
Nasib baik berpihak pada Laika dan Pasha. Dua remaja itu terdampar dengan hewan cadangan jiwa meski bukan milik mereka.
Keduanya tetap mengenakan tas berisi perlengkapan yang memadahi selama terpisah dengan anggota tim lainnya.
Sayangnya, lama mereka menyusuri wilayah, tetap belum menemukan keberadaan kawan-kawan lainnya.
"Aku lelah sekali. Kita istirahat dulu," rengek Pasha langsung ambruk dengan keringat bercucuran.
"Kita sudah istirahat berulang kali, Pasha. Kita harus cepat sebelum hari gelap. Kau tahu sendiri, betapa mengerikannya tempat ini saat malam datang," jawab Laika bertolak pinggang seraya memandangi kawan bertubuh gemuknya yang tampak tak peduli.
Laika mendengkus kesal, tapi akhirnya pasrah karena Pasha langsung membuka tas dan menikmati perbekalan.
Sedang dua hewan cadangan jiwa yang ikut bersama mereka terlihat nyaman saat duduk di atas tumpukan dedaunan kering menatap dua anak manusia itu lekat.
"Apa kautahu, di mana tuanmu?" tanya Laika menatap hewan milik Gibson saksama.
"Gigi?" jawabnya imut, tapi Laika bingung dengan bahasa makhluk tersebut.
"Bagaimana denganmu? Apa kautahu di mana Rex berada?" tanya Laika yang kini matanya beralih ke hewan yang tampak cantik baginya karena berwarna biru, memiliki tanduk, seperti seekor rubah.
"Rex?" tanya hewan milik Rex.
Laika mengangguk dengan wajah berbinar karena berpikir jika hewan itu memahaminya, tapi makhluk itu malah terlihat asyik menjilati telapak kakinya yang kotor. Laika kembali frustasi.
"Pasha, ayo! Jangan buang waktu! Kita harus terus bergerak. Aku bahkan tak tahu misi apa yang harus kita jalani di level 6 ini," ajak Laika tak sabaran.
Namun tiba-tiba, "Woah! Portal misi muncul!" seru Pasha saat melihat kilau dari sebuah portal yang membuat daun-daun kering itu terhempas dari atas tanah.
Laika memejamkan matanya rapat seraya memeluk dua hewan menggemaskan itu agar tak terluka.
Pasha menyipitkan mata dan menghalangi serpihan-serpihan itu dengan telapak tangannya.
"Tulisannya sudah muncul!" seru Pasha langsung berdiri dan mendekati portal usai menghabiskan bekalnya.
Laika ikut berdiri dan bergegas mendatangi portal misi itu dengan dua hewan cadangan jiwa mengikuti langkahnya.
"Misi level 6. Temukan kawan-kawanmu dan bergabunglah dalam pelayaran bajak laut mencari harta karun di Pulau Pelangi. Loloskan diri dari tangkapan Kraken untuk melanjutkan ke level selanjutnya. Selamat berjuang," guman Laika dan Pasha saat membaca instruksi misi tersebut.
__ADS_1
"Kra-kraken? Maksudnya ... makhluk seperti yang dikisahkan dalam dongeng-dongeng itu? Gurita raksasa yang mengerikan dan memakan para pelaut serta menghancurkan kapal? Kraken yang itu?!" tanya Pasha memekik.
Laika lemas dan langsung roboh di atas daun-daun kering. Dua hewan cadangan jiwa menghampirinya, tapi gadis itu seperti kehilangan nyawanya usai membaca misi.
"Aku tak sanggup lagi," ucap Laika pesimis.
"Jika kau tak sanggup, lalu aku bagaimana?!" tanya Pasha ikut tertekan dan panik.
Portal menghilang dan hal itu tak membuat hati dua remaja itu senang karenanya. Mereka memikirkan nasib selanjutnya meski nyawa masih utuh.
Lama keduanya saling diam tampak terpuruk. Namun tiba-tiba, Laika menepuk kedua pahanya terlihat yakin akan sesuatu. Pasha menatap kawan perempuannya lekat.
"Jangan buang waktu, Pasha. Kita harus bergegas," ucap Laika mulai menguatkan hatinya lagi, tapi Pasha terlihat enggan bahkan menampik tangan kawan wanita itu saat mengajaknya berdiri. Praktis, Laika melotot.
"Berhenti mengeluh! Kaupikir, hanya kau saja yang takut, ha? Aku juga! Bahkan aku yakin jika semua kawan-kawan kita juga merasakan hal yang sama. Aku mau pulang ke Bumi. Terserah, kau mau ikut atau tidak, aku tetap akan pergi melanjutkan misi!" teriaknya marah dengan napas memburu.
Pasha tampak terkejut dan panik saat Laika berjalan dengan gusar seraya memberikan tanda di tiap pohon yang ia lewati dengan tanda L sebagai identitas menggunakan batu runcing yang ia temukan.
Dua hewan penyimpan cadangan jiwa mengikuti Laika. Pasha segera berdiri dan berlari mengejar kawannya itu tanpa protes lagi.
Dua remaja itu berjalan cukup jauh hingga keluar dari hutan rindang menuju ke tempat yang terlihat lebih lapang, tapi terasa dingin karena berada di wilayah bersalju. Sayangnya, tempat itu terasa mencekam.
Laika mengerutkan kening. Ia berjalan sedikit menjauh dan kini berada di antara dua wilayah seperti perbatasan. Laika berdiri tegak dan merentangkan tangan.
Ia merasa tangan kanannya hangat karena tempat itu masih siang hari dan terasa sejuk. Sedang tangan kirinya terasa dingin dan gelap karena malam.
"Mungkinkah ... kita berada di planet Mitologi wilayah perbatasan seperti yang pernah kau ceritakan waktu itu? Sisi gelap dan terang?" tanya Laika menebak.
Kening Pasha berkerut, tapi pada akhirnya mulutnya terbuka lebar. "Bisa jadi!" serunya lantang.
"Di sini tak ada angin," ucap Laika saat memasuki wilayah gelap itu seraya melihat sekitar yang terasa sepi.
"Bisakah kita tak ke sana?" pinta Pasha takut.
"Hanya tempat ini yang belum kita jelajahi, Pasha. Ingat, kau tak sendiri. Ada aku dan dua makhluk itu. Selain itu, nyawamu juga tersimpan dengan baik. Jangan khawatir," ucap Laika meyakinkan kawannya tersebut.
Pasha masih terlihat enggan, tapi pada akhirnya menurut. Keduanya menguatkan mental dan menarik napas dalam saat memasuki sisi gelap dari wilayah yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.
__ADS_1
Laika memilih jalan lapang dan terbuka. Ia berharap bisa menemukan kawan-kawan lainnya.
Laika tetap menandai jejak perjalanannya ke tiap batang pohon yang ditemui dan berharap, teman-temannya saat menemukan tanda itu, mereka tahu keberadaannya.
"Terus jalan sampai ke balik gunung," pinta Laika seraya menunjuk ke tebing batu.
Pasha hanya bisa mengangguk meski kali ini ia harus bertahan untuk tak beristirahat karena hawa dingin yang mengusik. Ia tetap berjalan agar tubuhnya tetap terasa hangat.
Hingga akhirnya, "HORGHHH!"
"Oh! Apa itu? Mengerikan sekali! Apakah itu monster atau semacamnya?" tanya Pasha langsung menghentikan langkah karena suara raungan yang terdengar kencang dari balik gunung batu.
"Entahlah. Ayo, kita cari tahu!" ajak Laika langsung berlari mendatangi arah suara.
"Laika, jangan! Bisa jadi itu berbahaya!" teriak Pasha memperingatkan, tapi gadis asal Rusia itu tetap berlari dan diikuti oleh dua hewan cadangan jiwa.
"Menyebalkan! Kenapa dia selalu mengambil risiko yang mengancam jiwa?! Lihat saja, jika aku berhasil pulang ke Bumi. Akan kuadukan sikapnya pada paman Match dan bibi Roza!" teriaknya marah.
Pasha segera berlari mengejar karena ia takut jika hal buruk terjadi padanya bila tertinggal. Namun, mereka melihat sebuah hal yang mengejutkan di mana dua remaja itu mengenali sosok tersebut sedang meraung mencoba melepaskan diri dari jeratan para Goblin yang berusaha menangkapnya.
"I-itu ... itu Rex!" seru Laika dan Pasha bersamaan saat melihat sosok naga Rex dililit dengan sulur dari pohon hingga dirinya roboh dan meraung di atas tanah bersalju.
"Kita harus selamatkan dia, Pasha!" pekik Laika hingga matanya melotot saat keduanya bersembunyi di balik batu besar untuk mengintip.
Saat Pasha kebingungan mencari cara, tiba-tiba ....
"RRRR!" erang makhluk penyimpan cadangan jiwa Rex terlihat garang.
"Ada apa? Apa yang kau— AAAA!" teriak Laika histeris saat tiba-tiba saja muncul Goblin dari balik batu yang menemukan tempat persembunyian mereka.
Praktis, Laika dan Pasha panik seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya untuk diriku 😆 yang lainnya ditunggu kucuran sedekahnya. Lele padamu❤️