
Saat Azumi sedang menikmati mandi malam di sungai dengan Hihi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki hewan menuju ke sungai. Praktis, Azumi dan Hihi langsung bersembunyi di balik batuan besar pinggir sungai sembari mengintip.
"Oh! Ada seekor unicorn," bisik Azumi dan Hihi mengangguk pelan.
Kuda cantik itu terlihat bersinar dari dalam kegelapan hutan dengan cahaya ungunya. Unicorn tersebut mendatangi pinggiran sungai. Azumi melihat dengan rasa takut menyelimuti hatinya ketika kuda bertanduk itu minum dengan menekuk kedua kaki depannya.
Meski pertemuan pertamanya dengan unicorn terbilang mendebarkan, tapi tak bisa dipungkiri jika makhluk itu sangat cantik.
"Hihi?" panggil peri tersebut saat tiba-tiba muncul sebuah tulisan dengan cahaya warna biru terang di permukaan aliran sungai dengan bahasa Jepang.
"Apa itu? Apakah ... ini misi? Seperti yang diberikan pada Mandarin?" tanya Azumi menebak.
Azumi mendekati tulisan tersebut, dan tanpa gadis Jepang itu sadari, ia menampakkan dirinya dari balik batu yang menyembunyikan sosoknya.
Hihi panik, karena unicorn tersebut melihatnya. Hihi masih bersembunyi di balik batu, meski ia berulang kali mencoba memanggil Azumi dengan suara tertahan.
"Mimi! Mimi!" panggilnya berbisik.
Namun, mata Azumi sudah terpaku pada tulisan bercahaya di atas permukaan air tersebut.
"Dapatkan tanduk unicorn dan kau akan menyelesaikan misi pertama. Selamat berjuang, Azumi."
Praktis, mata Azumi melebar karena namanya tertulis di sana. Perlahan, tulisan bercahaya tersebut meredup dan hilang.
"Mimi!" panggil Hihi lantang di kejauhan.
Seketika, pandangan Azumi terangkat, ia tertegun. Bola matanya bergerak tak beraturan saat seekor unicorn yang terlihat bercahaya dalam kegelapan itu menunjukkan sisi garangnya.
Kuda putih itu mengarahkan ujung tanduk runcing di kepalanya ke tubuh Azumi. Unicorn tersebut terus melangkah mengintimidasi lawannya.
Azumi ketakutan. Ia melangkah mundur perlahan di dalam aliran air sungai dan masih mengenakan pakaian dalamm. Mata unicorn itu terus mengincarnya, dan mengikuti pergerakan Azumi yang perlahan menjauh dari Hihi.
"Herrr!" lengking unicorn tersebut seperti suara kuda saat kedua kakinya terangkat ke atas.
"Aaaa!" Azumi panik dan berlari kencang di dalam sungai saat unicorn tersebut mengejarnya dengan masuk ke dalam air.
BYURRR!
__ADS_1
"MIMI!" teriak peri tersebut.
Hihi terbang dan mengejar unicorn serta Azumi di tengah kegelapan. Azumi terus berlari ketakutan agar tak terkena tusukan dari tanduk tajam kuda tersebut.
Hingga tiba-tiba, "Oh! Wa! Wa! Waaa!" teriak Azumi lantang saat ia bertemu persimpangan dari sungai. Ia malah terseret arus air yang lebih kuat dan dalam. "Help! Help!" teriak Azumi karena tubuhnya tertarik kuat dan kedua kakinya tak bisa menyentuh dasar.
Ternyata, unicorn tersebut juga mengalami hal serupa. Kuda tersebut terseret arus dan tubuhnya terhantam dinding sungai karena memberontak agar bisa naik ke tepian.
Azumi panik karena unicorn tersebut semakin dekat dengannya. Namun, Azumi teringat dengan misinya.
Azumi mengambil napas dalam dan membiarkan tubuhnya terbawa arus. Ia melihat unicorn tersebut berusaha berenang ke tepian dan Azumi ikut mengusahakan tubuhnya.
"Mimi!" panggil Hihi yang berhasil menyusul.
"Hihi!" panggil Azumi yang berhasil mengapung dan berusaha berenang ke tepian meski arus cukup kuat menghempaskannya berulang kali.
Hihi terbang mendekat dan menggunakan kedua kakinya untuk menarik Azumi. Gadis Jepang itu dengan sigap memegangi kedua kaki peri tersebut yang berusaha terbang untuk membawanya keluar dari arus.
"Hah! Hah! Azumi!" panggil Mandarin yang ternyata ikut mengejar bersama Pasha dan Vadim.
Terlihat, tiga remaja pra itu panik karena mereka berada di seberang sungai dan tak bisa menolong Azumi yang berada di sisi lain.
"Ayo, Hihi! Kau pasti bisa!" seru Azumi yang membantu dengan menggertakkan kakinya agar mereka sampai ketepian.
Namun tiba-tiba, BUKK!
"AZUMI!" teriak Mandarin lantang saat melihat kawan seperjuangannya itu terhantam tubuh unicorn yang terseret arus dan malah membuat keduanya semakin menjauh dari tepian.
Pegangan kedua tangannya di kaki Hihi terlepas dan membuat Azumi kembali terseret arus menuju ke air terjun dengan unicorn di sampingnya. Keduanya kini berada di tengah sungai besar tersebut dengan tubuh timbul tenggelam.
Azumi menangkap ekor kuda putih itu dan unicorn tersebut terlihat panik. Ia menggunakan kaki belakangnya untuk menyingkirkan tubuh Azumi, tapi gerakan itu malah mempercepat laju tubuh mereka ke air terjun.
"Stop! Kau membuat kita semakin menjauh dari tepian!" teriak Azumi kesal dan masih berusaha agar kepalanya naik ke atas permukaan.
Unicorn tersebut seperti memahami ucapan Azumi. Kuda itu tak lagi memberontak dan pada akhirnya, membiarkan Azumi menyentuhnya.
Mata keduanya beradu dan seperti pasrah dengan arus deras yang membawa mereka ke air terjun.
"Azumi!" panggil tiga pemuda itu lantang di tepian akhir daratan saat kawan perempuan mereka memeluk leher unicorn tersebut erat dan malah menaiki punggungnya. Azumi menoleh dan tersenyum tipis.
__ADS_1
WHUZZ!
"NO! AZUMI!"
"MIMI!"
Mata Mandarin, Pasha dan Vadim melotot lebar. Tubuh mereka mematung saat melihat Azumi dan unicorn itu terjun dari atas air terjun.
Sosok keduanya menghilang dalam derasnya air ganas tersebut. Mandarin roboh seketika dengan mata berlinang dalam posisi berlutut. Hihi menangis sedih dan menutup wajah manisnya dengan dua tangan.
Saat orang-orang itu dirundung duka, tiba-tiba ....
"Cannon ball!"
"Ha?" kejut Vadim saat melihat seorang anak lelaki berlari dari dalam hutan lalu melompat begitu saja dari tebing ke dasar kolam besar yang berada di bawah. Padahal, jarak dari permukaan sekitar 20 meter lebih
Tiga pemuda itu tak tahu apa yang terjadi. Mereka melongok dari atas tebing dan melihat, pemuda itu menceburkan diri ke dalam air seperti tak takut.
Tiba-tiba, sebuah keajaiban terjadi. Terlihat sebuah cahaya berkilau saat pemuda tak dikenal itu berubah menjadi seekor duyung di dalam kolam.
"Woah!" seru Pasha hingga matanya melotot.
Hihi bertepuk tangan terlihat senang. Ia segera terbang ke bawah dengan cepat. Air kolam yang jernih meski terlihat dalam, membuat pergerakan merman tersebut terlihat jelas.
"Ayo, kita susul ke bawah!" pinta Pasha. Vadim dan Mandarin mengangguk setuju.
Saat mereka berlari menuju ke sebuah jalan menurun menuju sungai, langkah mereka terhenti ketika mendapati beberapa anak berdiri memblokir jalanan dengan tampang garang dan pose layaknya preman.
"Siapa kalian? Apa mau kalian? Minggir! Kami harus menyelamatkan kawan kami!" teriak Mandarin garang, tapi anak-anak itu terlihat tak peduli.
"Agh! Aku tak segan menebas kalian!" serunya marah dan tiba-tiba, SRING!
"Oh! Silent Gold ...," ucap seorang gadis berambut hitam bergelombang bersamaan dengan remaja yang menenteng koper.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
Masih eps bonus dari tante Ben. Besok udh abis bonusnya. Kwkwkw tengkiyuw yak jangan lupa vote lewat beranda banner depan ya. Lele padamu met akhir pekan❤️