MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
LEMBAH KEMATIAN*


__ADS_3

Hari berganti dengan cepat. Gibson dan anak-anak yang tersisa selama mereka berpetualang menyelesaikan misi dalam permainan Maniac di Planet Mitologi, bergegas untuk segera menuntaskan tugas.


Ajaib, Rex dan Ryan sudah kembali pulih usai mereka beristirahat dan menikmati bekal dari persediaan yang sudah dipersiapkan oleh kawan-kawan.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Ayo!" ajak Gibson di mana mereka kini membawa beberapa senjata hasil temuan di pabrik tersebut, termasuk senjata yang berhasil dirampas dari para Elf ketika misi bajak laut.


Rex kini membawa tongkat milik Lady Elf yang dulu digunakan Jubaedah sebagai senjatanya. Rex bertekad untuk bisa tembus sampai level terakhir demi menebus kegagalannya saat menyelamatkan sang kekasih hingga nyawanya terenggut.


Misi level 7 menyebutkan, "Bebaskan sepuluh jenis makhluk Mitologi yang terkurung dalam penjara Hades seperti Sphinx, Satyr, Chimera, Cyclops, Harpy, Cockatrice, Argus, Kappa, Siren dan Lembuswana. Para peserta permainan yang berhasil memasangkan kalung pada Cerberus dan membebaskan sepuluh makhluk Mitologi akan mendapatkan hadiah misi bertemu dengan Oag. Selamat berjuang."


Selain itu, hanya ada 13 anak yang akan dinyatakan lolos. Oleh karena itu, Gibson mengakali dengan memasangkan kalung Cerberus untuk tiap leher kepada 2 orang anak.


Sayangnya, Rex yang diliputi amarah sudah terlanjur memasangkan kalung itu seorang diri. Rex yang baru mengetahui rencana Gibson, semakin merasa bersalah karena sudah tersulut emosi dan bertindak gegabah.


"Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri, Rex. Kita pasti akan mendapatkan cara untuk membantu teman-teman yang lain. Sekarang, jumlah kita tersisa 16. Kita harus berpikir cerdas," tegas Gibson saat mereka menyusuri wilayah tak dikenal mengikuti petunjuk kompas untuk mendatangi Satyr dikurung.


"Aku mengerti," jawab Rex dengan anggukan pelan.


Mereka terus menjelajah wilayah gersang bahkan hampir tak ada air yang ditemukan. Namun, beruntung saat di dalam pabrik, mereka menemukan air terjun kecil meski kucuran airnya tak melimpah.


Mereka memanfaatkan wujud Mitologi untuk menghindari dampak racun meski Timo memiliki kerang ajaib penetral racun yang menjadikan air bisa diminum.


Perjalanan di tanah gersang itu akhirnya berakhir saat mereka menemui sebuah tempat di mana kompas berputar-putar pertanda jika mereka sudah sampai di tempat tujuan.



"Oh, lihatlah panji-panji ini. Tempat ini seperti pernah mengalami peperangan," ucap Lazarus seraya menunjuk sebuah pagar layaknya benteng, tapi sudah jebol di beberapa bagian.


"Ya, kau benar. Dunia bawah ini sungguh membuatku tak nyaman. Langit selalu gelap, tempat berkabut, dan pengap. Beruntung kita sudah keluar dari wilayah lava yang panas, tapi tempat ini sama saja. Tanahnya seperti abu," ucap Mandarin seraya melihat pakaiannya langsung kotor tertutup debu putih.


"Jadi, ini pintu masuk menuju ke penjara Hades? Kenapa sepi sekali seperti tak ada penjaga? Bahkan, gerbang itu terbuka lebar. Jika aku disekap dalam sana, seharusnya dengan mudah menyelinap keluar," tanya Boas heran.


"Sepertinya tak semudah itu. Ingat bagaimana cara kita kemari? Kita harus dijemput. Selain itu, kita menggunakan perahu. Mungkin, untuk naik ke atas tak ditemukan jalan oleh para makhluk yang sudah tersekap di sini," ucap Gibson mengutarakan pemikirannya dengan mata memindai sekitar tampak waspada.


"Maksudmu ... para makhluk itu tersekap dalam dunia bawah, begitu? Mereka tak bisa naik ke permukaan dan berkumpul dengan makhluk Mitologi lainnya?" tanya Vadim memastikan, dan Gibson mengangguk pelan.


"Atau bisa jadi, mereka memang tak bisa keluar. Mungkin ada penjaga di dalam benteng ini yang membuat para tahanan itu tak bisa kabur. Selain itu, sebelum kita membunuh Cerberus, bisa jadi hewan itu berpatroli di sekitar wilayah sehingga mustahil bagi mereka untuk kabur," sahut Czar.


"Ya, banyak kemungkinan bisa terjadi. Intinya, kita harus bersiap," tegas Gibson, dan semua anak mengangguk paham.


Semua anak segera menyiagakan senjata yang sudah mereka persiapkan untuk melawan para musuh ketika harus berjuang untuk menyelesaikan misi.


Sebelumnya, anak-anak itu hanya mengandalkan senjata dari wujud mitologi. Hanya saja, melihat masih banyak kekurangan dari kemampuan para monster itu, mereka sepakat untuk menggunakan senjata tambahan untuk melindungi diri.

__ADS_1


Saat semua anak tampak waspada karena keheningan menyelimuti wilayah yang terasa sedih itu, tiba-tiba saja, "To ... long ... hah ...."


"Apa itu?!" pekik Rangga langsung menghentikan langkah dan menoleh.


Teman-teman dalam satu timnya ikut menghentikan langkah.


"Ada apa, Rangga?" tanya Bara dengan wajah tegang.


"Kalian tak mendengarnya? Ada yang meminta tolong. Suaranya, terdengar begitu sedih," jawab Rangga dalam wujud Minotaur.


Praktis, semua anak langsung memindai sekitar.


"Rang ... ga ... Rang ... ga ... to ... long ... tolong ...."


"Dia tahu namaku!" pekik Rangga langsung histeris dan ketakutan karena tempat itu begitu sepi tak ada makhluk lain selain dia serta kawan-kawannya.


"Rangga! Apa kau yakin? Kau jangan membuatku takut!" seru Azumi langsung bergidik ngeri.


"Aku tak bohong, sungguh!" jawabnya mantap.


Seketika, "Rang ... ga ...."


"AAAAA!" teriak Rangga histeris saat tiba-tiba saja muncul manusia layaknya mayat hidup merangkak di dekat kakinya.



Tangan-tangan mulai bermunculan dan mencoba untuk menangkap jiwa-jiwa yang masih bernyawa itu.


"Tempat apa ini?!" pekik Timo panik karena semakin banyak mayat hidup yang keluar dari dalam tanah.


"Lari!!!" teriak Laika histeris.


Seketika, semua anak berlari kencang dan formasi bertahan itu bubar. Rex dan Kenta segera terbang untuk melindungi kawan-kawan mereka yang mencoba untuk menyelamatkan diri.


"Ada bangunan di balik gunung batu itu!" seru Rex usai ia terbang tinggi dan melihat dari atas langit.


Semua anak langsung menoleh ke wilayah yang ditunjukkan oleh Rex menggunakan kepala naganya.


"Pergi ke kastil itu! Kami akan melindungi kalian!" sahut Kenta yang dengan sigap, menyemburkan api dari paruh burung wujud Phoenix.


Vadim ikut terbang dengan membawa Timo bersamanya. Sedang Azumi menggunakan kemampuan tanduk dari wujud Unicorn-nya untuk terbang karena daratan sudah dipenuhi oleh para zombie.


"Argh! Mereka banyak sekali!" seru Ryan karena tubuh pohonnya mulai ditangkap oleh para zombie.


"Mereka tak mati dengan panah Elf-ku! Mereka tak bisa dibunuh!" seru Nicolas panik karena sebanyak apapun ia melesatkan panahnya dan membuat tubuh para zombie itu tertembus, orang-orang itu masih hidup.

__ADS_1


"Cepat berubah menjadi manusia! Kami akan menyelamatkanmu!" seru Czar yang berhasil lolos dengan terbang.


Nicolas dengan sigap melompat dari atas kepala Ryan. Czar dengan cekatan memposisikan tubuhnya untuk segera ditunggangi oleh kawan bertelinga lancip tersebut.


Satu per satu, anak-anak yang masih dalam wujud Mitologi berubah usai usaha mereka untuk membunuh para zombie tak berhasil meski anggota tubuh para mayat hidup itu terpotong.


"Kenta! Kita lakukan serangan kombinasi!" seru Rex saat ia melihat sekumpulan zombie siap untuk menangkap kawan-kawannya yang berlari di atas permukaan.


"Ya! Lakukan, Rex!" seru Kenta bersiap dan terbang mendekat.


Rex menyemburkan gas hijau beracun ke arah kumpulan para zombie yang berusaha mengejar kawan-kawannya.


Kenta dengan sigap menyemburkan napas api. Praktis, kepulan asap hijau beracun itu berubah menjadi layaknya badai api yang membakar para zombie di dalamnya.


"Yeah! Kerja bagus!" seru Bara senang yang ikut terbang karena tubuhnya hampir ditangkap oleh para zombie sekaligus mendekap Rangga.


Namun, hal sama juga terjadi pada serangan yang dilakukan oleh Rex dan Kenta. Para zombie tersebut seperti tak bisa dibunuh.


Hanya saja, anak-anak berhasil selamat usai mereka ditolong oleh kawan-kawan yang memiliki kemampuan terbang.


Para zombie itu tak bisa terbang dan hanya bisa mengejar di atas permukaan tanah saja.


"Yeah! Kita berhasil lolos!" seru Harun dari atas langit menaiki punggung naga Rex.


Para zombie yang terbakar seperti terus mengejar anak-anak itu, tapi mereka berhasil terbang menjauh dan meninggalkan wilayah tersebut menuju ke tempat baru.


"Lihat!" seru Azumi saat melihat wilayah di bawah mereka.


Terlihat bangunan seperti sebuah penjara yang mengerikan karena dipenuhi oleh lava melindungi tempat tersebut di sekitarnya.


"Pasti itu penjaranya. Ayo, kita turun!" ajak Lazarus dan semua anak mengangguk setuju.


"Bersiap! Jangan lengah!" seru Gibson.


"Yeah!" jawab anak-anak serempak


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Wah lele masuk nominasi jadi author terajin🄳 Uhuy makasih para LAP semua atas dukungannya. Lele padamuā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2