MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
PESAN GIBSON


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Satyr terlihat panik karena Gibson jatuh dengan sangat keras dari ketinggian dan tak ada yang menolongnya.


Satyr masuk ke dalam hutan gelap mencoba mencari keberadaan Gibson dan berharap, pemuda itu masih selamat.


"Gibson! Gibson!" panggil Satyr dengan napas terengah karena belum mendapati sosok pemuda itu di mana pun. Namun, manusia setengah kambing itu tak menyerah. Hingga tiba-tiba, "Woah! R-Ryan?" panggil Satyr ketika mendapati sosok Tuan Pohon yang bergerak perlahan memunggunginya.


Ryan menoleh terlihat sedih. Satyr mengerutkan kening ketika Ryan membalik tubuhnya. Sontak, mata Satyr melebar.


"Gi-Gibson? Gibson!" seru Satyr terkejut.


"Hiks, Gibson ...," ucap Ryan sedih.


"Dia masih bisa selamat. Dia hanya sekarat! Berikan ramuan ajaib itu. Cepat!" titah Satyr saat melihat Gibson terluka di sekujur tubuh seperti terkena sayatan hingga terselimuti darah.


"Aku sudah membuka tasnya. Namun, ramuan ajaib miliknya pecah. Obat itu telah habis," jawab Ryan sedih dan masih memegangi tubuh Gibson yang tergeletak dengan mata sayu.


"Berikan punyamu! Kau masih ada 'kan?" sahutnya cepat.


Seketika, tangis Ryan reda. Ia yang panik sampai tak menyadari hal itu. Ia meletakkan tubuh Gibson perlahan di atas tanah. Satyr mendatangi Gibson dan mencoba untuk membuatnya tetap sadar.


"Kau kuat, Gib! Bertahanlah!" ucap Satyr lantang menyemangati.


"Ada!" seru Ryan yang kembali ke sosok manusia lalu dengan sigap membuka tasnya.


Saat Ryan akan meminumkan ramuan itu kepada Gibson, tiba-tiba ....


"Eakkk!!"


"Arghhh!"


"Satyr!" teriak Ryan panik ketika melihat seekor Ahool muncul dan mendarat tepat di belakang makhluk setengah kambing itu.


Ahool tersebut menggigit pundak manusia Satyr hingga robek. Ryan yang terkejut malah bingung harus berbuat. Mata Gibson melebar saat melihat Satyr berusaha melepaskan gigitan kuat itu di pundaknya.


Gibson yang masih memegang tombak Lady Elf mengerahkan seluruh tenaga terakhir dengan membidik Ahool tersebut saat memunggunginya.


"Hempf, hempf, arg!"


JLEB! BRUK!


Satyr dan Ryan terkejut saat melihat Ahool tersebut tewas seketika terkena tusukan ujung tombak tepat di kepalanya. Ahool ambruk dan gigitan mematikan itu terlepas di pundak Satyr.


"Argh, aaghh!" erang Satyr karena ternyata, gigitan Ahool seperti memiliki racun.


Kulit Satyr melepuh layaknya terbakar. Ryan terlihat panik dan kebingungan menolong. Namun, tiba-tiba Gibson memegang kakinya. Ryan menoleh seketika.


"Berikan pada Satyr. Berikan padanya," pinta Gibson lirih dengan tubuh sudah gemetaran.


"Ta-tapi ...."


"Aku akan hidup lagi. Kalian sudah berjanji padaku. Sedang Satyr, tidak. Cepat, Ryan ...," pinta Gibson lemah dan semakin tak berdaya.


Ryan memejamkan matanya rapat. Ia memilih untuk menuangkan ramuan ajaib itu langsung ke luka Satyr. Manusia bertanduk itu terkejut, tapi ia akhirnya pasrah saat air obat itu mulai meresap di lukanya.


"Berikan sebagian pada Gibson!" ucap Satyr menahan tangan Ryan saat ia akan menuangkan semuanya.


Ryan mengangguk. Namun ternyata, Gibson hanya mendapatkan dua tetes saja. Ryan merasa bersalah. Ia yang panik dan takut, tak memikirkan membagi obat itu untuk dua orang.

__ADS_1


"R-Ryan ...," panggil Gibson lirih. Ryan langsung mendekatkan telinganya ke bibir Gibson. "Bawa aku ke sosok hitam. Cepat ...."


"Oke! Bertahanlah, Gib!" jawab Ryan yang dengan sigap berubah menjadi Tuan Pohon.


Satyr yang masih kesakitan, tapi lukanya mulai membaik, hanya bisa duduk di atas tanah dengan wajah pucat dan tubuh berkeringat.


"Katakan pada lainnya untuk segera menemui kami kepada sosok hitam. Aku bisa mengandalkanmu 'kan, Satyr?" tanya Ryan yang kembali berdiri tegak dengan Gibson dalam genggaman.


"Ya! Aku akan mencari mereka. Cepat pergi!" jawab Satyr mantap.


Ryan segera melangkah meninggalkan hutan menuju ke pintu lorong tempat kawan-kawan lainnya menemui sosok hitam. Ryan ketakutan karena Gibson mulai tak sadarkan diri.


Tak lama, terdengar suara sayup seperti sebuah panggilan yang meneriakkan nama Gibson. Praktis, kesedihan yang sedang menyelimuti hati Satyr berubah menjadi kegembiraan.


"Nicolas!" seru Satyr saat melihat sosok Elf sedang berlari ke arahnya dengan kencang.


"Aku tadi seperti melihat Ryan dan Gibson. Mana mereka?" tanya Nicolas panik seraya melihat sekitar.


"Mereka berdua sedang menemui sosok hitam. Chimera sudah dikalahkan. Bisa bantu aku cari kawan-kawanmu yang lain lalu temui sisanya di luar? Aku akan menunggu di pintu masuk lorong," pintanya seraya menahan sakit di bahu.


"Baik," jawab Nicolas yang dengan sigap kembali berlari.


Satyr melihat sekitar di mana para Ahool sudah tak terlihat lagi. Ia mencabut tombak milik Lady Elf dan menjadikan benda itu sebagai senjatanya.


Satyr berjalan tertatih menuju ke pintu lorong sembari meneguk botol berisi arak untuk mengurangi rasa sakit.


"Sial. Gigitan makhluk jelek itu benar-benar membuatku seperti makhluk lemah," gerutunya seraya melirik ke arah luka sesekali meski sudah mulai membaik.


Satyr duduk di dinding batu samping pintu keluar dari lorong penjara Hades di mana ia tak bisa melewati jalan tersebut.


Satyr mengintip, tapi tak melihat pergerakan apa pun di baliknya. Satyr memilih untuk menunggu seraya meneguk minumannya di malam yang berubah menjadi hening bukan teror lagi.


Boas yang sudah dinyatakan lolos misi level 7 menangis terisak ketika melihat kondisi Gibson.


Semua anak berkumpul saat Gibson berjuang untuk tetap bertahan hingga semua kawannya berkumpul.


Tak lama, terdengar suara derap langkah segerombolan orang yang tak lain adalah kawan-kawannya dari tim B.


Sontak, mata mereka melebar karena melihat Gibson berlumuran darah dengan luka disekujur tubuhnya.


"Kenapa diam saja? Berikan dia ramuan ajaib!" seru Kenta yang baru saja tiba.


"Milik kami sudah habis semuanya. Kita sudah sering menggunakannya ketika terluka melawan musuh. Bagaimana dengan kalian? Masih ada?" tanya Timo yang sudah menghabiskan miliknya ketika serangan terakhir Siren.


"Milikku sudah habis untuk menolong Rex. Dia terluka parah. Tubuhnya penuh luka," jawab Lazarus terlihat sedih.


"Milikku juga demikian. Tubuh Czar terbakar. Jadi aku memberikannya untuk dia," sahut Bara.


Semua anak langsung duduk dengan lesu. Mereka terlihat begitu menyesal karena tak bisa menolong Gibson. Sosok hitam masih melayang dan hanya diam menyaksikan anak-anak itu bersedih.


Tiba-tiba, Gibson melirik ke arah sosok hitam. Sepertinya makhluk itu tahu sesuatu dan mengangguk.


"Mereka semua sudah lolos. Berikan tempat milik Azumi pada Vadim. Aku sudah tahu sejak awal jika kau bisa membaca pikiran," ucap Gibson menatap sosok hitam dengan pandangan sayu.


"Be-benarkah?" tanya Rangga heran, dan Gibson mengangguk.


"Oleh karena itu, kau mengorbankan diri, Gibson? Karena tahu jika kau tak akan mendapatkan tempat?" tanya Harun sedih. Gibson hanya tersenyum tipis tak menjawab.


"Czar. Katakan pada teman-teman tentang penglihatanmu saat sosok hitam memegang kepalamu kala itu," pinta Gibson dengan mata sudah terpejam.

__ADS_1


Semua anak langsung menoleh ke arah pemuda asal Rusia itu. Czar terlihat gugup dengan pandangan tertunduk.


"A-aku melihat Azumi tewas," jawabnya yang membuat mata semua anak melotot seketika. "Lalu ... aku melihat Gibson sekarat, persis seperti saat ini," sambungnya. Sontak, hal itu membuat semua anak shock seketika.


"Sosok hitam ... kami sudah berjuang. Kurelakan tempatku untuk Vadim. Dia, pantas untuk melanjutkan misi. Selain itu, kawan-kawanku berjanji akan menyampaikan pesanku pada Oag. Jadi ... keluarkan mereka dari tempat ini dan bawa aku bersamamu," ucap Gibson lirih seraya membuka matanya perlahan meski sering terpejam.


"Apa yang kaukatakan, Gibson? Jangan gila!" seru Vadim marah.


Tiba-tiba, tubuh Gibson terangkat seperti melayang ketika sosok hitam mengulurkan tangan kanannya. Semua anak panik. Vadim yang tak rela kehilangan Gibson langsung menangkap tubuhnya dan menangis.


"Tidak! Aku tak mau kehilanganmu! Ambil saja nyawaku! Kau pantas hidup dan menang, Gibson! Kami semua percaya dan mengandalkanmu! Tidak boleh! Kau tidak boleh mati!" teriak Vadim dengan air mata mengalir deras.


Semua anak ikut berdiri dan memeluk tubuh Gibson yang sudah melayang. Sosok hitam diam saja ketika Gibson tak lagi bicara bahkan diam tak bergerak.


"Dia sudah mati," ucap sosok hitam yang mengejutkan semua anak.


"Ha?!" pekik Nicolas terkejut dan langsung melihat wajah Gibson yang pucat bagaikan manekin.


"Gibson!" teriak Timo histeris.


Para remaja itu tak lagi bisa membendung rasa kehilangan mereka. Tubuh Gibson yang melayang dibiarkan begitu saja.


Namun tiba-tiba, sosok hitam menghilang dari hadapan mereka. Lagi, anak-anak dibuat kaget dengan hal itu.


"Ke-kemana dia?" tanya Bara kebingungan seraya melihat sekitar dengan wajah sudah tergenang air mata.


Di tempat Satyr berada.


Makhluk setengah manusia setengah kambing itu dibuat kaget karena sosok hitam muncul di hadapan tiba-tiba. Satyr langsung berdiri dengan gugup dan terlihat jelas ketakutan di wajahnya.


"Kuberikan dua pilihan," ucap sosok hitam yang mengejutkan Satyr. "Pertama. Kau kembali menjadi Satyr dan tetap bertahan di penjara ini sampai akhir hidupmu," sambungnya. Satyr diam belum menjawab. "Kedua. Kau tetap menjadi Faun, meski sebenarnya jiwa Satyr ada dalam dirimu. Hanya saja, kau tak bisa tinggal di sini lagi. Berterima kasihlah pada Gibson yang memberikan nyawanya untuk menggantikanmu agar bisa merasakan kebebasan di planet Mitologi."


"Apa katamu?!" pekik Satyr melotot karena tak percaya dengan perkataan terakhir sosok hitam.


"Apa pilihanmu?" tanya sosok hitam yang membuat Satyr malah kebingungan. Makhluk bertanduk itu memegangi kepala dan meremat rambut ikalnya.


"Dua! Aku pilih dua! Gibson sampai merelakan nyawanya untukku! Aku ambil kesempatan untuk hidup bebas!" teriak Satyr senang. Sosok hitam mengangguk paham. Namun tiba-tiba, mata Satyr melotot. "Awas! Belakangmu!" teriak Satyr histeris ketika melihat sekumpulan Ahool yang berhasil selamat dari serangan anak-anak datang menyerang sosok hitam.


Makhluk berjubah tanpa wajah itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Satyr. Makhluk setengah kambing setengah manusia itu panik dan tanpa sadar masuk ke dalam pintu terowongan.


"Oh! A-aku bisa masuk! Aku bebas!" teriak Satyr senang dan langsung membalik tubuhnya.


Namun, lagi-lagi. Ia dibuat terkejut saat melihat sosok hitam berubah menjadi sepuluh dan sedang menghisap jiwa para Ahool yang ingin membunuhnya.


Para makhluk bersayap itu merintih kesakitan dan jeritan kematian tersebut membuat rasa takut luar biasa bagi para makhluk dalam penjara Hades yang mendengarnya.


Satyr yang ketakutan langsung berlari menjauh hingga ia bertemu sekumpulan anak-anak manusia itu. Praktis, Vadim dan lainnya terkejut karena melihat Satyr bisa keluar dari penjara.


"Ka-kau di sini?" tanya Kenta heran.


"Hah, a-aku dibebaskan. Gibson memberikan nyawanya untukku agar aku bebas dan bisa tinggal di planet Mitologi!" jawabnya senang, tapi membuat anak-anak terkejut.


"Arrghhh! Gibson! Awas saja jika kita bertemu di Bumi! Aku tak segan akan membuatmu babak belur!" teriak Rex marah begitupula anak-anak yang lain.


Satyr yang bingung memilih untuk tetap berdiri di kejauhan menjaga jarak. Namun, senyum kebahagiaannya berubah menjadi kesedihan saat melihat sosok Gibson yang terbaring melayang di atas lantai batu.


"Terima kasih, Gibson. Kau benar-benar merubah sudut pandangku tentang manusia. Ternyata ... ada manusia baik sepertimu bahkan merelakan nyawa untuk makhluk yang baru saja kau kenal. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatanmu," ucap Satyr yang membuat semua anak diam mendengarkan.


***

__ADS_1


brankas koin kosong gaes😭 sedih sedih sedih. mana kerjaan numpuk dan padet gila😩


__ADS_2