MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
TERSISA 1 NYAWA*


__ADS_3

Anak-anak yang kehilangan hewan penyimpan cadangan jiwa dan kini hanya memiliki satu nyawa langsung lemas.


Mereka duduk di lantai kapal terlihat bingung dan ketakutan. Para alien menatap para remaja itu saksama entah apa yang dipikirkan.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Kalian beruntung masih bisa merasakan kematian. Sedangkan kami, begitu penasaran bagaimana rasanya mati dan tak bangkit kembali," ucap sang Kapten seraya mengemudikan kapal perlahan di mana benda terapung itu telah rusak di beberapa bagian, tapi masih bisa berlayar.


Mata semua anak kini bergerak ke arah sang kapten dengan sosok layaknya hiu martil.


WHOOM!


Pandangan kemudian beralih ke tiang kapal di mana layar kembali dibentangkan untuk mempercepat laju kapal.


"Kami mati, lalu dihidupkan lagi. Kapal hancur lalu dipulihkan lagi. Sepanjang hidup terus seperti itu entah sudah berapa lama kami menjalani kutukan ini. Awalnya kami senang, tapi lama-kelamaan kami bosan. Kami mengarungi lautan seumur hidup dan tak bisa menjelajah daratan lebih dari setengah hari," ucap alien siput seraya merambat turun dari tiang kapal perlahan.


"Jika lebih dari setengah hari, apa yang terjadi pada kalian?" tanya Rangga penasaran yang duduk menyender pada pagar di geladak kapal.


"Kami akan terseret dengan sendirinya untuk kembali ke kapal. Oleh karena itu, saat kami bisa menginjak daratan, kami akan pergi sejauh-jauhnya bukan untuk menjajah, melainkan untuk merasakan kebebasan sesaat itu," jawab Viper yang duduk di pagar geladak kapal.


"Mungkin terdengar menggelikan, tapi kami iri dengan kalian. Bisa berubah wujud menjadi makhluk Mitologi saat diperlukan, dan bisa menjadi manusia normal sewaktu-waktu. Namun, lihatlah kami. Saat petang dan benderang, kami tetap memiliki wujud mengerikan. Kami disebut makhluk buangan, menjijikkan, dan aneh. Kalian bahkan menyebut kami alien. Asal kalian tahu, sebutan itu sangat menyakitkan," sahut alien dengan empat tangan mengungkapkan perasaan.


Semua anak saling melirik dalam diam tampak bersalah. Mereka hanya bisa tertunduk di tempat masing-masing.


Sesaat, suasana hening karena semua orang terhanyut dalam perasaan dan pikiran masing-masing.


"Jangan lembek! Kita berhasil melawan Kraken! Itu adalah hal yang hampir mustahil bahkan oleh makhluk Mitologi sekalipun. Selanjutnya, Pulau Pelangi. Akhirnya, setelah sekian lama, akan kudapatkan harta karun itu. Hahaha!" seru Kapten bajak laut tampak begitu gembira.


"Hahaha! Yeah!" seru para alien tampak senang.


Perlahan, senyum anak-anak ikut terkembang karena mereka tak menyangka bisa mengalahkan Kraken.


Berkat kerjasama tim dengan sesama teman dan para bajak laut, mereka hampir menyelesaikan misi level 6.


"Oh, aku tak sabar untuk tiba di tempat itu," ucap Azumi mulai menunjukkan senyumnya.

__ADS_1


"Yeah, aku juga. Konon katanya, tempat itu sangat indah dan berwarna-warni. Meski aku hanya bisa menginjakkan kaki selama setengah hari di pulau itu nantinya, tapi bagiku sudah lebih dari cukup. Sayangnya, misi di Pulau Pelangi kuyakin tak akan semudah itu diselesaikan," ujar sang kapten yang membuat kening anak-anak berkerut.


"Maksudnya?" tanya Bara bingung.


"Kalian diminta mencari harta karun. Itu bukan hal gampang. Pasti tempat itu tersembunyi dan ada bahaya lain mengancam untuk mendapatkannya. Sayangnya, selama di darat, kami tak bisa membantu banyak. Jadi, sampai harta karun itu ditemukan, kalian berjuanglah tanpa kami," jawab sang kapten yang membuat anak-anak kembali melebarkan mata.


"Apa yang dikatakan kapten benar. Bagaimana ini? Selain itu, kita hanya memiliki satu nyawa yang tersisa. Ya Tuhan," ucap Ryan terlihat panik.


Siapa sangka, ucapannya mempengaruhi anak-anak lainnya. Kembali, kepanikan melanda hati semua orang.


"Hai, dengar! Sebelumnya nyawa kita memang hanya ada satu. Kita terlena saat mendapatkan hewan penyimpan cadangan jiwa. Kita mengandalkan mereka dan hilang kewaspadaan. Namun kurasa, setelah kita kembali dalam kondisi semula, aku yakin, kita akan lebih berhati-hati," tegas Laika memecah keributan.


"Ya, aku rasa ucapan Laika benar. Berulang kali kita dalam bahaya, tapi bisa lolos dari maut karena saling membantu. Kita harus tetap bersama dan bekerja sama. Kita sudah sejauh ini, dan tinggal sedikit lagi untuk ke level selanjutnya," sahut Lazarus.


"Hem. Aku juga merasa kuat dan lebih berani tiap berhasil menyelesaikan masalah dari tiap level yang dihadapi. Selain itu, musuh kita unik dan tak ada yang seperti itu di Bumi. Ini akan sangat bagus untuk melatih diri kita menjadi anak yang mandiri dan berpikir cerdas sebelum bertindak," sahut Gibson mantap.


Semua anak mengangguk setuju. Perlahan, semangat mereka kembali bangkit. Para alien saling melirik dalam diam entah apa yang mereka pikirkan.


Hingga akhirnya, malam datang. Anak-anak yang kelelahan tertidur di geladak kapal dengan sisa perlengkapan seadanya karena sebagian tercebur ke lautan.


"Anak-anak sialan ini memberikan banyak pengaruh padaku. Apakah ... aku jadi terlihat lebih jinak seperti manusia?" tanya sang kapten seraya memandangi anak-anak yang tertidur pulas.


Para alien lainnya hanya terkekeh sembari membetulkan kapal yang rusak.


"Biasanya kita mati saat melawan Kraken. Kapal hancur, kita tenggelam dan dimakan olehnya. Namun, lihatlah yang kita lakukan sekarang. Memperbaiki kapal. Ini baru pertama kali terjadi, dan aku sedikit bingung bagaimana cara menggunakan alat-alat ini," sahut alien dengan corak biru sambil memegang palu.


"Sini. Aku biasa membantu ayahku. Kurang lebih hampir sama," sahut Rex yang mengejutkan para alien karena ternyata, pemuda itu sudah terjaga meski tubuhnya berbaring seperti orang tidur.


Rex segera bangun dan menghampiri alien tersebut untuk meminta palunya. Alien itu awalnya terlihat ragu, tapi pada akhirnya memberikan palu tersebut.


"Sayangnya, kita akan membangunkan yang lain," keluh Rex, dan para alien itu saling melirik.


"Yah, kami sudah bangun," sahut Mandarin seraya merenggangkan tubuhnya karena tidur di lantai kapal.


"Kalian berisik sih," sahut Jubaedah seraya mengucek matanya.

__ADS_1


"Haha! Semua sudah siap bekerja lagi. Segera perbaiki kapal sebelum kita tenggelam. Cepat!" titah sang kapten kembali memerintah.


Anak-anak langsung memasang wajah malas, tapi menurut. Mereka membantu memperbaiki kapal. Hingga tiba-tiba, Timo merubah dirinya menjadi Merman.


"Oh! Apakah kita sudah berada di luar wilayah Kraken?" tanya Vadim heran.


"Aku sampai tak menyadarinya," jawab Timo terkejut sendiri.


"Haha! Pekerjaan akan lebih mudah dan cepat selesai. Cepat perbaiki, Pemalas! Atau kuberikan isi perut ikan untuk makan malam kalian. Hahahaha!" ledek sang kapten dan diikuti tawa para alien lainnya.


Anak-anak mendesis kesal. Mereka akhirnya berubah untuk membantu memperbaiki kapal. Viper dan Jubaedah diminta fokus memasak karena keduanya dianggap ahli dalam mengolah makanan.


Tak terasa, malam berlalu begitu cepat dan langit kembali terang benderang. Kapal berhasil diperbaiki meski anak-anak dan para alien begadang semalaman.


Hingga akhirnya, "Hei! Sepertinya kita sudah tiba di Pulau Pelangi!" seru Boas saat ia terbang dalam wujud peri ketika membantu menjahit layar yang robek.


Praktis, senyum semua anak langsung terkembang. Semua orang terlihat tak sabar segera turun dari kapal untuk menjelajah.


Czar bahkan langsung terbang dalam wujud Griffin saat kapal berlabuh di perairan dangkal dan memaksa beberapa anak turun dengan mendayung perahu kayu termasuk para alien.


Czar berdiri di sebuah bukit dan kembali dalam wujud manusia. Seketika senyumnya terkembang saat melihat keajaiban terbentang di depannya.


"Ini luar biasa!" serunya dengan wajah berbinar.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya untuk diriku karena belom ada sedekah koin sampai hari ini😆 Kwkwkw. Jangan lupa vote poin, vocer, like, rate bintang 5 dan komen bagi yang belum ya. Lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2