MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
LEVEL TERAKHIR*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


Mata para remaja itu melebar saat melihat sebuah pintu muncul pada dinding di hadapan mereka. Gibson masih memegang kubus itu dan melihat jika pada papan pintu tersebut terdapat sebuah cekungan yang berbentuk seperti kotak yang ia pegang. Gibson menarik napas dalam dan perlahan melangkah mendekati pintu. Semua anak terlihat fokus dan bersiap. Mereka menggenggam kuat Trisula dan tampak waspada akan apapun yang muncul dari balik pintu itu nantinya. Gibson meletakkan kubus itu dalam cekungan dengan hati-hati.


KLEK! NGEKK ....


Mata semua anak menyipit saat pintu tersebut terbuka. Mereka melihat wilayah luas dengan banyak pegunungan dan perairan layaknya kawasan kepulauan. Tempat itu diselimuti kabut yang membuat cahaya matahari seolah tak tampak karena terhalangi. Gibson melihat sekitar dari depan pintu yang terbuka lebar. Ia menyadari jika pintu tersebut membawanya ke wilayah lain karena dibalik gereja tersebut adalah bukit bersalju.


"Kita masuk," ajaknya seraya menoleh.


Semua anak mengangguk siap. Gibson melangkah terlebih dahulu dan disusul lainnya. Anak-anak itu berkumpul di tepi tebing yang curam dan sangat tinggi. Mata mereka memindai sekitar di mana suhu di tempat tersebut seperti wilayah pegunungan, dingin dan sejuk. Terasa embusan semilir angin ketika menyentuh kulit.



"Sangat sepi dan tenang. Kita di mana?" tanya Ryan sampai tubuhnya berputar untuk memastikan keberadaannya.


"Semoga dugaanku salah. Tampaknya, kita akan segera bertemu dengan Leviathan," jawab Gibson dengan wajah serius.


Praktis, mata semua anak melebar. Mereka tampak tegang dan semakin kuat menggenggam senjata. Tiba-tiba, pintu yang membawa mereka masuk tertutup. Semua anak menoleh ketika pintu kayu itu menghilang begitu saja. Namun, mereka tak terkejut atau berkomentar akan hal tersebut. Seolah, hal-hal aneh yang mereka alami di Planet Mitologi sudah wajar terjadi.


Tiba-tiba, Gibson memegang pundak kiri Pasha. Pemuda gemuk asal Rusia itu menatap Gibson lekat ketika sang pemimpin kelompok mengangguk pelan dengan senyuman. Pasha seolah tahu apa yang diinginkan Gibson. Pasha lalu memegang pundak Vadim yang berdiri di sebelahnya. Vadim mengedipkan mata ketika melihat Pasha dan Gibson menatapnya lekat.


"Ah, aku paham," jawabnya dengan wajah lugu.


Semua anak yang melihat gerak-gerik tiga kawan mereka mendekat. Pasha lalu memegang pundak Mandarin dan meminta kepada semua kawan-kawan untuk membentuk lingkaran. Ternyata, Gibson ingin mereka semua memanjatkan doa sebelum menjalankan misi terakhir. Dengan sigap, tangan kanan mereka memegang bahu kiri dari sahabat di sisi. Hingga akhirnya, semua anak sudah saling terjalin dan berpandangan dalam diam.


"Kita harus bekerja keras untuk memenangkan level terakhir ini apapun risikonya. Aku tak sungkan mengorbankan nyawaku lagi agar diantara kita ada yang menang. Jadi, berjuanglah dan jangan menyerah! Kita sudah mati-matian sampai ke titik ini! Kita harus pulang ke Bumi!" seru Gibson lantang penuh semangat.


"Yeah!" jawab anak-anak serempak.


Para manusia dewasa berikut para alien sejenis Oag menyaksikan pelaksanaan misi terakhir dari level 10 permainan Maniac. Oag belum muncul, tapi sang Jenderal yakin jika pemimpin Planet Mitologi itu pasti ikut menyaksikan meski tak diketahui keberadaannya. Sedang Hihi dan kawan-kawannya, ditidurkan kembali dalam tabung sesuai kesepakatan dengan Oag kala itu. Hihi, Bobby, Oscar dan Jimmy yang sudah mendapatkan jawaban dari sang Jenderal, kini menyimpan hal itu dalam tidur mereka.

__ADS_1


"Sesuai kepercayaan masing-masing. Berdoa, mulai!" seru Gibson dan semua anak memejamkan mata.


Mereka larut dalam doa yang dipanjatkan kepada Tuhan masing-masing. Para manusia dewasa ikut berdoa. Mereka berharap agar anak-anak yang tersisa itu mampu memenangkan misi level terakhir, 10. Perlahan, mata para remaja itu terbuka. Tampak wajah serius dari anak-anak itu di mana mereka siap untuk beraksi melawan Leviathan.


Saat semua anak saling memberikan dukungan, tiba-tiba saja terlihat pusaran air di tengah-tengah seperti danau di bawah tebing. Gibson dan lainnya segera mendekati tepian untuk mencari tahu. Benar saja, terdengar suara raungan monster yang sangat besar bagaikan gemuruh badai siap menerjang.


"Semuanya, bersiap!" seru Gibson lantang.


Rex dan lainnya mengangguk mantap. Gibson memberikan kode dengan jarinya membentuk angka empat. Para remaja itu paham dengan isyarat itu. Mereka segera pergi ke berbagai wilayah sesuai strategi yang sudah Gibson rencanakan ketika berkumpul di gua bersalju.


Azumi membantu kawan-kawannya untuk terbang menuju ke titik yang telah ditetapkan. Gadis asal Jepang itu tampak serius meski pusaran air besar terus terbentuk dan perlahan muncul tubuh dari seekor monster di tengah-tengahnya layaknya mulut yang besar dengan gigi-gigi tajam mengerikan.



"Dia mulai menampakkan diri! Semua bersiap!" teriak Gibson lantang.


"Yeah!" jawab semua anak serempak meski sebagian dari mereka belum tiba di titik yang ditentukan karena jarak yang jauh.


Azumi berhasil menempatkan teman-temannya di tiga lokasi. Utara, Timur, dan Barat. Sedang dirinya sendiri masuk dalam kelompok Selatan bersama Gibson. Saat Azumi sedang berusaha untuk mengembalikan energinya lagi karena terkuras untuk menerbangkan teman-temannya, tiba-tiba ....


"GOARRR!!"


"Woah!" pekik Bara sampai ia hampir jatuh dari tepi tebing karena getaran hebat bak gempa bumi.


Anak-anak terlihat waspada dengan mata fokus ke arah pusaran air. Wujud Leviathan mulai menampakkan diri secara perlahan. Ia seperti bangkit dari dalam luapan air setelah tidur sangat lama dan menyadari kedatangan beberapa orang yang mengusik tidurnya. Para kesatria Mitologi dibuat tercengang karena ternyata, sosok Leviathan sungguh besar bak gunung.


"Jangan diam saja! Mulai membidik!" seru Gibson memulai komando.


Anak-anak dengan sigap mengarahkan Trisula mereka ke tubuh Leviathan yang mulai bangkit. Air tumpah dari tubuhnya layaknya hujan deras mengguyur. Gibson sengaja melakukan penyerangan diawal sebelum monster itu terbentuk sempurna. Cahaya kilatan dari Trisula Gibson, ditambah tanduk Unicorn Azumi sebagai kode karena jarak mereka yang berjauhan, dapat ditangkap serta dipahami anggota lain karena sudah dipelajari.


"Serang!" teriak Gibson lantang.

__ADS_1


Seketika, cahaya-cahaya terang dari Trisula masing-masing anak bercahaya terang sesuai dengan karakteristik. Leviathan mengaum kencang saat ia mulai berdiri dan menunjukkan sosok aslinya.


"Heyah!" seru Czar lantang yang mulai menembakkan semacam sengatan listrik dari senjata mirip ujung garpu tersebut.


CRETTT!!


"GOAARRR!!"


Kesembilan belas Trisula mirip senjata Dewa Poseidon menyerang Leviathan bersamaan dari empat penjuru, Utara, Selatan, Timur dan Barat. Monster itu meraung ketika tubuhnya mendapatkan serangan langsung ketika ia baru saja bangkit. Namun ....


"HARRGHH!!"


"Awas!" seru Rex saat melihat dua tangan monster setinggi gunung itu mulai berayun ke arah tim Timur di sisi kanan.


"Menyingkir!" sahut Mandarin saat melihat tangan Leviathan siap untuk menghancurkan tebing tersebut.


BRAKK!!


"Tina!" teriak Timo panik karena adiknya mendapatkan serangan dari monster raksasa itu. Namun, Tina dengan sigap melompat. Mata serigala cantik itu menyala merah saat melihat sosok Leviathan yang sangat dekat dengannya.


"Hap!"


"Dia mulai menyerang! Semuanya, serangan kedua!" seru Harun saat melihat Tina mendarat ke tangan monster itu dan berlari di atasnya.


Leviathan menyadari jika ia mendapatkan serangan susulan. Matanya menyala biru terang dan kini membidik sosok serigala setengah manusia yang siap mencabik wajahnya. Harun, Boas, Lazarus dan Pasha yang masuk dalam kelompok Tina Tim Timur, dengan sigap melakukan serangan tambahan untuk melindungi Tina.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


Walaupun gak ada tips koin tetep semangat! Aye! Jangan lupa tips poin, vocer dan rate bintang 5 bagi yg belum ya. Lele padamu❤️


__ADS_2