
Rex dan Jubaedah melebarkan mata karena mengenali senjata itu, termasuk Gibson.
"Silent Gold? Kenapa kau bisa memilikinya? Siapa orangtuamu?" tanya Gibson langsung menunjuk pemuda yang baru ditemuinya dengan wajah garang.
Kening Pasha, Vadim dan Mandarin berkerut.
"Kau mengenali senjata dari pedang ini?" tanya Mandarin langsung mematikan laser pedangnya.
Rex dengan sigap mengeluarkan belati Silent Blue miliknya dan menyalakan laser. Praktis, tiga pemuda dari tim Azumi terkejut.
"Meski lebih tepatnya, benda ini digunakan untuk memasak Juby," ledek Rex dan Juby mendesis.
"Kalian ... bisa bahasa Indonesia?" tanya Pasha yang ternyata juga bisa menggunakan bahasa itu.
"Ya, kami semua bisa hanya Ryan saja yang tidak," sahut Rex menunjuk pemuda di sampingnya. Ryan tersenyum tipis seraya melambaikan tangan.
"Aku mengerti yang kalian ucapakan karena alat translator canggih ini. Benda ini, sudah seperti separuh nyawaku," ucapnya seraya menunjukkan benda yang terpasang di lubang telinganya.
"Woah! Dia punya alat translator buatan paman Eiji! Apakah ... kalian dari ...," ucap Vadim menggantung terlihat ragu.
"Ya, sepertinya demikian," sahut Juby tersenyum tipis.
"Eh, Azumi! Kita harus menolong Azumi!" pekik Mandarin yang kembali mengejutkan semua orang.
Jubaedah dan anggota timnya terlihat bingung dan berdiri mematung karena mereka dilewati begitu saja oleh tiga kawan baru yang bisa bahasa Indonesia.
"Itukah, alasan Timo nyebur ke empang?" tanya Jubaedah.
"Empang? Mana ada empang di tempat seperti ini? Ngaco kamu," jawab Rex terheran-heran.
"Kan Timo jadi ikan, apalagi kalau bukan empang," jawab Jubaedah sewot karena pemikirannya dibantah oleh kawan karibnya. Anak-anak itu menuruni tebing dari jalan setapak menurun menuju ke kolam besar.
Azumi yang tercebur dalam kolam bersama dengan Unicorn, ditolong oleh Timo yang menjadi Merman.
Ternyata, kuda putih itu bisa berenang dan pada akhirnya naik dengan sendirinya ke tepian kolam. Kuda itu berlari menjauh dari para manusia yang mulai memenuhi tepian.
"Woah! Unicorn!" seru Ryan kagum seraya menunjuk kuda bertanduk yang berlari memasuki hutan.
"Ih, keren banget, berkilau gitu. Juby mau elus, kok kabur sih?" sahutnya kesal dan langsung memonyongkan bibir.
"Oh! Itu apa? Peri?!" pekik Gibson terkejut saat seekor peri dengan pakaian hijau terbang di atas permukaan kolam seperti mencari sesuatu.
"Eh, iya peri! Woah! Ada beneran ya? Ternyata, ukurannya besar. Aku kira, peri itu mungil," tanya Rex ikut terheran-heran, tapi juga kagum.
"Nanti kami ceritakan," sahut Pasha dan tim Jubaedah mengangguk bersamaan.
"Azumi! Azumi!" panggil Mandarin panik melihat di sekitar kolam mencari keberadaan wanita cantik itu.
Di dalam kolam.
Beruntung, Timo yang berubah menjadi Merman berhasil menyelamatkan Azumi. Gadis cantik itu masih sadar saat digendong oleh Timo seraya berenang ke permukaan.
Azumi menatap paras tampan Timo yang terlihat begitu rupawan dengan rambut panjangnya yang berkilau.
Timo bahkan bisa tersenyum dan terlihat begitu mahir menggerakkan ekor besarnya menuju ke tepian kolam.
SPLASH!
"Oh! Itu! Mereka di sana!" seru Gibson menunjuk.
"Aduh, Timo! Ke sini, kejauhan ke sana. Gak ada jalan ke situ!" seru Jubaedah protes.
"Ah, ya, tunggu sebentar. Dia kelelahan," jawab Timo menaikkan tubuh Azumi di atas batu yang ternyata mereka berada di sisi lain kolam.
Azumi basah kuyup dan kedinginan. Ia menggigil dan Timo dengan sigap memberikan udara hangat di kedua telapak tangan gadis manis itu dari mulutnya. Azumi terdiam.
__ADS_1
"Dingin ya?" tanya Timo khawatir seraya menggosok-gosok tangan Azumi yang mulai keriput dengan kedua tangannya. "Kau bisa menahan napas sebentar. Aku akan membawamu kepada teman-temanku. Jangan takut, mereka baik. Mereka menolongku sebelumnya hingga aku berhasil menyelesaikan misi dan menjadi Merman," ucapnya riang dengan separuh tubuh tenggelam ke air.
"Merman? Maksudmu ... kau menjadi duyung?" tanya Azumi memastikan menatap Timo lekat.
Timo tersenyum manis seraya mengangguk. Di seberang, Mandarin terlihat tak senang melihat kedekatan Timo dan Azumi.
"Hei, Azumi! Kami membawakanmu pakaian dan handuk. Kemarilah!" teriak Vadim seraya menunjukkan pakaian yang tadi ia tinggal di pinggiran sungai saat mandi.
Azum mengangguk dengan mengepalkan kedua tangan depan dada kedinginan.
"Naiklah ke punggungku, seperti ... naik kuda. Aku akan berusaha agar tubuhmu tetap di permukaan. Oke?" ajak Timo dan Azumi mengangguk cepat.
Dengan hati-hati, Azumi melangkahkan kakinya di antara lengan duyung tampan itu. Azumi berpegangan pada pundak Timo, meski ia terlihat gugup.
Perlahan, Timo mulai menggerakkan ekornya. Azumi tampak terkejut karena ini pertama kalinya ia menaiki duyung.
"Woah," ucap Azumi senang.
Timo memegangi pergelangan kaki Azumi agar gadis cantik itu tak jatuh saat ia membawanya menuju ke seberang.
Dengan sigap, Vadim sudah memegangi pakaian ganti untuk Azumi, begitupula Pasha sudah merentangkan handuk di tepian sungai.
"Wahhh. Mereka ini bodyguard cewek itu atau bagaimana? Semangat amat," tanya Jubaedah terheran-heran. "Juby gak pernah digituin," ucapnya seperti iri.
Gibson dan Ryan terkekeh. Rex terlihat canggung akan sesuatu. Tiba-tiba, Rex memeluk Jubaedah dari belakang meski wajahnya datar. Jubaedah terkejut karena Rex tak pernah bersikap demikian padanya.
"Anggap aja aku selimut. Dah diem, jangan berisik," ucap Rex ketus, tapi membuat gadis berambut ikal itu tersipu malu.
Dengan sigap, Mandarin memberikan kedua tangannya untuk membantu Azumi naik ke tepian.
Timo masih berada di kolam seraya melihat Azumi dibungkus handuk oleh kawannya yang bertubuh gemuk. Gadis itu juga dipakaikan sebuah gaun cantik berwarna putih selutut.
Mandarin terlihat perhatian saat mengeringkan rambut gadis Jepang tersebut. Timo memalingkan wajah ke arah Gibson.
"Ada apa?" tanya pemuda yang terlihat tangguh itu menatap kawan duyungnya saksama.
"Kau bisa berenang dan menyelam cukup lama 'kan?" tanya Timo dan Gibson mengangguk. Semua orang mendengarkan dengan serius.
"Aku melihat, di bawah kolam sana, seperti ada sebuah pemukiman. Ada jamur besar dan mereka menyala terang bagaikan lampu. Aku ingin menyelidikinya, tapi aku takut jika sendirian. Maukah ... kau menemaniku?" tanya Timo penuh harap dengan mata berbinar.
"Seberapa dalam?" tanya Gibson memastikan.
"Mm ... sekitar ... 20 meter?" jawabnya memperkirakan.
Gibson terlihat ragu. "Aku coba dulu sampai sejauh mana napasku bertahan. Jika aku tak sanggup, segera bawa aku ke permukaan. Oke?" jawabnya dan Timo mengangguk senang.
Gibson menanggalkan pakaiannya. Praktis, mata semua anak terbelalak lebar seketika. Mereka baru tahu, jika terdapat otot perut yang indah dari pemuda itu. Vadim dan Pasha yang bertubuh gemuk memalingkan wajah terlihat jengkel.
"Dasar tukang pamer," ucap Vadim kesal.
"Dia tak tahu saja. Orang gemuk adalah pelampung alami saat di air. Kami bisa mengambang tanpa tenggelam," sahut Pasha.
"Oh ya?" tanya Mandarin berkerut kening.
"Itu hanya alasan kami saja. Kau seharusnya berpihak pada kami. Ingat, kami berdua adalah dewa penolongmu," sahut Vadim berbisik dengan mata melotot.
Mandarin mengangguk paham dengan mulut menganga lebar. Azumi terkekeh, tapi ia baru menyadari jika tiga kawannya bisa bahasa lain yang ia juga kuasai.
"Oh! Kalian ... bisa bahasa Indonesia?" tanya Azumi terkejut menatap tiga kawannya bergantian. Tiga pemuda itu mengangguk pelan dengan wajah lugu.
BYURR!!
Azumi dan kawan-kawannya terkejut karena cipratan air kolam saat Gibson melompat untuk menyelam.
Sedang Jubaedah dan lainnya terlihat asyik duduk di tepian kolam seraya menggelar sebuah alas dari plastik sembari mengeluarkan beberapa makanan.
__ADS_1
"Wah! Seperti piknik!" seru Vadim riang.
"Sini gabung, tapi ... bagi makanan dong. Itu tas kalian gede amat, apa isinya?" tanya Jubaedah penuh selidik seraya menunjuk.
"Oh! Ini persediaan air kami selama tinggal di rumah pohon," jawab Vadim santai.
Praktis, mata Jubaedah dan kawan-kawan satu timnya melebar seketika.
"Rumah pohon? Maksudnya ... kalian tinggal di sebuah rumah begitu?" tanya Rex memastikan dan empat orang dari tim Azumi mengangguk.
"Ih, kasih liat dong. Juby pengen tahu tempatnya," rengeknya.
"Ya, tapi setelah dua kawan kalian kembali. Tak mungkin meninggalkan mereka di luar sini tanpa pengawasan. Tempat ini dihuni banyak makhluk dari dongeng. Kalian harus berhati-hati," sahut Pasha seraya duduk di depan Jubaedah.
"Ya. Kami tahu. Kami bertemu naga, lalu ... hewan lucu pemakan daging, terus ... duyung yang seram ingin memakan Timo dan Gibson waktu itu ... terus ... apalagi ya?" jawab Jubaedah memikirkan petualangannya.
"Sudah, nanti saja berceritanya. Kalian lapar? Kami menemukan banyak pisang, tapi tak usah khawatir. Pisang-pisang ini aman kok dikonsumsi. Kami tak berubah jadi biru dan rasanya ... seperti vanilla," ucap Rex seraya membuka tas kain yang digendong Ryan lalu meletakkan banyak pisang di atas alas.
"Woah, biru!" seru empat anak dari tim Azumi serempak.
Azumi, Mandarin, Pasha dan Vadim awalnya ragu. Namun, setelah melihat Jubaedah, Ryan, dan Rex makan dengan lahap dan terlihat baik-baik saja, mereka ikut memakannya.
Sebuah ekspresi terkejut karena daging dari pisang itu tetap putih dan rasanya benar, seperti vanilla.
"Enak 'kan, gak percaya sih," ucap Jubaedah bangga, dan empat orang itu mengangguk senang. Azumi dan lainnya makan dengan lahap.
Di dalam kolam, apa yang dikatakan oleh Timo ada benarnya.
Terlihat, dasar kolam yang begitu indah dengan banyak ikan berwarna-warni dan terlihat aman untuk dijelajahi. Gibson memegangi pundak Timo di mana ia duduk di punggungnya seperti yang Azumi lakukan.
Timo berenang perlahan di bawah jamur-jamur besar dengan cahaya muncul di bagian bawahnya menerangi dasar kolam.
Beberapa ekor ikan menyala seperti neon mengikuti Timo ketika berenang di antara tanaman air seperti sebuah pohon yang menghiasi sisi kiri kanan jalanan bawah air.
Hingga tiba-tiba, pundak Timo ditepuk kuat oleh Gibson saat ia melihat seekor duyung perempuan terbaring di dasar kolam dengan sebuah lingkaran membentuk seperti simbol tak diketahui.
Timo dengan sigap berenang ke dasar agar bisa melihat dengan jelas. Namun, duyung tersebut tak bergerak, tak berkedip dan seperti tak bernapas.
Gibson dan Timo saling berpandangan. Gibson yang mulai tak bisa menahan napas lebih lama lagi, meminta agar Timo membawanya ke permukaan.
Timo mengangguk paham, tapi saat Timo menggerakkan ekornya untuk membawa Gibson naik ke atas, tiba-tiba saja ....
"GIBSON!" teriak Timo lantang karena tubuh Gibson ditarik oleh duyung yang berpura-pura mati itu.
Timo panik karena Gibson melakukan pemberontakan kepada duyung wanita yang malah menyeretnya ke rimbunan tanaman air.
Saat Timo akan mengejar, ikan-ikan yang tadinya menggiring mereka dengan cahaya neon, malah menutupi pergerakannya hingga sosok Gibson menghilang dari pandangannya.
"GIBSON!" panggil Timo histeris untuk kesekian kali karena kawannya itu diculik oleh duyung tak dikenal.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
pegel uy. rehat time😩 maaf upnya kemaleman. kerjaan menggila gaes. disogok lagi sm mak Ben😆 lele padamu❤️
__ADS_1