MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PULAU PELANGI*


__ADS_3

Semua orang segera turun dari kapal termasuk para alien. Mereka tampak mengagumi pulau yang memiliki beragam warna itu.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Ayo, Kapten! Kita tak memiliki banyak waktu. Kita harus segera menyusuri wilayah ini untuk mencari harta karun dan membawanya ke kapal!" seru alien siput tampak antusias.


"Aku sangat yakin jika pulau ini sangat besar. Tak akan cukup waktu jika harus menjelajah seluruh wilayah hanya dalam waktu setengah hari," sahut alien dengan empat tangan di bagian depan—Rog.


"Bagaimana jika berpencar saja? Kita bagi menjadi lima kelompok besar ke lima penjuru. Utara, Selatan, Timur, Barat dan Tengah?" ucap Gibson menawarkan.


"Psstt ... ya, aku rasa itu ide bagus, Kapten," sahut Viper tampak sependapat.


"Oke! Kita bagi menjadi lima kelompok. Saat kami para bajak laut terseret untuk kembali ke kapal, kalian lanjutkan petualangan. Ingat, harta karun itu adalah milik kami sesuai janji kalian," tegas sang kapten menunjuk para remaja itu.


"Siap!" jawab semua anak serempak.


Akhirnya, lima kelompok besar gabungan antara alien dan anak-anak berpencar. Para remaja itu juga sepakat jika nanti mereka terpisah, akan kembali ke pantai dan bertemu di kapal. Jika berhasil mendapatkan harta karun, mereka juga akan membawanya ke kapal.


Langit di Pulau Pelangi masih terang benderang. Padahal, saat mereka melawan Kraken, hari sudah sore dan malam siap menyelimuti kawasan.


Namun, di pulau ajaib tersebut, lamanya hari tak diketahui. Kapan datangnya pagi dan kapan datangnya malam.


Semua orang segera bergegas karena tak satu pun dari mereka pernah menapakkan kaki di pulau tersebut.


Tiap tim memiliki satu anggota yang bisa berubah wujud dengan kemampuan terbang sebagai pengawas langit.


Anak-anak yang memiliki kemampuan terbang segera berubah wujud untuk memantau sekitar sesuai arah mata angin.


Tim Viper beranggotakan Jubaedah, Rex, Rangga, dan Timo ke bagian Utara. Sedang tim kapten dengan sosok hiu kepala martil beranggotakan Gibson, Azumi, Kenta, dan Ryan ke bagian Tengah.


Alien Rog beranggotakan Nicolas, Mandarin, Harun, dan Pasha ke bagian Timur. Sedang alien siput beranggotakan Lazarus, Vadim, Laika, dan Czar ke bagian Barat.


Sedang alien dengan corak biru loreng—Zorax— beranggotakan Bara, Boas dan alien yang tersisa menjadi satu kelompok ke bagian Selatan pulau.


Lima kelompok besar itu pergi meninggalkan kapal. Hanya ada satu alien yang berjaga di kapal saat bajak laut lainnya menyusuri pulau mencari harta karun.


Warna-warna indah dari pulau tersebut benar-benar memanjakan mata. Namun perlahan, warna-warna itu malah membuat pusing karena beragam. Terlebih jika dilihat dari atas langit.


"Hei, kalian kenapa?" tanya alien dengan corak ungu bernama Weq saat melihat Bara dan Boas terbang tampak linglung.


"Kepalaku pusing. Aku merasa warna-warna ini membuatku seperti terhipnotis," jawab Boas seraya terbang turun.


"Hipnotis?" sahut alien yang memiliki satu buah tanduk mencuat di kepala—Yoh.


Ternyata, Bara juga mengalami hal yang sama. Ia sampai sempoyongan saat menapakkan kakinya di atas tanah berwarna-warni itu.


Tiga alien itu tampak waspada seketika saat melihat sekitar. "Pulau ini menyimpan banyak jebakan yang mungkin tak bisa dirasakan. Kita harus berhati-hati," ucap Zorax.

__ADS_1


Bara dan Boas memilih untuk menjadi manusia selama menjelajah. Mereka tak ingin mengambil risiko dengan menjadi makhluk Mitologi dan terbang karena takut jatuh saat terkena dampak hipnotis daratan yang berwarna-warni.


Ternyata, hal itu juga dirasakan oleh anak-anak yang memiliki kemampuan terbang lainnya. Mereka menjadi pusing karena warna-warna tersebut seperti berputar-putar di penglihatan.


Semua orang tampak was-was. Awalnya mereka beranggapan, dengan terbang maka semua akan mudah diselesaikan, tapi ternyata hal itu membuat keadaan menjadi rumit.


"Hah, hah, aku rasa, kita sudah berjalan cukup jauh," ucap Ryan mulai terlihat letih.


"Hei, kau. Bisakah terbang lagi untuk melihat keberadaan kita sekarang?" pinta sang kapten menunjuk Kenta.


"Maaf, Kapten. Hanya saja, rasa mualku belum hilang. Entahlah, ini aneh," jawab Kenta seperti ingin muntah.


"Oh! Aku bisa berubah menjadi tuan pohon. Bagaimana jika Anda naik ke atas tanganku nanti saat kuangkat tanganku tinggi ke atas?" tawar Ryan.


"Ya, itu ide bagus!" sahut Azumi. "Aku bisa membantu membuat tubuh Anda melayang lebih tinggi dengan wujud Unicorn-ku tanpa aku harus ikut terbang agar tak terkena dampak pusing itu," imbuhnya.


Sang kapten menatap empat anak yang ikut dalam kelompoknya dengan picingan mata. Namun, empat anak manusia itu malah memasang wajah berbinar.


"Rrrr, aku diperintah oleh anak kecil. Baiklah, aku terima. Cepat berubah!" jawabnya terlihat kesal, tapi anak-anak itu tak marah akan keluhannya tersebut.


Ryan segera menjadi tuan pohon dan mengizinkan alien tersebut naik ke telapak tangan pohonnya.


Ryan mengangkat tangannya tinggi ke atas agar sang kapten bisa melihat wilayah sekitar. Azumi dengan sigap menggunakan kemampuan sihir dari tanduk Unicorn untuk membuat tubuh sang kapten melayang lebih tinggi seperti orang terbang.


"Hahaha! Ini hebat sekali! Aku terbang!" seru sang kapten tampak gembira.


"Hati-hati dampak dari daratan warna-warni itu, Kapten! Jangan terlena!" seru Kenta mengingatkan.


"Ada hutan di sana. Agak sedikit jauh. Namun, jika kita bergegas, kita bisa menghindari daratan warna-warni ini!" seru sang kapten seraya menunjuk.


"Oke! Kita segera ke sana!" sahut Gibson mantap.


Tubuh sang kapten diturunkan. Azumi berinisiatif tetap dalam wujud Unicorn agar bisa berlari kencang membawa Gibson dan Kenta yang akan menungganginya.


Ryan setuju dan membiarkan sang kapten tetap berada di telapak tangannya saat ia membawanya berjalan dengan langkah besar.


"Haha! Ini hebat sekali! Ya, terus jalan ke arah sana, tapi ... kenapa kau lelet sekali? Berlarilah!" seru Kapten karena merasa sosok tuan pohon baginya lambat. Lebih lambat ketimbang cara berjalan alien siput.


"Maaf," jawab Ryan merasa bersalah.


Namun tiba-tiba, kaki pohonnya yang memijak tanah berwarna-warni itu seperti tenggelam. Ryan terkejut, begitupula seluruh anggota kelompoknya.


"Apa yang terjadi?" tanya Azumi heran karena kaki kudanya baik-baik saja saat menapak tanah.


"Oh, tunggu sebentar. Sepertinya ... sosok tuan pohon ini memiliki kelebihan lain. Aku seperti ... woah!" seru Ryan tiba-tiba ketika ia seperti bisa berseluncur dalam tanah ketika kakinya menjadi layaknya akar.


Azumi dan lainnya terkejut saat melihat kedua kaki Ryan masuk ke dalam tanah. Kakinya berubah menjadi seperti akar-akar besar yang membuat permukaan tanah seperti sedang dibajak.

__ADS_1


Tubuh pohon Ryan bergerak dengan cepat seolah tanah itu begitu gembur dan ia sedang berselancar.


"Hahaha! Hebat! Ini sungguh hebat! Bagus, Ryan!" seru sang kapten tampak begitu gembira ketika merasakan terpaan angin di pulau itu menerpa tubuhnya.


Azumi dan lainnya tampak senang. Ia segera berlari mengejar Ryan yang kini bergerak layaknya orang sedang bermain sepatu roda di atas tanah meski berdampak permukaan tanah itu menjadi retak karena dua kaki besarnya.


"Hati-hati, jangan sampai tersandung, Azumi!" seru Gibson.


Kuda warna putih itu mengangguk mantap seraya terus berlari di samping retakan tanah.


Ternyata, usaha mereka membuahkan hasil. Tim dengan tujuan ke wilayah Tengah berhasil sampai ke hutan yang dimaksud.


Ryan akhirnya memilih untuk menjadi manusia lagi karena kakinya pegal. Sang kapten tampak kecewa, tapi ia seperti bisa memaklumi usaha yang sudah dilakukan oleh anak-anak itu.


"Baiklah, kita berjalan mulai dari sini," ucap sang kapten saat semua anak buahnya sudah berkumpul.


Namun tiba-tiba, "Oh! Itu apa? Apa aku salah lihat?!" pekik Azumi sampai melangkah mundur karena kaget.


"Ya, aku juga melihatnya!" sahut Kenta.


Gibson dan lainnya bingung karena tak mendapati apa pun.


"Hei, itu!" seru Ryan saat menunjuk seekor hewan seperti kolaborasi antara landak dan serigala. Praktis, mata empat anak itu melebar seketika.



Kening sang kapten berkerut saat melihat hewan tersebut melintasi jalan setapak tak terlihat takut akan keberadaan mereka. Sedang anak-anak tampak terkejut akan hal unik itu.


"Oh! Di sana ada lagi!" seru Gibson menunjuk hingga matanya melebar.


"Woah, bisa seperti itu ya? Aneh, tapi lucu karena bentuknya kecil! Aku ingin memeliharanya," sahut Azumi tampak kagum.



"Dia seperti kelinci, tapi kepalanya burung elang. Wah ... seandainya bisa kubawa pulang. Pasti semua orang akan terkejut dan Bumi akan heboh!" seru Kenta sampai berjongkok, tapi ragu untuk menyentuh hewan tersebut.


"Hem," guman sang kapten yang membuat mata semua anak tertuju padanya.


"Ada apa, Kapten?" tanya Gibson seraya mendekati alien tersebut.


Sang kapten melihat sekitar tampak serius. "Jangan-jangan ... pulau pelangi adalah pulau buatan seperti yang pernah kudengar dari para makhluk Mitologi yang kujumpai entah sudah berapa ratus tahun lamanya," ucapnya yang membuat mata semua anak melebar seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya diriku😆Adeh lele ketularan pilek si hula2. Gawat😩 Doain lele selalu sehat biar upnya lancar. Tengkiyuw para LAP lele padamu😘


__ADS_2