
Baca eps sebelumnya dulu sebelum baca eps ini karena lele kasih tambahan cerita. Tengkiyuw lele padamu❤️
---- back to Story :
Markas Oag.
"Simpan kartu-kartu mereka," perintah makhluk bertentakel selaku pemimpin dari permainan 'Maniac' seraya melihat ke genangan air di hadapannya.
Oag tampak menikmati penampilan dari anak-anak manusia Bumi yang sedang menyaksikan kawan-kawan mereka berubah wujud.
"Yes, Oag."
Di sisi lain.
Jubaedah terlihat begitu bersemangat. Ia langsung berlari dengan riang menuju ke portal tanpa ada keraguan di wajahnya. Namun, saat gadis itu memasuki portal, tiba-tiba saja ....
"Ada apa?" tanya Oag terlihat bingung ketika melihat portal yang dimasuki oleh Jubaedah berubah warna menjadi biru di mana warna sebelumnya adalah merah.
"Oag, sepertinya ada kesalahan dalam sistem dan juga mesin pada portal. Kartu-kartu makhluk Mitologi kita bergerak tak beraturan dan kini bercampur dengan data anak-anak di seluruh dunia yang tersebar di beberapa penjuru planet," jawab operator bertentakel dengan corak biru. Praktis, mata Oag melebar.
Di tempat Jubaedah dan kawan-kawannya berada.
Anak-anak itu juga merasakan kejanggalan yang sama. Portal itu mengeluarkan percikan api seperti konsleting.
Tentu saja, Rex panik dan terus meneriakkan nama Jubaedah karena kekasihnya belum juga muncul dari sisi portal.
"Juby! Juby!" teriak Rex dengan pandangan tak menentu saat tak mendapati kekasihnya berada di sisi lain tempat ia tadi mendapatkan wujud Mitologinya.
"Juby! Kau di mana?" tanya Tina ikut panik, dan kini semua anak mendatangi portal terlihat cemas.
Namun tiba-tiba, terlihat sosok lain muncul dari dalam portal yang membuat mata semua anak melebar seketika.
"Ka-kamu siapa?" tanya Gibson menunjuk sosok pria berwajah rupawan yang tiba-tiba muncul dari portal seraya membuka kemeja dan memperlihatkan otot perutnya yang menawan.
"Oh! Kau bisa bicara bahasa Indonesia. Hei, perkenalkan, aku Boas, Australia," jawabnya seraya mengajak berjabat tangan, dan tiba-tiba saja portal itu lenyap.
"Juby! Juby!" seru Rex panik dengan mata melotot karena kekasihnya tak muncul dari lubang portal.
__ADS_1
GRAB!
"Hei! Apa-apaan kau ini?!" pekik pria itu kesal karena kemejanya dicengkeram kuat hingga tubuh mereka berdua terpepet.
"Di mana Juby?!" tanya Rex memekik.
Namun, pemuda itu ikut marah. Ia melepaskan cengkeraman kedua tangan Rex dibajunya lalu mendorongnya kuat hingga pemuda Asia itu hampir jatuh.
Gibson dan lainnya mendekati Rex karena merasa keduanya akan berkelahi.
"Eh, denger ya. Aku gak tau siapa yang kamu panggil Juby itu. Boas aja gak ngerti kenapa bisa sampai di tempat ini. Aku menyelesaikan misi dan bertemu portal untuk mendapatkan hadiah, tapi ... apa yang kudapat? Aku masuk ke sebuah tempat dan bertemu dengan banyak anak lainnya yang tak kukenal. Malah, aku dituduh sesuatu yang tak kumengerti. Dan kalian tahu yang membuatku kesal? Hem?" tanyanya bertolak pinggang. Semua anak diam menyimak. "Aku tak mendapatkan hadiahku! Apa kalian tahu, betapa sulitnya mengalahkan Medusa? Semua kawanku mati dan tinggal aku seorang diri! Kalian dengar itu? Seorang diri!" serunya lantang terlihat marah, tapi seperti akan menangis.
Semua anak yang mendengar kisah pemuda bernama Boas ikut sedih. Namun, Lazarus menyadari sesuatu.
"Hei, dengar. Aku rasa, ada yang janggal di sini," ucapnya seraya mendekati Boas dan Rex yang berselisih.
"Apa itu, Zar?" tanya Rangga ikut merapat.
"Jika Boas di sini, kemungkinan besar, Juby ada di tempat Boas berada tadinya. Mereka seperti ...."
"Bertukar tempat!" seru Pasha lantang, dan Lazarus menunjuk remaja gemuk itu dengan anggukan membenarkan.
"Di mana tempatmu berada sebelumnya? Tunjukkan pada kami," tanya Rex menatap Boas tajam, tapi pemuda itu terlihat enggan memberitahu.
Rex terlihat begitu marah hingga kedua tangannya mengepal. Tiba-tiba, BUAK!
"REX!" seru anak-anak karena kekasih Jubaedah meluncurkan pukulan dengan kepalan tangan kanan ke wajah tampan pemuda yang baru dijumpainya itu.
Boas terhuyung dan hampir jatuh, tapi dengan sigap ditangkap oleh Kenta dengan Azumi berdiri di sampingnya.
"Rexy, sabar. Tenangkan dirimu. Bukan begitu caranya meminta suatu hal pada seseorang," ucap Azumi menasehati, tapi Rex masih terlihat marah.
"Juby sendirian di luar sana, Zumi! Rex udah janji sama orang tua Juby buat lindungin dia! Rex udah janji!" jawabnya dengan mata berkaca seperti akan menangis.
Bara dan Rangga dengan sigap mendatangi Rex lalu mengajak pemuda itu untuk menjauh agar menangkan hatinya yang sedang kalut.
Gibson dan lainnya mengangguk paham. Rangga membawa Rex masuk ke dalam markas Minotaur dan mengajaknya duduk di sebuah bangku kayu mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Bara tahu jika Rex mencemaskan keadaan Jubaedah yang kini keberadaannya tak diketahui. Rangga melepaskan dasi pramukanya dan memberikan pada Rex untuk menghapus air mata serta ingusnya.
"Ambil aja dasi itu. Anggap aja kenangan dari Rangga," ucap remaja berkulit cokelat saat melihat ingus Rex sudah melekat bagaikan lem di dasinya. Bara menahan senyum karena Rangga terlihat jijik dengan hal itu.
Sedang di tempat Jubaedah berada.
Gadis itu menelan ludah saat ia menyadari sedang duduk di sebuah sarang berukuran besar dan ada pecahan telur di sekitarnya.
Jubaedah melihat sekeliling terlihat gugup karena ia tak tahu sedang berada di mana. Namun seketika, matanya terhenti saat mendapati seekor hewan lucu sedang memakan buah di dahan pohon.
"Lucu banget sih," ucapnya gemas, tapi akhirnya ia menyadari sesuatu. "Kok kamu bentuknya kaya bayi naga ya?" sambungnya dengan kening berkerut.
Benar saja, DUK!
Tubuh Jubaedah mematung seketika saat ia merasakan sebuah langkah kaki besar seperti berjalan mendekatinya dari belakang.
Jantung gadis manis itu berdebar kencang dengan tubuh mulai gemetaran saat ia melihat naga mungil itu menjatuhkan buah yang dimakannya lalu terbang meninggalkan pohon seperti menuju ke suatu tempat melewati Jubaedah meski laju terbangnya belom stabil.
"Ja-jangan bilang kalo di belakang Juby ada emak naga," ucapnya dengan wajah pucat karena ia bisa merasakan embusan napas di belakang punggung yang menyebabkan kulitnya merinding.
Jubaedah merasakan rambut panjangnya seperti diendus. Jubaedah memejamkan matanya rapat dengan posisi duduk pasrah seraya membungkam mulutnya rapat karena ia mulai menangis karena takut.
Namun, tiba-tiba ....
SLUP!
Mata Jubaedah melebar seketika. Ia merasakan jika tubuhnya dijilati oleh hewan bertubuh besar tersebut.
Jubaedah bingung ketika para naga kecil seperti naga pemakan buah yang dilihatnya mendatangi lalu mengerubunginya.
"Eh? Hahaha! Geli tau, stop!" teriak Jubaedah malah tertawa cekikikan karena dijilati oleh naga-naga kecil itu dan membuat tubuhnya terlentang di atas sangkar. "Oh, my bokap," ucapnya dengan mata melebar saat melihat induk naga yang wajahnya kini terlihat jelas di matanya. Jubaedah diam seketika.
***
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : GOOGLE