
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Satyr terlihat begitu bahagia hingga ia menangis. Dirinya tak menyangka jika akan bertemu sang kekasih setelah sekian lama. Namun, Satyr jenis betina itu tampak tak seperti mengenali sosok Faun di depannya.
"Kau siapa?" tanya Lana lagi karena Satyr masih menangis.
"Aku ... aku Rhythm Satyr. Namun, aku kini menjadi Faun karena dosaku sehingga harus mendekam di Penjara Hades. Kau ... mengingatku, Lana?" tanya Satyr seraya menghapus air matanya.
Sontak mata Lana melebar. Ia tampak terkejut sampai melangkah mundur. Lana menatap sosok di depannya lekat dari kepala sampai ke kaki. Satyr tersenyum.
"Apakah kau masih mencintaiku? Karena aku ... masih mencintaimu, Lana," tanya Satyr lagi menatap sang kekasih sendu.
"Ka-kau ... kau menjadi Faun?" tanyanya terlihat bingung.
Satyr mengangguk. "Namun, hanya wujudku saja. Aku masih sama seperti dulu. Oh, selain itu ... musikku juga berubah, bukan musik kaum Satyr lagi, tapi Faun," jawabnya seraya menunjukkan serulingnya yang ikut berubah bentuk.
Lana tampak terkejut dan bingung. Ia malah memalingkan tubuhnya. Satyr menatap sang kekasih lekat yang seperti enggan untuk berbincang dengannya.
"Kenapa, Lana? Kau ... kecewa, karena aku menjadi Faun, bukan Satyr seperti pengorbananmu?" tanya Satyr menatap Lana dengan wajah sedih.
Lana kembali menghadap ke arah Satyr yang terlihat seperti akan kembali menangis. Manusia setengah kambing itu berjalan mendekati Satyr dan mengulurkan dua tangan. Satyr terkejut saat Lana tersenyum dan menyentuh wajahnya. Satyr terdiam.
"Kau dibebaskan dari penjara Hades? Bagaimana bisa?" tanya Lana heran.
Satyr mengangguk cepat. Ia segera meraih tangan kekasihnya lalu mengajak berlari mendatangi mayat raksasa yang jatuh dari langit. Lana terkejut dan terlihat takut.
"Ingat perjanjian antara Oag dan manusia terpilih?" tanya Satyr menatap kekasihnya lekat. Lana mengangguk dengan wajah tegang. "Anak-anak manusia yang tersisa, mereka sedang menyelesaikan misi level 8. Mereka berada di atas sana melawan para raksasa. Dan mereka, berhasil menjatuhkan satu. Ini hebat!" serunya seraya menunjuk raksasa yang sudah tergeletak tak bernyawa di atas tanah.
Praktis, mulut Lana menganga.
"Pe-permainan Maniac sudah dimulai? Oh, pantas saja. Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu beberapa jenis makhluk Mitologi yang seharusnya tak berkeliaran di sini. Seperti sosok Cerberus kala itu. Aku berpikir ada tahanan penjara Hades yang lolos. Mungkin, mereka bukan Cerberus sang penjaga. Jangan-jangan, makhluk-makhluk itu adalah anak-anak yang mendapatkan wujud," sahut Lana, dan Satyr mengangguk mantap.
Satyr lalu mengajak Lana duduk di bangkai raksasa itu. Lana masih terlihat takut, tapi Satyr meyakinkan jika raksasa itu telah tewas usai jiwanya dihisap sosok hitam.
"Akan kuceritakan kisah menakjubkan yang tak pernah kau ketahui Lana. Ini tentang, 13 anak-anak setan," ucapnya dengan wajah berbinar.
"A-anak-anak setan?" tanya Lana mengulang hingga keningnya berkerut.
"Ya, itulah julukanku pada mereka. Mereka ... para pemburu monster yang sudah dipetakan oleh Oag. Aku yakin, ketiga belas anak yang tersisa dari ribuan masuk portal, akan berhasil sampai ke level 10. Mereka sangat hebat! Ya ... meskipun gaya bertarung mereka memang seperti anak-anak. Hanya saja, aku tak menyangka jika prediksi para dewa untuk melibatkan anak-anak bukan manusia dewasa benar adanya," jawab Satyr begitu antusias.
__ADS_1
"Ceritakan padaku," pinta Lana ikut bersemangat. Satyr mengangguk cepat.
Di tempat Oag berada.
Ketujuh anak yang dibangkitkan mengajak banding kepada pemimpin Planet Mitologi itu. Para cendikiawan manusia menahan senyum, karena ini pertama kalinya Oag bersedia diajak untuk melakukan kesepakatan setelah ribuan tahun lamanya.
Ruangan tempat anak-anak dikurung sampai permainan Maniac dinyatakan selesai.
"Aku tak memiliki kemampuan membaca pikiran. Katakan," pinta Oag yang berdiri di hadapan anak-anak bertampang serius itu.
"Kawan-kawan kami mati satu per satu karena permainan kejammu, Om Oag," tegas Jubaedah, tapi Oag masih memasang wajah datar. "Oke, kita maafin karena ternyata, kami masih hidup," sambung gadis berambut panjang itu.
"Kubilang langsung keintinya. Jangan berbelit," tegas makhluk bertentakel tersebut.
"Banyak pertanyaan yang harus Om jawab. Selain itu, Om Oag harus membiarkan ketiga belas kawan kami yang tersisa untuk tetap hidup sampai ke level terakhir," sambung Jubaedah.
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?" tanya Pasha langsung menyahut.
"Tiap level yang diberikan adalah sebuah misi. Yang bertahan, dia akan melanjutkan. Yang kalah, dia akan tewas. Itulah inti permainan ini," jawab Oag dengan suara datar.
"Taruhan?" tawar Bobby yang membuat para manusia dewasa terkejut.
"Taruhan? Kalian akan kalah," sindir Oag.
"Memangnya kau peramal bisa tahu jika kita akan kalah? Jangan sombong, Om," sahut Hihi cemberut.
Oag terlihat berusaha untuk bersabar. Ia masih berdiri dengan dua tangan berada di belakang tubuhnya.
"Baiklah, taruhan tentang apa. Pikirkan konsekuensi yang harus kalian dapatkan jika sampai kalah dariku. Aku, makhluk yang memegang teguh janji dari sebuah kesepakatan," tekannya.
"Oke, kami juga. Kami bukan tipe anak-anak manusia ingkar janji," sahut Tina tegas.
Praktis, suasana tegang seketika. Jenderal terlihat gugup karena khawatir kesepakatan itu malah membuat keadaan makin rumit.
"Katakan," pinta Oag.
"Berapapun jumlah kawan-kawan kami yang lolos nantinya sampai ke level 10, berjanjilah. Satu, jangan hapus memori kami selama di Planet ini," tegas Bobby. Praktis, para manusia dan alien bertentakel itu terkejut. Oag masih diam. Bobby menunjukkan keseriusannya. "Dua!" sambung Bobby seraya menunjukkan jari telunjuk dan tengah membentuk angka dua. "Kalian harus katakan pada kami sejujurnya tentang maksud dan tujuan dari permainan Maniac ini. Kami berhak tahu. Kami dilibatkan bahkan sampai tewas karena hal keji atas perbuatan kalian. Pasti ada alasan dari semua," pinta Bobby. Oag masih diam. "Tiga! Semua benda-benda yang kami dapatkan diizinkan untuk dibawa pulang ke Bumi sebagai souvernir," imbuhnya yang membuat kening Oag berkerut.
__ADS_1
Lama dari dua kubu itu saling diam hingga anak-anak manusia itu saling melirik.
"Udah, gitu doang," ucap Jubaedah dengan wajah polosnya.
Oag mengembuskan napas panjang. "Baik." Praktis, semua anak langsung terlihat gembira. "Namun, jika tak ada satu pun dari kalian yang lolos hingga level 10, permintaan kalian hangus," tegasnya.
"Terus, kau minta apa dari kami?" tanya Scott penasaran.
"Tidak ada. Aku sudah mendapatkan semua hal yang kubutuhkan dari kalian," jawabnya tenang.
"Oh ya, apa itu?" tanya Jimmy menatap Oag lekat yang berpaling seperti akan pergi.
"Menemukan leluhurku," jawabnya singkat lalu menghilang.
Anak-anak kembali dibuat terkejut karena hampir lupa jika Oag memiliki kemampuan untuk berkamuflase.
Namun, senyum para remaja itu kembali terbit. Mereka senang karena kesepakatan itu diterima oleh Oag.
"Dengan begini, kita bisa berkumpul lagi di Bumi. Ingat ya, saat kita nanti saling bertemu, kodenya apa?" tanya Jubaedah menatap kawan-kawannya.
"13 Demon Kids! Monster Hunter!" seru enam anak lainnya dengan mantap.
Jubaedah mengangguk senang. Mereka saling berpelukan karena berharap, jika ketiga belas peserta yang tersisa akan berhasil sampai ke level terakhir, 10.
Di luar ruangan anak-anak disekap.
"Kau yakin tak apa jika kenangan mereka selama di Planet Mitologi ini tak dihapus? Ini tak ada dalam perjanjian bersama leluhur para manusia terpilih," tanya Jenderal menatap Oag lekat.
"Malah, aku memberikan bonus seperti Gibson, dan beberapa anak lainnya yang tewas untuk mendapatkan ingatannya kembali selama di Planet ini. Aku penasaran, apakah dengan ingatan itu, Bumi bisa diselamatkan dari bencana masa depan?" jawab Oag tenang.
Sang Jenderal dan para cendikiawan tampak serius mendengarkan.
"Semoga aku berumur panjang untuk melihat hal tersebut, Oag. Ramalan para dewa tentang kondisi Bumi, seperti sebuah hal yang masih sulit diterima dengan akal sehatku. Apakah benar akan semengerikan itu? Jika ya, apakah pengetahuan anak-anak itu akan merubah takdir?" tanya sang Jenderal menatap Oag lekat.
"Sejak dulu, pikiran manusia itu naif. Kita lihat saja, bagaimana kondisi Bumi di masa depan setelah permainan ini berakhir," jawab Oag tenang lalu beranjak pergi dari ruang kendali.
Sang Jenderal, para cendikiawan dan petugas dari kaum Oag saling diam entah apa yang dipikirkan.
***
__ADS_1
sudah hari senin. jangan lupa vote vocernya ya gaes keburu angus😁 tengkiyuw tipsnya mak ben. lele padamu❤️ kwkwkw pagi2 udah ngantuk berat uyy😴