
Praktis, anak-anak itu langsung lari terbirit-birit. Namun, Rex tetap fokus pada jalur cahaya sebagai petunjuk arah menuju ke portal.
"Tetap dalam kelompok! Jangan berpencar!" seru Gibson berpegangan kuat pada rambut kuda Vadim.
"Jangan dijambak, Gibson!" pekik Vadim seraya menggelengkan kepalanya kuat di mana ia lari lebih kencang ketimbang kawan lainnya.
"Ubur-ubur itu mengejar kita dengan cepat!" seru Kenta panik yang melihat empat ubur-ubur menggerakkan tentakel serta sayap di kepala mereka dengan gesit.
"Unicorn!" seru Azumi tiba-tiba, dan wujudnya berubah menjadi kuda putih bertanduk. "Naik ke punggungku cepat!" pinta Azumi yang kini berdiri menunggu kawan-kawannya.
Dengan sigap, empat anak Amerika merubah wujud mereka menjadi kurcaci. Empat orang itu dinaikkan oleh Kenta ke atas punggung unicorn sang adik.
"Kenta! Awas!" teriak Azumi saat melihat seekor ubur-ubur yang tadi Kenta jerat dengan tali menghampirinya.
Entah apa yang menggerakkannya, Kenta mengepalkan tangan kanannya dan malah meninju bagian atas ubur-ubur dekat mata.
"Bu! Bu! Bu!" rintih hewan itu saat ia terdorong mundur karena tubuh lunaknya dipukul kuat.
Anak-anak yang berada di belakang Kenta terkejut. Namun ternyata, hal itu membuat ubur-ubur tersebut marah.
"BUUU!" lengking hewan itu dengan tubuh berubah menjadi merah dan bersinar terang.
Seketika, warna merah muda seperti ubur-ubur yang menempel pada batang pohon bergerak. Mata Kenta dan anak-anak lainnya melebar saat mereka baru menyadari dari mana ubur-ubur itu berasal.
"Run!" seru Harun lantang yang panik karena jumlah ubur-ubur semakin banyak.
Anak-anak berlari kencang. Lazarus akhirnya menyadari jika tangannya masih terjerat tali yang menghubungkannya dengan seekor ubur-ubur.
Namun, hewan itu seperti mabuk. Tubuh makhluk bertentakel tersebut bergerak tak beraturan karena tubuhnya terguncang ketika ia dibawa lari dengan kencang oleh Lazarus tadi.
"Agh!" erang Lazarus saat ia berhasil melepaskan tali di pergelangan tangannya lalu ikut berlari menyusul kawan-kawannya yang sudah lebih dulu di depan.
Anak-anak berlari sekuat tenaga karena kini mereka dikejar oleh puluhan ubur-ubur yang ingin melumpuhkan mereka.
"Itu dia portalnya!" seru Timo lantang dengan keringat sudah bercucuran.
"Semuanya! Cepat masuk ke dalam!" seru Gibson menoleh ke arah kawan-kawannya.
Vadim dengan sigap melompat ke dalam portal dengan Gibson dan Rangga di punggungnya, disusul oleh Azumi yang membawa empat kurcaci yang menungganginya.
Tanpa pikir panjang, semua anak segera masuk ke dalam portal tanpa mereka tahu ke mana pintu antar dimensi itu membawa mereka.
"Waaaa!" teriak anak-anak ketika mereka melompat, dan ternyata titik jatuh berada di turunan bukit.
BRUKK! BRUKK!
"Aggg, aduh ... sakit ...," rintih Mandarin saat tubuhnya tertimpa oleh kawan-kawannya setelah mereka jatuh bergulung-gulung beramai-ramai.
Seketika itu juga, portal tersebut tertutup.
"Oh! Tempat apa ini?" tanya Vadim yang terbang melayang di udara dan tak ikut jatuh saling menimpa seperti kawan-kawan lainnya, termasuk Azumi yang mendarat di sebuah tanah dengan warna merah muda berkilau layaknya gula.
"Woahhh ...," kagum anak-anak yang mulai berdiri satu per satu dengan mulut menganga lebar dan mata berbinar.
__ADS_1
"Ini ... ini seperti dunia permen!" seru Czar riang dengan wajah berbinar ketika mendapati mereka berada di sebuah wilayah dengan banyak makanan manis di sekitar.
"Apa ini sungguhan?" tanya Tina seraya mendekati sebuah pohon permen dan memegang batangnya.
"Jilat saja," sahut Laika dan Tina dengan ragu menjulurkan lidahnya.
SLUP!
"Oh! Ini sungguhan! Pohon seperti permen ini sungguhan! Rasanya manis seperti gulali!" jawab Tina semangat.
"Benarkah?!" pekik Vadim langsung terbang turun dengan tergesa bahkan menjatuhkan Gibson dan Rangga karena bersemangat.
Vadim segera merubah wujudnya menjadi manusia lalu mengambil sebuah kerikil seperti permen jeli.
"Bagaimana?" tanya Ryan menelan ludah karena Vadim terlihat menikmati batu tersebut.
"Enak sekali! Rasa stroberi!" serunya dengan wajah bahagia.
Praktis, anak-anak itu segera menikmati benda-benda yang ternyata bisa dimakan. Bagaikan di negeri dongeng, mereka masuk ke sebuah dimensi di mana semua benda di tempat itu berasal dari kue dan permen.
"Oh, lihat! Ada sebuah rumah di sana dan ada asap! Pastinya, ada penghuninya! Mungkinkah ... tempat ini dihuni oleh sebuah makhluk?" tanya Boas menunjuk dengan mata melotot seraya memegang sebuah permen berbentuk bintang di tangan kanannya.
Praktis, mata anak-anak itu melebar seketika. Mereka berjalan mendekat menuju rumah warna merah muda yang terbuat dari kue tersebut.
"Tunggu-tunggu ... jangan bilang kita akan masuk dalam kisah seperti ...," ucap Peter merentangkan tangan menahan langkah kawan-kawannya yang berjalan di sampingnya.
"Oh, shitt," celetuk Nicolas langsung pucat seketika dengan biskuit dalam apitan jarinya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Bruce terlihat pucat.
Semua anak saling memandang terlihat bingung. Rangga dan Gibson yang duduk pada sebuah batu permen terlihat memikirkan hal ini dengan serius.
"Sebaiknya. Kita istirahat dulu saja. Kita menjauh dari rumah itu untuk sementara waktu sembari kita pikirkan bagaimana bertahan hidup di tempat ini sampai misi diberikan. Bagaimana?" tanya Gibson menyarankan.
"Ya, aku rasa itu hal itu pilihan terbaik untuk saat ini mengingat kita semua juga lelah," sahut Jimmy dan diangguki semua anak yang setuju dengannya.
"Baiklah kalau begitu. Boas, bisa kaucari, di mana kira-kira tempat aman untuk kita istirahat hari ini? Jujur, aku tidak tahu sekarang pukul berapa. Langit di sini aneh," pinta Gibson seraya mendongak menatap langit.
"Oke!" jawab Boas yang dengan sigap berubah menjadi peri.
Remaja tampan itu segera terbang dan melihat dari atas langit. Boas berputar melihat sekeliling di mana hamparan warna merah muda mendominasi tempat itu.
Namun, Boas melihat sebuah tempat seperti perkampungan di kejauhan.
"Teman-teman! Sepertinya ... ada semacam desa atau perkampungan di tempat ini. Aku melihat jika ada beberapa rumah yang terbuat dari kue di sebelah sana. Jika kita berjalan, mungkin membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di sana. Bagaimana?" tanya Boas menyarankan.
"Perkampungan?" tanya Gibson mengulang dan Boas mengangguk.
"Maksudnya ... ada penduduk yang tinggal di tempat ini? Woah, aku penasaran seperti apa orang-orangnya. Apakah ... mereka juga terbuat dari kue?" tanya Jubaedah seperti membayangkan sesuatu karena wajahnya sumringah.
__ADS_1
"Entahlah, tapi ... kita akan cari tahu jika memang ingin mengetahuinya," sahut Rangga.
"Hem, menurutku, tempat kita sekarang sudah sangat nyaman. Tak perlu pindah," sahut Pasha yang sudah duduk dengan kaki ia luruskan dan dua tangan sudah penuh dengan kue.
"Ya ampun, aji mumpung banget tau gak sih duo endut ini," sahut Jubaedah geleng-geleng kepala, tapi ia juga ikut memakan sebuah permen dari batu kerikil yang ia temukan di tepi jalan setapak.
"Tempat ini terlalu terbuka. Berbahaya. Jangan terlena dengan makanan enak ini. Untung saja aku tak begitu menyukai permen dan makanan manis," sahut Gibson dan anak-anak baru tahu hal itu.
"Jadi, bagaimana?" tanya Boas masih terbang melayang.
"Apakah ada tempat semacam hutan atau wilayah tanpa rumah penduduk di planet ini?" tanya Gibson menyarankan.
Boas terbang lebih tinggi lagi untuk melihat sekitar. Ia terbang sedikit menjauh untuk memastikan pengamatannya.
"Ada! Jaraknya sedikit lebih jauh. Mungkin ... satu jam tiba di sana. Namun, wilayah itu sepi dan seperti hutan," sahutnya. Gibson mengangguk pelan.
"Oke! Kita akan pergi ke tempat yang Boas katakan barusan. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Kita masih belum tahu tentang planet ini. Ayo," ajak Gibson seraya berdiri, meski tangannya masih lesu.
"Oke!" sahut Rangga yang tiba-tiba saja bisa berdiri padahal salah satu kakinya lunglai.
"Loh?!" pekik Nicolas menunjuk dengan mata melotot.
Rangga yang bingung menundukkan wajah mengikuti arah telunjuk Nicolas.
"Woah! Kakiku! Kakiku sudah tak mati rasa lagi! Aku bisa bergerak!" seru Rangga terkejut saat kakinya sudah sembuh dengan ajaib.
"Bagaimana bisa?" tanya Harun melotot.
"Entahlah," jawab Rangga seraya mengangkat kedua tangannya yang masih memegang permen.
"Oh! Apakah ... karena kaumakan permen itu?" tanya Kenta menunjuk permen berbentuk seperti bunga dalam apitan jarinya.
"Bisa jadi!" jawabnya dengan mata melebar.
Gibson dengan sigap mengambil permen bunga itu dari tangan Rangga dan memasukkan ke mulutnya. Rangga terkejut, tapi ia diam saja dan mengamati Gibson lekat.
"Woah! Benar!" seru Gibson saat tiba-tiba saja jari-jarinya yang lumpuh bergerak.
Semua anak terkejut akan kemampuan dari makanan manis yang mereka temukan dan makan sedari tadi. Gibson dengan sigap membuka tasnya dan mengeluarkan pastik bening.
Ia dengan antusias memasukkan semua jenis dari bentuk makanan manis yang ia temukan lalu memasukkan dalam plastik.
"Oh ... aku suka permen," jawabnya dengan mata berbinar dan semua anak terdiam melihat Gibson mencomot sebuah kerikil berwarna merah muda yang langsung dimasukkan ke mulut.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tengkiyuw tipsnya mbak Aju. Semoga mual tak membuat dirimu malas up ya. Kwkwkw yang lain jangan lupa tips poin, koin, dan vocernya ya. Lele padamu
__ADS_1