MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MELAWAN ARGUS


__ADS_3

Semua anak panik seketika saat Satyr mengatakan jika Azumi dalam bahaya. Para remaja itu bergegas mendatangi air terjun tempat Azumi berada.


Benar saja, sosok raksasa besar dengan tubuh diselimuti mata yang banyak membuatnya tampak sangat mengerikan.


Azumi tertangkap dan berada dalam genggaman tangan raksasa bermata 100 itu. Mandarin, Ryan, Timo, dan Lazarus terlihat berusaha untuk mengalahkan raksasa itu dengan wujud mitologi mereka.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Lepaskan Azumi, Monster jelek!" seru Mandarin marah dengan sosok Ogre.


"GOARRR!!"


Makhluk itu mengaum dan tak mengindahkan permintaan Mandarin. Argus membawa lari Azumi ke dalam hutan.


"Azumi!" panggil Kenta histeris saat adiknya dibawa lari hingga sosoknya dengan cepat tak terlihat.


"Vadim, Bara, Czar! Kalian berubahlah dan cari Azumi dari atas langit. Kita tidak boleh kehilangan jejaknya!" titah Gibson memimpin.


"Oke!" jawab mereka serempak dan segera terbang dengan wujud mitologi.


"Satyr! Kenapa makhluk itu membawa Azumi? Apa yang dia inginkan?" tanya Kenta tak bisa menutupi rasa cemasnya.


"Akan kuceritakan nanti. Kita harus cepat sebelum Azumi kehilangan mata indahnya!" jawab Satyr yang membuat semua anak panik seketika.


"Jangan katakan jika Argus akan mencongkel mata Azumi!" seru Rangga seraya berlari mengikuti Satyr di belakang.


"AAAAAA!" teriak Azumi dari kegelapan hutan.


Semua anak langsung menghentikan langkah.


"Tidak! Azumi! Azumi! Kau di mana?!" panggil Kenta panik karena mendengar adiknya berteriak histeris.


"Di sini! Aku menemukannya!" seru Czar yang terbang di atas sebuah pohon besar.


"Cepat!" ajak Satyr langsung dengan sigap berlari.


"AAAA! Kenta! Kenta!" teriak Azumi lagi yang kali ini terdengar seperti rintihan kesakitan.


Kenta ketakutan dan terus berlari menyelinap di antara rimbunnya pepohonan di malam yang gelap dan mencekam.


"Serang dia!" seru Czar mengomandoi Bara dan Vadim. Terlihat mereka menukik tajam di udara.


"Di sana! Cepat!" seru Nicolas yang berdiri di atas kepala Tuan Pohon seraya membidik sasaran dengan panahnya dalam wujud Elf.


"Cepat! Cepat!" seru Kenta dengan wajah pucat pasi melihat beberapa batang pohon tumbang terkena tubuh besar Argus berikut kawan-kawannya yang ikut mengejar.


Namun tiba-tiba, "Arghhh!"


"Azumi!" teriak Kenta dengan napas tersengal dan mata melotot saat melihat kepala sang adik dicengkeram kuat oleh Argus dengan satu tangan besarnya.


Tangan satunya sibuk melawan Bara, Vadim, dan juga Czar yang berusaha untuk mengalahkan dengan wujud bersayap.


"Azumi!" panggil Mandarin yang ikut melawan dengan mengayunkan pedang Elf untuk menyabet tubuh Argus.


Namun, raksasa itu seperti tak memiliki titik buta karena bisa melihat semua serangan yang datang padanya.

__ADS_1


"Serangan kita tak ada yang kena! Dia bisa melihat pergerakan kita!" seru Lazarus yang ikut melawan, tapi Argus ternyata gesit dan bisa menghindar dengan cepat walaupun melawan dengan satu tangan.


"Azumi! Azumi!" panggil Kenta tak henti-hentinya karena sang adik diam saja dengan kepala tak terlihat karena ditutup oleh tangan besar Argus.


Semua anak sibuk menyerang raksasa Argus dari segala penjuru baik dalam wujud mitologi atau manusia.


Sayangnya, Rex tak bisa membantu karena semburan gas beracunnya bisa membunuh Azumi, termasuk Kenta karena akan membakar hutan dan membuat kawan-kawannya terjebak dalam kobaran api.


"Kenapa Azumi diam saja?!" tanya Kenta dengan mata berlinang melihat tubuh sang adik terpontang-panting seperti tak bertenaga.


Satyr juga tak bisa membantu dengan musiknya karena beberapa dari anak manusia berubah menjadi makhluk mitologi. Lantunan lagunya bisa membuat gendang mereka pecah dan berakibat tuli.


Gibson menghentikan serangan dan memilih untuk mengamati dari batang pohon tentang pergerakan dari Argus. Lelaki itu menyipitkan mata tampak serius seperti memikirkan sesuatu.


Semua orang kebingungan saat Argus malah dengan sengaja menggunakan tubuh Azumi untuk menghantam kawan-kawannya layaknya sebuah tongkat.


"Hentikan! Hentikan! Kau akan membunuh adikku!" teriak Kenta dengan wajah merah padam dan tubuh gemetaran karena tak bisa melakukan apapun untuk menolong.


"Itu dia!" seru Gibson tiba-tiba yang mengejutkan semua anak.


"Ada apa?" tanya Kenta langsung menatap Gibson tajam.


Gibson segera melompat dan mendatangi Kenta. Gibson membisikkan rencananya pada Timo, Satyr, Rex dan Kenta. Tiga orang itu mengangguk paham.


Segera, mereka menghampiri kawan-kawan lainnya untuk memberitahukan rencana Gibson. Informasi itu bagai pesan berantai yang menyebar dengan cepat.


"Oke! Aku mengerti!" ucap Mandarin dengan anggukan mantap.


Gibson terlihat siap kembali ke sebuah pohon dan berjongkok di sebuah dahan pohon untuk mengomandoi. Vadim, Czar, Ryan, Harun, Bara segera berubah menjadi manusia.


Degan sigap, semua serangan pada Argus dihentikan. Makhluk itu berdiri gagah di tengah-tengah sekumpulan makhluk mitologi dan anak-anak manusia yang mengelilinginya.


"Semuanya, berlari!" titah Gibson.


Mata Argus bergerak mengikuti pergerakan para makhluk mitologi dan anak-anak yang berlari mengelilinginya searah jarum jam.


"Tim satu! Sekarang!" seru Gibson lantang.


Dengan sigap, tim satu yang beranggotakan Timo, Kenta, Rex dan Satyr, menyiramkan air dalam botol minum yang dibawa mereka dalam tas.


Anak-anak itu selalu menggendong tas karena keadaan membuat mereka terus siaga dan harus bertindak dengan segera.


Argus tampak terkejut karena tubuhnya basah. Anak-anak terus berlari membentuk lingkaran dan bergerak sesuai arah jarum jam.


"Tim dua! Serang!" seru Gibson memerintah.


Kini, giliran Czar, Vadim, Ryan, Bara dan Harun melemparkan tanah ke tubuh Argus hingga mata raksasa itu tertutup debu.


"Harrghh! Arrghh!" erang Argus karena matanya menjadi pedih hingga beberapa terpejam dan menjadi lengket seperti lumpur.


"Tim tiga! Selesaikan!" teriak Gibson seraya melompat turun dari dahan pohon.


"Heyahhh!" teriak Lazarus yang dengan sigap menggunakan pedang Centaur miliknya untuk menusuk tubuh Argus di bagian mata yang terpejam.


JLEB!!

__ADS_1


"GOARRR!"


Nicolas ikut melesatkan anak panah seraya memutari tubuh Argus ke bagian mata yang terpejam untuk membutakan penglihatannya.


Serangan lainnya disusul oleh anak-anak lain dengan menusuk dan menyayat tubuh Argus hingga raksasa itu mulai berdarah hebat.


"Arghh!"


KRASS!!!


"GOARRR!!"


BRUKK!!


"AZUMI!" seru Kenta lantang saat Mandarin berhasil menebas tangan Argus menggunakan pedang Silent Gold tanpa laser ketika makhluk itu mulai kehilangan kendali atas tubuhnya karena terluka.


Azumi jatuh di tanah dengan tangan besar Argus masih memegangi kepalanya hingga wajah Azumi tak terlihat.


Gibson dengan cepat menarik tubuh Azumi menjauh dari serangan para remaja yang mengamuk karena Argus melukai kawan mereka.


"Harghh!" erang Gibson dalam wujud Hanoman ketika ia mencoba membuka cengkeraman tangan Argus yang kaku di kepala Azumi.


KRAKK!!


"Hah! A-Azumi? Azumi!" teriak Kenta dengan mata melotot saat Gibson berhasil mematahkan jari-jari Argus yang mengurung kepala gadis manis itu.


Kenta gemetaran saat melihat dua mata sang adik mengeluarkan darah dan Azumi sudah tak bernapas lagi karena tewas.


"Tidak! Azumi! Azumi! Arghhh!" teriak Kenta dengan air mata penuh amarah dan kesedihan saat memeluk sang adik erat yang tergolek tak berdaya.


Anak-anak yang melihat Kenta duduk di atas tanah dengan Azumi tergeletak tak bergerak, membuat mereka ikut murka karena menyadari jika gadis Jepang itu telah tiada.


"Dia membunuh Azumi!" teriak Vadim lantang yang membuat mata semua anak melotot seketika.


"Bunuh dia!" seru Rangga dalam wujud Minotaur seraya menggenggam kapaknya erat.


"Arghh!" teriak anak-anak marah dan kini menyerang Argus dengan membabi buta.


Satyr meninggalkan kerumunan dan mendatangi Azumi yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Kenta mendekap sang adik erat dan menangisi kematiannya.


"Argus pasti menginginkan mata Azumi, tapi ia tak sempat mencongkelnya," ucap Satyr tertunduk sedih.


"Apa katamu?" tanya Gibson menatap Satyr lekat.


Makhluk setengah kambing itu terlihat seperti mencoba untuk menenangkan hatinya saat Kenta dan Gibson menatapnya tajam dengan mata berlinang.


"Argus itu kembar. Keduanya dulu berada di Bumi. Argus Panoptes dan Argus Plato. Yang kalian serang itu adalah Argus Plato. Namun, setelah Argus Panoptes tewas karena dibunuh oleh Hermes, kembarannya dibawa kembali ke planet mitologi. Namun, Argus Plato tak memiliki mata sebanyak kembarannya. Ia yang terobsesi dengan julukan 100 mata, mulai melakukan pembantaian dengan mengambil mata para makhluk mitologi yang berjumpa dengannya. Namun, ia hanya mengincar perempuan karena dianggap lemah. Usahanya berhasil. Namun, saat ia hampir genap mendapatkan sepasang mata, Oag menyeretnya ke penjara Hades untuk dihukum. Argus masih kurang sepasang mata dan ia berburu di sini. Sayangnya, ia tak pernah mendapatkannya. Oleh karena itu, saat aku teringat Azumi, aku langsung ingat pada monster itu," jawab Satyr menjelaskan.


Tiba-tiba saja, Kenta mencengkeram kuat leher Satyr seperti ingin dicekik. Gibson terkejut, tapi makhluk setengah kambing itu diam saja dan hanya menatap Kenta tajam.


***



Makasih tipsnya diriku😆Kalau ada tipo koreksi aja. Lele lelah sekali uyy energinya lowbat. Jadi masih banyak rehat dulu. Jangan lupa play audio book Vesper ya karena lele mulai nyicil lagi untuk segera menyelesaikan dubbingannya. Tengkiyuw❤️

__ADS_1


__ADS_2