MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
RENCANA OAG*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Oag?" panggil sang Jenderal seperti mengetahui rencana dari alien tersebut.


"Aku berubah pikiran. Aku tak akan mengajak anak-anak yang memenangkan misi level 7. Hal itu, akan membongkar rahasia besar permainan ini," tegasnya melirik sang jenderal.


"Jadi ... kau akan ...," ucap lelaki tua itu terlihat ragu.


"Hem, begitulah. Pesawat yang dimodifikasi telah disempurnakan. Kami siap untuk pergi sebentar lagi. Kalian, awasi anak-anak itu. Jangan lengah dan jangan berbelas kasih," tegasnya, dan para cendikiawan itu mengangguk paham.


Oag pergi meninggalkan markas tempat pengendalian permainan Maniac masih dilangsungkan.


Oag pergi bersama tim 'Tentakel Merah' menuju ke sebuah tempat yang dijaga ketat oleh alien sejenis, tapi dengan postur tubuh lebih besar dan terlihat garang.


BLUB! BLUB!


Oag memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh air layaknya akuarium. Dinding-dinding kaca berbentuk persegi itu menyimpan ribuan tabung dengan anak-anak berada di dalamnya.


Tubuh anak-anak itu dipasangi semacam pin besi yang menyala merah di beberapa bagian seperti pelipis kanan dan kiri, lengan kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, paha kanan dan kiri, punggung kaki kanan dan kiri, dada, tengkuk, dan perut.


Oag bergerak layaknya ubur-ubur saat berada dalam air. Oag mendatangi beberapa tabung lalu menunjuknya. Para petugas di ruangan kendali mengangguk paham.


Tabung-tabung berisi anak-anak yang telah gugur dalam misi sebelumnya, ternyata masih disimpan dalam keadaan utuh tak terluka seperti saat mereka tewas.


Anak-anak itu melayang dalam tabung seperti berada dalam ruangan hampa udara.


"Yang terakhir, dia," tegas Oag menunjuk Jubaedah yang melayang dalam sebuah tabung kaca seperti sedang tertidur.


Oag memilih 7 anak yang telah gugur sebelumnya untuk ikut dengannya dalam misi menuju ke planet para leluhur.


Planet tersebut diyakini adalah tempat kelahiran Oag dan jenisnya sebelum dibawa ke Planet Mitologi.


Tabung-tabung berisi 7 anak pilihan Oag masuk ke dalam lantai yang membawa mereka ke ruangan lain seperti akan dibangunkan.


Sebuah ruangan kering tak ada air menggenang seperti sebelumnya. Tujuh tabung tersebut dijejerkan dan diisi oleh sebuah gas.


Tubuh Jubaedah yang awalnya melayang, perlahan turun dan tergeletak di lantai tabung.


PIP! GREK!


Bagian atas tabung terbuka dan muncullah tangan robot berbentuk seperti capit kepiting masuk ke dalam silinder kaca tersebut.


Tangan-tangan itu mengambil tubuh anak-anak tersebut lalu membaringkan mereka di sebuah papan batu yang sudah disejajarkan dengan rapi.


Oag berjalan mendekat dan berdiri di hadapan tujuh anak manusia yang masih memejamkan mata. Oag mengangguk pelan seperti memberikan kode pada petugas di balik dinding kaca.


Seketika, tangan layaknya capit dari besi itu mengeluarkan sebuah jarum pada bagian tengah dan menusuk leher anak-anak tersebut.


Terlihat selang dengan cairan warna biru mengalir dan masuk ke lapisan kulit lalu menjalar terbawa darah memasuki jaringan tubuh para remaja itu.


Tiba-tiba, "Hah! Hah!" kejut Jubaedah dengan mata langsung terbuka.


Gadis itu melihat sekitar dan terkejut ketika mendapati sosok manusia lain yang pernah dijumpainya.

__ADS_1


"Woah!" teriak seorang anak lelaki yang langsung duduk begitu membuka mata.


"Ji-Jimmy?" panggil Jubaedah dengan kening berkerut saat ia duduk di atas papan batu dengan dua tangan menopang.


"Juby?" panggil Tina yang membuat Jubaedah langsung menoleh dengan mata melotot.


"Oh! Apa yang terjadi? Apa ... aku dihidupkan kembali?" sahut Pasha yang melihat tangannya dipasangi pin besi.


Anak-anak yang sudah saling mengenal itu tampak kebingungan. Terlebih, mereka yakin jika telah mati sebelumnya.


"Hei!" panggil seorang gadis kecil dengan senyum manis melambaikan tangan dari tempatnya duduk. Kening Jubaedah dan ketiga kawannya berkerut. "Mengenaliku? Aku Hihi," ucapnya yang membuat mulut Pasha langsung menganga lebar.


"Ya! Aku ingat! Dia Hihi! Oh, kau ... kau ... masih hidup?" tanya Pasha menunjuk dengan mata melotot.


"Seingatku sudah tewas. Bukankah ... kalian juga ada di sana waktu itu?" tanya Hihi dengan wajah lugunya.


"Ya, aku ingat jika leherku digigit serigala. Harusnya ... aku tewas. Lalu ... kenapa aku merasa seperti hidup? Ini sungguh aneh," ucap Tina terlihat bingung. Hingga akhirnya, mata Tina melebar saat mengenali sosok lain di dekatnya. "Kalian? Bukankah ... kau Bobby dan kau Oscar?" tanya Tina saat ia menoleh dan mendapati dua kawan lamanya saat satu tim dulu.


"Tina? Ya, ini kami. Apa yang terjadi pada kita?" tanya Bobby seraya melihat sekitar.


"Seingatku terakhir kali, kita menjadi patung di hutan jamur," sahut Oscar dan diangguki Bobby.


Saat semua anak terlihat kebingungan, ditambah pin besi yang menempel pada tubuh mereka tak bisa dilepas, tiba-tiba saja ....


"AAAA!" teriak Hihi dan semua anak ikut histeris ketika sosok Oag muncul di hadapan mereka.


Praktis, semua anak langsung beranjak dari papan batu lalu berkumpul karena ketakutan memepetkan diri ke dinding.


Oag yang ternyata bisa membuat dirinya seperti tak terlihat layaknya hewan yang berkamuflase, terlihat tenang saat memandangi anak-anak saksama.


"Ka-kau Oag bukan?" tanya Jubaedah menunjuk, dan alien bertentakel itu mengangguk.


"Akan kujelaskan nanti usai kita menyelesaikan misi untuk menuju ke sebuah planet dan mencari tahu kebenaran atas masa lalu leluhurku," jawab Oag yang membuat kening anak-anak berkerut.


"Kau siapa? Kau bisa bicara," tanya Oscar bingung.


"Namaku Oag. Aku pencipta permainan Maniac. Aku yang membawa seluruh anak-anak di Bumi kemari untuk menjalankan misi hingga 10 level. Namun, kalian adalah anak-anak yang telah gugur sebelum misi itu rampung dilakukan. Hanya saja, aku berbaik hati untuk menghidupkan kalian agar bisa berpetualang lagi," jawab Oag yang membuat anak-anak terdiam.


Namun, Bobby terlihat marah. Ia melangkah dengan gusar mendatangi Oag. Namun tiba-tiba, "Agh!"


"Bobby!" panggil Oscar panik saat tiba-tiba saja langkah Bobby terhenti ketika Oag mengulurkan tangannya dan membuat Bobby tak bisa bergerak.


Wajah Bobby menegang dan ia langsung jatuh berlutut di hadapan Oag seperti raganya dikendalikan. Jubaedah dan lainnya hanya bisa berdiri diam terlihat tegang.


"Jangan kacaukan kesempatan yang sudah kuberikan, Anak manusia. Atau, aku tak segan melenyapkanmu untuk selamanya dan tak ada kebangkitan untuk kedua kali. Kau paham, Bobby?" tanya Oag melotot tajam tepat di wajah lelaki gemuk itu.


Bobby mengangguk dengan wajah tegang terlihat ketakutan. Jubaedah dan lainnya menelan ludah tak berani berkomentar.


"Jadi, dengar baik-baik," ucap Oag serius. Semua anak diam menyimak. "Aku sengaja membangkitkan kalian untuk ikut misi denganku. Tak ada penolakan, ini perintah," tegasnya.


Namun perlahan, tangan Hihi terangkat ke atas. Oag melirik gadis kecil itu dan mengangguk pelan.


"Kita mau ke mana?" tanya Hihi gugup.

__ADS_1


"Ke planet leluhurku. Aku ingin memastikan jika planet itu sungguh ada dan jenisku memang bermukim di tempat itu. Kita akan berangkat besok. Semua hal yang kalian butuhkan sudah dipersiapkan. Ikuti instruksi yang diberikan oleh mesin selama kalian berada di ruangan ini. Semua aktifitas kalian kami pantau. Berulah, aku lenyapkan," tegasnya.


Jubaedah dan lainnya mengangguk. Oag tiba-tiba menghilang. Jubaedah dan lainnya kembali terkejut karena sosok Oag yang bagi mereka cukup mengerikan karena seperti campuran spesies. Selain itu, makhluk tersebut bisa bicara.


"Hah, uhuk!"


"Bobby! Kau tak apa?" tanya Oscar panik seraya berjalan mendekat.


Bobby langsung berdiri seraya memegangi lehernya yang terasa tercekik karena perbuatan Oag tadi.


"Jadi ... kita bertujuh akan ikut misi Oag ke planet leluhurnya?" tanya Jimmy memastikan, dan anak-anak itu mengangguk.


"Oag tadi bilang kita dibangkitkan. Jangan-jangan, kita memang sudah mati sebelumnya? Wow! Oag memiliki teknologi yang luar biasa," ucap Tina dengan wajah berbinar.


"Sepertinya ... mimpimu kala itu benar, Juby," ucap Pasha, dan Jubaedah mengangguk mantap.


"Sayangnya, kawan-kawan kita tak tahu. Jika mereka tahu, pasti gak akan sedih. Juby jadi kasihan sama Rex," ucap Jubaedah dan orang-orang yang mengenal sosok Rex hanya bisa diam.


"Hem, baiklah. Mengingat pertemuan kita dulu tak berjalan bagus, bagaimana jika berkenalan ulang? Aku Bobby dan dia Oscar," ucap Bobby memperkenalkan dirinya.


Satu per satu anak-anak itu menyambut jabat tangan itu dengan senyuman.


"Aku Hihi, tapi nama asliku Serenity. Hanya saja, keluargaku memanggil Eren. Namun, semenjak di Planet Mitologi, aku lebih suka dipanggil Hihi, namanya lucu. Jadi, panggil Hihi saja ya," pintanya dengan senyum manis. Semua anak balas tersenyum dengan anggukan. "Lalu ... aku tinggal di Perancis. Salam kenal," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ternyata, saat kau tidak dalam wujud peri, kau sangat manis Hihi," puji Tina, dan Hihi tersipu malu.


Anak-anak itu mulai mengakrabkan diri selama dikurung dalam sebuah ruangan. Mereka saling bercerita tentang bagaimana mereka tewas saat di Planet Mitologi.


Jubaedah yang sudah sampai ke level 7 antusias bercerita. Hal itu, membuat anak-anak lain yang mendengar ikut bersemangat sampai mata mereka melotot.


"Kalian sungguh keren! Cerberus? Woah ... aku penasaran bagaimana hasil akhirnya!" seru Jimmy seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang.


"Aku tak menyangka jika musuh yang harus kalian hadapi di tiap level sangat mengerikan! Namun kuakui, kalian tim yang hebat. Agh, aku sangat menyesal sudah bersikap egois kala itu. Jika saja kuikuti saran Tina, pasti kita semua bisa bertahan sampai ke level terakhir karena saling bahu-membahu," ungkap Bobby.


"Penyesalan emang selalu dateng terlambat, Bob. Tapi gak papa. Namanya juga manusia. Yang penting jangan diulang lagi. Sikap egois itu merugikan diri sendiri dan orang lain," sahut Jubaedah.


"Hem, kau benar. Terima kasih sudah memaafkan sikap kami yang menyebalkan," imbuh Oscar, dan tim Jubaedah dulu mengangguk dengan senyuman.


PIP!


"Woah! Ada makanan!" seru Pasha langsung melebarkan mata ketika melihat sebuah papan besi panjang layaknya meja prasmanan muncul dari dinding berisi banyak makanan.


"Yey! Makan!" seru Jubaedah gembira.


Semua anak bergegas mendatangi meja panjang berisi banyak makanan tersebut. Tiba-tiba, muncul sebuah kursi dari bawah meja papan yang bisa melayang berbentuk seperti jamur dengan bantalan atas yang empuk.


Hihi tampak menyukainya. Anak-anak merasa, Hihi seorang gadis yang periang. Selain itu, dia cantik dan sikapnya manis menggemaskan.


"I-ih, kamu ngegemesin banget deh," ucap Jubaedah seraya mencolek dagu Hihi di mana matanya berwarna biru seperti lautan.


"Terima kasih, Kak Juby," ucap Hihi tersipu malu. Semua anak terkekeh melihat keluguan gadis asal Perancis itu.


__ADS_1


***


masih eps bonus dari tips audio book ya. lele padamu❤️ ini lele belom ketemu nama asli si cewek imud😍 tapi yg jelas dia model asal Rusia. gemesin ya💋


__ADS_2