MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KAMI PERCAYAKAN PADAMU, BIBI SANDARA


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Siapa sangka, kehadiran Ivan Benedict dan Martin memberikan pencerahan bagi anak-anak itu. Mereka sudah memutuskan ingin menjadi apa nantinya di masa depan dengan menggeluti usaha yang sudah dipilih.


"Kalian yakin dengan keputusan hari ini?" tanya Ivan terlihat ragu.


"Ya, tentu saja. Aku akan mengambil jurusan yang sesuai dengan jenis usaha pilihanku. Indonesia memang dikenal dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Aku akan menjadi petani. Bagiku itu tetap keren, mengingat makanan adalah hal penting untuk dikonsumsi sebagai keberlangsungan hidup. Selain itu, Ayah dan Ibu juga memiliki sawah. Aku bisa memanfaatkannya," jawab Rangga mantap.


"Hem, Bara juga. Bapak punya usaha tambak udang. Bara akan kuliah di jurusan perikanan dan kelautan. Bara akan menjadi pengusaha dalam sektor itu agar persediaan pangan dari budidaya air mencukupi," sambungnya mantap.


Semua anak mengangguk setuju. Satu per satu, dari mereka menyebutkan ingin menjadi apa nantinya ketika dewasa. Martin dan Ivan dibuat melongo karena pemikiran jangka panjang anak-anak tersebut yang tak mereka sangka.


"Kalau begitu, aku harus menjadi seorang Menteri Keuangan di Inggris," tegas Lazarus yang mengejutkan semua anak, bahkan Ivan hampir tersedak saat akan meneguk air yang disediakan.


"Menjadi menteri? Kau ... akan masuk dalam lingkup politik dan pemerintahan? Kenapa?" tanya Ivan heran.


"Ya. Dengan aku menjadi menteri, aku akan bisa mengendalikan keuangan setidaknya di negaraku. Nantinya, aku bisa melihat bagaimana perkembangan perekonomian secara internal dan internasional. Dari situ, aku bisa mengawasi perkembangan teman-teman. Aku akan diam-diam membantu usaha kelompok kita di saat terpuruk dengan alasan kerjasama antar negara. Selain itu, aku juga bisa melihat siapa saja pelaku usaha di negaraku yang bisa diajak bekerjasama untuk persiapan di masa depan," jawabnya mantap.


"Woah," kagum Mandarin diikuti tepuk tangan, dan disusul anak-anak lain karena pemikiran kritis Lazarus.


"Sepertinya ... peranan kami sudah cukup untuk memberikan kalian nasihat mengenai apa yang harus dipilih. Kami ... sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan. Baiklah, kami mohon diri dulu. Jangan lupa datang ke ballroom untuk jamuan makan siang," ucap Ivan, dan disambut oleh Martin yang ikut berdiri.


Anak-anak kembali berdiskusi dan membiarkan dua orang dewasa itu pergi dari ruang rapat. Sedang Ivan dan Martin merasa hal ini sangat aneh karena diusia muda, anak-anak itu sudah semangat untuk memikirkan masa depan.


"Kaudengar itu, Ivan? Anakmu bahkan ingin terjun ke dunia politik dan menjadi menteri," ucap Martin. Ivan mengangguk dengan wajah kaku entah apa yang dipikirkan saat keduanya berjalan menyusuri koridor.


Saat jamuan siang. Anak-anak yang sudah memutuskan ingin menjadi apa di masa depan dengan penuh semangat mengutarakan pemikiran kepada orang tua masing-masing. Tentu saja hal itu membuat para orang dewasa shock, kecuali Martin dan Ivan yang sudah mengetahui hal tersebut.


"Pengan jadi pengusaha garmen? Maksudmu ... ngurus pabrik pakaian yang ada di Pemalang, gitu? Kok mendadak. Tumben. Kamu kesurupan apa gimana, Ndah?" tanya Eko menatap anak gadisnya lekat.


"Ih, Juby serius, Papi Eko! Juby pengen jadi pengusaha pakaian skala besar. Juby mau pas gede nanti dikuliahin jurusan tata busana. Harus, kudu pokoknya, gak terima penolakan! Nyekolahin anak 'kan tugas orang tua," paksa Jubaedah.


Eko terlihat bingung, tapi mengangguk setelah melirik Dewi yang tersenyum karena menyetujui keputusan puterinya.


"Lha terus, usaha peralatan selam Bapak di Turki gimana?" tanya Eko masih bingung dengan permintaan Jubaedah yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Kan anak Papi ada dua ya, Juby sama Bang Otong. Suruh Bang Otong yang ngurusin. Kok Juby semua. Juby mau fokus ke pabrik garmen," jawabnya memaksa.


"Ya, ya. Ya wes, yang waras ngalah. Terserah, sak karepmu. Yang penting jangan bercita-cita jadi pengangguran aja," sahut Eko, dan Jubaedah terlihat senang karena permintaannya dikabulkan.


Hal serupa juga terjadi pada Peter saat berbicara dengan sang Ayah, Agent X.


"Kau ingin kuliah di jurusan perikanan dan kelautan khususnya budi daya rumput laut? Maksudmu ... usaha Ayah di Jeju?" tanya Agent X memastikan, dan Peter mengangguk membenarkan.


"Bara juga akan kuliah di jurusan yang sama denganku, tapi ia akan fokus pada usaha tambak dan budidaya ikan tawar dan laut. Aku ingin merambah ke pengelolaan hasil budidaya juga, Ayah. Aku ingin memiliki pabrik sendiri yang melakukan pengemasan dan olahan siap santap. Kuliahkan aku di universitas yang bisa mewujudkan mimpiku itu," pinta Peter merengek.


Agent X terlihat bingung, terlebih Agent C berdiri di sampingnya di mana ia kini menjadi petani sukses di Pemalang dari kebun tebu dan nanas.


"Aku rasa pilihannya bagus, X. Aku saja selalu membujuk anakku untuk kuliah di jurusan itu, tapi ia malah tak mau. Ia ingin menjadi dokter hewan katanya," keluh C saat melihat anaknya yang masih berumur 5 tahun sedang asyik bermain dengan puteri dari Dominic.


"Hem, baiklah. Ayah akan mendukungmu. Selesaikan sekolahmu dengan benar dan nanti akan Ayah kuliahkan sesuai jurusan yang kau mau," jawab X pada akhirnya.


"Yey! Terima kasih, Ayah!" seru Peter senang lalu memeluk ayahnya.


Peter kemudian berlari untuk berkumpul bersama yang lain ketika mereka juga telah berhasil membujuk orang tua masing-masing. Para orang tua terlihat bingung dengan perubahan sikap anak-anak mereka yang tiba-tiba saja begitu bersemangat mempersiapkan masa depan. Malam itu, usai jamuan malam, beberapa mafia pamit pulang ke negara masing-masing tanpa anak-anak yang tergabung dalam Demon Kids karena Jordan dan Sandara mengundang mereka ke pesta untuk merayakan ulang tahun anak kedua dari hasil inseminasi Raden. Pesawat kargo disiapkan untuk membawa mereka terbang meninggalkan Rusia menuju ke Italia. Anak-anak yang baru pertama kali menaiki pesawat besar dengan peti-peti entah berisi apa tampak senang karena seperti piknik.


Di ruang rapat kediaman Jordan, Napoli, Italia.


"Lalu ... di mana puteri dan putera Bibi?" tanya Ryan heran.


"Mereka berada di Indonesia sedang berkunjung ke rumah saudara dari keluarga Sandara," jawab Jordan mewakili isterinya. Anak-anak mengangguk pelan dalam diam.


"Maaf jika harus membohongi kalian. Hanya saja, aku memang ingin menjauhkan kalian dari pengawasan orang tua karena yang akan kita lakukan di sini bersifat rahasia," tegas Sandara saat ia mengumpulkan anak-anak itu di sebuah ruang rapat.


"Rahasia? Tentang apa?" tanya Gibson penasaran.


"Darah yang diberikan oleh Lazarus sudah diteliti oleh salah satu ilmuwan kepercayaanku, dan hasilnya cukup mengejutkan. Bahan-bahan yang terkandung dalam darah putih itu, seperti campuran berbagai spesies di Bumi, khususnya hewan. Pertanyaanku, dari mana kalian mendapatkan darah putih itu?" tanya Sandara menatap anak-anak itu tajam dari tempatnya duduk.


"Saat kami menjalankan misi level 9 di sebuah planet tak dikenal," jawab Harun yang membuat Sandara menyipitkan mata.


"Aku tak melihat kebohongan dari jawabanmu, Harun," tegas Jordan yang duduk di samping Sandara.

__ADS_1


"Sudah kubilang. Kami tak bohong," tegas pemuda berkulit hitam itu.


"Kami membawa sampel lain untuk membuktikan jika yang kami katakan adalah benar. Keluarkan semua," sambung Nicolas seraya membuka tasnya.


Sandara dan Jordan menatap gerak-gerik 13 anak yang sedang membuka tas mereka. Kenta dan lainnya meletakkan beberapa benda di atas meja. Kening Sandara dan Jordan berkerut saat melihat ada benda-benda itu.


"Ini adalah darah seekor makhluk yang entah namanya apa, tapi memiliki kemampuan cukup luar biasa. Kami kerepotan saat harus mengalahkannya," ucap Rex seraya memberikan tabung kaca berisi darah warna hijau kepada Jordan.


Lelaki itu menatap cairan pekat itu saksama di mana memang terlihat aneh dan cukup meyakinkan. Terlebih, bentuk tabung penyimpanan itu berbeda dengan jenis yang biasa digunakan oleh perusahaan farmasi Elios. Sandara dengan sigap mengambil sebuah kotak khusus untuk menyimpan darah-darah itu agar tak rusak seraya melabelinya. Jordan dengan cekatan menginputkan data ke dalam tablet dari penjelasan tiap kemampuan makhluk-makhluk yang darahnya berhasil diambil itu.


Bara dan lainnya terlihat serius menjelaskan benda-benda yang mereka minta sebagai imbalan atas hadiah keberhasilan misi level 10. Kali ini, Sandara dan Jordan seperti tak bisa menyangkal akan bukti-bukti tersebut. Terlebih tak hanya darah, tapi ada benda lain yang membuat keduanya sampai terheran-heran.


"Apa katamu tadi?" tanya Sandara mengulang.


"Itu kulit Viper. Namanya Viper. Memang hampir mirip dengan Oma Vesper, tapi ia memberikan ini sebagai kenang-kenangan untukku. Katanya, siapa tahu bermanfaat jika ada ilmuwan hebat yang bisa menerapkannya di Bumi," jawab Rex, dan diangguki anak-anak lain yang ada bersama mereka kala itu saat akan berpisah dengan para bajak laut alien.


"Lihat teksturnya, Jordan. Tak ada jenis kulit seperti ini di Bumi dari satu jenis makhluk. Ini seperti campuran," ucap Sandara saat meraba kulit Viper sang ular.


"Ini sangat hebat. Akan kuambil koper khusus untuk menyimpannya," sahut Jordan cepat.


Pria tampan itu segera keluar dari ruangan untuk mengambil beberapa perlengkapan tambahan untuk menyimpan benda-benda tersebut. Sandara menatap tajam kumpulan anak-anak di depannya usai mereka menyerahkan semua benda yang didapat sebagai hadiah kemenangan atas keberhasilan menyelesaikan 10 level permainan Maniac. Tak lama, Jordan datang membawa sebuah koper warna putih yang cukup besar. Anak-anak dibuat kagum ketika semua darah dan juga benda lainnya dari Planet Mitologi disimpan dalam koper tersebut. Sandara dan Jordan saling bertatapan dalam diam seperti memikirkan sesuatu. Kini, giliran anak-anak itu yang menatap keduanya tajam.


"Kami percaya dengan cerita kalian. Baiklah, kurasa hari ini cukup. Esok pagi, kita akan berkumpul membahas ini lagi. Sebagai hadiah dariku, akan kuberikan sesuatu yang keren dan kurasa cocok untuk kalian nantinya," ucap Sandara yang membuat senyum anak-anak itu terkembang.


Para remaja itu meninggalkan ruangan dan masuk ke kamar yang sudah disediakan karena hari sudah malam. Satu kamar diisi dua dan tiga orang. Tampak anak-anak begitu senang berada di rumah Jordan karena terasa nyaman dan juga mewah layaknya hunian kaum berada. Sedang Sandara dan Jordan, bergegas ke perusahaan farmasi untuk menyimpan benda-benda misterius dari Demon Kids. Sandara sudah memilih 9 ilmuwan yang dipercaya olehnya untuk mencari tahu kandungan dari benda-benda itu.


"Ingat, ini rahasia. Tak boleh ada yang tahu kecuali aku, Jordan, kalian dan Yu Jie. Aku mengawasi kalian. Jika berhasil diterapkan pada manusia nantinya, aku akan berikan bonus besar pada kalian semua. Jadi, bekerja keraslah," tegas Sandara.


"Yes, Mam!" jawab orang-orang itu mantap.


Jordan dan Sandara segera kembali ke rumah untuk beristirahat. Yu Jie yang sudah merampungkan tugasnya di Rusia ikut menyusul ke Italia dan berkumpul bersama ilmuwan lain untuk mengungkap kemampuan benda-benda unik itu.


***


Puanjang ni gaes tapi belom selesai. Hari ini lele akan up 3 eps sebagai penutup novel MH. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Jangan lupa bagi yg belom vote vocer gratis, tips poin koin, rate bintang 5, like ditiap bab yg mungkin terlewat dan komennya. Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2