
Akhirnya, matahari telah menyelimuti wilayah tempat anak-anak manusia itu bernaung. Harun dan Nicolas sudah menikmati sarapan lebih dulu karena setelah itu, mereka harus mencari makanan untuk kawan-kawan mereka.
"Good morning!" sapa Nicolas saat para gadis mulai membuka mata, meski masih terlihat malas.
"Emph, morning too," jawab Jubaedah dengan tubuh Lady Dragon-nya.
Dari semua anak, hanya Jubaedah yang masih bertahan dengan tubuh Mitologinya. Sepertinya, gadis itu tak mempermasalahkan hal tersebut. Malah, ia seperti lupa dengan wujud manusianya.
"Eh, Juby," panggil Azumi seraya menyenggol lengan gadis manis tersebut ketika akan berdiri.
Jubaedah menoleh dan melihat Laika memegang dahi C. Kening Jubaedah dan kawan-kawan wanitanya berkerut.
"Czar kenapa?" tanya Tina cemas yang tidur di sebelah Jubaedah.
"Entahlah, tubuhnya panas. Apakah C sakit? Apa kalian punya obat?" tanya Laika panik.
Jubaedan dan para gadis segera membuka tas mereka untuk mencari obat penurun demam seperti permintaan kawannya, tapi tiga gadis itu menggeleng.
"Panasnya tinggi sekali. Dia kenapa? Semalam, C masih baik-baik saja," tanya Laika panik karena tubuh Czar menggigil.
Ternyata, kepanikan itu membangunkan anak-anak yang lain kecuali Kenta dan Ryan yang masih tertidur pulas.
"Ada apa?" tanya Gibson seraya mengucek mata.
"C sepertinya sakit. Badannya panas," jawab Tina meneruskan.
"Dia sakit? Lainnya, segera cek tas kalian. Cari obat penurun panas!" pinta Gibson yang dengan sigap bertindak.
Segera, anak-anak itu membuka tas masing-masing, tapi kemudian menggeleng.
"Kita kompres saja dengan air," sahut Lazarus.
"Di tempat ini, sumber mata air jauh. Sebaiknya, kita segera pergi ke tempat aku mengalahkan Medusa kala itu. Wilayah itu memiliki kolam," sahut Boas, dan akhirnya semua anak setuju.
Pasha dan Vadim menyelimuti tubuh Czar dengan jaket yang mereka temukan dari tas anak lain selama perjalanan.
Semua benda yang didapat entah itu milik siapa, diklaim oleh mereka sebagai penunjang hidup.
"Sebaiknya kaumakan dulu," pinta Laika dan Czar mengangguk.
Pria asal Rusia itu memakan buah pisang biru dengan tubuh menggigil, meski kulitnya terlihat merah karena demam.
Nicolas yang melihat kawannya sakit, berkerut kening. Pemuda itu lalu mengambil plastik yang berisi daun ajaib temuannya.
"Mungkin ini bisa membantu, Harun. Bagaimana jika kita coba?" tanya Nicolas menatap kawannya saksama.
"Ya, coba saja. Daun itu dingin seperti es," sahutnya.
Anak-anak bersiap untuk segera meninggalkan lokasi, tapi Gibson tetap meminta untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat dengan stok makanan terakhir yang mereka miliki.
"Cukup Czar yang sakit. Kalian harus jaga kesehatan dengan tetap makan. Kalian mengerti?" tegas Gibson di hadapan kawan-kawannya dan anak-anak itu mengangguk.
Harun dan Nicolas mendatangi kawan mereka yang sedang sakit. Para gadis yang merawat Czar menatap dua kawan lelaki mereka yang berjongkok seperti ingin melakukan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Azumi menatap Nicolas lekat saat pemuda itu mengeluarkan sebuah plastik dan mengambil sebuah daun warna putih. Nicolas menunjukkan daun itu kepada kawan-kawannya.
__ADS_1
"Daun? Buat apa?" tanya Jubaedah bingung.
"Peganglah," jawab Harun, dan Jubaedah mengambil daun tersebut dengan ragu.
"Woah! Dingin kaya es!" pekiknya langsung histeris dan mengejutkan semua anak termasuk Czar.
"Sungguh?" tanya Azumi penasaran dan Jubaedah memberikan daun itu kepada adik Kenta.
Azumi terkejut. Tina yang penasaran ikut memegangnya untuk membuktikan ucapan dari kawan-kawan wanitanya. Ternyata, ucapan mereka benar.
Saat Tina akan memberikannya pada Laika, daun itu jatuh dan mengenai punggung tangan Czar, seketika ....
"Woah! Daunnya berubah warna! Dia mengeluarkan asap!" pekik Jubaedah sampai matanya melotot.
Daun itu berubah menjadi cokelat lalu mengering. Laika terkejut dan mengambil daun itu dengan takjub. Namun, hal menakjubkan lainnya terjadi.
"Oh! Aku ... demamku sudah hilang! Aku tak merasakan tubuhku panas lagi!" seru Czar mengejutkan semua anak yang duduk di sekitarnya.
"Yang bener?!" pekik Jubaedah tak percaya dan langsung memegang lehar Czar, tapi malah seperti mencekiknya. Czar terkejut, tapi hanya bisa pasrah karena Jubaedah seperti memeriksanya. "Ih, bener! Dia udah gak panas lagi. Woah, itu dapet daun putih dari mana?!" tanya Jubaedah yang kini menatap Harun dan Nicolas dengan kagum.
"Hehe, mau tau aja atau tau banget?" tanya Nicolas berlagak.
"Hem, mulai," jawab Harun malas lalu pergi meninggalkan kawannya yang mulai bertingkah.
"Kita keluar aja. Ceritanya seru," ajak Nicolas, dan semua anak yang masih berada dalam gua mengangguk setuju.
Akhirnya, Harun dan Nicolas menceritakan temuan mereka. Kenta dan Ryan terpaksa dibangunkan, meski mereka masih membaringkan tubuh dan mendengarkan cerita dengan malas.
"Woah! Daun ini ternyata bisa menyembuhkan. Kau harus menjaganya, Nico!" seru Rex, dan Nicolas mengangguk mantap.
"Sudah habis. Namun setidaknya, kita bisa tahu bahasa Mitologi karena kita semua sudah memiliki perubahan. Kita sudah masuk level aman," sahut Rex yakin.
"Aman apanya? Kita masih punya 8 level yang harus diselesaikan," sahut Kenta dengan mata terpejam dan bicara layaknya orang mengigau.
"Ha? Apa maksudmu?" tanya Rangga berkerut kening.
Akhirnya, Ryan menceritakan kejadian saat mereka menemukan portal dan ada sebuah instruksi di sana.
Praktis, anak-anak itu terkejut dan langsung melihat jari mereka. Beberapa sudah ada yang memiliki warna ungu dengan 2 tanda, dan sisanya masih 1.
"Lalu ... apa misi yang akan kita tempuh?" tanya Bara terlihat cemas.
"Entahlah. Aduh, aku masih mengantuk. Biarkan kami tidur sebentar," keluh Kenta yang langsung memiringkan tubuhnya untuk melanjutkan tidur.
Anak-anak mendesis karena Kenta tak ingin menjelaskan lebih detail termasuk Ryan yang kembali memejamkan mata.
"Baiklah. Kita berangkat satu atau dua jam lagi. Kita kumpulkan bahan makanan untuk perjalanan kita selanjutnya," ucap Gibson, dan semua anak setuju.
"Boas. Apakah jarak ke tempat kau melakukan misi masih jauh?" tanya Timo seraya merapikan perlengkapannya.
"Mungkin sekitar setengah hari jika jalan kaki. Jujur, aku sedikit lupa dengan rutenya. Oleh karena itu, kita sebaiknya terbang saja," jawabnya.
"Ah, kau benar," sahut Vadim setuju.
"Atau, bagaimana jika diantara kita yang bisa terbang, pergi untuk melihat sekitar dari atas langit untuk memastikan keadaan? Dengan begitu, resiko kita tersesat akan semakin kecil," sahut Pasha mengusulkan.
__ADS_1
"Wah, ide bagus, Pasha!" sahut Lazarus.
"Aku saja yang terbang. Aku masih ingin mencoba fungsi dari tubuh periku," timpal Boas langsung bersiap.
"Aku temani," sahut Bara yang bersiap merubah wujudnya menjadi Kesatria Garuda. Boas mengangguk mantap dan segera berubah menjadi peri.
Anak-anak lainnya menunggu di tempat mereka berkemah. Boas dan Bara terbang di atas kumpulan anak-anak itu melihat sekitar.
"Wah, tempat ini ternyata sangat luas!" ucap Boas baru menyadari keberadaannya di wilayah tersebut.
"Eh, itu apa?" tunjuk Bara saat matanya menangkap sebuah benda besar seperti patung di kejauhan. Kening Boas berkerut saat matanya juga melihat benda tersebut.
"Entahlah, tapi seperti sebuah patung. Ayo kita lihat lebih dekat!" ajak Boas dan Bara mengangguk siap. "Hei! Kami pergi ke sebelah sana! Jika dalam 30 menit kami tak kembali, susul ya. Kami melihat ada sebuah patung dan ingin memeriksanya!" seru Boas dari atas langit.
"Oke!" jawab Gibson menunjukkan jempol kanannya ke atas.
Akhirnya, dua remaja itu terbang ke wilayah yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya.
Boas dan Bara terkejut saat melihat banyak patung di sekitar tempat yang mereka lewati. Entah kenapa, mereka malah merasa tempat itu cukup menyeramkan seperti menyembunyikan sebuah misteri.
Dua anak itu mendarat di dekat sebuah patung besar yang menarik perhatian mereka.
"Woah ... kaulihat itu? Seperti naga," ucap Bara kagum hingga kepalanya mendongak.
Boas mengangguk setuju hingga matanya mendapati patung lain.
"Eh, ada lagi, tapi lebih kecil seperti bayi naga!" sahutnya menunjuk sebuah patung naga di atas rumput.
Hingga akhirnya, dua anak itu malah merinding dengan lokasi yang mereka datangi. Boas dan Bara saling berpandangan dalam diam.
"Kabor!" seru Bara panik dan Boas ikut terpancing olehnya.
Keduanya langsung terbang dengan berteriak padahal tak ditemukan apa pun yang mengancam mereka. Namun, naluri bahaya begitu terasa hingga membuat mereka bergidik ngeri.
"Oh! Mereka sudah kembali, tapi ... kenapa kaya orang panik gitu ya?" tanya Jubaedah heran dengan sebuah pisang dalam genggaman.
"Hah, hah!" engah Bara dan Boas saat mereka mendarat dengan sembrono hampir terjungkal. Keduanya terlihat pucat sampai napas mereka tersengal.
"Ada apa?" tanya Gibson serius.
"Gak ada apa-apa sih, cuma ... serem aja. Ada banyak patung di tempat itu," jawab Boas sampai ia berkeringat.
"Patung? Oh! Jangan-jangan, tempat itu sarang Medusa lagi. Bukannya Medusa memiliki kemampuan merubah makhluk hidup jadi patung ya kalau liat matanya?" tanya Jubaedah mengingatkan dan semua anak mengangguk membenarkan.
"Berarti ... kita sudah dekat! Namun, aku tak ingat ada tempat itu. Seingatku, saat aku mengalahkan Medusa, aku berada di sebuah tempat yang memiliki kolam," sahut Boas yakin.
"Baiklah. Kita coba pastikan tempat itu lagi. Entah kenapa, aku merasa tempat itu akan menjadi misi kita berikutnya. Sebaiknya, kalian bersiap," pinta Gibson dan semua anak mengangguk, meski terlihat gugup jika itu benar adanya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1