan terkena racun mematikan dari sengat Pasha.


Makhluk yang menggigit Tina tewas tergeletak di tanah berbatu dengan tubuh kaku.


"Hah, hah, Tina!" panggil Timo panik begitu turun dari punggung naga Rex.


Timo berlari tergesa mendatangi sang adik yang tergeletak dengan mata terbuka. Tubuh Tina kaku seperti sebuah patung.


Tangan Timo gemetaran ketika memegang kepala Tina, di mana gadis cantik itu tak bergerak dengan darah warna biru bercampur merah pada luka gigitan serigala.


"Hiks, Tina ... Tina ...," panggil Timo dengan suara bergetar dan mata berlinang.


"Ya ampun!" pekik Jubaedah langsung membungkam mulut dengan mata terbelalak saat melihat Tina seperti sudah kehilangan nyawanya.


"Tina?" panggil Laika dengan air mata menetes begitu saja saat melihat adik dari Timo pucat.


"Hiks, Tina! Tina!" panggil Timo berulang kali seraya memeluk sang adik dengan tangisan menyayat hati.


Semua anak dibuat shock seketika. Mereka ikut menangis dan berduka karena Tina telah tiada. Timo memeluk jasad Tina erat yang sudah tak merespon panggilannya lagi.


Rex langsung memeluk Jubaedah yang menangis terisak karena kehilangan kawan perempuannya, begitu pula Laika yang tak sanggup melihat kematian Tina di depan mata ketika diserang oleh sesama jenisnya, manusia serigala.


"Tina ... bangun ... aku sudah berjanji akan membawamu pulang ke Bumi ... apa yang harus kulakukan tanpamu? Aku bertahan sejauh ini karena janjiku padamu. Jangan tinggalkan aku, Tina," ucap Timo dengan air mata mengalir deras dan memeluk sang adik erat meski Tina diam saja.


Tak ada yang berani mendekati Timo karena hatinya berduka. Semua orang terlihat begitu kehilangan.


Mereka hanya bisa menangis dan terpukul atas kejadian yang menewaskan kawan mereka itu. Tempat gelap dan terasa dingin itu makin memilukan dengan berpulangnya satu anggota tim dari kelompok besar anak manusia itu.


***


__ADS_1


makasih tipsnya diriku👌 yg lain ditunggu sedekah koinnya 🤭 lele padamu❤️


__ADS_2