MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MAKHLUK-MAKHLUK MITOLOGI*


__ADS_3

Di sisi lain. Anak-anak yang tersedot ke dalam portal mulai berguguran satu persatu baik saat menjalankan misi atau karena petaka lain seperti kehausan, kelaparan dan diserang oleh makhluk dari Planet Mitologi.


Namun, ada beberapa anak yang masih sanggup bertahan dan kini terpencar di berbagai wilayah.


Selain kelompok Rangga yang beranggotakan Lazarus, Bara, L, C dan lima anak dari berbagai negara, kelompok yang beranggotakan Nicolas, Harun dan Kenta juga masih sanggup bertahan.


Kelompok lain dengan anggota Azumi, Vadim, Pasha, Mandarin, Ryan, Jubaedah, Gibson, Timo dan Rex merupakan jumlah anak yang paling banyak dibanding yang lain.


Namun siapa sangka, masih ada beberapa kelompok yang dapat beradaptasi dengan segala kejadian aneh di planet tersebut.


Diantaranya, ada tiga kelompok dengan jumlah anggota masing-masing lima anak yang mampu bertahan dan kini sedang menjalani misi di wilayah lain.



Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Jadi, siapa diantara kita yang belum berubah wujud?" tanya seorang anak bertubuh tinggi gemuk terlihat seperti pemimpin kelompok tersebut bernama Bobby.


Dua orang anak lelaki mengangkat tangan terlihat gugup. Pemuda itu mengangguk pelan.


"Oke. Tetap berjalan sampai kita menemukan mangsa dari buruan misi yang diberikan," tegasnya dan keempat anak dari kelompok tersebut mengangguk paham.


Kelompok tersebut menamai diri mereka 'Killer'. Anak-anak itu tak segan bertarung dan membunuh makhluk Mitologi yang dianggap sebagai ancaman.


Padahal, misi yang diberikan kepada mereka tak diminta untuk melakukan pembunuhan, tapi anak-anak itu mengambil inisiatif agar bertahan hidup di planet yang dihuni oleh para makhluk dari negeri dongeng.


"Apakah sudah dipetakan, mana saja wilayah yang telah kita datangi?" tanya Bobby seraya terus berjalan seraya memegang sebuah pedang sebagai senjata dalam genggamannya.


"Yes, Bob. Kita datang dari arah Selatan dan sekarang bergerak menuju Utara," jawab seorang remaja bertubuh gemuk dan berkulit cokelat bernama Oscar yang juga terlihat tangguh.



"Terus awasi sekitar. Target kita adalah mengumpulkan 10 telur naga dengan jenis spesies yang berbeda. Selain itu, buruan kita kedua adalah Griffin," tegas Bobby.


Semua anak yang berjalan di belakang pemimpin mereka mengangguk paham.


Lima anak itu mengawasi sekitar dengan ketat. Masing-masing dari mereka menggendong tas ransel dan membawa senjata dalam genggaman. Ada yang memiliki sebuah pisau, tongkat baseball, panah dan tombak.


Mereka mendapatkannya setelah berhasil membunuh para makhluk Mitologi yang menghalangi jalan mereka. Ternyata, Oag mengawasi pergerakan kelompok itu.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi.

__ADS_1


"Mereka kelompok yang tangguh. Mereka juga tak segan membunuh penghuni planet kita, Oag," ucap operator dari kadal dengan corak merah.


"Berapa jumlah anak-anak yang berhasil mendapatkan kartu?" tanya Oag penasaran.


"Ada 279 anak. Ini di atas perkiraan. Mereka cukup hebat dan tersebar di berbagai wilayah."


"Anak-anak dari Bumi memang tak bisa diremehkan. Ini akan sangat menarik jika benar, mereka terhasut untuk melawan kita nantinya. Aku tak sabar jika perang sungguh terjadi," jawab Oag dengan tentakel bergerak di bawah dagunya terlihat antusias.


Para kadal lain sepertinya ikut bersemangat. Oag pergi meninggalkan ruang kendali memasuki sebuah lorong dengan genangan air di sekitarnya.


Oag berjalan dengan dua tangan di belakang pinggang saling menggenggam seraya melihat banyak ukiran pada dinding batu sepanjang koridor itu.


Oag berhenti pada sebuah ukiran besar membentuk gambar seperti manusia berjenis kelamin pria, sedang berdiri gagah dengan tongkat berbentuk layaknya petir.


Oag memandangi lukisan itu saksama, tapi tak lama ia kembali berjalan dengan dua kakinya seperti orang berjinjit meninggalkan dinding penuh lukisan berupa gambar seperti manusia.


Makhluk seperti kadal bertentakel tersebut menuruni sebuah tangga dalam sebuah kolam besar di hadapannya. Oag menenggelamkan tubuhnya hingga sosoknya tak terlihat lagi.



Oag terus menuruni tangga hingga ia tiba di sebuah ruangan luas di bawah air. Terlihat, banyak patung seperti ikan duyung di beberapa tempat dengan membawa sebuah tongkat layaknya para penjaga.


Bangunan megah tersebut terbuat dari batu dan campuran lain sehingga tak rapuh meski berada di dalam air.


Oag menuju ke sebuah pintu yang tak memiliki penutup di mana ruangan itu dilapisi oleh dinding kaca sehingga air tak masuk ke dalamnya.


Terlihat jelas banyak buku-buku kuno dari lembaran kertas tersusun rapi dalam rak kayu besar. Ada beberapa gulungan kertas, gulungan dari kulit hewan, papan kayu dan beberapa tumpukan batu dengan ukiran tulisan di atasnya.


Jenderal manusia yang bekerjasama dengan makhluk bertentakel itu terlihat sedang duduk dan membaca beberapa buku yang ia sejajarkan seperti mencoba mencari sesuatu.


DOK! DOK!


Praktis, kepala Jenderal itu terangkat. Pria itu berdiri dari kursinya lalu mendekati dinding kaca perlahan. Oag berdiri di depan manusia tersebut yang terhalang dinding kaca dengan genangan air di sekitarnya.


"Sudah menemukan jawabannya?" tanya Oag, dan sang Jenderal menggeleng.


"Kau lihat para profesor yang kubawa kemari? Para jenius itu bahkan tak peduli dengan nasib mereka asalkan bisa menguak misteri dari peninggalan sejarah di Bumi. Kami masih berusaha, jadi ... bersabarlah," jawab Jenderal tersebut dan Oag mengangguk.


Saat Oag berpaling dan akan pergi, Jenderal itu kembali mengetuk dinding kaca. Oag membalik tubuhnya dan menatap Jenderal itu lagi.


"Apakah ... anak-anak dari 13 Demon Heads itu berhasil? Atau sudah ada yang mati?" tanya Jenderal penasaran.

__ADS_1


"Mereka cukup tangguh, tapi aku yakin, anak-anak itu akan segera gugur," jawab Oag tenang lalu berjalan pergi.


Jenderal tersebut menghela napas pelan. Ia kembali ke bangkunya di mana ada beberapa pria dan wanita mengenakan kacamata seperti kutu buku, tapi terlihat begitu ambisius dengan buku-buku yang mereka baca dari perpustakaan besar tersebut.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


"Bagaimana?" tanya Jenderal kepada salah satu pria dengan jenggot dan kumis beruban terlihat serius membaca dari buku yang sedang ia buka di kursinya.


"Jika kita bisa mendapatkan sampel darah dari tiap makhluk Mitologi di planet ini, kita bisa membuktikan kebenarannya. Atau, kita bisa menciptakan makhluk-makhluk serupa di Bumi, seperti menghidupkannya lagi. Bahkan mungkin, menciptakan makhluk yang lebih hebat lagi," jawab pria tua itu dengan mata berbinar.


"Ya. Aku cukup yakin jika mereka sebelumnya pernah datang ke planet kita. Makhluk-makhluk itu tak bisa kembali ke planet ini karena portal yang menghubungkan dunia mereka dengan dunia kita tertutup. Oleh karena itu, mereka menjadi mitos di Bumi," sahut arkeolog wanita berambut sebahu berkacamata, membawa gulungan kertas dalam genggamannya.


"Hem, legenda-legenda yang tersebar di seluruh penjuru Bumi adalah ulah dari para penduduk tempat ini. Jika ada kisah tentang Hydra, Naga, dan hewan Mitologi lainnya, sudah pasti makhluk-makhluk itu berasal dari tempat ini. Hanya saja, ada beberapa makhluk yang tidak murni, seperti buatan," sahut profesor pria berkacamata dan rambut sudah beruban.


"Tidak murni?" tanya Jenderal itu menyipitkan mata.


"Seperti Oag. Dia tidak murni. Dia bukan makhluk Mitologi. Jenisnya tak ada dari semua catatan yang telah ditulis dalam perpustakaan ini," jawab arkeolog wanita dengan rambut digelung ke atas dan memiliki aksen Inggris yang kental.


Sang Jenderal diam sejenak. "Aku baru tahu jika Oag tidak murni," ucapnya terlihat memikirkan pendapat itu.


"Beberapa makhluk Mitologi yang ada di planet ini campuran. Setengah manusia, setengah hewan. Ada campuran dari hewan lainnya lalu dijadikan seekor makhluk yang memiliki banyak keunggulan. Hanya saja, makhluk-makhluk itu adalah hewan dari planet kita, Bumi. Kesimpulanku, hewan-hewan kita dicuri lalu direkayasa hingga tercipta makhluk-makhluk seperti Mermaid, Centaur, dan lainnya," sahut arkeolog pria berambut cokelat terlihat paling muda diantara yang lain meski berkacamata.


Jenderal terlihat terkejut mendengar penuturan para arkeolog itu.


"Yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah ...," ucap seorang profesor seraya membuka sebuah buku besar dan tebal di atas meja. Jenderal dan profesor lainnya mendekat. Mereka mengamati lembaran bergambar beberapa manusia seperti mereka kenal sosoknya. "Zeus, Poseidon, dan para dewa, dianggap oleh para manusia pada zaman itu seperti Tuhan karena memiliki kemampuan di atas rata-rata. Para dewa itu mampu mengendalikan alam seperti petir, angin, air laut dan sebagainya. Namun, para dewa di buku ini ibarat ... seorang ilmuwan. Mereka melakukan ekspedisi ke Bumi dan sayangnya, tak bisa kembali ke Mitologi. Mereka terperangkap dan pada akhirnya hidup di planet kita. Ini, kesimpulanku," ucap profesor tersebut menuturkan seraya menunjuk sebuah gambar seperti pesawat alien.


"Lalu pertanyaan terbesarmu?" tanya wanita berambut sebahu.


"Apakah ... pesawat alien yang dicari Oag selama ini adalah Atlantis? Lihat bentuk pesawat di buku ini, sama persis dengan gambaran Atlantis yang kita tahu di Bumi. Sayangnya, sampai saat ini, keberadaan kota modern yang hilang tak diketahui. Kini ... semua mulai masuk akal," tegas profesor tersebut dengan embusan napas panjang.


Semua orang di ruang perpustakaan bawah air terdiam. Mereka seperti menyadari satu hal jika ternyata, Zeus dan para dewa lainnya yang dianggap sebagai raja oleh para manusia di zaman itu, sebenarnya adalah ilmuwan dari planet lain yang tersesat. Jenderal terlihat shock seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy tengkiyuw tipsnya. Nah, inilah kisah Mitologi versi lele. Semoga suka dan jangan lupa tips yang banyak ya. Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2