
Saat Mandarin dan Vadim masih tertidur lelap, tiba-tiba saja derap langkah kaki seperti orang berlari mendatangi dua anak itu.
Praktis, Mandarin dan Vadim langsung membuka mata ketika mendengar suara hewan penyimpan cadangan jiwa melompat-lompat seraya berseru seperti mendapati sesuatu.
"Ada apa?" tanya Vadim sembari menahan kantuk.
"Oh!" pekik Mandarin yang sudah kembali pulih usai beristirahat cukup lama.
"Vadim! Mandarin! Hahaha! Aku senang sekali bertemu kalian!" seru Nicolas dengan wajah gembira dengan hewan penyimpan cadangan jiwa berada di salah satu pundaknya.
Vadim dan Mandarin langsung berdiri dengan sigap. Ketiganya berpelukan terlihat begitu senang dengan senyum merekah, termasuk tiga hewan lucu tersebut.
"Hah, aku sempat ragu awalnya. Namun, hewan milikku terus berlari. Mau tak mau, aku mengejarnya hingga tiba di tempat ini. Ya ampun, aku lelah sekali," ucap Nicolas langsung duduk dengan napas tersengal.
"Oh, minumlah. Aku masih ada persediaan air," sahut Vadim seraya mengambil botol minum dari dalam tasnya.
Nicolas segera duduk dan meneguknya hingga habis. Mandarin merasa kagum karena luka-luka di tubuhnya sudah menghilang seolah serangan mengerikan yang terjadi padanya dan meninggalkan bekas itu tak pernah menimpa.
"Apakah kalian bertemu yang lainnya?" tanya Nicolas seraya memberikan botol yang sudah kosong itu kepada pemiliknya.
Vadim dan Mandarin menggeleng. Nicolas kembali lesu dengan wajah cemberut.
"Kita harus melanjutkan perjalanan. Aku belum menelusuri wilayah sebelah sana. Bagaimana jika kita ke tempat itu?" ajak Vadim seraya menunjuk sebuah tempat di kejauhan.
"Ya, boleh. Aku merasa sudah cukup lama terperangkap di tempat aneh ini. Kita juga terpisah dengan kawan-kawan lainnya. Kita harus segera berkumpul untuk menyelesaikan misi berikutnya. Namun, apakah kalian sudah ada yang tahu tentang misi selanjutnya?" tanya Mandarin menatap dua kawannya lekat.
Saat Vadim dan Nicolas menggeleng, tiba-tiba saja muncul portal di dekat mereka. Segera, tiga anak itu berdiri dan terlihat siap untuk membaca instruksi misi tersebut.
Namun, seperti dengan kawan-kawan lain yang sudah mengetahui misi tersebut, anak-anak itu ikut memekik.
"Gila! Kita diminta untuk berhadapan dengan Kraken?!" teriak Nicolas sampai matanya melotot.
"Apakah makhluk itu bisa dibunuh? Gurita itu memiliki berapa tentakel sih?" tanya Vadim ngeri membayangkan.
"Entahlah. Aku aku tak pernah makan gurita sebelumnya. Hanya saja, jika di film-film, hewan itu sangat besar bahkan bisa meremukkan kapal. Kraken juga memangsa manusia. Ini sama saja bunuh diri!" seru Nicolas yang merasa enggan untuk menjalankan misi.
"Akan tetapi, hanya itu caranya untuk bisa lanjut ke level berikutnya. Kita harus berhasil agar bisa kembali ke Bumi!" timpal Mandarin, tapi Vadim dan Nicolas tetap memasang wajah kesal.
"Ah sudahlah. Yang penting, kita segera pergi dari tempat ini. Kita harus mengisi ulang perbekalan. Punyaku hanya cukup untuk hari ini saja, besok kita bisa kelaparan," ucap Vadim lesu.
Mandarin dan Nicolas mengangguk paham. Tiga orang itu berjalan dengan gontai menyusuri padang rumput hingga memasuki wilayah hutan berkabut meski sekitar tempat itu masih terang.
Hingga tiba-tiba, para hewan penyimpan cadangan jiwa seperti takut akan sesuatu. Mereka langsung naik ke tubuh tiga anak manusia itu dengan tergesa.
"Eh, eh, ada apa?" tanya Nicolas bingung karena kaki hewan lucunya sampai menempel di wajah.
Tiga hewan itu melompat-lompat di bahu anak-anak itu dengan panik seraya menyuarakan lengkingan mereka.
__ADS_1
Mandarin, Vadim dan Nicolas melihat sekitar. Di mana kini, mereka harus menerobos hutan karena wilayah itu belum dijelajahi sebelumnya.
"Ada apa ya?" tanya Mandarin bingung seraya mendongak ke atas seperti mencari sesuatu yang membuat hewan-hewan itu seperti gelisah akan sesuatu.
Hingga tiba-tiba, "Woah! Itu apa? Manusia?!" pekik Vadim menunjuk ke atas pohon sampai matanya melebar.
Praktis, Mandarin dan Nicolas merapatkan tubuh ke tempat Vadim lalu mengikuti arahan dari telunjuknya.
Tiga anak itu tampak kaget saat melihat sosok seperti gadis kecil, tapi dalam cerita dongeng, layaknya penyihir.
Gadis itu diam saja dan duduk dengan manis menatap tiga remaja lelaki itu. Sedang Vadim, Nicolas dan Mandarin tampak tegang karena mereka khawatir jika gadis penyihir itu adalah ancaman.
"Kita pergi dan bersikap biasa saja," bisik Vadim, dan dua kawannya mengangguk pelan meski mata mereka masih terkunci pada sosok tak dikenal itu.
Mereka melangkah dengan gugup mencoba untuk melewati wilayah lain agar tak bertemu dengan gadis itu atau makhluk sejenisnya.
Anak-anak itu masih trauma saat mendapatkan misi melawan para penyihir dan membuat beberapa kawan mereka tewas mengenaskan.
Jantung tiga remaja lelaki itu berdetak cepat tak karuan dan membuat ketegangan sendiri. Mata mereka melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada serangan yang akan menewaskan mereka.
SRAK! SRAK!
Kembali, langkah tiga anak itu terhenti. Mereka mematung saat merasa jika dibuntuti. Vadim menoleh karena penasaran.
Dan kini, tubuhnya terbalik dengan kedua kaki menapak dahan pohon yang melintang di atas. Kepala gadis itu berada di bawah sedang menatap Vadim lekat tanpa berkedip.
"Lari!" teriak Vadim panik.
Seketika, Nicolas serta Mandarin ikut berteriak dan berlari kencang tak berani menolah ke belakang.
Tiga remaja itu lari terbirit-birit dengan tiga hewan penyimpan cadangan jiwa ikut melengking seperti merasakan ketakutan yang sama.
"Jangan sampai tertangkap!" teriak Mandarin, dan dua kawannya mengerti hal itu.
Mereka berlari kencang seraya melompati beberapa benda yang menghalangi langkah. Anak-anak itu seakan tak peduli dengan bahaya yang mungkin akan dijumpai di depan karena takut dengan penyihir tersebut.
"Hihihihi!"
"Waaa! Dia udah bersuara! Kabur!" teriak Vadim semakin ketakutan dan rasa panik itu menular ke dua kawan lelakinya.
Mereka tak berani menoleh dan terus berlari. Hingga tiba-tiba, SPLASH!
"Oh! Sungai!" pekik Nicolas ketika alas sepatunya menginjak genangan air tepian sungai.
Wilayah itu terlihat berbeda karena terselimuti kabut dengan warna sedikit merah jingga. Nicolas menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Namun, matanya langsung melotot saat melihat penyihir cilik itu terbang dengan dua tangan terjulur ke depan seperti siap menangkapnya.
"Waaa! Lari! Seberangi sungai!" teriaknya histeris hingga wajahnya pucat pasi.
Vadim dan Mandarin yang melihat hal itu ikut berteriak. Mereka nekat menerobos sungai agar tak dikejar oleh penyihir.
Namun sepertinya, usaha mereka berhasil. Penyihir itu langsung memeluk sebuah pohon dan menatap tiga anak itu dengan sorot mata tajam tak lagi mengejar.
Sedang, tiga anak itu yang masih dilanda kepanikan terus menyeberang hingga tiba di tepian sisi lain hutan.
Napas ketiganya tersengal, tapi tiga hewan penyimpan cadangan jiwa mulai tenang tak panik lagi.
"Hah, hah, apa kita selamat?" tanya Nicolas seraya melihat sekitar mencoba mencari keberadaan penyihir bertopi besar itu.
"Hah, hah, ya ampun. Jantungku serasa ingin meledak," keluh Mandarin seraya memegangi dadanya.
Ia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat cepat seperti ingin melompat dari tempatnya.
"Jangan berhenti. Namun, sebaiknya kita susuri tepian sungai saja. Aku masih takut masuk ke dalam hutan," pinta Vadim bergidik ngeri saat melihat hutan di belakangnya yang kini terselimuti kabut dan terlihat redup.
"Ya, aku setuju. Ayo!" sahut Nicolas dan diangguki dua remaja itu.
Tiga anak lelaki itu menyusuri tepian sungai dangkal dan membiarkan celana serta sepatu mereka basah.
Saat mereka masih waspada dengan ancaman sekitar, tiba-tiba terlihat cahaya terang seperti api yang berkobar di kejauhan.
Praktis, langkah tiga anak itu terhenti dan memilih untuk bersembunyi di balik semak. Anak-anak itu mengendap untuk mencari tahu asal dari cahaya terang itu.
Dan seketika, mata mereka melebar saat mendapati seekor makhluk seperti kuda yang mengeluarkan kobaran api dari tubuhnya sedang berada di sebuah kolam dangkal.
"Woah, keren, tapi ... berbahaya tidak?" tanya Vadim kagum.
Nicolas dan Mandarin menggeleng tidak tahu, tapi entah kenapa, mereka merasa nyaman dengan keberadaan kuda api tersebut.
Tiga anak itu seperti terhipnotis. Mereka berjongkok di balik semak dengan wajah terbengong.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
kwkwkw maap tips koin jeng shofia kececer😆 untung sempet lele jelajahi lagi. makasih ya udah diingetin. lele padamu💋
__ADS_1