MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PENYESALAN REX


__ADS_3

KREKK!!


"Hah, hah, Rexy ...," panggil Jubaedah dengan suara bergetar dan terlihat jelas ketakutan di wajahnya.


KRAKK!!


"JUBY!"


"AAAA!" teriak Jubaedah lantang saat ranting di kepala Tuan Pohon patah dan gadis manis itu terjatuh ke dalam kolam lava.


"Juby!" panggil Czar saat keluar dari pintu pabrik senjata dan mendapati teman wanitanya jatuh dari ketinggian.


"Itu Cerberus!" seru Kenta yang mendapati sosok anjiing berkepala tiga sedang mencabik-cabik tubuh Tuan Pohon di lantai batu.


"Serang!" seru Nicolas dalam wujud Elf terlihat begitu marah.


"Hargghh!" raung semua anak dalam wujud Mitologi.


Para remaja itu berlari kencang mendatangi Cerberus. Anjiing buas itu melihat kedatangan sekumpulan makhluk Mitologi yang mendekatinya.


Di belakang kumpulan itu, muncul Yeti, Ogre, dan Minotaur membawa kalung besi yang berhasil mereka temukan untuk menjinakkan Cerberus.


Namun, mata Rex hanya tertuju pada sang kekasih yang jatuh dengan cepat ke kolam lava.


"Juby!" panggil Rex dengan mata terbelalak dipenuhi genangan air saat ia melihat sang kekasih berada jauh dalam gapaiannya.


Czar melesat cepat dengan Laika naik ke punggungnya. Tangan kanan Laika terulur, siap untuk menangkap Jubaedah.


Sang Lady Dragon melihat kedatangan Czar dan Laika yang berusaha untuk menggapainya. Namun, DUAKKK!!


"Agh!"


"AAAAA!" teriak Jubaedah saat gapaian tangannya ke tangan Laika hanya bersentuhan karena tubuh Griffin Czar dihantam oleh tangan Tuan Pohon yang berhasil dipatahkan oleh Cerberus hingga Ryan kehilangan dua tangannya.


BRUKK!


"Juby!" teriak Laika saat tubuhnya tertindih Czar yang terhempas ke lantai gua dan menghantam dinding hingga pemuda itu tak sadarkan diri.


BYUR! BLUB! BLUB!


"NO! JUBY! JUBY!" teriak Rex lantang dengan teriakan penuh kesedihan saat melihat tubuh sang kekasih tercebur ke kolam lava dan perlahan ditelan oleh cairan panas membakar raga tersebut.


Tubuh Laika, Rex dan anak-anak lainnya bergetar saat melihat tangan Jubaedah masih terjulur di permukaan genangan lava meski tubuhnya sudah tak terlihat.


Jemari gadis manis itu bergetar hingga akhirnya ikut dilahap oleh lava panas itu.


"JUBY! HARRGHH!" erang Rex dengan raungan kesedihan yang mendalam hingga kedua tangannya mengepal.


"Hah! Hah! Ju-Juby?" panggil Laika dengan tubuh bergetar. "Juby!" teriak Laika yang membangunkan Czar dalam wujud Griffin-nya.


Czar terbangun dan langsung menyingkirkan tubuhnya. Laika segera bangkit dan berlari ke tepian kolam lava.


Namun, sosok Jubaedah sudah tak terlihat. Praktis, tangis gadis berambut panjang itu pecah seketika.


"Harrghhh! AAAAA! JUBY!" panggilnya yang mengejutkan para pria yang sedang berusaha untuk memasangkan kalung besi di leher Cerberus.

__ADS_1


Tiba-tiba, "GOARRR!"


Rex merubah wujudnya menjadi naga hijau. Namun kali ini, ia terlihat berbeda. Sorot mata pembunuh terlihat jelas di wajah naganya.


Semua anak menyingkir saat tiba-tiba saja Rex membuka rahangnya kuat dan KRAUKK!


"AAAA!" teriak Azumi histeris saat melihat Rex seperti memakan kepala salah satu Cerberus dan terdengar tulang yang remuk.


Dua kepala Cerberus lainnya mengerang dan berusaha untuk melepaskan gigitan kuat rahang naga Rex.


Kembali, tubuh naga Rex tercabik, tapi pemuda yang sedang diliputi amarah, kebencian, dan kesedihan yang mendalam seperti mengabaikan rasa sakit itu.


Lagi-lagi, WHOOM!


"Menyingkir!" seru Gibson dalam wujud Hanoman saat melihat mulut naga Rex yang masih memakan salah satu kepala Cerberus mengeluarkan asap hijau beracunnya.


Semua anak menyingkir. Ryan yang sekarat segera dipindahkan oleh Harun dan Mandarin dalam wujud Mitologi mereka.


"Rex!" panggil Lazarus saat melihat Cerberus mulai terkena dampak dan meraung kesakitan.


Tubuh anjiing penjaga tanah Hades mulai mengering seperti menyusut. Sosok naga Rex tertutup kepulan asap hijau beracun buatannya sendiri.


Anak-anak kembali masuk ke dalam pabrik agar tak terkena dampak. Kondisi Ryan yang mengenaskan membuat semua anak semakin berduka usai kehilangan Jubaedah.


"Agh! Tubuh Ryan tak muat masuk ke dalam! Bagaimana ini?" tanya Boas panik karena kepulan asap hijau Rex semakin mendekat seperti mengejar mereka.


"Akan kuhalau! Berikan dia ramuan dari Oag untuk menyembuhkan lukanya! Cepat!" titah Vadim, dan Laika segera meminumkan ramuan itu kepada Ryan sampai botol tersebut kosong.


"Arrghhh!" erang Ryan sampai matanya melotot saat merasakan dampak penyembuhan dari ramuan itu.


Sedang anak-anak yang lain, kembali berubah wujud menjadi manusia. Mereka terpaksa meninggalkan rantai yang membelenggu Cerberus karena hewan itu dilawan seorang diri oleh Rex.


Hingga akhirnya, raungan kesakitan Cerberus tak terdengar lagi. Vadim dan Czar juga berhasil mendorong asap beracun itu keluar ke pintu gua sehingga tak mengenai kawan-kawannya yang berlindung dalam pabrik.


Namun, saat asap hijau itu menghilang, "Rex!" panggil Timo ketika melihat Rex tergeletak di samping mayat Cerberus yang tewas karena serangan beracunnya.


Anak-anak segera berlari mendatangi Rex yang sudah kembali dalam wujud manusia. Azumi bergegas meminumkan ramuan obat kepada remaja pria tersebut, tapi Rex seperti enggan meminumnya.


"Hiks, Rex mau nyusul Juby aja. Rex gagal lindungin dia. Rex gagal ...," tangisnya meringkuk di lantai batu dengan tubuh bergetar dan wajah sudah banjir air mata.


Semua anak ikut terduduk sedih. Mereka ikut meneteskan air mata karena tak menyangka jika Jubaedah akan tewas dalam misi kali ini.


Laika menutup wajahnya dan berjongkok di samping tubuh Ryan dalam wujud Tuan Pohon. Gibson menemani Laika dan Ryan di pintu masuk pabrik dengan air mata ikut menetes.


Nicolas memeluk Rex seperti bisa merasakan kesedihan yang sama, begitupula Harun dan lainnya.


Rex dikerubungi hingga sosoknya tak terlihat, tapi suara tangisannya begitu terdengar jelas di dalam gua itu.


"Kami minta maaf datang terlambat, Rex. Kami sungguh minta maaf," ucap Bara dengan wajah berkerut karena tak menyangka jika Jubaedah sungguh telah tiada.


Namun, tiba-tiba saja Rex duduk. Semua anak terkejut dan menatap lelaki itu saksama yang terlihat marah karena napasnya menderu.


"Kalian ke mana saja?! Juby, aku dan Ryan memanggil kalian berulang kali! Ryan bahkan hampir tewas dan Juby nekat melawan padahal dia masih sakit! Juby mati karena kalian terlambat menolong!" teriak Rex menyalahkan kawan-kawannya.


Sontak, perkataan Rex mengejutkan semua anak di sekitarnya. Jantung para remaja itu berdetak cepat karena disalahkan.

__ADS_1


Rex langsung berdiri meski wajahnya pucat dan basah karena air mata. Ia jalan tergopoh dan mendatangi rantai yang digunakan untuk membelenggu leher Cerberus.


Semua anak diam saja melihat Rex memasangkan rantai itu di salah satu leher hewan tersebut. Namun tiba-tiba ....


"Rex!" teriak Rangga lantang saat Rex berjalan menuju tepian kolam lava seperti akan menceburkan diri.


Mata semua anak melebar saat Rex melangkahkan kaki kanannya seperti siap untuk menjatuhkan dirinya ke lahar panas itu.


Namun, "ARRGHHH!" erang Rex saat tiba-tiba saja tubuhnya ditangkap dari belakang oleh Rangga, Bara dan Boas.


"Lepaskan aku! Aku akan menyusul Juby!" teriaknya marah dan berusaha memberontak, tapi tiga pemuda itu terus menarik tubuh Rex menjauh dari tepian kolam.


"Rex sudah gila!" pekik Kenta yang tak habis pikir dengan sikap kawannya itu.


"Ikat dia!" teriak Bara, dan Kenta dengan sigap mengambil tali dari dalam tasnya.


Rex dipegangi kuat bahkan mulutnya disumpal dengan kain. Rex meraung-raung saat Kenta mencoba mengikatnya.


Sedang anak-anak yang lain tampak kebingungan dan diam saja melihat kepanikan ini.


"Tak ada gunanya kau mati, Rex! Tak pernah ada yang menginginkan mati di tempat ini bahkan Juby sekalipun! Bukan kau saja yang bersedih dan kehilangan, kami juga!" teriak Kenta saat Rex berhasil dirobohkan di atas lantai kayu dengan tubuh sudah diikat menjadi seperti kepompong.


Napas Rex tersengal dan melotot tajam pada remaja asal Jepang itu.


"Ya, kuakui itu salah kami karena tak mendengar panggilan kalian. Kami minta maaf, tapi kami juga berusaha untuk bisa keluar dari pabrik itu. Asal kau tahu, tempat itu seperti labirin. Kami seperti sengaja dibuat tersesat. Beruntung Vadim menemukan kami menggunakan kompas. Jika tidak, kami pasti masih terjebak di dalam sana. Kami juga kesulitan!" ucap Azumi menjelaskan kondisi timnya.


Rex memejamkan mata dan kembali menangis hingga tubuhnya bergetar. Suara kesedihannya tak terdengar karena mulutnya disumpal rapat. Semua anak terlihat iba pada kondisi kawan lelaki mereka itu.


Para remaja itu tahu jika Rex memang sangat dekat dengan Jubaedah bahkan Bara sampai iri karena keduanya terlihat begitu serasi dan cocok.


"Jangan menyerah, Rex. Bukan kau saja yang kehilangan orang terkasih, aku juga dan beberapa dari kami juga merasakan hal itu," ucap Timo seraya duduk perlahan di samping Rex lalu mengelus punggungnya lembut.


Rex masih menangis dengan mata terpejam. Timo dan Vadim mengelus tubuh Rex lembut di mana mereka sudah merasakan kehilangan atas orang terdekat yang sudah dianggap layaknya saudara.


"Apakah kita akan seperti ini terus sampai level terakhir, Gibson?" tanya Ryan yang mulai membaik dan tangannya yang putus perlahan tumbuh.


"Ya. Kita akan terus menderita sampai level 10, Ryan. Itulah kenyataannya," jawab Gibson dengan wajah sembab karena tak bisa membendung kesedihannya.


Semua anak terlarut dalam kesedihan. Seolah, misi mereka di tempat tersebut terlupakan begitu saja. Oag dan kelompoknya yang melihat hal tersebut terdiam seperti terpaku.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Hempf. Padahal, aku menyukai gadis bernama Jubaedah. Anak itu ... energik, periang dan ... cukup tangguh. Sangat disayangkan," ucap sang jenderal seperti ikut berduka.


Oag melirik para manusia dewasa yang tampak iba karena kematian Jubaedah. Oag lalu berjalan mendekat ke salah satu petugas pengoperasian permainan Maniac seperti menginstruksikan sesuatu.


"Anda yakin, Oag?" tanya alien bercorak biru tersebut.


"Hem. Aku sangat yakin. Kerjakan," titah Oag.


"Baik, Oag," jawab alien tersebut lalu menekan sebuah tombol warna biru yang membuat mata semua manusia dewasa di ruangan tersebut langsung terarah ke layar petugas itu.


***


eps bonus dari tips play audio book ya. jangan lupa tips poin dan koin serta vocer biar lele cemangat upnya ditengah mager mulai melanda. lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2