
Sedang di tempat Jubaedah berada. Gadis manis itu terlihat begitu sedih. Ia terus berjalan dengan salju mulai menutupi wilayah yang dipijaknya. Sedang gurun pasir, menimbun wilayah Selatan tempat Rex dan kawan-kawannya berada.
Hingga tiba-tiba, "Agg," erang sosok pria yang berusaha bangun di samping sebuah pohon.
"Lazarus!" panggil Jubaedah terkejut saat mendapati kawannya terkena hempasan dari badai ciptaannya. Namun, Lazarus terdampar ke wilayah bersalju.
Jubaedah segera mendatangi Lazarus yang terluka di salah satu lengannya. Terlihat, bajunya robek dan pipi kirinya lebam.
"Ya ampun. Kamu gak papa?" tanya Jubaedah cemas saat membantu Lazarus duduk.
"Sepertinya tidak. Tanganku sakit," keluhnya dengan wajah berkerut menahan sakit.
Jubaedah menggulung lengan baju Lazarus dan melihat memar di pergelangan tangannya. Sepertinya, tangan pemuda itu terkilir.
Jubaedah tertunduk sedih dan malah meneteskan air mata yang mengenai luka keturunan Benedict itu. Lazarus terkejut.
"Kau kenapa?" tanya pemuda tampan itu menatap Jubaedah lekat.
Namun, gadis manis itu menggeleng lalu menghapus air matanya cepat. Lazarus merogoh sakunya dan mendapati potongan permen yang remuk karena ia menghantam permukaan dengan keras. Lazarus segera memakan permen itu dan berharap lukanya segera pulih.
"Kau tahu di mana kawan-kawan lainnya?" tanya Lazarus seraya melihat sekeliling. Jubaedah menggeleng. Remaja itu kembali menatap Jubaedah seperti bersedih akan sesuatu. "Jangan sedih. Kita akan menemukan Rex dan lainnya," ucap Lazarus dengan senyuman.
"Juby gak mau ketemu sama Rex lagi. Rex jahat," jawabnya seraya memegang dua pipinya.
Kening Lazarus berkerut. Ia melihat bekas merah di pipi gadis manis di hadapannya. Lazarus terlihat serius seketika.
"Jangan bilang Rex nampar kamu?" Jubaedah mengangguk dengan kening berkerut. Lazarus terkejut. "Kenapa? Walaupun aku tak begitu dekat dengan Rex, tapi kulihat ... dia sangat menyayangimu. Tak mungkin dia melakukan hal buruk tanpa ada alasannya," ucap Lazarus mengingat sosok kekasih Jubaedah.
"Dia bilang sengaja melakukannya, tapi tetep aja nyakitin. Juby dikata-katain, dijelek-jelekin, udah gitu ditampar lagi. KDRT. Kalau papi Eko tahu, pasti bakal disunat buyung Rexy," ucap Jubaedah sebal.
"Sunat? Maksudmu ... dipotong ... em, itu?" tanya Lazarus gugup seraya menunjuk kejantanannya yang masih terbungkus celana.
Jubaedah mengangguk pelan. Mata Lazarus melebar dan langsung menelan ludah. Ia tampak takut akan sesuatu seraya membetulkan celananya.
"Lalu ... sekarang bagaimana? Sepertinya ... kita terpisah jauh," ucap Lazarus sembari menggerakkan tangannya yang mulai membaik, dan lebam itu memudar. Pemuda itu tersenyum karena tak merasakan sakit lagi. "Permen di planet ini sungguh ajaib. Aku harus menyimpan banyak sebagai obat," sambung Lazarus lalu berdiri.
Jubaedah masih duduk bersimpuh terlihat lesu. Lazarus menatap Jubaedah yang tampak murung karena perlakuan kasar kekasihnya.
"Nanti kalau aku bertemu Rex, akan kubalas memakinya mewakili sakit hatimu. Bagaimana?" tanya Lazarus menahan tawa.
"Jangan, nanti Rex sedih," jawab Jubaedah yang ternyata masih memikirkan perasaan kekasihnya.
Lazarus menahan senyum karena baginya sikap kawan wanitanya itu sungguh lucu.
"Ya sudah. Bangun sini. Kita masih harus menyelesaikan misi. Aku ingin segera pulang ke Bumi dan menceritakan kisah ini kepada orang-orang di Kastil. Mereka pasti akan terkejut," ucap Lazarus seraya memberikan tangannya yang tak terluka.
Jubaedah meraih tangan Lazarus dan berdiri. Lazarus membantu membersihkan pakaian Jubaedah yang kotor. Gadis itu diam saja saat Lazarus memberikan perhatian padanya.
__ADS_1
"Sayang sekali, salah satu dari kita tidak ada yang bisa terbang. Jika ya, pasti akan mudah menemukan mereka," ucap Lazarus mengembuskan napas kasar. Namun, matanya menangkap cekungan di salju. "Eh? Itu ... jejak sepatumu?" tanya Lazarus seraya menunjuk bekas langkah kaki yang menuju ke arahnya.
Jubaedah mengangkat kaki dan melihat alas sepatunya. Ia menyamakan jejak itu dengan miliknya. "Ya, sepertinya begitu," jawabnya malas.
"Kalau begitu, kita ikuti jejak ini. Pasti akan menuntun kita ke tempat kawan-kawan berada. Sudah, jangan sedih lagi. Sudah kubilang, Rex akan kumarahi nanti. Oke?" ucap Lazarus seraya menunjukkan jempolnya.
Jubaedah mengangguk dan akhirnya mengikuti saran dari remaja asal Inggris itu yang bisa berbahasa Indonesia campuran sepertinya.
Selama mereka berjalan menyusuri jejak yang ditinggalkan Jubaedah, terdengar suara raungan seorang anak di kejauhan. Praktis, langkah Lazarus dan Jubaedah terhenti.
"Kaudengar itu?" tanya Jubaedah dan Lazarus bersamaan di mana mereka saling memandang.
"Seperti suara ...," tebak Jubaedah menggantung.
"Jimmy!" seru keduanya bersamaan.
Segera, Jubaedah dan Lazarus berlari. Keduanya yakin jika asal suara itu berasal dari sebuah hutan di mana mereka seperti tak berada di negeri permen.
Mereka meninggalkan wilayah bersalju dan memasuki sebuah hutan dengan cahaya berwarna hijau berterbangan layaknya kunang-kunang. Jubaedah dan Lazarus terus berlari masuk ke hutan itu.
Tiba-tiba saja, "Oh!" pekik Jubaedah menunjuk saat mendapati sosok aneh di depannya dengan kepulan asap putih.
Mata Lazarus dan Jubaedah melebar. Mereka kebingungan dan takut dengan wujud aneh di depannya. Namun lagi-lagi terdengar suara yang mereka kenal, "Help!" panggil dari wujud aneh berambut itu.
"Zar!" panggil Jubaedah seperti melayang, tapi ia tertarik ke belakang dengan asap putih di sekelilingnya.
Pemuda itu segera berlari mengejar Jubaedah. Lazarus berpikir jika Jubaedah tertangkap karena wujud Mitologinya.
"Juby! Berubah menjadi manusia! Cepat!" perintah Lazarus seraya terus berlari mengejar.
"Juby gak tau caranya!" jawabnya panik dan berusaha memberontak, tapi ia tak bisa menangkap atau memukul dari asap itu karena bukan benda padat.
Lazarus berlari kencang seraya berpikir keras. "Oh! Coba teriak 'Manusia'. Siapa tahu caramu berubah seperti lainnya!" ucap Lazarus di mana asap itu membawa mereka semakin jauh ke dalam hutan.
"Manusia!" teriak Jubaedah lantang, dan tiba-tiba, BRUKK!! "Aww!" rintih Jubaedah saat wujudnya berubah menjadi manusia.
"Wah, kauberhasil!" ucap Lazarus senang karena idenya membuahkan hasil.
Lazarus mendekati Jubaedah yang sudah terbebas dari asap aneh itu. Gadis manis itu tiba-tiba saja memeluk Lazarus, dan pemuda itu terkejut.
"Juby seneng karena kamu gak kaya Rexy. Saat dia tahu Juby gak tau cara berubah, Rexy malah nampar Juby dan bilang hal-hal yang bikin Juby sakit hati," ucapnya mengutarakan perasaan.
Lazarus akhirnya tahu alasan sebenarnya dari pertikaian antara Jubaedah dan kekasihnya tersebut.
"Oke. Ayo bangun. Sebelum asap itu kembali menyerang kita. Aku rasa, Jimmy tak ada di sini. Bisa jadi, itu hanya pancingan para penyihir. Mereka pasti di sekitar sini," ucap Lazarus seraya melepaskan pelukan.
__ADS_1
Jubaedah mengangguk setuju, hingga dua anak itu kembali mendengar suara erangan yang lagi-lagi mereka kenal suaranya.
"Kenta!" seru keduanya bersamaan dan kembali berlari menuju ke asal suara itu.
Benar saja, kali ini tebakan mereka tepat. Kenta diserang oleh para penyihir karena wujud burung Phoenix-nya. Namun, ada yang aneh.
Para penyihir itu tak menggunakan kekuatan mereka untuk merubah Kenta menjadi manusia.
Kenta meraung-raung mencoba membebaskan diri karena ia diikat kuat dengan beberapa tali hingga tak bisa bergerak.
Namun, tali itu seperti bukan tali biasa karena tak bisa terbakar oleh tubuh api Kenta.
"Lakukan sesuatu!" titah Lazarus di mana ia dan Jubaedah masih bersembunyi di balik semak.
Dua remaja itu cemas saat melihat salah satu penyihir memegang sebuah pisau seperti ingin mengambil sesuatu dalam tubuh Kenta bagian punggung.
Jubaedah mencari benda yang bisa digunakan untuk menyingkirkan para penyihir itu. Hingga akhirnya, ia nekat melemparkan batu ke arah para penyihir dan berhasil mengenai salah satunya.
DUAKK!
"Harghh!" erang salah satu penyihir saat kepalanya terkena lemparan batu Jubaedah.
"Bagus, Juby! Terus lakukan. Aku akan selamatkan Kenta," ucap Lazarus siap berlari. Jubaedah mengangguk. Ia yang kesal karena dimaki oleh Rex, melampiaskannya kepada para penyihir itu.
"Dasar mak lampir jelek! Gara-gara kalian Juby jadi marahan sama Rex! Mana Juby bilang putus lagi! Kalau gini kan Juby gengsi mau baikan. Ini salah kalian!" teriaknya marah dan terus melempari para penyihir itu dengan benda apa pun yang terjangkau oleh tangannya.
Usaha Jubaedah berhasil. Para penyihir itu berusaha menghindar dari amukan Jubaedah. Lazarus melihat kesempatan dan Kenta melihat hal itu.
"Berubah jadi manusia," bisik Lazarus di balik semak seraya menggerakkan bibirnya mengucapkan hal itu. Namun, Kenta menggeleng. Lazarus bingung. "Apa caranya berbeda ya dengan Juby? Cukup berteriak 'manusia'?" tanyanya heran.
Tiba-tiba, "Waaaa!" teriak Lazarus panik saat muncul seorang penyihir di sampingnya. Pemuda itu sampai jatuh, tapi dengan sigap bangun dan berlari ke arah Kenta.
"Lepaskan taliku! Aku tak bisa berubah jika buluku belum kucabut!" ucap Kenta yang membuat Lazarus baru paham dengan teknisnya.
Namun, usaha Lazarus untuk menolong Kenta tak berjalan mulus. Para penyihir itu mulai mengincarnya seperti ingin ditangkap. Lazarus heran, padahal ia tidak dalam wujud Mitologi.
Ketika ia berlari menuju ke rumah yang terbakar, langkahnya terhenti seketika saat melihat Jimmy tengkurap di atas tanah dengan punggung disayat dan genangan cairan biru terlihat di sana.
"Hah, hah, Ji-Jimmy?" ucap Lazarus tergagap saat mendapati kawannya sudah tak bergerak, berwarna putih pucat layaknya mayat, dan sudah tak bernyawa.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Ngabisin tips biar monster hunter tetep rajin diupdate. Kwkwk tengkiyuw mbak Aju. Lele padamu❤️