MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
MENGAKALI MISI LEVEL 8*


__ADS_3

Sedang di tempat anak-anak berada. Mereka bertarung dengan sengit untuk mengalahkan para raksasa demi lolos misi level 8.


Telinga yang putus itu diletakkan oleh Boas dan Bara di atas tanah karena merasa ngeri melihat benda besar dengan lumuran darah pada potongannya.


Namun, lagi-lagi. Sosok hitam muncul yang mengejutkan Bara, Boas, dan Vadim. Mereka tersentak bahkan langsung melangkah mundur menjaga jarak.


Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.


"Siapa diantara kalian yang akan mengklaim raksasa beranting?" tanya sosok hitam di depan tiga anak itu.


Bara, Vadim dan Boas terlihat bingung mengambil keputusan karena tak pernah merencanakan hal ini sebelumnya seperti ketika Gibson memimpin.


"Mm, bagimana jika suit saja?" tawar Vadim menyarankan.


Boas dan Bara mengangguk setuju. Mereka melakukan batu kertas gunting. Sosok hitam masih melayang menunggu keputusan tiga anak itu.


"Oh! Aku menang!" ucap Vadim yang sudah kembali ke wujud manusia begitupula Boas dan Bara.


"Haish, Bara emang gak pernah hoki main beginian. Apes mulu," keluh Bara seraya melihat jemarinya.


Boas lalu menatap sosok hitam dan menunjuk Vadim.


"Vadim kau lolos."


BUZZ!


"Woah! Mereka hilang!" pekik Boas terkejut, begitupula Bara.


Lama keduanya saling memandang entah apa yang dipikirkan. Mata mereka lalu beralih ke kawan-kawan lain yang masih sibuk melawan para raksasa.


"Tunggu, tunggu ... ada yang aneh dengan sistem level 8," ucap Boas yang membuat kening Bara berkerut.


"Apa itu?" tanya lelaki asal Indonesia itu yang kini menatap Boas lekat.


"Begini. Saat Timo dinyatakan lolos, ia dan raksasa yang berhasil dikalahkan langsung dianggap menang. Hal ini terjadi juga pada Vadim. Sedang pada misi sebelumnya, kawan kita yang lolos, masih bisa membantu teman lainnya agar bisa memenangkan misi. Jika nanti ada raksasa yang kalah dan satu teman kita diambil lagi, bisa-bisa orang terakhir akan kalah karena melawan sendirian. Ini bahaya!" pekik Boas menjelaskan.


Sontak, mulut Bara menganga lebar karena baru menyadari hal tersebut.


"Iya! Aduh, gaswat. Terus gimana dong?" sahutnya panik langsung memegang kepala.


"Kita harus pikirkan solusinya agar orang terakhir tetap hidup dan bisa lolos. Jika tidak, jumlah kita bisa berkurang!" jawab Boas ikut panik.


Saat keduanya sedang berpikir keras, tiba-tiba ....


"Boas! Bara!" teriak Nicolas saat dirinya dalam wujud Elf dikejar oleh seorang raksasa dengan membawa sebuah batang pohon besar yang dijadikan seperti pemukul karena mencoba menghantamnya berulang kali.


BRANGG!!


"Argh!" rintih Nicolas ketika ia jatuh tersungkur akibat getaran hebat bagai gempa bumi yang dilakukan oleh raksasa saat memukul tanah menggunakan batang pohon besar itu.


"Nico!" teriak Bara panik dan bergegas berubah wujud menjadi Kesatria Garuda.


Nicolas yang kelelahan sampai tak bisa berdiri. Ia merangkak di atas tanah saat raksasa itu siap untuk memukul tubuhnya dengan batang pohon.


"Hahaha! Mati kau Elf!" seru raksasa tersebut dengan seringainya.


"AAA!" teriak Nicolas saat melihat batang pohon itu siap untuk meremukkan tubuhnya. Mata Nicolas melotot lebar dengan teriakan lantang.


Namun dengan sigap, BRAKK!!


"Ha?!" kejut raksasa itu saat batang pohonnya tiba-tiba ditangkap oleh beberapa sulur panjang yang kemudian mengeras menjadi seperti akar.


"Ryan!" panggil Nicolas senang karena sosok Tuan Pohon datang menolongnya.


"Harghhh!" erang Ryan ketika ia membuat dua kaki kayunya seperti tertanam dalam tanah.


Seketika, kaki raksasa itu seperti terperangkap. Ia terjerat dalam akar yang melilit tubuh dan membuatnya tak bergerak.


"Bara! Boas! Ambil mata raksasa itu yang ada di dahinya! Cepat!" pinta Ryan yang mengerahkan seluruh kemampuannya agar raksasa itu terperangkap.

__ADS_1


"Baik!" seru keduanya bergegas terbang dan kini mengincar mata tersebut.


"Kita congkel gitu? Ya ampun!" teriak Bara panik saat melihat mata besar itu bergerak seperti melotot padanya. "Ngeri sumpah!" pekiknya lagi.


"Kita tidak tega, Ryan!" seru Boas yang malah gemetaran karena tampang raksasa itu menakutkan.


"Biar aku saja!" seru Nicolas yang kembali bangun dengan gesit lalu melompat lincah menaiki tubuh raksasa itu.


Bara dan Boas dibuat bengong saat Nicolas kini memanjat bahu raksasa itu seraya menyiagakan panahnya.


"Bawa aku terbang dan arahkan ke matanya. Cepat!" titah Nicolas.


"Kau minta tolong padaku atau Boas?" tanya Bara bingung.


"Kau! Cepat!" teriak Nicolas kesal.


Bara dengan sigap menukik dan memegangi tubuh Nicolas yang kini berdiri di atas bahunya. Bara memegangi kedua kaki Nicolas saat Elf tersebut membidik wajah raksasa itu.


SHOOT! JLEB! JLEB!


"Harghhh!" erang raksasa itu ketika dua matanya yang berada di bawah mata besar di dahi terkena tusukan anak panah Elf Nicolas.


Ryan melepaskan lilitannya karena raksasa itu mengerang kesakitan seraya mencabut anak panah di matanya yang terluka. Boas dan Bara segera menyingkir karena raksasa itu mengamuk.


"Bara! Ingat yang tadi kukatakan! Jika Nicolas mengklaimnya, kita akan dirugikan!" seru Boas yang membuat kening Nicolas dan Ryan berkerut.


"Apa maksud kalian?" tanya Nicolas heran.


"Kita harus temukan cara agar para raksasa ini bisa dilumpuhkan bersamaan. Jadi, saat sosok hitam menjemput kita, tak ada satu pun orang tertinggal agar semuanya lolos serempak. Jika ada yang tertinggal, dia pasti akan dirugikan dan mungkin akan tewas ketika melawan raksasa terakhir!" jawab Boas menjelaskan kembali.


Nicolas dan Ryan yang baru mengetahui hal itu saling memandang.


"Oh, aku punya ide! Kita lukai semua raksasa hingga mereka sekarat, lalu kita ambil benda berharga bersamaan. Bagaimana?" tawarnya.


"Ide bagus! Ayo lakukan dan kabarkan hal ini pada yang lain!" sahut Bara yang diangguki kawan-kawan lainnya.


"Buat dia pingsan terlebih dahulu. Kita congkel matanya nanti. Ayo!" titah Nicolas karena raksasa yang kesakitan itu masih tersadar.


DUAKK! BRUKK!


"Hahaha! Kau hebat, Ryan!" puji Nicolas ketika Ryan menggunakan batang pohon besar itu untuk memukul kepala raksasa hingga makhluk besar itu pingsan seketika di atas tanah.


"Ayo! Kita bantu lumpuhkan raksasa lainnya! Semangat!" seru Bara saat menurunkan Nicolas ke kepala Tuan Pohon.


"Ayo!" jawab Boas, Ryan, dan Nicolas serempak.


Boas dan Bara mendatangi kawan-kawan mereka satu per satu yang tersebar di berbagai wilayah.


Anak-anak yang baru menyadari hal tersebut akhirnya mengangguk paham dan menerapkan cara dari Boas.


"Oke! Kami mengerti!" jawab Rex dalam sosok naga yang terus berkolaborasi dengan Kenta dengan sosok Phoenix.


Tersisa 11 raksasa yang harus dikalahkan. Jumlahnya sebanding dengan anak-anak yang melawan mereka.


Terlihat jelas para remaja itu berusaha keras agar tak tewas demi menyelesaikan misi level 8 yang terasa begitu sulit karena berkurangnya jumlah anggota.


"Sudah banyak yang terluka, tapi para raksasa itu masih bisa bertahan! Buat mereka tak sadarkan diri semua!" seru Harun yang terus melakukan serangan menggunakan pedang Elf dan juga tombak Lady Elf milik Rex.


"Oh! Rainbow gas! Masih ada granat beracun itu dalam tasku! Kita gunakan benda itu untuk menjatuhkan mereka!" seru Rex yang lelah terbang dan kini berada di atas tanah.


"Benarkah? Cepat lakukan, Rex!" pinta Lazarus yang masih gigih menyabetkan pedang dan melindungi diri menggunakan perisai dalam sosok Centaur.


Rex segera berubah menjadi manusia. Ia mengambil granat dalam tas ransel yang dulunya berada dalam koper, tapi kini telah dipindahkan dalam tas agar mudah saat dibawa.


"Boas! Bara! Bantu aku melemparkan granat-granat ini ke para raksasa!" seru Rex saat menunjukkan granat warna hitam ke arah dua kawannya itu.


"Oke!" jawab keduanya mantap dan segera terbang ke arah Rex.


Masing-masing dari mereka membawa dua buah granat. Rex lalu memberikan kepada Ryan untuk ikut melontarkan granat-granat itu ke raksasa lainnya.

__ADS_1


Seketika, BLUARR! BUZZ!


"Harghhh!" erang para raksasa yang terkena ledakan dan kepulan asap warna hitam dengan dampak membutakan pandangan.


"Yeah! Kita berhasil!" teriak Mandarin senang saat ia berhasil menghindar ketika Ryan memberikan kode agar kawan-kawannya menyingkir.


Semua anak berlari untuk berkumpul di dekat istana. Ryan, Bara dan Boas meluncurkan serangan kepada para raksasa dengan bom racun tersebut. Satu per satu, para raksasa itu jatuh dengan erangan kesakitan.


"Bersiaplah. Pilih salah satu raksasa yang akan kita ambil benda berharganya begitu gas tersebut hilang," ucap Rex seraya memberikan penawar kepada kawan-kawannya satu per satu.


Anak-anak yang kembali dalam wujud manusia segera meminumnya. Mereka melihat para raksasa tergeletak di atas tanah seraya merintih karena mata berdarah.


"Sekarang!" seru Czar dengan teriakan lantang dan pedang Elf dalam genggaman.


"Ayo!"


Anak-anak dengan sigap mendatangi raksasa incaran mereka. Mandarin memotong sepasang taring seorang raksasa seperti misinya kala itu ketika mendapatkan wujud Ogre.


Ryan terpaksa mencongkel mata dari salah satu raksasa dengan sosok Tuan Pohon karena ukuran benda itu cukup besar.


Anak-anak tampak serius saat mengambil benda berharga sesuai petunjuk dari cermin ajaib.


Para raksasa tak bisa berkutik saat barang curian mereka diambil oleh para anak manusia itu.


CRATT!


"GOARR!"


"Yeah! Berhasil!" teriak Rangga ketika ia berhasil mencabut kuku emas dari ibu jari seorang raksasa.


Rintihan kesakitan saling bersahut-sahutan dari para raksasa, tapi dibarengi dengan sorakan kegembiraan dari anak-anak yang telah berhasil.


Satu per satu, mereka berkumpul dan menunjukkan benda berharga itu meski tubuh berlumuran darah karena korban yang sekarat.


"Dia muncul!" teriak Czar saat sosok hitam menampakkan dirinya lagi.


Anak-anak itu berdiri berjejer seraya membawa benda hasil rampasan mereka. Sosok hitam menggerakkan kepala seperti melihat satu per satu benda itu.


"Selamat. Kalian semua lolos," ucap sosok hitam yang membuat semua anak berseru senang.


Seketika, BRUKK!


"Aduh!" pekik Rangga ketika ia tiba-tiba saja jatuh dengan keras dan kuku emas besar di tangannya menghilang.


Rangga segera bangun dan melihat kawan-kawannya ikut menggelepar di atas lantai batu.


Ternyata, Vadim dan Timo juga berada di sana, tapi seperti baru saja tiba entah mereka berada di mana sebelumnya.


"Satu ... dua ... tiga ...," ucap Lazarus yang dengan sigap menghitung kawan-kawannya. "Lengkap! Kita masih 13 orang! Kita berhasil menyelesaikan misi level 8!" serunya senang.


"Benarkah?" sahut Rex yang ikut menghitung dengan berguman.


"Hahaha! Kita berhasil!" sahut Timo yang sudah sadar dan segera mendatangi Rex lalu memeluknya.


Semua anak bersuka cita karena mereka lolos bersamaan di level 8 tanpa ada yang tewas atau tertinggal.


Namun seketika, kegembiraan itu redup saat mereka menyadari jika berada di sebuah tempat yang terlihat begitu mengagumkan tak pernah didatangi sebelumnya.


"Woah! Kalian lihat itu? I-istana itu berada di pulau terapung!" pekik Mandarin menunjuk.


Sontak, mulut semua anak menganga seketika karena kagum.



***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


masih eps tips dari mak ben kemarin. tengkiyuw ❤️


__ADS_2