MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
WAKTU HABIS*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Sontak, anak-anak dibuat terkejut akan ucapan sang kapten bajak laut barusan.


"Apa maksudnya buatan? Maksudmu ... hewan seperti kombinasi itu sejak awal memang berbentuk layaknya kelinci, landak, serigala dan elang, begitu?" tanya Kenta dengan mata melotot.


Sang kapten mengangguk pelan. "Agh, sudahlah. Kita fokus mencari harta karun. Kita tak ada urusan dengan makhluk-makhluk itu. Ayo! Waktuku tak banyak. Kita harus cepat sebelum aku terseret kembali dalam kapal."


Azumi dan lainnya mengangguk paham. Sang kapten meminta agar mereka menandai wilayah yang sudah dilewati dengan bentuk silang pada pohon.


Gibson dengan sigap melakukan hal tersebut di mana kini ia sudah dipersenjatai dengan pedang. Sedang para perempuan diberikan belati sebagai senjata untuk mempertahankan diri.


"Jangan mengandalkan wujud Mitologi. Lihat saat kalian berhasil mengalahkan Kraken dalam wujud manusia. Wujud Mitologi memang sangat hebat, tapi itu bukanlah sosok kalian yang sesungguhnya," ucap sang Kapten seperti memberikan nasihat.


Gibson dan lainnya mengangguk pelan karena berpikir jika yang diucapkan oleh sang kapten ada benarnya.


Mereka cukup jauh berjalan, tapi tak menemukan petunjuk atau tanda apa pun dari harta itu.


"Kapten. Sebenarnya, harta karun itu berupa apa?" tanya Kenta penasaran.


"Aku juga tak tahu. Namun, menurut kisah. Harta karun itu bisa mengabulkan semua permintaan terdalam kita tanpa harus dikatakan atau dituliskan. Saat kita membuka peti tersebut, harapan kita akan terwujud saat melihat sinar di dalamnya. Oleh karena itu, aku sangat menginginkanya," jawabnya dengan senyuman seperti sudah berandai-andai dengan keinginannya.


"Wah! Jangan-jangan ... peti itu bisa membawa kita pulang ke Bumi!" sahut Ryan semangat.


Seketika, langkah sang kapten terhenti. Anak-anak bingung, terlebih alien tersebut mengarahkan ujung pedang pada mereka. Wajah tegang tampak jelas di raut empat para remaja itu.


"Kalian sudah berjanji akan memberikan harta itu padaku. Aku tak segan menebas kepala kalian jika ingkar," ucapnya menekan.


"Ka-kami kan hanya berandai-andai. Kami menepati janji," jawab Azumi menelan ludah.


Sang kapten memicingkan mata terlihat ragu dengan hal tersebut. Anak-anak terlihat gugup karena melihat ujung pedang tajam itu masih diarahkan ke wajah mereka.


"Aku akan mengawasi pergerakan kalian. Awas saja jika berani menipuku. Perjuangan kalian untuk tiba di pulau ini, tak sebanding dengan pengorbananku dan awak kapalku selama ratusan tahun terjebak dalam kutukan," tegasnya.


"Kami mengerti, Kapten. Percayalah," ucap Gibson meyakinkan.


Sang kapten meminta anak-anak itu untuk jalan lebih dulu di depannya. Mereka terpaksa menurut karena alien itu menjadi seperti tak percaya lagi dengan mereka. Gibson dan lainnya memaklumi hal tersebut.


Namun, mendengar cerita kapten jika peti harta karun tersebut bisa mengabulkan permintaan tersembunyi dari hati, membuat para remaja itu berangan-angan mendapatkan keinginan mereka.


Hingga akhirnya, mereka memasuki wilayah yang tampak lain dari sebelumnya.



"Wow! Hutan pelangi!" seru Azumi tampak kagum.


Semua anak tampak takjub saat memasuki wilayah itu, tapi sang kapten terlihat waspada dengan sekitar.


Mereka mulai menjelajah hutan tersebut dan tetap menandai batang pohon saat melewatinya.

__ADS_1


"Udaranya berwarna-warni. Kenapa bisa seperti itu ya?" tanya Ryan heran.


"Bukan udaranya, tapi pohonnya. Ini adalah gas yang dikeluarkan oleh pohon dengan warna berbeda. Lihatlah pohon yang ini dengan di sebelahmu. Jenis daunnya beda 'kan? Dan lihat udara di sekitar pohon itu. Warnanya juga lain," ucap sang kapten yang penjelasannya terdengar logis.


Anak-anak mengangguk paham dan merasa yang dikatakan oleh sang kapten ada benarnya.


"Apakah ... kita harus waspada? Aku tak merasakan dampak apa pun dari udara berwarna-warni ini," tanya Ryan seraya memegangi dadanya dan mencoba mengatur napas.


"Oh!" pekik Azumi tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.


"Wah! Kenapa ... kenapa tubuh kita menjadi berwarna-warni?" tanya Kenta langsung melotot saat melihat tangan kanannya berwarna ungu, tapi tangan kirinya berwarna hijau.


"Apakah kita keracunan?" tanya Azumi yang mengalami hal serupa meski mendapatkan warna lain di tubuhnya, begitupula Ryan dan Gibson.


"Cepat pergi dari hutan ini!" seru sang kapten lantang.


Segera, anak-anak itu berlari kencang, tapi tiba-tiba ....


SREKK!!


"Arrghh!" erang sang kapten saat dirinya seperti tertarik akan sesuatu dan membuatnya menjauh dari kumpulan anak-anak itu.


"KAPTEN!" seru anak-anak lantang saat mereka melihat dengan jelas ketika alien seperti hiu martil tersebut tubuhnya tersedot karena waktunya di daratan telah habis.


Napas Gibson dan lainnya terengah, tapi mereka ingat dengan ucapan sang kapten. "Kita harus segera pergi dari sini. Cepat!"


Segera, anak-anak berlari menerobos hutan pelangi tersebut agar tak terkena dampak lebih buruk lagi saat menjelajah di dalamnya.


Nicolas merubah wujudnya menjadi seorang elf betina yang menawan. Ia memanjat pohon dengan gesit untuk melihat keberadaan mereka dari atas sana.


"Oh! Ada sungai di depan! Kita bisa mengikuti alirannya. Bagaimana?" saran Nicolas.


"Apakah aliran sungai itu tetap mengarah ke Timur?" tanya alien Rog yang memiliki empat tangan di depan.


"Ya! Selain itu, tempat tersebut juga tak berwarna-warni. Kita akan aman dari pengaruh pusing akibat corak beragam itu!" seru Nicolas dari atas pohon dan melihat sekitar dengan mata tajam seperti elang.


"Baiklah! Kita ke arah sungai!" jawab Rog.


Saat Nicolas sedang melompat turun dari satu dahan ke dahan lain, tiba-tiba saja, ia merasakan pergerakan dari pohon lain di dekatnya.


Nicolas langsung waspada seketika. Ia menarik anak panah dan menyiagakan busurnya. Mata Nicolas memindai sekitar seperti mencurigai sesuatu.


Tiba-tiba, terdengar suara siulan dari sebuah pohon. Nicolas perlahan berjongkok dan menajamkan penglihatannya. Seketika, matanya melebar.



Seorang elf jantan muncul di atas pohon. Lelaki berambut panjang itu menatap sosok elf Nicolas tajam dari tempatnya mengintai. Nicolas tampak gugup, tapi tetap waspada dengan senjata panahnya.


"Mm ... Nico," panggil Harun dari bawah pohon.

__ADS_1


Saat Nicolas menundukkan pandangan, matanya kembali melebar saat melihat kawan-kawannya dikepung oleh sekumpulan elf dengan ujung pedang tajam diarahkan ke tubuh mereka.


Alien Rog juga ikut disandera. Semua orang terlihat ketakutan karena kalah jumlah tak bisa melawan.


"Kau siapa? Aku tak pernah melihatmu di wilayah ini sebelumnya," tanya elf tampan tersebut menatap Nicolas saksama yang masih berada di atas pohon.


"Mm ... aku Nicolas," jawabnya gugup.


"Hem, nama yang aneh untuk seorang elf. Kenapa kau berkomplot dengan mereka? Manusia dan alien?" tanya elf berambut putih tersebut penuh selidik.


"Itu karena ... mereka timku. Kami bukan ancaman dan kami tak ada maksud jahat. Kami ... hanya ingin mencari harta karun agar segera menyelesaikan misi," jawab Nicolas gugup karena kawan-kawannya ditodongkan senjata.


Mata elf jantan tersebut menyipit. Ia memberikan kode pada Nicolas untuk turun. Nicolas mengangguk paham dan memilih menurut agar kawan-kawannya tak disakiti.


Saat alien Rog akan diikat, tiba-tiba saja, "Harrghhh!"


"Rog!" panggil anak-anak saat melihat alien tersebut seperti tersedot dengan kuat sampai para elf jatuh saat memeganginya.


"Apa yang terjadi?!" pekik elf jantan tersebut.


"Sepertinya ... waktu Rog di darat sudah habis. Dia ... kembali terseret ke kapal," jawab Mandarin gugup dengan kedua tangan terangkat ke atas.


"Kapal? Maksud kalian ... dia salah satu anggota alien bajak laut?" tanya seorang elf betina dan anak-anak mengangguk membenarkan.


Praktis, mata para elf melebar. "Mereka berhasil mengalahkan Kraken?" tanya salah satu elf berambut hitam berkelamiin betina.


"Ya. Kami membantu mereka," sahut Pasha terlihat takut.


"Antarkan kami ke kapal tersebut. Cepat!" tegas elf jantan tersebut.


Kening semua anak berkerut. Mereka saling melirik seperti satu pemikiran.


"Apa yang kalian inginkan dari para alien itu?" tanya Nicolas curiga.


"Merampas kapal mereka. Kami akan pergi dari tempat terkutuk ini," jawab elf jantan tersebut yang membuat semua anak terkejut.


"Kalau begitu, lupakan! Semuanya, berubah!" seru Nicolas mantap.


Seketika, "HORGGHH!" erang Harun berubah menjadi Yeti, dan Mandarin menjadi Ogre. Pasha dalam wujud Manticore-nya terlihat siap untuk menyerang para elf yang dianggap ancaman oleh mereka.


Praktis, suasana tegang seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_1


uhuy makasih tipsnya diriku😘 lele padamu😍 met liburan LAP. lele terkapar di kasur aja, bengek uyy😩 doain cepet sembuh ya. amin❤️


__ADS_2