
Para remaja yang memiliki kemampuan terbang segera mendarat ke daratan berbatu meski di sekelilingnya bongkahan dari lava panas masih berpijar hingga membuat kulit serasa terbakar.
Pemandangan mengerikan kembali terlihat saat mereka merasakan ancaman dahsyat di wilayah tersebut. Bahkan, suara raungan terdengar jelas seperti monster yang disiksa di dalamnya.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Ya ampun. Tempat ini sungguh mengerikan. Apakah kita harus masuk ke dalam sana?" tanya Azumi pucat seraya melihat sekeliling.
"Ini satu-satunya cara lolos dari misi level 7, Azumi. Jangan takut. Kita sudah sejauh ini dan berusaha keras untuk bertahan. Aku akan melindungimu," sahut Kenta menangkan hati sang adik.
Azumi mengangguk dan memeluk Kenta erat meski terlihat jelas raut wajahnya seperti ingin menangis. Semua anak tampak tegang meski mereka sudah memiliki senjata dan perubahan wujud Mitologi.
"Ayo," ajak Gibson, dan anak-anak kembali dalam formasi mereka.
Namun kali ini, hanya beberapa yang berubah sebagai pelindung sisi kanan, kiri, depan dan belakang.
Rex dan Kenta tetap menjadi manusia. Mereka ikut dalam barisan dan diapit di tengah oleh anak-anak lain yang menjadi makhluk Mitologi.
"Aaarrkkk!"
"Oh! Suara apa itu?" tanya Vadim sampai terperanjat saat mereka akan memasuki sebuah pintu gerbang dengan api berkobar di kanan kirinya.
"Apa mungkin neraka seperti ini ya? Seram sekali," tanya Bara sampai pucat.
"Ya ampun, Rangga gak bisa bayangin gimana horornya di dalam sana nanti," sahut remaja berkulit hitam tersebut tampak gemetar meski dalam wujud Minotaur.
Saat anak-anak berusaha untuk menguatkan mental, lagi-lagi, "AAAA! Dia muncul lagi!" teriak Laika histeris seraya menunjuk yang membuat semua anak langsung melangkah mundur seketika.
Lelaki dengan pakaian serba hitam yang mengantarkan mereka menggunakan perahu kala itu tiba-tiba muncul di depan pintu gerbang tersebut.
Semua anak tampak tegang melihat sosok tersebut yang melayang di udara dengan tongkat yang memiliki lengkungan seperti bulan sabit yang tajam, siap merobek tubuh lawannya.
"Lima diantara kalian sudah berhasil. Ingat, hanya 13 anak yang akan lolos dalam misi level 7 ini. Jadi, siapa yang akan kalian korbankan?"
Praktis, mata semua anak melebar seketika.
__ADS_1
"Dikorbankan? Kau gila! Mana bisa kami mengorbankan kawan sendiri! Itu tak akan terjadi!" pekik Czar marah.
"Ya, itu benar! Biarkan kami berusaha terlebih dahulu. Siapa tahu keajaiban datang dan kami semua bisa lolos!" sahut Nicolas.
Namun, sosok hitam itu diam saja tak menjawab protesan anak-anak tersebut. Wajah semua remaja itu semakin tegang, tapi pada akhirnya, sosok itu seperti memberikan jalan pada mereka. Gibson dan lainnya tampak bingung.
"Saat kalian berhasil menyelamatkan satu dari sekian banyak makhluk mitologi yang di penjara, bawa mereka kemari. Aku yang akan menjadi juri penentu apakah makhluk yang kalian selamatkan benar atau salah. Jika gagal, kuanggap orang yang membawa makhluk itu tidak lolos misi dan langsung kulenyapkan," tegasnya yang membuat mata semua anak melotot lebar.
"Ka-kau akan membunuh kami jika tebakan kami salah? Begitu?" tanya Mandarin sampai tergagap.
"Penjelasanku sudah sangat detail. Selamat bermain," ujar sosok itu mempersilakan anak-anak tersebut untuk masuk ke dalam.
Gibson dan lainnya saling memandang terlihat tertekan, tapi hanya ini satu-satunya jalan agar lolos ke misi selanjutnya.
Lazarus melangkah lebih dulu dengan wujud Centaur-nya. Disusul oleh Czar lalu Laika dan seterusnya.
Rex menatap sosok hitam itu yang wajahnya tak terlihat sama sekali lekat, tapi sosok itu diam saja dan tetap terbang melayang di samping pintu masuk penjara Hades.
"Kita pasti bisa. Ayo!" seru Gibson, dan diangguki semua anak.
"Jadi ... siapa yang akan kita bebaskan pertama kali?" tanya Rex menatap kawan-kawannya lekat.
"Mudah saja mengenali sosok Satyr. Mereka bertanduk dan setengah manusia. Mirip seperti sosok Minotaur, tapi mereka kambing," sahut Boas.
"Ahh, begitu. Aku pernah melihat wujud makhluk itu dalam film sebelumnya. Setahuku, Satyr baik hati. Mereka juga suka bermain seruling," sahut Ryan.
"Itu di film. Namun, di sini semuanya tidak demikian, Ryan," terang Laika, dan pemuda itu langsung menelan ludah terlihat pucat.
"Oke. Tetap waspada dan pastikan mata kalian menangkap semua pergerakan. Kita tak tahu penjara ini menyekap makhluk apa saja. Hati-hati dan jangan sampai salah," tegas Gibson, dan semua anak mengangguk paham.
Mereka mulai memasuki penjara Hades dengan langkah hati-hati. Suasana mencekam begitu terasa karena tempat itu dipenuhi oleh tengkorak dari makhluk-makhluk yang telah mati dalam kondisi mengenaskan seperti mengalami penyiksaan keji.
Azumi dan Laika sampai pucat tak berani melihat sekitar. Mereka hanya bisa terus berjalan seraya berpegangan kuat pada pedang Elf sebagai senjata pelindung. Hingga seketika, langkah mereka terhenti.
"Apalagi ini?!" pekik Boas kesal karena kini mereka dihadapkan dengan empat buah lorong dan harus dipilih.
"Jangan bilang kita harus berpencar dan membagi tim seperti sebelum-sebelumnya. Jujur, aku tak setuju dengan ide itu. Hal tersebut membuat salah satu dari kita tewas. Sebaiknya, kita tetap bersama," usul Ryan.
__ADS_1
"Ya, aku setuju dengannya," sahut Mandarin dengan anggukan cepat.
"Baiklah. Kali ini, aku sependapat. Masalahnya, ada empat buah lorong yang harus kita pilih salah satunya. Kompas tak berfungsi di tempat ini. Jadi, vote?" tanya Gibson menatap kawan-kawannya.
Anak-anak itu saling memandang dan pada akhirnya mengangguk setuju. Gibson meminta pada mereka untuk memilih lorong yang diyakini akan membawa ke tempat para makhluk mitologi terpilih disekap.
Para remaja itu mulai melangkah ke depan masing-masing lorong sesuai dengan keyakinan mereka. Gibson melihat jika lorong paling kanan dipilih oleh banyak anak.
"Oke, kita ambil lorong paling kanan terlebih dahulu. Ingat, waspada dan saling melindungi," tegasnya, dan semua anak mengangguk mantap.
Akhirnya, lorong paling kanan mulai ditelusuri. Siapa sangka, tempat itu sedikit manusiawi. Tak ada bekas darah, tengkorak, atau hal-hal menyeramkan yang membuat bulu kuduk meremang.
"Tempat ini tak begitu seram," ucap Vadim, dan semua anak mengangguk setuju karena tempat itu tak gelap serta cukup bersih.
Meskipun banyak penjara di kanan kiri, tapi sel itu kosong tak ada makhluk yang disekap. Ketegangan mulai memudar dan semua anak mulai bisa bernapas lega.
Hingga tiba-tiba, BRANG!!
"Woah!" teriak Rangga langsung melangkah mundur saat tiba-tiba saja muncul sosok makhluk yang terkurung dalam penjara besi di sisi sebelah kiri.
Mata semua anak langsung tertuju pada makhluk yang tampak buas dan sangat kuat karena bertubuh besar, bertanduk, dan tubuhnya dibelenggu dengan rantai besi yang cukup besar di pergelangan tangan.
"I-itu makhluk apa?" tanya Ryan menunjuk dengan gemetar.
"Aku cukup yakin jika dia bukan Satyr," ungkap Mandarin.
Semua anak mengangguk setuju dengan mata terkunci pada makhluk bertanduk yang ikut menatap mereka tajam.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
eke kena denda stiker dong gegara hula-hula. hadeh😩