
Ternyata, biji dari pohon kacang yang dimakan oleh anak-anak sangat berguna. Mereka menggunakan kemampuan baru dari jari-jari tangan yang berubah menjadi sulur pohon untuk memanjat.
Hingga akhirnya, mereka menembus awan tebal yang membuat tubuh bergidik ngeri karena ketinggian tak lazim.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Ya ampun. Kakiku sampai gemetaran. Huff, huff," keluh Vadim memejamkan mata rapat usai menengok ke bawah.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Bara nahan pipis dari tadi nih," sahut Bara yang ternyata merasakan ketakutan yang sama.
"Awas aja sampai ngompol lu, Bar! Gua iket keranmu pakai sulur," ancam Rangga yang kini berada di bawah kawan sekolahnya itu.
"Dih, sekarang ngomongnya pakai lu gua. Gaya amat," sahut Bara berwajah masam.
Anak-anak terus memanjat hingga Lazarus yang kini berada paling atas merasa jika batang pohon itu mulai melunak seperti tunas baru.
"Wow! Wow! Hati-hati! Mulai bagian ini terasa lembek!" teriak Lazarus saat ia merasakan batang pohon yang terkena lilitan jari sulurnya melengkung karena tak kuat menahan beban.
"Ha? Lalu bagaimana?" tanya Nicolas panik.
"Kita bergantian saja. Aku duluan lalu dilanjutkan lainnya. Aku akan berikan kode jika sudah berada di tempat aman," jawabnya mantap.
"Oke!" jawab beberapa anak serempak seraya mendongak ke atas.
Lazarus terus memanjat dan terlihat begitu berhati-hati kali ini dengan pijakan serta tarikan jari sulurnya.
Jantung semua anak berdebar karena mereka juga merasa jika batang pohon yang didaki makin lama makin menyusut seperti meramping.
Namun, cukup lama Lazarus memanjat hingga sosoknya tak terlihat karena ada gumpalan awan tepat di bagian batang pohon yang berwarna hijau seperti baru tumbuh.
"Mana dia?" tanya Harun mulai khawatir.
"Zar! Lazarus! Kau mendengar kami?" tanya Kenta berteriak, tapi tak ada jawaban.
Semua anak saling memandang terlihat panik. Kenta akhirnya nekat untuk menyusul karena Lazarus tak menjawab panggilan mereka.
"Jika aku tak kembali setelah kalian menghitung hingga 100, segera susul secara bergantian. Oke?" ucap Kenta serius.
Anak-anak mengangguk paham dan membiarkan Kenta memanjat untuk memastikan kondisi kawannya itu.
"Satu, dua, tiga, empat, ...," ucap Ryan mulai menghitung sesuai permintaan Kenta.
Dan benar, lagi-lagi, usai Kenta menembus gumpalan awan pekat warna putih di atas, sosoknya tak terlihat.
Ryan masih terus menghitung di mana kali ini angkanya sudah mencapai 90. Ryan mulai terlihat pucat saat ia sudah genap menghitung hingga 100.
"99, 100," ucapnya lalu berhenti.
"Kenta tak menjawab. Siagakan senjata. Aku khawatir jika para raksasa sudah mengetahui kedatangan kita sehingga mereka berjaga di atas. Bisa saja begitu mereka melihat Lazarus dan Kenta, langsung ditangkap sehingga tak bisa memberikan kabar pada kita," ucap Czar yang membuat semua anak langsung pucat seketika.
"Oke!" jawab Rex mantap seraya memastikan tombak Lady Elf yang ia ikat pada tas punggung tetap berada di tempatnya.
__ADS_1
Kali ini, Czar mulai memanjat. Namun, saat ia sudah berada di bawah gumpalan awan besar itu, pemuda Rusia tersebut tak melanjutkan panjatan.
Semua anak menatap Czar saksama yang memilih untuk menggunakan jari-jari sulur di tangan kanan untuk merambat pada batang pohon.
"Oh!" pekiknya yang membuat semua anak langsung menatapnya lekat.
"Apa yang kautemukan, C?" tanya Mandarin penasaran.
"Ada yang aneh. Di bagian atas sini ada angin walaupun tipis. Lalu ... tanganku seperti memegang sebuah benda yang keras," jawabnya dengan wajah berkerut.
"Benda keras? Apa itu?" tanya Boas ikut penasaran.
Namun, Czar tampak fokus akan sesuatu hingga tangan sulurnya kembali turun dengan membawa sebuah benda. Praktis, mata semua anak melebar.
"Apa itu? Batu?" tanya Vadim menebak.
"Ini ... seperti puing bangunan. Mungkin, tembok yang runtuh. Oh, jangan-jangan!" pekik Czar langsung melotot saat menatap kawan-kawannya.
"Kita sudah sampai di ujung pohon kacang ini!" sahut Timo senang dan membuat senyum kawan-kawannya ikut merekah.
"Akan tetapi ... jangan senang dulu. Jika benar kita sudah tiba di tempat para raksasa, kenapa Lazarus dan Kenta tak turun memberikan kabar? Bisa jadi dugaanku benar. Jika ya, ini gawat. Kita harus pikirkan sebuah strategi," ucap Czar mantap.
Semua anak saling memandang terlihat serius. Hingga tiba-tiba, Timo mengangkat telunjuk kanan seperti memberikan kode jika ia memiliki ide.
Para remaja itu menatap Timo lekat yang kini membuka tas milik Gibson. Ia mengambil sebuah benda seperti selimut lalu memberikannya pada Czar dengan tangan sulurnya. Czar menerima benda itu, tapi keningnya berkerut.
"Ingat selimut tak terlihat? Itu benda pusaka milik Gibson yang bisa kaugunakan. Pakai itu untuk menyelinap," ucap Timo.
"Oke. Aku akan ke atas untuk mengintip. Semoga dugaanku salah. Namun, jika benar, aku akan langsung turun dan kita harus pikirkan strategi lain untuk menyelinap. Kalian siap?" tegas Czar, dan semua anak mengangguk mantap.
Czar menutup dirinya dengan selimut tak terlihat milik Gibson. Seketika, wujudnya tak tampak.
Semua anak dibuat tegang, tapi bisa melihat batang pohon kacang yang dipijak oleh Czar meninggalkan bekas.
Hingga akhirnya, bekas pijakan itu hilang di mana terlihat gumpalan awan bergerak. Anak-anak yakin jika Czar mulai menyusup.
"Tiga belas raksasa. Woah, aku membayangkannya sudah ngeri duluan," ucap Harun bergidik ngeri.
Saat semua anak dibuat tegang menunggu kabar, tiba-tiba, "Hei!"
"Woah! Kau mengejutkan kami!" pekik Vadim sampai tersentak.
"Ssttt ... jangan berisik. Aku harus mengabarkan hal buruk dan baik. Jadi, mau dengar yang mana dulu?" tanya Czar yang kembali muncul, tapi hanya terlihat kepalanya saja.
"Buruk saja," pinta Nicolas.
Wajah Czar berubah serius seketika. Ia berbicara sambil berbisik. "Lazarus dan Kenta ditangkap. Mereka dimasukkan dalam kurungan besi seperti burung pada sebuah pohon besar. Ada tiga raksasa yang menjaga mereka. Lalu raksasa lainnya sepertinya tahu kedatangan kita. Mereka menyebar di beberapa tempat seperti mencari keberadaan kita. Ini gawat, mereka tahu kita datang."
"Lalu ... bagaimana? Selimut itu apa bisa menyembunyikan keberadaan kita? Jika ya, apakah batang selanjutnya aman untuk dipanjat bersama-sama?" tanya Boas cemas.
"Mungkin hanya bisa empat anak dari kita yang bisa ke atas bersamaan dengan selimut ini. Setelah itu, lainnya menjemput dan menyusul. Bagaimana?" jawab Czar memberikan saran.
__ADS_1
"Oke! Kami setuju," jawab Bara mantap.
Tiga anak segera memanjat mendatangi Czar. Kali ini, Harun, Nicolas, dan Timo yang akan menyelinap lebih dulu kemudian disusul oleh kawan lainnya saat tim pertama berhasil masuk.
Wajah keempat anak-anak itu tegang saat mereka mulai memanjat bersamaan mengelilingi batang pohon kacang.
Hingga akhirnya, sosok mereka tak terlihat saat menutup diri menggunakan selimut ajaib milik Gibson.
Tim yang masih menunggu di bawah terlihat cemas karena khawatir jika tim Satu tertangkap oleh para raksasa seperti kisah dalam dongeng.
Namun tak lama, "Hei, ayo! Timo dan lainnya berhasil menyelinap. Sekarang giliran tim Dua," bisik Czar yang datang menjemput.
Kali ini, Bara, Rangga, dan Ryan yang akan memanjat menyusul kawan-kawan dari tim pertama di mana mereka telah berhasil. Ternyata, rencana itu sukses besar dan mereka tak ketahuan.
"Woah!" kagum Vadim sampai mulutnya menganga ketika kepalanya menembus awan tebal dan melihat ujung dari batang pohon kacang itu telah sampai di puncaknya.
Sebuah kastil megah terlihat di samping pohon kacang yang mereka panjat. Anak-anak lalu turun satu per satu di mana kini kaki mereka telah menapak tanah dan rerumputan di sekitar kastil para raksasa itu.
"Cepat, cepat!" bisik Czar karena Vadim malah melongo dan tak sadar ketika selimut yang menutup tubuhnya telah ditarik oleh Czar.
Vadim tersentak saat matanya melirik dan mendapati seorang raksasa berjalan menuju ke arahnya. Vadim langsung melompat dan merangkak karena takut ketahuan.
Kawan-kawan lainnya sudah bersembunyi di balik batu besar dan juga pohon-pohon berukuran raksasa dengan naik ke atas.
Kini, pandangan mereka fokus kepada Vadim yang tertinggal karena ia malah terpesona dengan keindahan kastil di atas awan itu.
"Aduh, bagaimana ini? Vadim bisa tertangkap!" pekik Ryan dengan suara tertahan yang bersembunyi di balik pohon lebat.
Vadim panik karena langkah raksasa itu mengarah padanya.
"Hah, hah, emph!" engah Vadim yang tiba-tiba mulutnya dibekap oleh seseorang.
Mata remaja gemuk itu melotot saat ia berjongkok di sebelah Czar yang ternyata bersembunyi dengan menutup diri dengan selimut sehingga tak terlihat.
"Sssttt ... jangan berisik," bisik Czar masih membungkam mulut Vadim dengan tangan sulurnya.
Keduanya terlihat gugup di dalam selimut saat merasakan langkah dari raksasa tersebut semakin dekat dengan keberadaan mereka.
Vadim memejamkan matanya rapat takut ketahuan. Czar terlihat tegang saat ia merasakan jika langkah raksasa itu berhenti tepat di depan mereka berjongkok. Praktis, dua anak itu menelan ludah seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya diriku😆 Semoga tiga novel bisa up semua ya biar cepet kelar. Amin🙏
__ADS_1