
Tiga remaja itu susah payah bangun meski harus menahan sakit di tubuh karena dingin yang menusuk. Vadim, Mandarin dan Nicolas berusaha berdiri, tapi tubuh mereka seperti membeku.
Bahkan, aksi mereka untuk memastikan jika yang dilihat benar adalah pria gemuk beruban itu, membuat semangat mereka berkobar.
"Agh! Tubuhku kaku!" erang Vadim kesulitan bergerak, begitu pula yang lain.
"Menggelinding! Cobalah untuk bergulung. Kita berada di tempat yang sedikit lebih tinggi! Hah, hah," ucap Mandarin menyarankan yang akhirnya bisa membuat tubuhnya tengkurap setelah berguling ke samping.
"Oke, oke, akan kucoba!" sahut Vadim bersusah payah menggerakkan tubuhnya, tapi masih terasa sulit.
"Ayolah! Aku ingin melihat Santa!" teriak Nicolas menyemangati dirinya sendiri dengan menahan dingin yang teramat sangat seperti dikurung dalam lemari es.
"Hei! Hei! Kalian bantu kami!" teriak Mandarin ke arah tiga hewan penyimpan cadangan jiwa.
Sepertinya, hewan-hewan itu memahami apa yang diminta oleh tiga anak manusia tersebut. Benar saja, tiga hewan itu menggunakan kepala mereka untuk menyundul tubuh anak-anak agar menggelinding dari atas bukit.
"Hahaha! Berhasil! Kalian sungguh pintar!" puji Nicolas saat tubuhnya berhasil terlentang, telengkup, dan terlentang lagi.
Namun tiba-tiba, "Wa ... wa ... waaa!" teriak Vadim saat tubuhnya bergulung hebat menuju ke bawah karena berada di wilayah yang lebih tinggi.
Vadim, Mandarin dan Nicolas bergulung-gulung di atas timbunan salju hingga terperosok sampai ke bawah. BRUKK!!
"Agh! A-aduh ... sa-sakit ...," rintih Vadim ketika tubuhnya menabrak batang pohon dan membuat dirinya tak bergulung lagi.
Ternyata, hal sama juga terjadi pada Mandarin dan Nicolas. Tiga hewan tersebut berlari menuruni bukit mendatangi tiga anak manusia itu lalu berlari-lari di sekitar mereka dengan langkah riang.
Namun seketika, tiga hewan itu terdiam dan menoleh bersamaan ke sebuah tempat. Mereka lalu berlari begitu saja meninggalkan tiga remaja itu.
Anak-anak itu masih berusaha untuk bangun dan menyingkirkan tumpukan salju yang menyelinap di dalam baju.
"Hei! Hei! Kalian mau ke mana?!" tanya Mandarin saat berhasil duduk bersimpuh dengan napas tersengal dan mendapati tiga hewan lucu itu berlari ke suatu tempat.
Hingga mata Mandarin mendapati sebuah benda yang ia kenal. Perlahan, Mandarin berdiri dengan berpegangan pada batang pohon sebagai tumpuan tubuhnya yang rapuh.
"Hei, lihat!" seru Mandarin menunjuk di balik batang-batang pohon yang menyembunyikan kejutan itu.
Seketika, mata Nicolas dan Vadim terbelalak lebar. Mereka bergegas bangun dengan susah payah dan mendatangi pohon bercahaya karena dihiasi lampu-lampu indah.
"I-itu ... itu pohon natal!" seru Nicolas dengan mata berbinar saat melihat pohon bercahaya itu dari tempatnya berdiri.
"Jangan-jangan, kita berada di tempat Santa Claus berada," ucap Mandarin berpendapat.
Kali ini, Nicolas dan Vadim setuju. Tiga hewan penyimpan cadangan jiwa tampak senang. Seketika, rasa dingin yang mengusik seperti meleleh perlahan karena mendapati pohon cantik itu.
"Oh, Vadim! Kau bisa terbang 'kan? Coba kau lihat dari atas langit. Apakah ... ada rumah di dekat sini? Bisa jadi itu tempat tinggal Santa Claus!" pinta Nicolas semangat.
Vadim mengangguk cepat. Ia berusaha untuk mengumpulkan energinya agar bisa terbang. Seketika, Vadim berubah menjadi Pegasus dan mulai mengepakkan sayap.
Mandarin dan Nicolas berlindung dekat pohon yang cahaya lampunya terasa hangat. Mereka melihat Vadim terbang dan melayang di udara seraya melihat sekitar karena tubuhnya berputar perlahan.
"Hah, hah, aku tak melihatnya, tapi ... ada beberapa pohon natal di beberapa tempat. Mungkin, jika kita mengikuti pohon-pohon itu, kita bisa tiba di rumah Santa. Ya ampun, dingin sekali, aku tak bisa terbang lagi," keluh Vadim langsung turun dengan cepat dan kembali berubah menjadi manusia.
Nicolas, Mandarin dan Vadim berpelukan agar mereka tak mati kedinginan. Semangat tiga anak itu kembali bangkit demi bisa bertemu dengan Santa.
Saat ketiganya saling menghangatkan, Nicolas melihat hiasan pita merah pada pohon itu seperti ada tulisan. Nicolas membacanya dengan saksama hingga kepalanya miring.
"Ada apa?" tanya Mandarin bingung saat melihat kawannya seperti berguman sendiri.
"Oh! Bacalah pada pita yang terpasang itu. Ini seperti sebuah barter. Apakah kalian ingin mencobanya? Siapa tahu bisa menjadi kenyataan," seru Nicolas dengan mata berbinar.
Vadim dan Mandarin langsung mendekati salah satu pita. Mereka membaca tulisan yang tercetak dari pita itu yang mengatakan, 'Tukarkan dengan benda yang kalian miliki untuk menggantiku, dan akan kuberikan keinginan kalian akan suatu benda'.
__ADS_1
"Woah! Aku ingin mantel tebal!" seru Vadim langsung semangat.
"Lalu ... apa yang akan kautukar?" tanya Nicolas penasaran.
Vadim dengan sigap membuka isi tasnya. Ia mencari benda yang kira-kira bisa ditukar dengan permintaannya akan sebuah mantel bulu yang tebal.
Seketika, Mandarin dan Nicolas terkejut ketika Vadim menggantungkan sebuah bungkus bekas makanan ke dahan pohon.
"Eh, itukan sampah," keluh Mandarin protes.
"Kan dicoba untuk membuktikan bisa menjadi kenyataan atau tidak," sahut Vadim terlihat serius.
Saat tiga anak itu sedang berdebat untuk hadiah pertukaran, tiba-tiba, "Didi!" panggil hewan milik Vadim yang membuat remaja itu langsung menunduk seketika.
"Woah! Ada kado!" teriaknya dengan mata melotot.
Mandarin dan Nicolas ikut terkejut karena tak melihat ada benda itu sebelumnya. Vadim langsung berjongkok dan bersemangat untuk membukanya.
"Aku mendapatkan jaket!" teriak Vadim gembira yang membuat dua kawannya terkejut karena tak menyangka hal itu.
Vadim bergegas memakainya dan senyumnya langsung terkembang.
"Oh! Pertukaran itu berhasil. Ayo, kita tukarkan banyak benda untuk kebutuhan kita selama di tempat dingin ini," ucap Nicolas ikut bersemangat.
Mandarin dan Vadim bergegas membuka isi tas mereka mencoba mencari benda yang bisa ditukar tanpa dirugikan.
Nicolas membantu dengan menggantungkan benda-benda itu seraya meminta barang-barang yang diinginkan.
Tiga anak itu berdiri mengitari pohon tersebut seraya bergandengan tangan penuh harap dan mata terpejam.
Seketika, "Didi!" panggil hewan milik Vadim lagi yang membuat tiga remaja itu langsung membuka mata.
"Wahahaha, berhasil! Kita mendapatkan hadiah-hadiah itu!" seru Nicolas senang dan langsung melompat-lompat kegirangan.
Lalu ada makanan dan minuman sebagai bekal. Tas mereka yang tadinya kosong, kini sudah kembali penuh dengan barang-barang hasil pertukaran dengan pita di pohon natal itu.
"Vadim! Katamu, tadi ada pohon natal lainnya 'kan? Ayo kita datangi. Siapa tahu, kita bisa bertukar lagi dengan bekas kado-kado kosong ini?" ucap Mandarin malah seperti berpikiran licik.
"Tadi dibilang jangan menukar sampah, kenapa kau sekarang malah jadi semangat?" tanya Vadim memasang wajah malas. Mandarin meringis malu, tapi Vadim setuju.
Tiga anak itu lalu bergegas menuju ke arah pohon natal seperti yang Vadim tunjukkan. Tiga hewan penyimpan cadangan nyawa terlihat senang saat mengejar para remaja yang tampak bersemangat.
"Itu dia!" seru Vadim usai mereka cukup jauh berlari.
"Woah! Jenis pohonnya lain!" seru Nicolas dengan mata berbinar saat mendekati pohon tersebut.
Mereka langsung mengelilingi pohon itu dan mencari tulisan yang serupa dengan pohon sebelumnya, tapi tak mendapati apapun di pohon bercahaya tersebut.
"Ah, yang ini tak ada apa-apanya. Hanya pohon yang dihias saja," ucap Vadim lesu.
Mandarin dan Nicolas mengangguk setuju. Mereka langsung lesu seketika. Hingga pandangan Nicolas tertuju di kejauhan yang tampak unik baginya.
"Eh, itu ... manusia salju bukan sih?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Ha? Mana?" sahut Mandarin langsung mendekat.
"Eh iya, benar. Kelihatannya lucu. Ayo kita ke sana," ajak Vadim, dan diangguki dua kawannya.
Tiga remaja itu kembali berjalan dan kali ini, mereka meninggalkan pohon natal yang dirasa tak memberikan keuntungan apa pun bagi keberlangsungan hidup selama di tempat unik itu.
__ADS_1
"Dia tampak bersinar. Lalu ... pohon-pohon ini bercahaya terang seperti memiliki lampu tanpa listrik. Benar-benar ajaib," ucap Mandarin kagum saat melihat pohon-pohon itu berkilau indah.
Nicolas berjongkok dan mengamati boneka salju yang terlihat ramah itu. Saat ia menekan salah satu matanya, tiba-tiba, "Waaaa!" teriak Nicolas histeris karena mata boneka salju itu bergerak.
Nicolas sampai ambruk ke belakang. Ia merangkak mundur dan segera dibantu oleh Vadim serta Mandarin yang menolongnya berdiri.
"Di-dia hidup," ucap Nicolas gemetaran seraya menunjuk.
"Hai!" sapanya yang membuat tiga anak manusia itu bergidik ngeri.
Namun, tiga hewan penyimpan cadangan jiwa terlihat senang. Seolah, manusia salju itu bukan sebuah ancaman.
Terlihat, makhluk putih dengan bulatan-bulatan sebagai tubuhnya itu berjalan ke sana kemari mengejar tiga hewan menggemaskan itu.
"Mu-mungkin dia baik hati kaya cerita Olaf," ucap Vadim menilai.
Mandarin dan Nicolas mengangguk pelan, meski masih ragu dengan hal itu.
"Si-siapa namamu?" tanya Nicolas memberanikan diri bertanya.
"Aku Yellow. Ayo, aku antar kalian menuju ke tempat misi. Aku hanya bisa membantu saat malam menjelang. Ketika pagi datang, aku sudah tak hidup lagi," jawabnya dengan suara ramah seorang lelaki.
"Ah, begitu. Terima kasih," sahut Mandarin senang.
Para remaja itu segera mengikuti boneka salju tersebut menyusuri daratan es yang cukup luas.
Ternyata, tiap mereka menemukan pohon bercahaya, seperti terdapat portal tersembunyi di sana.
Yellow meminta mereka mengambil salah satu hiasan lalu menggenggamnya dengan satu tangan, sedang tangan lainnya diletakkan ke tubuh manusia salju itu.
Seketika, mereka tiba di sebuah tempat yang lain. Mereka kembali berjalan hingga bertemu pohon bercahaya lainnya.
Sampai pada akhirnya, perjalanan mereka berakhir ketika mendapati sebuah tempat seperti laut, tapi tertutup es.
"Woah!" seru Nicolas kagum karena tak pernah melihat hal menakjubkan seperti yang ia lihat saat ini.
"Aku tak bisa menemani kalian lagi karena matahari akan segera muncul. Sebaiknya, kalian bergegas. Es laut ini akan mencair begitu pagi menjelang. Saat malam datang, akan membeku lagi. Selamat berjuang!" ucap Yellow seraya melambaikan tangan.
"Terima kasih, Yellow. Kau sangat baik. Apakah ... kita akan bertemu lagi?" tanya Vadim terlihat enggan berpisah.
"Mungkin," jawab Yellow dengan senyuman.
Vadim memeluk Yellow erat, dan terlihat, boneka salju itu ikut merasa senang. Nicolas dan Mandarin juga melakukan hal yang sama hingga akhirnya mereka berpisah.
Tiga anak itu menapak permukaan es yang terasa licin dan tebal. Mereka tak bisa melangkah dengan terburu-buru karena akan tergelincir. Vadim menoleh, dan sosok Yellow tak terlihat lagi di tepian pantai laut es itu.
Cukup lama mereka berjalan, hingga tiba-tiba, mata tiga anak itu melebar dan langsung berdiri mematung ketika mendapati sebuah kapal yang terjebak dalam es tampak begitu hebat.
"Keee ... reeennn ...," ucap ketiganya terkagum-kagum.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy tips lagi😆 kwkwkw selamat hari libur🎉
__ADS_1