
Gak jadi crazy up😆 Kwkwkw fisik bumil ternyata gak segarang waktu masih singset. Jadi kapan2 aja, lele mau fokus tamatin LIH, setelah itu tamatin Monster Hunter dan Marco-Polo. 4YM bawa santai aja lah, tamatnya gak bisa diprediksi. Makasih tipsnya mbak Lele. Aku padamu❤️
----- back to Story :
Saat semua anak dirundung kepanikan karena beberapa teman mereka terluka, tiba-tiba Harun memekik.
"Hydra itu bangkit lagi!" serunya seraya menunjuk tubuh monster besar berkepala 12 itu yang mulai berdiri.
Praktis, mata semua anak terbelalak.
"Bersiap!" seru Gibson lantang dari tempatnya berada.
Tangan Jubaedah masih masa penyembuhan. Gadis itu diminta untuk menjauh dari tempat pertempuran karena kepala Hydra yang tergolek mulai bergerak.
"HORRGHH!!" raung kedua belas kepala itu yang kembali bangkit meski beberapa tubuhnya mengalami luka-luka, tapi ternyata serangan dahsyat Jubaedah tak membunuh monster tersebut.
Anak-anak segera menyingkir. Ryan membawa tubuh Azumi dan Timo menjauh dari Hydra yang ternyata masih hidup.
Laika merasa, jika permen penyembuh itu sudah mulai bekerja untuk memulihkan kondisi dua temannya karena Timo dan Azumi mulai tenang.
Tina berusaha untuk menyadarkan Boas dan Bara, tapi tak berhasil. Tina kerepotan saat menarik tubuh Boas agar menjauh dari tempat Hydra berada.
Lazarus dan Rangga yang melihat Tina kesulitan segera berubah menjadi makhluk Mitologi untuk membawa dua teman mereka yang pingsan. Tina ikut berlari bersama empat teman lelakinya menyelamatkan diri.
Hydra tersebut terlihat semakin buas. Anak-anak bersembunyi di dalam semak dan kabut yang kembali muncul saat hujan reda.
Monster berkepala 12 itu mulai melangkahkan kaki besarnya. Ekornya bergerak menyapu air dan kabut di sekitarnya.
Anak-anak terlihat ketakutan. Kali ini, mereka memilih untuk mengamati tak melakukan serangan.
Hingga akhirnya, kepala Hydra tersebut mendapati keberadaan Rex yang masih dalam wujud naga sedang tergeletak lemas mencoba untuk bangkit.
"No, no, Rexy," ucap Jubaedah panik dengan tubuh bergetar di balik semak yang menutupi sosoknya.
"Stt ... stt ... kita akan pikirkan cara. Tenanglah," bisik Gibson.
Jubaedah membungkam mulutnya rapat. Ia melihat anak-anak yang tadi mengerubungi Rex menghilang.
Jubaedah yakin jika Harun, Mandarin, Czar dan Kenta sedang bersembunyi. Jubaedah khawatir jika Rex akan dimangsa.
Benar saja, kepala-kepala naga itu mulai bergerak seirama seperti ingin melakukan sesuatu pada Rex yang berusaha untuk bangkit.
"No ... no, Rexy ...," ucap Jubaedah ketakutan dan meneteskan air mata karena Rex tak mungkin melawan sendirian, ia kalah jumlah.
Kedua belas kepala naga itu menarik napas dalam seperti ingin menyemburkan sesuatu. Mata semua anak melebar.
Namun tiba-tiba, "HORGGHH!"
"Oakkkk!"
"Oh!" pekik anak-anak terkejut saat kedua belas kepala naga itu menyemburkan napas beracunnya, Kenta muncul dari belakang tubuh Rex.
Kenta berubah menjadi burung Phoenix dan menyemburkan apinya saat napas beracun dari Hydra ditujukan ke arah naga Rex.
Ternyata, Rex hanya berpura-pura terluka. Ia dengan sigap bangkit dan ikut menyemburkan asap hijau beracunnya ke kepala naga Hydra tersebut.
Praktis, gumpalan api besar berwarna kehijauan muncul diantara tiga hewan raksasa itu seperti saling adu kekuatan.
"Hah, hah, Juby harus bantu! Juby pasti bisa! Kalian percaya pada Juby 'kan?" ucap Jubaedah langsung berdiri dan keluar dari semak.
__ADS_1
Gibson dan lainnya terkejut, tapi mengangguk. Jubaedah menarik napas dalam. Ia masih merasakan sakit di lukanya karena belum pulih sepenuhnya.
Namun, ia tak ingin dua kawannya yang sedang berjuang itu kalah melawan Hydra.
"Harghhh! Juby paling marah sama orang yang nyakitin Rexy!" teriaknya lantang hingga seluruh tubuhnya menegang seperti berusaha mengumpulkan seluruh amarahnya.
Benar saja, tiba-tiba langit kembali bergemuruh dan menjadi hitam pekat. Angin kencang menerpa dan membuat kabut di sekitar tempat itu terkumpul menjadi gumpalan yang pada akhirnya terbentuk seperti tornado yang sangat besar.
Pusaran asap hitam yang disertai petir menyambar-nyambar terdengar begitu mengerikan.
Pepohonan di sekitar pusaran angin besar itu mulai terhisap dan hanya menyisakan pohon-pohon besar yang masih kuat untuk bertahan.
Mulut semua anak menganga. Mereka berlari sejauh mungkin agar tak terkena dampak dari kekuatan yang mengerikan itu.
Ryan bertahan dengan tubuh Tuan Pohon. Kakinya menancap pada tanah menjadi seperti akar. Laika berlindung dan berpegangan kuat pada Ryan.
Tangan Ryan membentuk seperti pelindung untuk Timo dan Azumi yang belum sadarkan diri seperti sebuah sangkar.
"Kami percaya padamu, Juby! Kalahkan Hydra!" seru Gibson lantang dan disoraki semua orang.
Ternyata, kekuatan besar Jubaedah disadari oleh Hydra. Kenta dan Rex yang tak sanggup untuk terus-terusan menyembur mulai kewalahan. Benar saja, tubuh mereka kembali diserang oleh kepala Hydra yang tak terluka.
KRAUK!
"Arghhh!" erang Kenta dan Rex saat tubuh mereka digigit oleh rahang dari hewan berkepala naga itu. Praktis, anak-anak yang melihatnya terkejut.
"Rexy!" teriak Jubaedah murka yang masih mengumpulkan kekuatannya untuk sebuah serangan mematikan.
Rex dan Kenta berusaha melepaskan gigitan yang terasa menyakitkan seperti menembus tulang.
Mandarin dan Harun muncul dengan wujud Mitologi mereka. Keduanya mendatangi kepala Hydra yang menggigit Rex serta Kenta, dan balas mengigit leher Hydra dengan gigi taring mereka.
"Horghhh!" erang dua kepala Hydra saat melepaskan gigitan mereka karena serangan Yeti dan Ogre.
Dengan sigap, Kenta dan Rex berubah. Keduanya naik ke punggung Czar dengan menahan sakit akibat luka gigitan. Griffin bergegas terbang.
Harun dan Mandarin berlari kencang mencoba menyelamatkan diri di mana tornado ciptaan Jubaedah siap untuk menyedot makhluk monster itu.
"Harghhh!" teriak Jubaedah lantang yang mengarahkan angin tornado ke tubuh Hydra saat mengejar Harun dan Mandarin.
Jubaedah terlihat fokus dengan serangannya untuk menarik tubuh Hydra tersebut agar masuk dalam pusaran angin besarnya.
"Harun! Mandarin!" panggil Pasha panik karena dua temannya seperti ikut terseret.
Nicolas terpikirkan sebuah ide. Ia bisa merasakan pergerakan angin dari tornado Jubaedah.
Nicolas mengarahkan anak panahnya bertolak belakang dengan posisi Harun dan Mandarin yang kini sedang memeluk sebuah pohon agar tak terseret angin besar itu.
SHOOT! WUSS!! JLEB! JLEB!
Mata Mandarin dan Harun terbelalak. Mereka melihat anak panah milik Nicolas tertancap di tanah tepat di samping mereka.
Dan lagi, datang dua anak panah lainnya seperti membentuk sebuah pegangan untuk membawa mereka menuju ke sebuah tempat di depan anak panah pertama.
Mandarin dan Harun saling memandang. Mereka akhirnya melepaskan pohon itu dan menangkap anak panah Nicolas dengan posisi merangkak melawan tarikan angin.
"Yah, benar! Bagus! Aku akan membawa kalian menjauh dari serangan Jubaedah!" seru Nicolas yang akhirnya taktiknya dipahami oleh dua kawannya.
Jubaedah melihat kawan-kawannya berhasil pergi meninggalkan lokasi rawa yang airnya sudah mengering.
Gibson berhasil memegangi tubuh Mandarin, begitupula Pasha dan Vadim saat menarik Harun ketika keduanya berhasil menangkap anak panah Nicolas seperti sebuah tangga.
__ADS_1
Anak-anak itu berlari kencang menjauh dari tornado ciptaan Jubaedah.
"Kalian berani nyakitin temen-temen, Juby! Rasakan!" teriaknya marah dan akhirnya menjatuhkan petir yang berwarna merah membara layaknya api panas itu.
Kali ini, Hydra tak bisa melawan. Tubuh mereka tersengat dan terbakar. Gumpalan angin besar yang membentuk tornado langsung menyeret tubuh Hydra yang tak lagi berdaya.
Jubaedah melebarkan kedua telapak tangannya. Ia lalu menghadapkan kedua telapak tangannya seperti ingin menekan sebuah benda yang berada diantaranya seolah menggencet.
Anak-anak melihat dari kejauhan di balik hutan saat gumpalan angin besar dengan kilat berwarna merah menyambar-nyambar terdengar begitu menyakiti telinga.
"Luar biasa! Aku sampai merinding. Jangan sampai kita membuat Juby mengamuk," ucap Harun dengan napas tersengal melihat kengerian tersebut.
"Horrghhh!" Hydra yang telah terkurung di dalam tornado ciptaan Jubaedah tak bisa melawan kekuatan besar itu.
Jubaedah mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia lalu mengepalkan kedua tangannya di depan mukanya dengan wajah bengis penuh amarah.
"Arrghhh!"
BLUARR!!
"Woah!" seru anak-anak terkejut saat tiba-tiba saja muncul ledakan besar dari dalam tornado dengan suara memekakkan telinga.
Seketika, langit kembali terang. Kepulan asap menghilang begitupula petir seolah fenomena menakjubkan tadi tidak ada.
"Juby!" seru Rex lantang berlari menuju ke tempat kekasihnya berada yang mulai pulih usai memakan permen ajaib.
Semua anak ikut berlari untuk mencari tahu apa yang terjadi. Beruntung, Ryan dan Laika yang masih bertahan di tempat itu sebagai saksi hidup sudah berada di samping Jubaedah.
Gadis manis itu telah kembali ke wujud manusia sedang tergolek lemah.
"Juby! Juby!" panggil Rex panik langsung memangku kepala kekasihnya.
"Hydra-nya gosong, Rexy ... Juby laper. Baunya kaya sate," jawab Jubaedah seperti orang mengigau.
Praktis, anak-anak terkekeh. Gibson dan lainnya melihat Hydra tersebut sudah kehilangan setengah tubuhnya karena diledakkan oleh Jubaedah.
Namun ternyata, kepala mereka masih terpasang bahkan menjadi 15. Gibson yakin, saat Jubaedah melakukan serangan, tiga kepala Hydra terpenggal dan muncul enam kepala baru.
"Apakah ... memotong kepala Hydra dalam keadaan mati masih bisa disebut menyelesaikan misi?" tanya Pasha penasaran.
"Kita cari tahu," ajak Gibson.
Anak-anak yang belum berhasil menyelesaikan misi mendekati Hydra tersebut. Kapak Minotaur Rangga berhasil diamankan.
Bahkan, pedang Lazarus masih menancap di salah satu kepala Hydra. Laika juga berhasil menyelamatkan pedang Silent Gold milik Mandarin.
Gibson, Pasha dan Vadim berdiri di depan kepala Hydra dengan senjata tajam dalam genggaman tangan mereka.
"Harghhh!" teriak ketiganya bersamaan.
KRASS!!
Tiga kepala itu berhasil terpenggal. Namun, tak muncul portal. Gibson tak menyerah. Ia memberikan senjatanya kepada kawan-kawannya yang belum menyelesaikan misi.
Satu per satu dari mereka menebas kepala Hydra tersebut yang tak lagi muncul cabang karena sudah diyakini mati.
Dan akhirnya, yang dinantikan muncul. Sebuah portal menunjukkan dirinya di hadapan anak-anak itu. Praktis, senyum semua anak merekah.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE