
Gibson memimpin kawan-kawannya memasuki gua. Namun, ada yang aneh. Bangkai dari para vampir yang tewas tidak ada di lokasi kejadian. Tentu saja, hal ini menimbulkan kejanggalan bagi anak-anak yang berada di tempat tragedi.
"Sungguh aneh! Hal ini terjadi lagi! Ingat saat di markas Minotaur hingga menyebabkan Hihi tewas? Para makhluk banteng itu tiba-tiba saja menghilang tak berjejak!" seru Nicolas teringat kejadian silam.
"Itu benar. Oh! Apa jangan-jangan, yang terjadi pada kawan-kawan kita sebelumnya juga begitu? Mungkin saja Oag memiliki jasa pembersih mayat!" sahut Harun mengutarakan pemikirannya, tapi anak-anak lain menanggapi dengan kedipan mata seperti bingung.
"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang tugas kita adalah, menangkap para vampir dan menyelesaikan misi. Kita sudah tak memiliki cukup tali. Jadi, cara kita membawanya dengan daun es milik Harun," terang Gibson. "Harun, kau masih memilikinya?" tanya Gibson menunjuk. Harun mengangguk cepat. "Bagus. Sekarang, kau bagikan daun es itu ke tiap anak sebagai antisipasi jika kita terpisah seperti kejadian menangkap para penyihir," titah Gibson.
Harun dengan sigap memberikan daun es ke masing-masing anak. Ternyata, daun yang ia berikan adalah stok terakhir dan sudah tak tersisa lagi.
"Habis?" tanya Vadim dan Harun mengangguk dengan wajah tegang.
"Kalau begitu, harus kita manfaatkan dengan baik. Ingat, kita harus menyelesaikan misi. Jangan egois. Siapa pun yang berhasil membekukan, jika dirasa tak bisa membawa vampir itu, berikan kepada anggota yang lain. Kita semua pasti akan mendapatkan buruan, jangan takut tak bisa menyelesaikan misi. Kita akan saling membantu agar tak ada satu pun dari kita yang tertinggal. Kalian mengerti?" tegas Gibson.
"Hem!" jawab semua anak mantap.
Rocky merasa tersindir, tapi ia tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Kali ini, ia akan rela memberikan vampir itu kepada kawan lainnya jika hal mendesak membuatnya tak bisa membawa buruannya.
"Buat kelompok. Satu tim tiga orang. Buat formasi seperti lingkaran. Jadi, mata kita ada di semua sisi. Hal ini memberikan peluang besar bagi kita agar tak mendapati titik buta saat diserang," tegasnya lagi seraya terus berjalan menyusuri lorong.
"Titik buta? Apa itu?" tanya Tina bingung.
"Area atau dalam hal ini anggota tubuh yang tak bisa kita jangkau. Seperti punggung. Kita tak memiliki mata di punggung. Oleh karena itu, kita membentuk lingkaran. Seolah-olah, mata kita ada 6, jadi kita bisa melihat semua sudut," ucap Mandarin menjelaskan.
"Woah, aku baru memahaminya. Ide yang bagus. Apakah ayahmu yang mengajari hal itu?" tanya Azumi kagum menatap Gibson saksama.
"Hem, begitulah. Ibuku juga mengajarkan demikian. Hanya saja, ibuku lebih kejam saat memberikan pelatihan. Jadi, aku lebih senang berlatih bersama ayahku ketimbang ibuku. Jika sedang marah, ibuku sama menyeramkannya dengan para vampir ini," jawab Gibson berbisik.
"Hahaha!" tawa Pasha menggelegar dan menggema dalam gua.
Praktis, semua anak terkejut. Mulut Pasha dibungkam oleh Lazarus. Semua anak tampak panik ketika mereka mulai memasuki ruangan besar seperti yang pernah dilewati oleh tim sebelumnya.
"Di mana para vampir itu? Apakah ... mereka mengungsi?" tanya Ryan bingung karena tak mendapati satu vampir pun.
"Seingatku, mereka bergelantungan di langit-langit gua. Seperti kelelawar," ucap Czar seraya mendongak.
Semua anak melihat sekitar, tapi gua itu kosong.
"Coba gunakan kompas," pinta Timo dan Vadim dengan sigap menggunakan kompas miliknya.
Sungguh aneh, jarum kompas itu berputar-putar seolah-olah mengatakan jika para vampir itu berada di sekitar mereka. Hanya saja, sosoknya tak terlihat.
"Jangan-jangan, mereka berkamuflase? Atau mungkin, mereka bersembunyi dan mengintai kita. Ini gawat! Kita seperti disergap!" ucap Kenta yang membuat panik semua anak.
"Jangan gegabah. Sebaiknya, kita tetap jalan saja. Jika benar mereka mengintai kita, pasti mereka sedang merencanakan sesuatu karena tak berani menyerang. Mungkin, hal buruk yang terjadi pada mereka waktu itu karena serangan Kenta, membuat para vampir lebih waspada," tegas Gibson.
"Wah, vampirnya cerdik banget. Kalau gitu, akan sulit nangkap mereka karena sembunyi," sahut Bara.
"Gimana kalau kita pancing mereka?" tanya Rangga menawarkan.
"Pancing pakai apa?" tanya Azumi bingung.
Tiba-tiba, Rangga sengaja menggores punggung tangannya dengan kapak Minotaur. Praktis, semua anak terkejut ketika kawan mereka juga merubah diri menjadi manusia.
__ADS_1
"Kau gila!" pekik Bara, tapi Rangga hanya tersenyum lebar.
"Hei, kalian dengar itu?" ucap Tina dengan telinga serigala bergerak seperti mendapati tangkapan suara. Benar saja.
"Mereka datang!" seru Laika lantang menunjuk di mana hanya Kenta, Timo, Rangga dan dirinya yang tak berubah wujud menjadi makhluk Mitologi. "Semua pejamkan mata!" seru Laika lantang yang terlihat siap untuk berubah menjadi Medusa.
"Semua tiarap!" seru Boas.
Serempak, anak-anak langsung menjatuhkan diri ke lantai gua. Laika berubah menjadi Medusa. Praktis, para vampir itu terkejut dan berusaha terbang menghindar.
"Medusa!" teriak Laika lantang saat ia mengeluarkan kekuatannya untuk merubah para vampir tersebut menjadi batu.
Seketika, para vampir yang tak siap dengan tatapan mematikan gadis itu perlahan berubah menjadi batu. Laika menghitung jumlah vampir yang berhasil dilumpuhkannya saat jatuh satu per satu di lantai gua.
"Laika! Sudah belum?" tanya Boas masih memejamkan matanya rapat takut terkena dampak.
"Kurang tiga lagi, mereka kabur!" jawab Laika lantang yang berdiri tegap diantara kumpulan kawan-kawan.
Para vampir yang menyadari kekuatan Laika langsung terbang menjauh. Namun tiba-tiba, muncul sosok vampir dengan wujud yang berbeda.
Mata Laika melebar dan menyorot tajam sosok itu. Namun, hal aneh membuatnya tak bisa membekukan vampir tersebut karena ia terbang membelakangi dirinya.
"Vampir yang diceritakan Tina muncul! Dia mendekat!" seru Laika panik karena vampir itu tak bisa dijatuhkannya.
"Rubah dia jadi batu!" seru Lazarus.
"Tidak bisa! Dia sepertinya tahu! Dia terbang membelakangiku!" jawab Laika yang kini menggeser langkahnya mengikuti pergerakan dari vampir tersebut yang terbang dengan cara berlindung di celah-celah gua.
Laika kesal karena vampir itu membuat para vampir lainnya kembali datang. Laika yang mengincar vampir tersebut, mulai kesulitan membidik karena vampir lainnya juga melakukan hal yang sama.
"Biar kami yang selesaikan! Berubahlah!" pinta Czar.
Saat Laika akan merubah dirinya, tiba-tiba saja, KREK ... KRAK ....
"Oh! Oh!" kejut Laika dengan suara terbata.
Czar memberanikan diri untuk membuka mata. Seketika, matanya melebar.
"LAIKA!" teriak Czar lantang dan langsung bangkit dengan wujud Griffin-nya.
Anak-anak lainnya ikut membuka mata dan terkejut melihat yang terjadi pada kawan wanita asal Rusia itu. Tubuh Laika perlahan mengeras menjadi batu.
Vampir dengan sosok yang berbeda itu membawa sebuah cermin yang menutup wajah mereka, begitupula vampir lainnya saat membalik tubuh.
Laika yang berwujud Medusa, tak mampu menangkal kekuatannya sendiri saat matanya menatap pantulan dirinya dari cermin. Praktis, Laika perlahan berubah menjadi batu.
"Laika!" teriak anak-anak yang lain saat mereka tak tahu harus melakukan apa ketika tubuh Laika membatu mulai dari kepala dan perlahan turun sampai ke kaki.
"TIDAKKK!" teriak Czar dengan air mata tumpah saat melihat kawan wanitanya berubah menjadi batu seutuhnya. "Aargghhh!"
Azumi dan lainnya menangis. Namun, beberapa pemuda mampu menahan tangisan mereka.
"Demi Laika!" seru Rangga marah dan mengarahkan kapak Minotaur-nya ke para vampir yang terkekeh karena berhasil melumpuhkan salah satu anggota dari kelompok anak-anak itu.
__ADS_1
"Serang!" seru Lazarus ikut murka dengan tubuh Centaur.
Nicolas menunggangi punggung kuda Lazarus seraya melesatkan anak panah ajaibnya ke para vampir yang mulai menyerang.
"Harghhh!" erang para vampir saat mereka melemparkan cermin-cermin tersebut ke lantai gua hingga pecahannya memenuhi seluruh tempat.
Di luar gua.
"Oh! Kaudengar itu, Rex?" tanya Jubaedah saat mendengar suara teriakan dan pecahan kaca di dalam gua.
"Ya. Jangan-jangan, hal buruk terjadi," jawab Rex ikut panik.
Saat keduanya memutuskan untuk ikut masuk ke dalam, tiba-tiba saja, matahari perlahan mulai tenggelam dan malam kembali datang.
"Hah?! Cepet amat malamnya! Seharusnya ini masih siang!" seru Jubaedah panik.
"Ini gawat. Kita harus segera kembali ke gua. Aku rasa, para vampir itu takut dengan gua kita karena ada kolam beracun di sana," ucap Rex menduga.
"Bisa jadi. Kalau begitu, ayo!" ajak Jubaedah, dan Rex mengangguk.
Rex berubah menjadi manusia karena tubuh naganya tak muat untuk menyusuri lorong.
Saat mereka akan masuk ke lorong gua, tiba-tiba, "Juby awas!" seru Rex ketika melihat sekumpulan vampir keluar dari gua yang lain di sisi lain gunung. Praktis, keduanya panik.
"Rex! Kita harus berubah agar tetap hidup! Ingat kata Tina? Mereka tak bisa menghisap darah kita jika menjadi makhluk Mitologi!" seru Jubaedah.
Rex mengangguk paham. Dengan sigap, mereka berdua menjadi makhluk Mitologi.
"Juby! Gunakan kekuatanmu! Jangan sampai Rex sengaja nampar kamu untuk ngusir mereka!" seru Rex yang bersiap dengan tubuh naganya.
"Juby gak bisa kalau gak dipancing. Juby suruh ngapain?!" tanyanya malah panik.
"Nangis! Nangis!" seru Rex dengan mata melotot karena para vampir kini mengetahui keberadaan mereka.
"Juby nangis karena apa? Harus ada alesannya!" jawab Jubaedah kebingungan.
Rex gemas bukan main dengan kekasihnya. Pemuda itu serba salah. Jika melakukan hal kasar lagi, bisa-bisa dia gagal menjadi calon suami gadis manis itu saat dewasa nanti.
Rex yang tak pernah berpacaran sebelumnya dan dianggap cupu oleh anak-anak seusianya, merasa beruntung karena bertemu dengan Jubaedah. Hanya gadis itu yang mau berteman dengannya saat semua anak menjauhinya.
Tiba-tiba saja, Rex mengaum.
"Goarrr!"
"Woah! Apa itu?!" pekik Jubaedah saat mulut naga Rex mengeluarkan gumpalan asap berwarna hijau. Praktis, para vampir yang terkena gas itu seperti tercekik. Mereka terbang tanpa arah dan tiba-tiba saja jatuh. Para vampir itu seperti terkena racun karena menggelepar dan terlihat kesakitan memegangi leher. "Rexy keren!" seru Jubaedah kagum, tapi Rex malah bingung.
"Aku tak menyangka jika memiliki kekuatan seperti itu. Kenapa tak kugunakan dari dulu? Kukira hanya menjadi naga saja," ucap Rex terheran-heran dengan dirinya.
"Kita harus kasih tahu yang lain kalau kita berhasil menjatuhkan banyak vampir. Ayo!" ajak Jubaedah dan Rex mengangguk.
Rex kembali berubah menjadi manusia, meski ia jadi batuk-batuk.
***
__ADS_1
uhuy mau pamer tips koin dari tante bee😍 hadiah ultah buat lele🎉 makasih bee sering-sering ya. kwkwkw😆