MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
KURCACI*


__ADS_3

Praktis, anak-anak itu terkejut saat melihat Gibson dikerubungi oleh segerombolan mirip manusia, tapi bertubuh kerdil, sedang mengarahkan senjata tajam dari garpu rumput, dan perkakas lainnya.


Para kurcaci bertopi kerucut berwarna-warni senada dengan pakaian yang dikenakan, membuat anak-anak kembali dibuat takjub akan keajaiban lain di Planet Mitologi.


Muncul seorang kurcaci bertopi jingga terlihat sudah tua, sedang berdiri si samping rumah jamurnya yang ditumbuhi banyak bunga. Kurcaci itu tak ikut menyandera Gibson.



Perlahan, Hihi mendekat bersama dengan anak-anak yang kini menjadi satu tim ke arah para kurcaci.


Hihi menunjuk isi tas yang digendong oleh Rex. Jubaedah paham dengan maksud peri tersebut.


Jubaedah memetik daun warna merah muda dari tangkainya lalu memberikannya satu persatu kepada kawan-kawannya, tapi Vadim, Mandarin dan Pasha menolak.


"Kami sudah meminum air rasa melon ini. Sayangnya, efek dari air ini hanya berlaku selama 24 jam. Atau jika kami buang air kecil, efeknya akan hilang. Kami baru saja minum, jadi kami tak perlu memakan daun itu. Kami bisa mengerti semua bahasa makhluk di Planet Mitologi," ucap Vadim menjelaskan.


"Kalian tahu dari mana?" tanya Rex heran.


"Tuan Pohon," jawab Vadim dan Pasha serempak.


Azumi baru teringat akan pesan itu saat bersama Mandarin ketika mereka menemukan sungai dan meminumnya saat malam hari. Mereka bisa bicara dengan Tuan Pohon, tapi saat itu Hihi tetap tak berbicara bahasa manusia apapun.


Anak-anak lainnya memakan daun warna merah muda tersebut dengan segera. Gibson melihat kawan-kawannya ikut mengangkat tangan karena tak ingin dianggap sebagai ancaman.


"Halo?" Rex menyapa, dan ternyata para kurcaci itu seperti memahaminya.


Mereka bicara dalam bahasa kurcaci. Terjemahan.


"Kalian para anak Adam! Pasti kalian datang kemari untuk mencuri telur naga, bukan? Mengaku saja!" pekik salah seorang kurcaci dengan topi warna biru.


"Telur naga? Kami tak tahu apapun tentang telur itu!" seru Mandarin membela diri.


"Kalian pasti mendapat misi untuk mencuri telur-telur itu. Pasti kalian yang selama ini mengintai kami sehingga telur-telur yang berhasil kami selamatkan hilang! Mengaku saja!" pekik kurcaci topi merah.


Semua anak berkerut kening. Rex lalu meminta kepada kawan-kawannya untuk duduk bersimpuh dan berjejer.


Mereka terlihat bingung, tapi Rex meyakinkan jika hal itu bisa menyelamatkan Gibson. Anak-anak itu menurut.


Rex berdiri dengan Jubaedah di sampingnya. Para kurcaci berjumlah 5 orang itu menatap Rex saksama yang membuka sebuah koper dengan banyak benda berwarna-warni di dalamnya.


Jubaedah siap dengan serum penawar dalam botol berwarna putih. Rex mengambil salah satu granat berwarna putih lalu menunjukkannya.


"Ini adalah Rainbow Gas Halusinasi. Gas ini bisa membuat orang-orang berkata jujur. Jadi, kita akan tahu kebenarannya. Jika kami terbukti tak mencuri telur naga, kau harus membebaskan kawan kami. Setuju?" tegas Rex seraya duduk bersimpuh agar tinggi tubuhnya sejajar dengan para kurcaci itu.


"Baik. Kami percaya. Lakukan," tegas kurcaci bertopi kuning.


Kawan-kawan Rex terlihat gugup, tapi Jubaedah memastikan jika mereka akan baik-baik saja.


Gadis asal Indonesia itu meminta kawan-kawannya nanti untuk menghirup gas tersebut. Gibson terlihat gugup di mana ia masih ditodong oleh perkakas tajam ke seluruh tubuhnya.


"Oke, bersiap. Aku hitung sampai tiga. Satu ... dua ... tiga!"


BUZZ!!


"Ohok! Ohok!"


Jubaedah dan Rex dengan segera meminum pil serum penawar agar tak terkena dampak. Para kurcaci dan Gibson yang berada di kejauhan, menatap anak-anak yang mulai tampak linglung karena dampak dari gas tersebut.


"Oke. Kau bisa menanyai mereka. Cepat, waktumu tak banyak," pinta Rex dan kurcaci dengan topi ungu mendekat.

__ADS_1


"Apakah kalian mencuri telur naga di rumah jamur kami?" tanyanya penuh selidik. Beruntung, anak-anak itu menggeleng tidak tahu.


Rex dan Jubaedah bernapas lega. Gibson terlihat pucat dan tetap mengangkat kedua tangannya. Kurcaci itu terlihat tidak senang dengan pengakuan tersangka di hadapannya.


"Tanya yang lainnya," pinta Rex. Kurcaci itu melirik Rex sekilas lalu mengajukan pertanyaan lagi.


"Apa kalian pernah melihat telur naga sebelumnya?" Anak-anak itu kembali menggeleng.


Seketika, para kurcaci yang mengarahkan senjata tajam ke tubuh Gibson mulai diturunkan. Mereka saling berbisik seperti membicarakan sesuatu.


"Apa kalian pernah melihat pencuri telur?" tanya kurcaci bertopi jingga. Anak-anak kembali menggeleng.


Tiba-tiba, Juby menyenggol lengan Rex. Remaja itu terlihat kaget saat mendapati kawan-kawannya mulai berliur.


Dengan sigap, Rex membantu Jubaedah meminumkan cairan serum dalam bentuk kapsul ke mulut kawan-kawan mereka.


"Kenapa? Kami belum selesai bertanya," tanya kurcaci topi kuning.


"Jika terlalu lama, mereka bisa kehilangan ingatan dan seperti orang autis. Aku tak mau hal itu terjadi pada mereka. Anak-anak ini kawan-kawanku!" seru Jubaedah terlihat kesal karena ia sampai terpaksa membuat teman-temannya terkena dampak gas halusinasi.


"Aduh ... perutku mual," keluh Vadim seperti akan muntah.


"Kenapa banyak bintang di mataku?" tanya Pasha dengan mata terbuka tertutup.


"Kalian istirahatlah dulu. Berbaringlah," pinta Rex seraya merebahkan kawan-kawannya.


Jubaedah yang kesal, berdiri bertolak pinggang di depan para kurcaci itu.


"Kami sudah membuktikan jika kami bukan pencuri. Kami belum pernah melihat telur naga sebelumnya. Dan kami juga baru pertama kali datang ke rumah kalian ini. Selain itu, dengan tubuh kami yang besar, mana cukup masuk ke rumah kalian?" tanya Jubaedah menatap lima kurcaci yang berukuran hanya setinggi pinggang anak-anak itu.


Para kurcaci berkumpul membentuk lingkaran. Mereka saling merangkul seperti berdiskusi. Gibson langsung mendatangi Rex dan Jubaedah karena dilepaskan.


Saat para kurcaci berdiskusi, Hihi terbang mendekati mereka. Hihi seperti mengatakan sesuatu dengan bahasa perinya.


Anak-anak yang sudah mengerti bahasa para makhluk Mitologi tersebut akhirnya mengerti yang Hihi ucapkan.


"Kau menemukan para pencuri telur naga? Di mana?" tanya Gibson langsung melangkah maju.


Hihi dan para kurcaci menoleh ke arah Gibson dan anak-anak yang mulai sadar sedang duduk di atas rumput.


"Mereka ada di bawah jurang. Aku melihat ada bekas telur naga yang pecah seperti dimakan. Jika kita bergegas, kita pasti bisa menemukan pencurinya," jawab Hihi dengan suara imut.


"Ayo! Kita harus selamatkan telur-telur itu!" seru Azumi.


"Apakah kita mendapatkan misi itu?" tanya Ryan.


"Ini bukan soal misi, tapi rasa kemanusiaan tolong-menolong tanpa imbalan. Ayo, ini pasti seru! Kita akan berpetualang!" seru Mandarin sependapat dengan Azumi.


Para kurcaci saling memandang saat anak-anak itu mengikuti Hihi yang menunjukkan sebuah jalan menuju ke bawah tebing. Ternyata, para kurcaci itu mengikuti sekumpulan anak-anak pemberani tersebut.


"Kenapa kaki kita pendek sekali? Lihatlah para anak Adam itu, mereka cepat sekali!" gerutu kurcaci topi kuning.


"Hei! Tunggu kami!" panggil kurcaci topi ungu berteriak dengan napas tersengal karena harus berlari.


Mandarin dan lainnya menunggu para kurcaci itu. Mereka melihat para kurcaci itu akan sangat lama untuk bisa menyusul. Mandarin dengan sigap mengambil taring Ogre yang menjadi kalungnya.


"Oh! Mundur, mundur!" pinta Azumi seraya merentangkan tangannya.


Tiba-tiba, "Woah!" teriak anak-anak ketika melihat Mandarin berubah menjadi Ogre dengan tubuh besar dan taring muncul di mulutnya. Mata Jubaedah melebar dan terlihat shock sampai ia mematung.

__ADS_1


"Naik," pinta Mandarin dengan suara besar Ogre kepada para kurcaci itu.


Makhluk-makhluk kerdil itu awalnya ragu, tapi Azumi meyakinkan jika mereka akan baik-baik saja.


Mandarin memberikan tangannya agar para kurcaci itu memanjat satu persatu. Dua kurcaci duduk di pundak kanan Ogre Mandarin, dan dua sisanya di pundak kiri. Kurcaci terakhir duduk di kepala gundulnya. Mandarin berjalan di paling belakang mengikuti kawan-kawannya.


"Wow, keren. Dia jadi besar dan menyeramkan," seru Pasha kagum, tapi juga takut.


Mereka mengikuti Hihi menuruni bukit hingga akhirnya sampai di jejak pertama telur naga ditemukan telah dibuka isinya.


Kurcaci yang duduk di kepala Mandarin diturunkan untuk memeriksa. Terlihat, kurcaci itu sedih, begitupula empat lainnya.


"Ada berapa telur yang dicuri?" tanya Timo penasaran.


"Tujuh. Jika sudah dimakan satu, seharusnya masih ada 6. Oh, malangnya nasib calon bayi-bayi naga itu. Kami mengumpulkan mereka untuk ditetaskan karena terkadang, naga-naga itu ceroboh. Mereka sering meninggalkan telur mereka dan membiarkan dicuri. Jadi ... kami memungutnya dan melindunginya sampai mereka menetas lalu membesarkan mereka hingga naga-naga itu bisa mencari makan sendiri," ucap kurcaci topi jingga sedih.


"Aku rasa, kita masih bisa menemukan telur sisanya. Ayo, kita ikuti jejak para pencuri telur itu. Sepertinya dia manusia. Lihat, jejak kakinya hampir mirip seperti kita," ucap Timo menebak seraya melihat jejak kaki yang masih baru.


Namun tiba-tiba, Ogre Mandarin mengendus dan membuat para kurcaci berteriak karena hampir jatuh. Semua anak melihat Mandarin dengan jijik karena ia juga menjilat tanah itu.


"Ini ... jejak Goblin," ucapnya.


"Goblin? Dari mana kautahu?" tanya Ryan heran.


"Entahlah. Pikiran di Ogre ini mengatakan demikian. Aku seperti menyatu dengan dirinya," jawab Mandarin.


"Ih, kamu sebaiknya jangan lama-lama pakai wujud itu nanti kaya Hihi loh gak bisa balik lagi jadi manusia," ucap Jubaedah memperingatkan.


"Iya! Itu benar. Kau sudah hampir 15 menit menggunakan tubuh itu. Lepaskan saja taringnya," pinta Azumi khawatir, termasuk anak-anak lainnya yang mengangguk setuju.


Mandarin menurunkan keempat kurcaci perlahan dari tubuhnya. Seketika, remaja itu berubah kembali menjadi manusia. Azumi yang khawatir mendekati sahabatnya.


"Kau tak apa?" tanya Azumi.


"Ya, cuma ... agak aneh aja. Lidahku kenapa terasa seperti ada tanahnya ya?" tanya Mandarin sembari menjulurkan lidah dengan wajah berkerut.


Anak-anak menahan tawa. Pasha memberikan Mandarin air untuknya berkumur. Para kurcaci terlihat mulai menyukai anak-anak itu karena mau menolong mereka.


"Ayo, kita jalan lagi. Aku bisa menggendong salah satu dari mereka," ucap Gibson. Ternyata, ide itu disetujui anak-anak yang lain.


Gibson menggendong satu kurcaci dengan topi merah di punggungnya. Lalu Mandarin menggendong kurcaci topi ungu, Rex menggendong kurcaci topi kuning, Pasha menggendong kurcaci topi jingga, dan terakhir Vadim menggendong kurcaci topi biru.


Jubaedah menggendong tas Rex di punggung, begitupula Azumi yang menggendong tas milik Pasha.


Timo menggendong tas milik Vadim. Sedang Ryan, menggendong tas milik Gibson di punggung sembari menenteng koper milik Rex.


"Ayo! Semangat!" seru Gibson memimpin.


"Semangat!" seru anak-anak lainnya saat mereka kembali berjalan menyusuri dalam hutan dengan langkah cepat agar bisa mengejar para pencuri telur.


***


ILUSTRASI


SOURCE : FREE IMAGES



uhuy tengkiyuw tipsnya💋 lele padamu😍

__ADS_1


__ADS_2