
Benar saja. Tiga remaja lelaki itu terhipnotis oleh kobaran api yang muncul dari tubuh kuda tersebut.
Tiga makhluk penyimpan cadangan jiwa mulai panik saat kuda tersebut akhirnya menyadari jika dirinya sedang diamati oleh anak-anak manusia.
Kuda itu melangkah perlahan mendekati semak. Tiga makhluk lucu itu langsung melompat dan menghindar agar tak terkena panas dari api yang membara seperti tak bisa padam.
Kuda itu menatap tiga anak manusia tersebut saksama. Seketika, pikiran anak-anak itu seperti dikendalikan. Nicolas, Mandarin dan Vadim berdiri perlahan dengan pandangan kosong.
Mereka mengikuti kuda api itu yang berjalan menyusuri tepian sungai. Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa seperti ketakutan akan sesuatu.
Mereka mengikuti tiga anak manusia itu dengan terus mengeluarkan suara seperti mencoba menyadarkan dari pengaruh hipnotis kuda api. Namun sepertinya, usaha mereka gagal.
Kuda itu ternyata membawa tiga anak menjauh dari hutan berkabut merah ke sebuah tempat yang dipenuhi oleh perbukitan berbatu dan terlihat gersang.
Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa terus mengikuti anak-anak manusia itu yang berjalan dengan langkah gontai seperti kehilangan ruhnya.
Hingga mereka tiba ke sebuah terowongan yang memancarkan cahaya berkilau.
Kuda itu lalu menghentikan langkah lalu menggerakkan kepalanya. Nicolas, Vadim dan Mandarin melangkah masuk ke dalam terowongan begitu saja seperti diperintahkan.
"Didi! Didi!" panggil hewan milik Vadim yang melompat-lompat terlihat panik akan sesuatu ketika majikannya melangkah masuk.
Benar saja, saat tiga anak itu sudah berada di ujung terowongan, tiba-tiba ....
"AAAAA!"
"Co-co!" lengking hewan milik Nicolas langsung berlari memasuki terowongan mengejar tuannya yang melompat ke sebuah tempat tak dikenal.
Vadim, Mandarin dan Nicolas terlepas dari pengaruh hipnotis. Namun, saat pikiran mereka kembali, tiga anak itu baru sadar jika jatuh ke sebuah tempat gelap yang tak terlihat dasarnya.
"AAAAA!" teriak ketiganya histeris dengan mata melotot dan rasa takut menggerogoti hati.
Hingga akhirnya, udara dingin mulai dirasakan tiga pemuda itu saat masih terjun ke sebuah lubang besar dan tak terlihat dinding di kanan kirinya.
Ketiganya menggigil seketika karena perubahan suhu yang cukup ekstrim tanpa mereka ketahui penyebabnya.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, SRAKKK!!!
"AAAAA!" teriak anak-anak itu untuk kesekian kalinya ketika tempat gelap yang terasa luas, tiba-tiba menyempit dengan dinding berupa es mengenai tubuh mereka.
"Argh! Dingin! Basah!" teriak Nicolas ketika tubuhnya terhimpit dinding es yang licin dan terus meluncur lurus ke sebuah tempat dengan warna putih layaknya wilayah bersalju.
"AAAAA!"
BRUKK!! BRUKK!! BRUKK!!
"Didi!"
"Aww!" rintih Vadim saat hewan penyimpan cadangan jiwanya jatuh menimpa punggung karena ia jatuh tengkurap. "Aw! Aw!" erangnya lagi saat dua hewan lainnya ikut mendarat di tubuh empuknya.
"Huwah! Dingin!" seru Mandarin langsung bangun saat ia jatuh pada sebuah tumpukan salju hingga seluruh tubuhnya menggigil kedinginan.
"Hah! Hah! Ini di mana?!" tanya Nicolas ikut bangun dengan tubuh gemetaran melihat sekitar.
"Aku benci salju," keluh Nicolas karena tempat dingin itu mengingatkannya saat bersama Harun dulu.
"Ki-kita harus terus bergerak, jika tidak, hah ... hah, kita akan mati membeku," ucap Mandarin dengan suara gemetar dan diangguki dua kawannya.
Vadim memeluk hewan penyimpan cadangan jiwa untuk menghangatkan tubuh termasuk dua kawan lelakinya.
Mereka berjalan dengan gemetaran melawan hawa dingin agar tak mati terkena hipotermia.
"Ji-jika kalian menemukan gua atau tempat hangat lainnya, se-segera beritahu," ucap Vadim yang merasa tempat itu dengan cepat membekukannya.
Nicolas dan Mandarin mengangguk dengan wajah kaku. Lama mereka berjalan hingga kegelapan kembali datang dan membuat tempat itu makin mencekam.
"Hah, hah, entah hanya perasaanku saja atau ... tempat ini sangat luas? Aku merasa kita tersesat atau semacamnya," ucap Nicolas yang pada akhirnya roboh karena kakinya terasa sakit dan ngilu akibat dingin mengusik.
BRUK! BRUK!
Tiga anak itu ambruk di atas tumpukan salju dan terlentang menatap langit yang bercahaya gemerlap.
__ADS_1
Bulan terlihat begitu besar dengan kilau seperti taburan bintang memenuhi angkasa.
"Hah ... hah ... indah sekali ... apakah ... aku akan mati?" tanya Mandarin pasrah dengan napas tersengal karena tak mampu melanjutkan perjalanan.
Ternyata, dua kawan lainnya juga demikian. Perlahan, mata ketiganya terpejam seperti akan tertidur.
Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa seperti tak terusik dengan udara dingin itu karena bulu tebal mereka.
Hingga tiba-tiba, terdengar suara seperti bunyi lonceng dengan bayangan melintas di angkasa. Seketika, mata tiga pemuda itu melebar.
Ditambah lengkingan dari tiga hewan penyimpan cadangan jiwa yang melompat-lompat di atas tubuh mereka.
"Hah, hah, i-itu tadi apa?" tanya Vadim membuka matanya perlahan yang terasa berat dan terasa kaku seperti membeku di sekujur tubuh.
"Ho-ho-ho!"
"Oh! Mungkinkah?!" pekik Nicolas langsung melebarkan mata mencoba memastikan penglihatannya lagi.
"Apakah aku berhalusinasi?" tanya Mandarin yang merasa melihat suatu hal layaknya cerita dongeng.
CRING! CRING! CRING!
Seketika, mata tiga remaja itu terbelalak. Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa tampak riang seraya melompat-lompat melihat ke arah langit bercahaya terang itu.
"I-itu ... Santa Claus!" teriak tiga remaja lelaki tersebut dengan suara yang berhasil dikeluarkan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy lele ngetips lagi ah😆 Lumayan buat tambah2 recehan beli perkakas debay, nyicil. Kwkwkw. Ditunggu sedekah tips koinnya LAP sekalian. Lele padamu❤️
__ADS_1