MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
RAWA*


__ADS_3

Gibson dan anak-anak lainnya langsung kehilangan semangat begitu mengetahui misi dari level 5.


Para remaja itu duduk dengan lesu di pinggir pantai seperti memikirkan cara mengalahkan Hydra, atau bertahan hidup agar bisa kembali ke Bumi.


"Kita semua akan mati dan tak ada satu pun yang akan pulang," keluh Boas lesu seraya menggambar pasir pantai dengan telunjuknya.


"Aku tak bisa memberikan semangat apa pun. Makhluk itu besar. Seperti Rex, tapi dalam jumlah banyak. Bagaimana cara kita mengalahkannya? Sedang kita tahu sendiri, jika satu kepala terpenggal, maka dua kepala lainnya akan muncul, dan begitu seterusnya," sahut Lazarus.


"Namun ... instruksi tadi mengatakan jika kita tak perlu membunuhnya. Hanya perlu menebasnya. Mengingat jumlah asli kepala Hydra tak mungkin untuk semua anak, mungkin Oag sengaja memilih makhluk itu agar kita semua mendapatkan jatah," sahut Ryan mengemukakan pendapat.


Praktis, kepala semua anak langsung menoleh ke arah pemuda tersebut.


"Ah, kaubenar. Namun, bagaimana caranya? Serang bersamaan?" tanya Rangga mulai terlihat semangat untuk berdiskusi setelah lama diam.


"Oh, tanya pada cermin ajaib! Bukankah dalam legenda, Heracles berhasil membunuh Hydra? Coba tanyakan caranya," sahut Czar dan semua anak mengangguk setuju.


Azumi dengan sigap mengeluarkan cermin ajaibnya. Kali ini, Nicolas memberikan daun esnya sebagai barter agar mendapatkan informasi penting tersebut.


Gadis cantik asal Jepang itu menjatuhkan daun es ke dalam cermin dan daun berwarna putih itu tenggelam.


Semua anak tampak tegang ketika wajah Azumi yang terpantul pada cermin mulai bergerak, tapi tanpa ekspresi.


"Cermin ajaib. Katakan padaku bagaimana cara mengalahkan Hydra?" pintanya tampak gugup.


"Bayaranmu tak sepadan," jawab cermin yang mengejutkan semua anak.


"Wah! Cerminnya minta nego!" seru Bara karena cermin tersebut meminta bayaran lebih. Azumi terlihat bingung. Ia melihat sekitar, tapi tak menemukan apapun untuk ditukar.


"Katakan saja yang sesuai dengan hadiah yang kami berikan," desak Azumi.


"Kalian ikuti saja cara Heracles dalam legenda. Semoga berhasil," jawabnya yang lalu menghilang. Wajah Azumi berikut ekspresinya kembali lagi. Semua anak tampak kecewa.


"Matre ternyata si cermin," sahut Rangga dan diangguki anak-anak lain yang sependapat.


Anak-anak mencoba mengingat cerita legenda itu. Satu per satu dari mereka mengemukakan pendapatnya. Gibson akhirnya merangkum semua pendapat itu dan didapatkan sebuah strategi untuk melawan Hydra.


"Baiklah. Kita pergi menuju sarang Hydra. Kalian sudah tahu tugas masing-masing. Jadi, jaga diri saat yang lain sibuk dengan tugasnya. Kalian mengerti?" tegas Gibson menatap kawan-kawannya lekat terlihat khawatir.


"Ya!" jawab semua anak semangat.


Segera, para remaja yang bisa merubah wujud menjadi makhluk berkemampuan terbang bersiap. Anak-anak lainnya terlihat siap untuk melanjutkan misi level 5.


"Tunjukkan padaku lokasi misi level 5," pinta Gibson sebagai pemimpin jalan dengan Pegasus Vadim sebagai tunggangannya.


Seketika, jarum pada kompas bergerak. Vadim dan lainnya mengepakkan sayap hingga tubuh mereka melayang dari permukaan pasir pantai.


Sekelompok anak-anak itu terbang. Ryan kembali memetakan wilayah dan Mandarin membantu dengan melakukan rekaman video dengan kamera ponsel milik pemuda keturunan Amerika-India itu.


Mandarin heran karena baterai ponsel Ryan awet dan selalu terisi penuh. Ryan hanya memanfaatkan ponselnya untuk menyimpan gambar dan video dari hasil tangkapan kamera ponsel selama ini.


Ternyata, tempat menjalankan misi masih dalam wilayah gelap. Anak-anak mulai terlihat cemas saat memasuki sebuah kawasan rawa di mana mereka yakin jika Hydra tinggal di tempat berkabut itu.


"Serem. Juby takut, Rexy," rengek Jubaedah memeluk leher naga kekasihnya erat.

__ADS_1


"Kita akan selalu bersama, Juby. Kau tahu, dari kemampuan kami semua, kau yang terkuat. Hanya saja, kaumasih belum bisa mengontrol kekuatanmu. Berusahalah dan kita pulang ke Bumi dengan selamat," jawab Rex seraya menoleh dengan kepala naganya saat mereka masih terbang di ketinggian.


Jubaedah mengangguk cepat. Mandarin meminjamkan pedang Silent Gold miliknya sebagai senjata Laika di mana gadis itu sudah kehilangan kemampuan Medusa-nya yang sebenarnya akan sangat berguna untuk mengalahkan Hydra.


Sayangnya keajaiban itu sudah musnah ketika ia berhasil diselamatkan dari patung batu yang memperangkapnya.


"Oh! Kalian dengar itu?" tanya Pasha dalam wujud Manticore saat telinga singanya menangkap suara gemuruh disertai erangan di wilayah tersebut.


"Hydra?" tanya Timo yang duduk di atas punggung Pasha. Pemuda asal Rusia itu mengangguk.


"Kita turun di daratan yang luas itu. Hati-hati. Aku khawatir jika tanah yang kita pijak nanti landai dan membuat kita terperosot," ucap Gibson memperingatkan. Anak-anak mengangguk pelan.


Rex turun perlahan di tanah luas tersebut dan menginjakkan kakinya dengan hati-hati karena takut ambles. Beruntung, tanah tersebut cukup kuat untuk menahan tubuh naganya.


Anak-anak turun satu per satu dan terlihat gugup saat melihat sekitar. Gibson meminta mereka bersembunyi di balik pepohonan dan semak yang tinggi. Para remaja yang bisa terbang itu kembali berubah menjadi manusia dan berkumpul.


"Ingat rencana kita?" tanya Gibson menegaskan dan semua anak mengangguk meski terlihat tegang.


"Tina dan Pasha. Kalian berubahlah menjadi makhluk Mitologi. Giring kami ke tempat Hydra berada. Aku cukup yakin jika posisi kita sudah dekat. Hanya saja seingatku, napas dan darah Hydra beracun. Kita tak tahu dampaknya seperti apa. Jadi, tutup mulut dan hidung kita. Segera cuci bagian tubuh jika terkena darahnya dengan botol air minum yang sudah kita bawa dalam tas masing-masing. Pastikan permen ajaib siap untuk menyembuhkan jika kita terkena racunnya. Tahan napas dan segera menghindar jika mereka mulai menyembur. Kalian paham?" tegasnya lagi.


Semua anak segera bersiap dengan kain yang diikat pada belakang kepala untuk menutup hidup dan mulut.


Nicolas dan Harun merelakan kain besar yang mereka temukan di gunung Yeti kala itu sebagai masker bagi kawan-kawannya agar terlindung.


Rex juga membagikan sebutir dari serum berwarna hijau kepada kawan-kawannya. Rex yakin jika serum tersebut mampu menangkal racun Hydra.


Rex berpikir jika fungsi dari Rainbow Gas memiliki dampak yang hampir sama dengan asap beracun naganya dan mungkin milik Hydra.


"Tetap dalam kelompok. Hati-hati," tegas Gibson dan semua anak mengangguk siap.


Anak-anak tampak ketakutan karena tempat tersebut berkabut yang membuat jarak pandang terganggu. Mereka memasuki kawasan dalam hutan berkabut yang terasa mencekam.



"Oh, lihat! Ada yang bergerak dalam genangan air," pekik Nicolas menunjuk ke arah air di tepian tanah yang ia pijak.


Praktis, ucapannya membuat mata semua anak langsung terkunci pada genangan air di sekitarnya. Jantung anak-anak berdebar saat mereka juga merasakan jika air tersebut bergerak.


"Waspada, Kawan-kawan. Bersiap jika apapun yang muncul adalah ancaman," ucap Gibson dengan mata memindai sekitar.


Benar saja, BLUB! BLUB!


"AAAA!" teriak Laika histeris menunjuk sebuah kepala muncul dari dalam air. Seketika, semua anak langsung terperanjat dan menjauh dari tepian genangan.



"Semuanya, berubah!" seru Gibson.


Dengan siap, Gibson memukul kepala monster yang muncul itu dengan tongkat Hanoman-nya.


DUAKK!!


"Errghhh!" erang makhluk itu yang kembali tenggelam dalam air.

__ADS_1


"Kaya main pukul katak!" seru Jubedah semangat dan terlihat tak takut.


Semua anak yang masih bingung dan panik dengan keadaan ini terkejut saat melihat gadis manis itu mengambil sebuah batang pohon dan memukul kepala makhluk lainnya yang muncul.


"Ikutin cara Juby!" seru Mandarin, dan semua anak segera mengambil batang pohon yang ditemukan di sekitar.


Para makhluk tak dikenal berwarna hijau itu dibuat tak berdaya saat mereka mencoba untuk naik ke daratan, tapi sudah dihajar lebih dahulu oleh anak-anak manusia itu.


"Semuanya lari!" titah Gibson saat beberapa makhluk berhasil dilumpuhkan oleh aksi kawan-kawannya yang ternyata mampu melawan.


Segera, satu per satu anak-anak itu berlari menyelamatkan diri. Namun, saat Boas akan berlari, tiba-tiba, GRAB! BRUKK!!


"ARRGHHH!"


"BOAS!" seru Lazarus panik saat salah satu kaki Boas berhasil ditangkap dan membuat pria itu jatuh tengkurap di atas tanah dengan keras.


Boas berusaha bertahan dengan berpegangan pada batang pohon di pinggiran agar ia tak terseret masuk ke dalam rawa yang dihuni makhluk-makhluk tak dikenal itu.


"ARRGHH!!"


KRASS!!


"Errghhh!" rintih makhluk itu saat Laika datang dan menebas tangan makhluk hijau tersebut ketika menarik tubuh Boas agar masuk ke rawa.


Boas panik dan segera merangkak naik. Tangan makhluk hijau itu ia lepaskan dengan jijik.


"Ayo, cepat!" ajak Lazarus seraya membantu Boas bangun karena pemuda itu masih shock dengan kejadian yang menimpanya.


Anak-anak lainnya sudah tiba di sebuah kawasan rawa yang sedikit berbeda karena terlihat lapang tak tertutupi pepohonan seperti sebelumnya, tapi kabut yang menyelimuti wilayah itu semakin tebal.



"Hah, hah, kalian baik-baik saja?" tanya Gibson saat ia berhasil membawa kawan-kawannya keluar dari hutan rawa.


Napas anak-anak tersengal. Gibson menghitung jumlah anggotanya dan beruntung, tak ada yang tertinggal. Namun, melihat luasnya genangan air membuat anak-anak itu cemas.


"Haruskah kita nyemplung buat jagain temen-temen dalam air?" tawar Rangga menatap Timo.


"Serem itu airnya, Ngga. Mana tadi ada makhluk hijau entah apa. Enggak ah," tolak Timo enggan dan terlihat takut.


"Oke. Kita tetap bergerak di atas daratan. Hanya saja, tanah yang kita pijak sudah habis. Kita tak mungkin melompat untuk tiba di daratan seberang. Jadi, kita akan terbang, tapi secara bergiliran," tegas Gibson dan anak-anak mengangguk setuju.


Kali ini, Rex tak berubah, termasuk Kenta. Hanya Czar, Vadim dan Pasha saja. Mereka terbang melintasi rawa yang cukup luas untuk sampai di daratan di seberang membawa kawan mereka per dua orang.


Saat tim pertama baru saja turun dari punggung kawan-kawannya itu, tiba-tiba saja, "GOARRR!"


"HYDRA!" seru Harun lantang menunjuk di kejauhan ketika tiga buah kepala hewan berleher panjang layaknya naga muncul dari kabut. Praktis, mata semua anak melotot seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



nitip tips ah siapa tau bs buat lebaran😆


__ADS_2