MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MELAWAN CERBERUS*


__ADS_3

Jubaedah menangis hingga seluruh tubuhnya bergetar karena menahan sakit. Hujan deras mengguyur wilayah itu hingga kepulan asap semakin pekat karena sungai lava tersiram hujan dan membuat tempat itu berkabut.


"Cepat! Berikan Juby ramuan obat itu!" seru Laika saat melihat luka bakar di tangan kawannya.


Azumi dengan sigap mengambil ramuan milik Jubaedah dan meminumkannya.


Gibson dan teman-teman lelakinya ikut mengobati Rex yang juga terluka parah karena serangan harimau lava itu.


"Kita harus berteduh! Hujannya lebat sekali!" seru Lazarus hingga basah kuyup.


"Kita tampung air hujan ini untuk persediaan minum kita!" seru Vadim, dan anak-anak yang masih menyimpan botol kosong segera mengisinya. Namun, "Eh kok? Airnya asin ya?" tanya Vadim saat ia menjulurkan lidah dan mencicipi air hujan tersebut.


"Wah! Hujannya jadi asin kaya air matanya Juby!" seru Bara yang langsung meludah tak jadi minum.


Ryan berubah menjadi Tuan Pohon untuk membawa Jubaedah dan Rex yang terluka. Semua anak bergegas pergi dari tempat pertempuran itu mencari tempat berteduh.


"Lalu ... di mana rantai besi untuk membelenggu Cerberus?" tanya Boas seraya berlari.


"Entah! Namun, kompas ini masih berputar-putar. Pasti ada di dekat sini!" ucap Vadim yang kini membawa kompas itu karena Jubaedah sedang menyembuhkan diri.


"Hei lihat! Ada gua di sana! Mungkinkah rantai itu disembunyikan di tempat itu?" tanya Rangga seraya menunjuk.


"Bisa jadi. Ayo!" ajak Gibson bergegas dan diikuti anak-anak lainnya.


Saat anak-anak itu memasuki gua, mata mereka melebar. Tempat itu seperti sebuah pabrik membuat senjata.



"Tempat ini sangat meyakinkan! Lihat di sebelah sana seperti bengkel untuk membuat senjata tajam. Cetakan-cetakan itu seperti koleksi di kastil Borka Rusia. Aku pernah tak sengaja melihatnya saat tersesat karena bermain bersama Juby," ucap Rex yang kondisinya mulai membaik usai meminum ramuan meski lukanya belum pulih sepenuhnya.


Anak-anak yang baru mengetahui hal tersebut ber-Oh seraya melihat sekitar.


"Kalau begitu, jangan tunda lagi. Ayo, kita harus segera mencari rantai besi itu sebelum makhluk berkepala tiga itu muncul," tegas Gibson yang membuat semua anak menelan ludah karena ngeri membayangkan hal seram tersebut.


"Kalian berdua istirahat saja. Kalian sudah banyak menolong. Sebaiknya kalian berdua bersama Ryan mengawasi sekitar saat kami mencari rantai tersebut," pinta Kenta.


Jubaedah dan Rex yang masih tergolek lemas di tangan kayu Ryan dalam wujud Tuan Pohon mengangguk pelan. Ryan mencari lokasi yang aman karena takut tubuhnya terbakar.


"Kau baik-baik saja, Juby? Kulihat lukamu sudah mulai menyusut. Ramuan itu sungguh hebat!" ucap Ryan dengan suara besarnya.


"Ya. Hanya saja, rasa sakitnya sungguh nyata, Ryan. Apalagi ... nyawa Juby tinggal satu. Baru kali ini Juby takut mati. Juby takut gak bisa pulang ke Bumi. Juby banyak dosa. Tempat ini udah mirip kaya neraka. Juby takut ...," ucapnya dengan air mata berlinang.


Lagi-lagi suara gemuruh dari langit yang ikut menangis karena kesedihan yang sedang dirasakan oleh Jubaedah membuat hujan deras di luar gua.


"Sebaiknya, kau ubah dirimu menjadi manusia dulu saja, Juby. Rex khawatir kau akan meruntuhkan gua ini," pinta Rex dengan tubuh miring ke samping menghadap kekasihnya.


"Oke," jawab Jubaedah lirih.


Seketika, wujud Lady Dragon sirna. Hujan deras yang mengguyur wilayah panas penuh dengan lava aktif itu berhenti.


Asap masih mengepul di luar, tapi hal itu sudah bukan menjadi masalah bagi anak-anak tersebut karena kini mereka aman di dalam gua.


Namun tiba-tiba, "Grrr ...."


"Oh! Apa itu?!" pekik Jubaedah saat ia baru akan memejamkan mata, tapi kembali terbuka karena mendengar suara raungan hewan buas dari luar gua.


Benar saja, muncul sosok bayangan dari balik kepulan asap di pintu gua. Ryan yang tadinya duduk langsung berdiri dengan Jubaedah dan Rex masih duduk di telapak tangan berwajah tegang.


"GOAARRR!"


"AAAA! Cerberus!" teriak Jubaedah lantang yang suaranya menggema dalam gua pembuatan senjata itu.


Praktis, Rex, Ryan dan Jubaedah tertegun seketika.


"Lari, Ryan! Lari!" seru Rex panik dan terlihat siaga meski tubuhnya berada di atas.


Ryan langsung melangkahkan kaki mencoba untuk pergi dari tempat itu. Namun, Cerberus yang gesit langsung berlari kencang menghadang pergerakan sosok Tuan Pohon yang akan menyeberangi jembatan menyusul kawan-kawannya.


"Grrr," erang Cerberus dengan wajah beringas siap untuk menyerang.


"Gibson! Harun! Mandarin!" teriak Jubaedah histeris memanggil seluruh kawan-kawannya yang sedang menyusuri sekitar dan tak terlihat sejak memasuki dalam pabrik.

__ADS_1


Rex ikut panik karena makhluk berkepala tiga dan berwujud anjiing itu begitu besar. Rex melihat jika Ryan seperti gemetaran karena ia melangkah mundur perlahan.


"Nico! Lazarus! Vadim!" panggil Rex yang ikut berteriak memanggil nama kawan-kawannya.


Namun, entah apa yang terjadi, para remaja itu seperti tak mendengar panggilan Jubaedah dan Ryan yang diliputi kepanikan.


"Argh! Berubah!" teriak Jubaedah yang kembali menjadi Lady Dragon.


Rex tak bisa merubah wujudnya karena luka di tubuhnya belum pulih sepenuhnya karena robekan itu cukup dalam. Jubaedah yang masih lemah terpaksa kembali berjuang sampai timnya kembali.


"Anjiing jelek! Minggir!" teriak Jubaedah marah dalam posisi berjongkok dan berpegangan kuat pada tangan kayu Ryan agar tak jatuh.


"Ryan, jangan takut! Tubuhmu besar dan kau kuat. Kau pasti bisa bertahan dan mampu mengalahkan Cerberus. Kami akan membantumu!" ucap Rex menyemangati.


"Ya! Tiga lawan tiga! Kita pasti bisa mengalahkannya!" seru Jubaedah mantap meski wajahnya masih pucat.


Ryan memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan mental serta fisiknya. "Harrghhh!" raung Ryan seraya membuka mata saat mendapatkan kekuatannya kembali. "Aku Ryan Giamoco dan aku tak akan kalah dengan kalian!" seru pemuda itu lantang dengan suara besarnya.


Cerberus mengerang dengan menunjukkan gigi tajamnya. Seketika, "Goarrr!!"


"Lawan!" teriak Rex masih dalam wujud manusia sembari menunggu lukanya pulih berangsur.


Ryan berlari dengan langkah besar menghadapi Cerberus. Jubaedah ikut menguatkan fisiknya di mana musuhnya kali ini terlihat begitu tangguh dan buas.


KRAUKK!!


"Harrghh!" erang Ryan saat tubuh pohonnya diterkam dan membuat lapisan kulit pohonnya terkelupas karena kuku tajam Cerberus.


"Bertahan, Ryan!" seru Rex saat melihat Cerberus begitu agresif merobek lapisan kulit pohon Ryan.


Ryan meraung-raung dan berusaha menyingkirkan Cerberus di tubuhnya, tapi karena ia membawa Jubaedah serta Rex, ia tak bisa menggunakan kedua tangannya.


"Ryan! Letakkan Rex di atas pilar itu!" titah Jubaedah karena Cerberus seperti berusaha untuk memanjat naik.


Ryan dengan sigap mengarahkan tangannya ke sebuah pilar yang terbuat dari batu kokoh. Rex terkejut karena Ryan dan Jubaedah melawan Cerberus berdua saja tanpa dirinya.


"Juby!" panggil Rex panik, tapi Jubaedah terlihat begitu sigap memanjat ke atas kepala Ryan dan berpegangan pada ranting mencuat layaknya tanduk.


Makhluk itu memberontak dan menggunakan kepala di samping kiri serta kanannya untuk menggigit tangan Ryan.


KRAUKK!!


"Harrghhh!"


"AAA!"


"Juby! Ryan!" panggil Rex panik karena Ryan terhuyung dan membuat Jubaedah terpontang-panting di atas kepalanya.


SRAKKK!!


"AAAA!" teriak Jubaedah panik karena ia hampir jatuh dari atas kepala Ryan.


Mata Rex melotot saat melihat Jubaedah berpegangan kuat pada dahan-dahan yang mencuat di kepala Tuan Pohon.


Ryan melepaskan cengkeramannya pada tubuh Cerberus karena jari-jari kayunya sampai patah karena digigit kuat.


Pemuda keturunan India dan Amerika itu meraung hingga suaranya menggema di dalam gua.


"Juby!" panggil Ryan lantang saat melihat Cerberus mulai mengincar Jubaedah yang berusaha dengan kuat untuk memanjat, tapi kakinya tergantung tak bisa berpijak.


"Ryan! Juby akan jatuh!" teriak Rex yang tak bisa melakukan apa pun karena ia berada di atas pilar yang tinggi dan tak bisa menggapai keduanya.


Jika Rex nekat turun dengan melompat, ia bisa mengalami cedera seperti patah tulang atau malah lebih buruk lagi tercebur ke kolam lava.


Ryan yang terhuyung dan hampir roboh itu menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding gua.


Tangan kanannya dengan sigap mengambil Jubaedah dan meletakkannya kembali ke atas kepala.


Rex bernapas lega hingga kakinya lemas karena sang kekasih hampir saja terjatuh dan bisa saja dimangsa oleh Cerberus.


Rex melihat sekitar mencoba untuk menolong, tapi tak mendapati apa pun di dekatnya.

__ADS_1


"Sial! Aku merasa tidak berguna!" teriaknya kesal karena Jubaedah dan Ryan terlihat begitu fokus untuk bertahan lalu membalas menyerang.


"Ryan! Tendang Cerberus!" seru Jubaedah saat melihat makhluk itu seperti berusaha untuk menerkam Ryan lagi.


Ryan mengangguk paham dengan tubuh sedikit membungkuk. Cerberus melangkah ke samping seperti mencari posisi lemah dari lawan besar di hadapannya.


"Hah, jika aku nekat berubah menjadi naga, tempat ini bisa roboh. Bagaimana ini?" tanya Rex panik seraya mencoba untuk turun, tapi tak bisa.


Jubaedah melihat Rex seperti berusaha untuk turun perlahan dari tempatnya berlindung.


"Rex! Diem di situ!" teriak Jubaedah menunjuk, tapi arah tangannya membuat kepala Cerberus menoleh seketika ke tempat pemuda berwajah Asia tersebut. Praktis, mata Rex melotot.


"Goarrr!"


"Rexy!" teriak Jubaedah saat melihat Cerberus kini mengincar Rex dan berlari kencang ke arahnya.


Ryan melihat Rex berusaha untuk memanjat ke atas lagi karena Cerberus melompat ke arah pilarnya. Ryan melangkahkan kaki besarnya dengan tergesa menuju ke arah Cerberus.


"GOARR!" erang Cerberus saat kedua tangan Ryan memegangi tubuh hewan itu kuat.


Namun, lagi-lagi. Kepala samping Cerberus menggigit tangan Ryan hingga pegangannya terlepas. Ryan mengerang kesakitan, dan Cerberus melihat kesempatan itu.


"Juby!" teriak Rex saat ia berhasil kembali naik ke atas pilar, tapi kemudian melihat Cerberus melompat ke dada Tuan Pohon dan merobohkannya.


BRUKKK!!


"JUBY!" panggil Rex dengan mata melotot saat melihat tubuh Tuan Pohon melintang di atas jembatan.


Jubaedah kembali tergantung dengan berpegangan kuat pada dahan di kepala, tapi kini nyawanya di ujung tanduk karena ia bergelantungan di atas kolam lava.


Rex nekat turun kali ini tak memperdulikan keselamatannya karena Cerberus menaiki tubuh Tuan Pohon yang terlentang di atas jembatan.


Cerberus mengincar gadis manis itu yang ketakutan karena ia tak memiliki pijakan lagi.


"Hiks ... Rexy ...," panggil Jubaedah dengan air mata terlihat begitu sedih dan ketakutan saat melihat tiga kepala Cerberus kini melongok ke bawah dengan menunjukkan taring tajamnya.


"Juby! Juby!" panggil Rex panik dan nekat melompat dari pilar ke lantai batu.


Beruntung, Rex tak tercebur ke kolam lava meski ia harus jatuh bergulung-gulung di lantai batu. Rex merangkak karena merasa kakinya seperti terkilir.


Ryan berusaha untuk bangkit, tapi lagi-lagi, KRAUKK!! KRAKK!!


"HARRGHHH!" erang Ryan saat tangan pohonnya digigit dan dipatahkan oleh salah satu kepala Cerberus yang rahangnya begitu kuat.


Tangan kiri Ryan dilemparkan ke dalam sungai lava hingga terbakar. Ryan meraung kesakitan hingga menangis.


KRAKKK!


"AAAA!" teriak Jubaedah histeris karena dahan kayu sebagai pegangannya retak.


"JUBY!" teriak Rex dengan mata melotot dan napas tersengal. Pemuda itu merangkak mendatangi sang kekasih.


"Hiks, Rexy ...," tangis Jubaedah saat melihat Rex yang berusaha untuknya.


Namun, "Goarrr!"


KRAKKK!!


"AAAAA!"


"JUBY!" teriak Rex lantang dengan mata melotot.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy makasih tipsnya. lele padamu❤️ belom bs kasih dobel eps gaes. wabah mager melanda😭

__ADS_1


__ADS_2