
Mandarin menjelaskan jika Timo salah satu anggota timnya. Rangga dan lainnya pun bernapas lega.
Mereka tak menyangka jika akan diselamatkan. Terlebih, mereka ditolong oleh para remaja yang usianya hampir seumuran.
Timo menggunakan tubuh makhluk Mitologinya sebagai penerang dari dalam air. Mandarin dan kelompok barunya mengikuti pergerakan Timo dalam gelapnya gua hingga mereka bertemu sebuah cahaya di ujung lorong.
Senyum merekah pun terpancar saat mata anak-anak itu terkena silau dari matahari yang ternyata pagi telah menyambut.
"Yey! Kita berhasil!" seru Azumi riang dengan beberapa anak telah menunggu di sebuah gua besar dan kolam melimpah di hadapan mereka.
Air setinggi dada itu tak membuat anak-anak tenggelam. Rangga dan timnya disambut uluran tangan dari anak-anak tak dikenal untuk membantu mereka naik ke tepian gua.
"Terima kasih," ucap Lazarus ketika dua anak bertubuh gemuk membantu menariknya.
"Pasha? Vadim?" panggil L saat ia mengenali dua remaja itu.
"Laikka!" seru keduanya lantang hingga suara mereka menggema di dalam gua.
Vadim dan Pasha langsung memeluk gadis berkulit cokelat yang dipanggil L.
"Kalian tak memelukku?" tanya C bertolak pinggang dengan senyuman.
"Czar!" seru dua remaja bertubuh gemuk itu lagi saat mendapati kawan lain yang mereka kenal.
Vadim dan Pasha melepaskan pelukan Laikka. Mereka bergegas mendatangi C yang terlihat senang karena bertemu orang yang ia kenali.
"Udah saling kenal ya?" tanya Jubaedah seraya mendekat.
"Oh! Kamu bisa bahasa Indonesia campuran!" seru Bara menunjuk.
"Aku emang dari Indonesia. Kamu kayaknya juga deh," sahut Jubaedah menunjuk Bara.
"Ya. Aku dan Rangga dari Pemalang. Jawa Tengah," jawabnya memperkenalkan diri.
"Kamu dari Pemalang? Pindah apa gimana? Maaf, tapi mukamu bule gitu kaya orang Amrik," tanya Rex ikut mendekat.
"Dia bule imitasi," kekeh Bara meledek ketua kelompok pramukanya.
Rangga mendesis dan terlihat kesal. Sedang Jubaedah, Rex dan Bara malah terkekeh.
"Sepertinya, kita ditakdirkan untuk bertemu meski harus terpisah lama. Namun setidaknya, dengan begini, kelompok kita semakin kuat," sahut Kenta dan semua orang mengangguk.
Kini, Ryan memiliki kawan yang sama-sama tak mengerti bahasa Indonesia. Mereka berlima berasal dari Amerika. Meskipun Ryan tinggal di Swiss, tapi ia mengatakan jika lahir di Boston.
Saat suasana hangat menyelimuti hati semua anak, tiba-tiba ....
"Woah! Ada serigala jadi-jadian!" seru Bara menunjuk heboh di bibir gua.
"Itu Tina. Dia adikku," sahut Timo yang kini kembali ke wujud manusia setelah kakinya kering.
"Lah, dia udah gak gondrong lagi," tunjuk Rangga terheran-heran saat rambut panjang berkilau Timo hilang dan menjadi pendek layaknya remaja normal.
Tak lama, wujud Tina berubah menjadi gadis cantik lagi. Semua anak lelaki dibuat terpesona kecuali Timo dan Rex. Dua remaja itu tampak biasa saja.
__ADS_1
"Gawat! Sepertinya, Hihi tertangkap di markas Minotaur. Kita harus menyelamatkannya," ucap Tina serius dan semua anak mengangguk mantap.
Kumpulan anak-anak itu meninggalkan gua dan berjalan beriringan menuju ke markas Minotaur.
Mereka mendatangi pintu utama bangunan tua tersebut. Gibson kembali menjadikan dirinya tameng dan pemimpin kelompok. Lazarus dan lainnya mengikuti di belakang bersama anak lainnya.
"Hei!" panggil Gibson terlihat kesal karena para Minotaur itu membidik mereka dengan senjata tajam siap dihujam.
Semua anak tampak takut, tapi melihat Gibson tak gentar, semangat mereka ikut berkobar.
"Hihi!" panggil Nicolas lantang.
Hihi terlihat ketakutan. Tubuhnya dililit dengan sulur pohon sehingga ia tak bisa terbang. Hihi menjadi sandera mereka. Ia berdiri di samping Minotaur berbulu hitam sembari menangis sedih.
Mata semua anak melotot. Mereka terlihat marah dan cemas dengan kondisi peri malang itu.
"Cari mati ya? Berani-beraninya kalian menangkap kawan kami. Lepaskan dia!" teriak Gibson marah dengan dua tangan mengepal di samping paha.
"Akan kami lepaskan, asalkan kalian ikut berperang bersama kami melawan Oag," jawab Minotaur yang dirasa adalah pemimpin mereka.
Gibson terlihat kesal dengan para banteng itu. Ia memejamkan mata sejenak seraya menghembuskan napas panjang.
"Jawab semua pertanyaanku," tegas Gibson dan Minotaur itu mengangguk.
"Pernah berperang sebelumnya?" Makhluk bertanduk itu mengangguk. "Pernah melawan Oag sebelumnya?" Minotaur itu menggeleng. "Tahu di mana markasnya?" Banteng itu kembali mengangguk. "Oke, cukup."
Semua anak menatap Gibson saksama yang membalik tubuhnya terlihat pusing dengan hal ini.
"Entah mereka ini bodoh, atau kepala batu, itu beda tipis. Namun, menurut pengalamanku selama ini, satu-satunya jalan adalah mengakali mereka," ucapnya ke hadapan kawan-kawannya dengan bahasa Indonesia. Ryan yang menggunakan alat translator mengerti, tapi tidak dengan lima kawan barunya. "I'll explain later," sambung Gibson menunjuk lima anak asal Amerika itu. Anak-anak itu mengangguk.
Gibson mengayunkan tangan untuk meminta anak-anak itu mendekat ke arahnya. Mereka berkumpul seperti berdiskusi. Lama Gibson menjelaskan strateginya, tapi pada akhirnya rencananya itu disetujui.
"Oke. Aku rasa idemu tak buruk mengingat kawanmu terancam," ucap C dan Gibson mengangguk membenarkan.
Akhirnya, Gibson kembali melangkah mendekati para Minotaur yang berdiri di depan bangunan. Para banteng yang bisa berdiri itu menatapnya tajam.
"Oke. Kami akan ikut berperang dengan kalian. Lepaskan Hihi," tegas Gibson menunjuk kawan perinya.
"Kalian harus bersumpah," ucap Minotaur yang membuat Gibson dan lainnya terkejut. "Jika kalian berkhianat, dengan sendirinya, kalian akan mati."
Praktis, mata anak-anak itu melebar. Para manusia setengah banteng itu seperti tahu isi dari rencana mereka.
Tiba-tiba saja, Hihi dipaksa untuk memakan buah berwarna kuning yang memiliki bentuk aneh.
Hihi menolak memakan buah itu, tapi ia dipaksa dan Hihi pun akhirnya terpaksa mengunyah lalu menelannya.
"Oh! Buah itu!" pekik L seperti menyadari sesuatu.
"Apa kau tahu sesuatu?" tanya C menatap kawan wanitanya lekat.
"Ya! Aku pernah melihat buah itu sebelumnya. Saat itu, ada dua orang anak memakan buah tersebut. Ketika salah satu anak berucap pada kawannya dengan mengatakan buah itu rasanya enak, kawannya malah mengatakan buah itu pahit. Lalu tiba-tiba saja, tubuh anak yang mengatakan buah itu tak lezat berubah kuning lalu meledak. Sungguh mengerikan. Itu ... seperti buah untuk memaksa kita mengatakan kejujuran," jawab L panik.
Anak-anak lainnya pucat seketika usai mendengar penjelasan dari L. Hihi terlihat sedih setelah memakan buah itu.
"Kemari, dan makan buah itu. Menolak, kalian akan melihat kawan kalian meledak setelah kami ajukan beberapa pertanyaan. Pasti salah satu pertanyaan kami akan membuatnya terpaksa berbohong," ucap Minotaur seraya menunjuk sebuah pohon dengan buah yang dimaksud.
__ADS_1
Ternyata, buah itu tumbuh di halaman bangunan tersebut. Anak-anak tegang seketika.
Azumi dan Tina ikut menangis karena kini mereka dihadapkan oleh pilihan sulit. Gibson terlihat tertekan dan bingung dalam mengambil keputusan.
"Bagaimanapun, jujur itu penting. Orang tuaku tak mengajarkan berbohong dengan alasan apa pun," ucap Bara yang mengejutkan semua orang.
"Yang aku khawatirkan, jika kita gak sengaja bercanda. Kita sering melakukan hal itu, Bara. Jangan karena hal sepele dan konyol kita mati muda," ucap Rangga ikut pusing.
Semua anak-anak lesu seketika. Satu persatu dari mereka roboh di atas rumput terlihat sedih. Mereka seperti kehilangan semangat hidup.
Gibson, Lazarus, Rex, Mandarin, Harun, C dan Kenta, masih berdiri meski keraguan menyelimuti hati mereka.
Saat semua anak dirundung kebimbangan, tiba-tiba saja, Hihi berlari kencang karena kakinya tak diikat.
Hihi berlari menjauh dari para Minotaur. Praktis, mata semua anak yang melihat aksi Hihi terkejut seketika.
"Hihi! Apa yang kaulakukan?!" pekik Ryan panik karena Hihi dikejar oleh para Minotaur yang marah.
"Tak perlu melawan Oag. Serang mereka!" teriak Gibson lantang mengomandoi pasukannya untuk melawan para Minotaur yang keras kepala.
"Yeah!" sahut anak-anak serempak di mana semangat juang mereka kembali.
Segera, Mandarin, Harun dan Tina merubah wujud mereka. Mandarin memberikan pedangnya kepada Gibson untuk melawan para Minotaur.
"Rebut senjata kita lagi, Zar!" seru Rangga dan Lazarus mengangguk.
"Kami akan melindungi kalian!" seru C dan diikuti oleh L.
Kelompok Rangga berusaha menerobos kumpulan Minotaur yang menghalangi jalan. Rangga melihat kapak miliknya, serta pedang dan tameng milik Lazarus, dipakai oleh dua makhluk Minotaur yang berada di barisan belakang para banteng.
"Nico! Serang Minotaur dengan Rainbow Gas!" titah Rex dan pemuda berambut pirang itu mengangguk siap. "Juby! Azumi! Siapkan serum penawar!" sambungnya yang telah siap dengan belati Silent Blue.
Dengan sigap, Jubaedah membuka koper Rex dan mengambil serum berwarna kuning yang ia kumpulkan dalam sebuah botol bekas air minum milik Pasha.
"Vadim! Pasha! Selamatkan Hihi!" pinta Rex dan dua pemuda gemuk itu mengangguk lalu berlari mengejar Hihi yang berlari berputar di sekitar halaman seperti mengecoh.
Empat kelompok besar berpencar dengan tugas masing-masing. Suasana di sekitar bangunan itu ramai seketika.
Di markas Oag berada.
"Hem, aku suka anak-anak itu. Mereka berani dan tangguh. Solidaritas mereka cukup tinggi. Tetap pantau, dan berikan portal bonus jika mereka berhasil. Anggap saja, mereka lolos misi level 2," perintah Oag yang berdiri menatap genangan air di depannya.
"Yes, Oag," jawab salah satu operator bertentakel.
Oag terlihat menikmati pertunjukkan dari dua kubu untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam bertarung.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya mbak Aju💋 Sehat selalu❤️