MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
BERSIH-BERSIH


__ADS_3

Nguantuknya sumpah😩seharian lele ngetik buat stokan LIH mana cari referensinya menghabiskan banyak waktu pula, hadeh ampe encok. Baiklah, trims tipsnya mbk aju. Berkah selalu❤️



---- back To Story :


Wajah anak-anak dari berbagai ras di belahan Bumi itu pucat seketika. Mereka tertunduk lesu usai menyadari perbuatan beberapa tahun yang lalu tentang permintaan permainan menyeramkan ini.


Rocky yang sudah diyakini tewas oleh semua orang karena tubuhnya perlahan kaku dan pucat, mulai direlakan para remaja itu.


"Ayo, kita kuburkan Rocky dengan layak," ajak Gibson lesu.


Para lelaki mengangguk pelan dan segera berdiri. Mereka menggali tanah di bawah sebuah pohon untuk memakamkan jasad Rocky.


Duka kembali menyelimuti hati anak-anak itu. Namun, air mata yang terus mengalir karena kepergian kawan-kawan mereka satu per satu, membuat anak-anak itu mulai memahami jika dalam permainan ini pasti ada yang akan gugur.


Ryan memanjatkan doa saat pemakaman dengan cara sederhana dan disaksikan oleh semua anak. Perlahan, matahari bersinar.


Mereka masih berada di sisi gelap Planet Mitologi di mana matahari muncul hanya sementara.


Namun sayangnya, semangat para remaja itu memudar usai mengetahui banyak hal yang selama ini menjadi pertanyaan besar.


"Lalu ... sekarang bagaimana?" tanya Vadim lesu menatap Gibson lekat, termasuk anak-anak yang lain.


Entah apa yang Gibson rasakan, pemuda itu tampak seperti tertekan.


"Kenapa melihatku? Apa di wajahku ada petunjuk bagaimana caranya kita keluar dari permainan ini dengan selamat?! Tidak ada!" ucapnya marah dan langsung melangkah pergi.


Praktis, ucapannya membuat anak-anak terkejut, tapi mereka malah mengejar Gibson. Pemuda itu menyadari jika diikuti.


"Kenapa mengejarku?! Aku tak bisa membantu kalian! Lihat yang terjadi pada teman-teman kita yang berguguran! Itu karena aku tak becus menjadi pemimpin! Jangan mengikutiku lagi!" teriaknya marah.


"Jika bukan karenamu, banyak dari kita yang tewas. Mungkin hanya kausaja yang masih hidup!" seru Timo saat Gibson berjalan menjauh dari kawan-kawannya.


Langkah Gibson terhenti saat Timo menyebutkan dirinya. Gibson teringat ketika pertama kali ia menyelamatkan nyawa Timo dari pengaruh hipnotis duyung.


"Apa kauberencana meninggalkan kami mati di sini? Berjuang tanpa kau yang memimpin kami?" tanya Ryan ikut menyahut.


"Kami tak pernah menyalahkan cara kepemimpinanmu, Gibson. Itu karena kami percaya. Bagiku, kau sudah cukup bijak hingga membawa kami sejauh ini," sahut Nicolas dan diangguki oleh anak-anak yang lain.


Putera dari One tertunduk diam.


"Gib ... kamu anggep kita temenkan? Iyakan?" tanya Bara seraya berjalan mendekat.


"Tentu saja kalian kawan-kawanku. Tanpa kalian, aku juga sendirian," ucap Gibson perlahan membalik tubuhnya.


Para remaja itu tersenyum terlihat bahagia. Satu per satu mereka mendatangi Gibson dan memeluknya.

__ADS_1


Perlahan, tawa kembali terdengar, tapi membuat para gadis langsung keluar dari kerumunan itu. Rex dan lainnya bingung.


"Ih! Kalian bau banget sumpah!" seru Jubaedah mengibaskan tangannya.


"Rangga udah mandi pas nyebur tadi, yee," sahutnya sebal.


"Oke, tenang-tenang. Kita pergi cari mata air untuk mandi. Ada yang berminat untuk terbang sebentar melihat di mana lokasi kita berada?" tanya Gibson yang tanpa ia sadari kembali menjadi pemimpin.


"Aku saja!" sahut Boas semangat dan langsung berubah menjadi Peri.


Boas terbang cukup tinggi untuk melihat lokasi mereka berada sekarang.


"Sepertinya, perjalanan kita akan panjang dan melelahkan," ucapnya.


"Memang apa yang kaulihat?" tanya Lazarus penasaran.


"Gurun pasir," jawabnya yang membuat anak-anak langsung terkapar lemas.


"Gurun pasir? Bayanginnya aja udah bikin keringetan," ucap Pasha malah seperti paus terdampar di pinggir lautan.


"Kita isi botol minum sampai penuh dengan kerang penetral sebagai bekal perjalanan kita. Bagaimana?" tawar Timo dan para gadis mengangguk setuju.


Jubaedah dan lainnya mengumpulkan botol-botol yang sudah habis isinya. Timo membantu menyendok air lautan itu lalu menuangkannya dalam botol hingga penuh.


Ternyata, pekerjaan ringan itu menghabiskan banyak waktu hingga beberapa remaja laki-laki tertidur di atas pasir pantai di bawah satu-satunya pohon di dekat pantai.


"Biarin aja. Capek mungkin," sahut Azumi seraya menyusun semua botol yang telah diisi air.


Tanpa anak-anak itu sadari, bagi mereka yang sudah menguasai bahasa Indonesia, mulai berbicara seperti Jubaedah, Rangga dan Bara dengan bahasa Indonesia campuran.


"Kita bergerak saat malam saja. Jujur, aku juga lelah. Maaf, aku tidur dulu ya," ucap Gibson lalu menguap.


"Hehe, Pak Komandan mau ikut bobo cantik ya?" kekeh Jubaedah dan Gibson menggaruk kepalanya terlihat malu.


Para gadis terlihat masih semangat dan malah berjaga saat para lelaki tertidur lelap. Timo juga diminta tidur, tapi ia tak mengantuk.


"Bagaimana? Sudah semua?" tanya Timo saat ia malah melepaskan seluruh pakaiannya dan menyisakan celana boxer saja.


"Aaaa! Timo porno!" teriak Jubaedah histeris saat menyadari jika Timo malah memamerkan tubuhnya yang sebenarnya tidak atletis.


"Katamu aku bau. Jadi, aku berencana mencuci lalu menjemur bajuku. Mumpung ada matahari," ucapnya yang membuat para gadis melongo.


"Jangan bilang kaumau mencuci bajumu pakai sabun cair milikku?" tanya Tina langsung mendekap tasnya erat.


"Haha! Kaubisa menebaknya ya? Kulihat kau masih memiliki banyak peralatan mandi. Berbagilah, jangan pelit," pinta Timo.


Jubaedah yang tahu jika Tina masih memiliki sabun menatapnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Hah, ya sudah. Sini, Tina cuci sekalian saja," ucapnya.


"Yey!" ucap Jubaedah senang.


Timo dengan sigap menggunakan kerang ajaib untuk mengguyur pakaiannya yang sudah diberikan sabun oleh Tina. Timo juga menyempatkan mandi. Para gadis tersipu malu karena Timo terlihat tak malu.


"Ih, Timo jahat. Kami mana bisa mandi?" keluh Azumi.


"Nanti jika menemukan mata air, kalian mandilah. Aku berjanji tak akan mengintip," ucapnya usai membilas tubuhnya dan tercium bau wangi stroberi.


"Tina. Punya shampoo gak? Juby ngrasa rambut Juby kaya wewe gombel," ucapnya seraya memegangi rambutnya yang kusut.


"Ada. Ini," jawabnya seraya memberikan shampoo miliknya.


Ternyata, para gadis malah mencuci rambut bersama. Timo dengan penuh perhatian mengguyur kepala mereka satu per satu dengan kerang.


Tawa kegembiraan terdengar, tapi tak membangunkan anak-anak lainnya yang masih tertidur lelap. Tina juga memberikan sabun mukanya agar teman-temannya tetap terlihat berseri selama menjalankan misi.


"Laika, lepas bajumu. Kaukan kena pipis naga," pinta Jubaedah.


Laika tampak terkejut. Ia mencoba mencium tubuhnya dan hampir muntah karena benar.


"Oh! Pakai selimut tak terlihat milik Gibson saja. Bagaimana?" tawar Azumi.


"Ah, kau benar! Kenapa tak terpikirkan!" sahut Laika lalu mengambil selimut dari tas Gibson.


Timo, Jubaedah dan Azumi memegangi selimut besar itu untuk menutup tubuh Laika bagaikan tenda. Praktis, sosok Laika tak terlihat.


Gadis itu berada di pinggir pantai untuk membersihkan dirinya. Tina mengawasi sekitar untuk mengamankan temannya yang sedang membersihkan diri.


"Laika? Udah belum?" tanya Jubaedah mulai pegal.


"Sudah, sudah," jawabnya dari balik selimut dengan sosok tak terlihat.


"Wah! Laika udah gak kumal lagi!" seru Jubaedah saat melihat Laika tampak berseri meski bajunya basah karena setelah dicuci dengan sabun, ia pakai kembali.


"Kita harus bangunkan Kenta untuk membantu mengeringkan pakaian kita agar tak masuk angin," saran Laika.


"Ah itu benar, tapi nanti saja. Dia pasti kelelahan. Ayo, sekarang kau Tina. Mumpung anak lainnya belum bangun. Nanti sabunmu habis," pinta Timo dan Tina segera masuk ke dalam selimut untuk membersihkan diri.


Para gadis itu bergantian untuk mandi. Hingga akhirnya, matahari mulai meredup padahal mereka sangat yakin jika seharusnya masih siang hari. Beruntung, para gadis itu sudah wangi dan bersih sebelum kegelapan datang.


"Yey! Kita wangi!" seru Jubaedah senang dan mengajak tos semua kawan-kawannya termasuk Timo.


"Sayangnya, sabunnya abis. Gimana dong?" ucap Tina seraya membalik botol shampoo dan sabun mandi cairnya yang sudah kosong.


"Simpan saja. Siapa tahu nanti bisa diisi ulang," sahut Azumi dan Tina mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2