MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BERUBAH SEMUANYA*


__ADS_3

Czar segera mendatangi L yang berhasil kembali ke wujud manusianya. Anak-anak lainnya ikut mendekati L yang masih duduk di atas rumput setelah bersusah payah melawan ketakutannya agar tak menjadi monster selamanya.


"Gimana? Kamu gak papa 'kan?" tanya Jubaedah usai melepaskan pelukan ke tubuh L. Gadis berwajah tegas itu mengangguk pelan dengan senyuman.


"L! Di sini tertulis. Jika kau ingin menjadi Medusa, kau cukup meneriakkan namanya lantang," ucap Rex yang berdiri di hadapan portal, tapi Laika terlihat enggan melakukannya.


"Ya, mungkin wujud itu mengerikan, tapi siapa tahu akan bermanfaat saat kita melawan musuh entah itu apa. Yuk, bangun yuk, kotor tuh baju kamu," ajak Jubaedah mengulurkan tangan, membantu Laika berdiri.


Jubaedah bahkan membersihkan pakaian Laika yang kotor.


"Thanks, Juby," ucapnya menatap gadis manis itu lekat dan Jubaedah mengangguk pelan.


"C! Giliranmu! Ayo cepat!" seru Rex masih di tempatnya berdiri.


C menarik napas dalam dan segera melangkah dengan mantap menuju ke portal tersebut. Lingkaran dalam portal masih bercahaya terang. Rex dan lainnya meyakinkan jika ia harus segera masuk ke sana.


C melangkahkan kaki kanannya memasuki portal. Pemuda itu memejamkan mata seperti tak siap dengan perubahan wujudnya.


Semua anak yang melihat dibuat penasaran dengan wujud makhluk Mitologi remaja tampan asal Rusia itu.


"Woah! Itu 'kan ...," ucap Bara menunjuk terlihat kagum.


"Griffin!" pekik semua anak bersamaan.


Czar tampak kagum dan terkejut dalam waktu bersamaan setelah melihat perubahan wujudnya. Anak-anak segera mendekat karena penasaran dengan sosok dari legenda Mitologi Yunani tersebut.



"Wah! Kau hampir mirip denganku. Bedanya, aku masih berwujud setengah manusia," sahut Bara dan C terlihat masih mencoba beradaptasi dengan tubuh barunya itu.


"Wah! Banyak diantara kita yang bisa terbang! Bara jadi Garuda, Rex jadi naga, dan sekarang si C jadi Griffin," ucap Jubaedah senang dan diangguki oleh semua anak yang merasa ucapannya benar.


"Oh! Lalu ... bagaimana dengan lainnya? Apakah mereka juga mendapatkan portal?" tanya Lazarus penasaran.


Anak-anak itu baru menyadari jika mereka harus segera berkumpul bersama yang lain.


"Oke. Kita harus segera berkumpul bersama yang lain. Lalu, bagaimana caraku berubah menjadi manusia atau menjadi Griffin?" tanya Czar menatap Rex lekat.


Segera, Rex berlari menuju ke portal yang masih menyala.


"Ah! Teknisnya sama seperti Bara. Kau mencabut bulu elangmu untuk kembali menjadi manusia. Lalu, untuk menjadi Griffin cukup meneriakkan namanya. 'Griffin', begitu," jawab Rex setelah membaca tulisan dalam portal.


"Oke, aku mengerti. Itu mudah," jawab C mantap.


C segera merubah wujudnya menjadi manusia usai mencabut bulu di leher. Namun, C yang ingin mencoba kemampuan terbangnya meneriakkan nama Griffin.

__ADS_1


C akhirnya memilih menjadi Griffin karena tak ingin merepotkan Rex. Saat semua anak bersiap pergi, para naga kecil terbang menghampiri Jubaedah yang masih berwujud Lady Dragon.


Gadis manis itu tampak sedih saat melihat para naga itu enggan berpisah dengannya. Rex segera merubah wujudnya menjadi naga.


"Maaf ya, tapi ... Juby harus kumpul sama temen-temen. Masih ada 9 misi yang harus diselesaikan. Nanti, kita ketemu lagi kok, Juby yakin. Kalian, jangan bandel ya. Nurut sama mama naga. Oke?" ucap Jubaedah kepada para naga yang hinggap di tubuhnya.


Anak-anak lain yang melihat, merasa jika Jubaedah tipe gadis penyayang binatang. Rex tersenyum dalam wujud naganya. Ia mendatangi kekasihnya sembari menurunkan para naga kecil dengan mulutnya.


"Juby sedih, Rexy," ucap Jubaedah siap meneteskan air mata.


Tiba-tiba, langit kembali gelap, tapi Jubaedah tak menyadarinya. Sedang anak-anak yang lain, mulai panik dengan perubahan cuaca itu.


"Juby! Mereka akan baik-baik saja kok. Sebelum ada kamu, mereka juga tetep bisa jadi naga yang hebat dan kuat. Sudah jangan sedih," ucap Rangga langsung mendekat dengan panik.


"Iya, bener-benar. Mereka bahagia kok. Lihat tuh, mereka gak nangis 'kan?" sambung Bara dengan senyum lebar meski terlihat kaku.


Jubaedah menarik ingus yang hampir meluncur dari lubang hidungnya. Ia melihat anak-anak naga menatapnya lekat.


"Ya, kalian benar. Mereka pasti akan tumbuh jadi naga dewasa yang tangguh seperti induk-induk mereka. Bye, naga-naga kecil. Sampai ketemu lagi," ucapnya seraya melambaikan tangan dengan senyum terkembang.


L menggandeng Jubaedah untuk segera menaiki Rex. Rex segera terbang dengan Lazarus dan Rangga di punggungnya.


Sedang L, memilih untuk menaiki C yang menjadi Griffin. Lalu Bara, terbang sendiri dengan wujud Garuda.


"Sampai jumpa! Sampai ketemu lagi. Juby sayang kalian semua!" ucap Jubaedah lantang seraya melambaikan tangan.


Anak-anak terlihat lega karena hampir saja hujan badai kembali terjadi jika Jubaedah menangis dan bersedih lagi.


"Kita harus menjaga perasaan Jubaedah agar cuaca ekstrim tak terjadi," ucap L kepada C yang dengan cepat belajar terbang tanpa mengalami kendala.


Sedang Bara, masih terlihat bersusah payah. Ia yang takut ketinggian, memilih terbang rendah meski ia harus sigap menghindari ujung pohon yang siap menampar tubuhnya.


"Terbang itu susah, sumpah! Lebih susah dari main layangan!" seru Bara yang terbang berbelok-belok.


Anak-anak yang mendengar terkekeh karena Bara yang memilih kesulitannya sendiri.



Di sisi lain. Di tempat kelompok Gibson berada.


Mereka harus menahan hawa panas di tempat yang dipenuhi oleh aliran sungai lava. Beruntung, Ryan masih teringat lokasi di mana ia bertemu dengan Jubaedah dan Rex kala itu.


Mereka berjalan cukup jauh memijak pada tanah hitam yang mengeras hingga tiba di sebuah hutan rimbun berbatasan dengan sungai lava.


Anak-anak itu heran, bagaimana bisa lava-lava panas itu tak membakar daratan hutan yang tumbuh subur. Ryan terus berjalan hingga bertemu gua yang ia maksud.

__ADS_1


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Oh! Gua inikah tempat kau diselamatkan oleh Juby dan Rex saat kau hampir mati diserang naga api?" tanya Nicolas penasaran usai mendengar kisah tersebut.


Ryan mengangguk membenarkan. "Ya, di sebelah sana, aku bertemu kijang bercahaya. Jika kedua tanganku berada di tempat gelap, mereka bisa menyala bagaikan lampu. Aku sampai dipanggil Tuan Lampu oleh mereka berdua," jawab Ryan seraya menunjukkan kedua tangannya yang masih terlihat baik-baik saja.


"Oke. Sebentar lagi gelap. Kita harus membuat kemah. Sayangnya, Rex dan lainnya belum kembali. Semoga, mereka baik-baik saja," ucap Gibson cemas seraya melihat ke arah langit.


Saat Gibson meminta anak-anak membagi tugas untuk mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, tiba-tiba muncul portal dengan sinar menyilaukan mata.



Anak-anak yang lain menjaga jarak dengan portal bersinar menyilaukan itu. Namun, Gibson malah mendekat dan berdiri menatap cahaya dari portal yang perlahan meredup lalu muncul sebuah tulisan.


"Hei!" panggilnya lantang dengan langkah fokus ke depan. Anak-anak akhirnya memberanikan diri mendekat dan berdiri di belakang Gibson.


"Ada tulisannya, Gib!" sahut Harun dan diangguki pemimpin kelompok itu.


"Misi level 1 dianggap selesai saat kau berubah wujud menjadi makhluk Mitologi. Dapatkan hadiahmu bagi yang belum memiliki perubahan," ucap Kenta membaca tulisan dalam portal.


"Oh! Kita akan mendapatkan perubahan wujud. Cepat masuk, sebelum portal menghilang!" sahut Gibson.


Anak-anak terlihat senang. Impian mereka untuk bisa segera kembali ke Bumi akan segera terwujud. Kali ini, Pasha memantapkan diri untuk memasuki portal.


Gibson dan lainnya memberikan semangat. Pasha menarik napas dalam saat ia melangkah masuk ke dalam portal bercahaya itu. Seketika ....


"Woah! Dia tampak menyeramkan!" seru Boas saat melihat perubahan wujud Pasha yang memiliki dua sayap besar layaknya kelelawar, tapi bertubuh dan berkepala singa serta berekor kalajengking.


Anak-anak bergidik ngeri karena perubahan wujud Pasha tampak mengerikan dan buas. Gibson bahkan melangkah mundur karena Pasha mengerang menunjukkan kekuasaannya.


"Dia ... berubah menjadi Manticore," sahut Tina memegangi lengan Timo erat seraya melangkah mundur perlahan.


Mata Pasha dalam wujud Mitologinya menatap orang-orang itu tajam seperti siap untuk menerkam.


Gibson meminta agar semua anak tak panik dan tetap tenang, meski jantung mereka berdebar kencang tak karuan.


"Pasha ... hei, ini kami ... kawan-kawanmu. Jangan bersikap begitu ... kau menakuti kami," ucap Ryan terlihat tegang dan pucat.


Sayangnya, Pasha tetap melangkah maju seraya mengerang menatap anak-anak itu dengan mata merah menyala.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy makasih tipsnya😍 Lele padamu❤️


__ADS_2