
Gibson dan lainnya segera memasuki gerbang batu yang ternyata adalah pintu masuk menuju ke dunia bawah atau disebut Gerbang Hades.
Mereka menyalakan lentera karena tempat itu bercahaya remang dan hanya disinari oleh lava yang berpijar di kejauhan.
Para remaja itu tampak kagum saat melihat bekas reruntuhan dalam bangunan mirip kastil tua karena terdapat banyak patung, dan beberapa pilar masih berdiri kokoh untuk menopang.
"Lihat patung-patung itu! Besar sekali!" seru Vadim sampai kepalanya mendongak ke atas ketika menunjuk sebuah patung berwarna hitam terbuat dari batu terlihat garang dan kokoh.
"Oh! Ada tulisannya! Dewa Hades! Ini Hades!" seru Nicolas yang ternyata bisa membaca tulisan bahasa Mitologi.
Laika diam sejenak saat anak-anak itu ikut membaca tulisan tersebut. Tiba-tiba, Laika mendatangi Ryan dan berbisik padanya. Czar mengamati gerak-gerik teman wanitanya dan ikut mendekat.
"Ada apa?" tanya lelaki itu tampak penasaran.
Laika tak menjawab dan hanya tersenyum. Ryan mengeluarkan ponselnya dan membuka menu pada galeri.
"Oh! Kau benar, Laika!" seru Ryan yang membuat kepala semua anak menoleh padanya.
"Apanya yang benar?" tanya Harun ikut mendekat.
"Mungkin karena kita meminum ramuan aneh dari para bajak laut, kita bisa bicara bahasa Mitologi dan membaca tulisannya. Ingat yang kita temukan saat di kastil tempat Tina terbunuh?" tanya Laika seraya melirik Timo. "Maaf, Timo jika aku menyebut adikmu," ucap Laika, tapi Timo mengangguk tak masalah dengan senyuman.
"Oh! Maksudmu ... tulisan di dinding yang ditemukan oleh Tina waktu itu?" sahut Bara, dan Laika mengangguk.
"Apa bacanya, Ryan?" tanya Mandarin ikut penasaran.
"Di sini tertulis, 'Mereka menyebut kami Dewa, sedang di sini kami adalah ilmuwan. Para makhluk Mitologi penghuni Bumi adalah ciptaan kami. Di sini, para makhluk Mitologi hidup aman terlindungi. Jauh dari keserakahan manusia yang memanfaatkan kekuatan kami. Para Dewa dan makhluknya tak akan kembali karena Bumi sudah terkutuk untuk kami'. Wow," ucap Ryan yang membuat mulut semua anak menganga lebar seketika.
"Jadi ... mitos-mitos, legenda dan dongeng yang kita dengar sebelumnya itu ... memang ada? Dulunya memang ada makhluk-makhluk seperti itu? Mereka lalu dikisahkan, tapi sebenarnya... para Dewa dan makhluk-makhluknya alien begitu? Pendatang?" tanya Azumi terlihat bingung dalam menjelaskan.
"Jika tulisan di dinding memiliki arti demikian, mungkin hal itu benar adanya," sahut Vadim terlihat serius.
"Mungkinkah ... mereka datang ke Bumi, lalu melakukan penelitian, ambil sampel dari hewan-hewan yang hidup di Bumi lalu ... ah, Juby bingung!" sahut Jubaedah pusing sendiri seraya meremat-remat kepalanya.
__ADS_1
"Melihat campuran makhluk yang kita lihat di planet ini, sepertinya benar. Separuh dari mereka manusia dan sisanya binatang. Bahkan beberapa jenis hewan-hewan itu seperti yang ada di Bumi. Udara di sini pun bisa kita hirup. Malah aku berpikir, planet ini sebenarnya buatan bukan planet sungguhan seperti Bumi," ungkap Timo seraya melihat sekitar.
"Ha? Planet buatan?" sahut Rangga sampai melotot.
"Maksudku ... memang ada planetnya, tapi mungkin dibenahi dan dibuat seperti di Bumi agar makhluk-makhluk campuran itu bisa hidup. Intinya ... begitulah. Kalian paham yang kukatakan?" tanya Timo mencoba menjelaskan.
Beberapa anak mengangguk, tapi sebagian menggeleng. Timo garuk-garuk kepala dengan wajah lugunya.
"Jadi benar yang dikatakan Heros kala itu. Dia bilang pernah ikut perang yang cukup mengerikan saat di Bumi. Mungkin karena itu beberapa makhluk Mitologi membenci manusia. Ah, kini menjadi semakin jelas dan masuk akal," sahut Lazarus yang ditatap oleh semua anak.
"Lalu ... soal bagaimana kita bisa berubah wujud, apakah dijelaskan di sana?" tanya Boas menatap Ryan lekat.
Namun, pemuda dengan darah campuran India-Amerika itu menggeleng seraya melihat layar ponselnya.
Semua anak tampak kecewa, tapi setidaknya mereka mendapatkan petunjuk akan kejadian di masa lalu yang masih sulit untuk dipercaya.
"Tempat ini kurasa aman untuk beristirahat. Kita bermalam dulu di sini lalu lanjutkan esok hari. Bagaimana?" usul Gibson, dan diangguki semua anak yang sepemikiran dengannya.
Para gadis menyiapkan tempat untuk istirahat dan memasak. Sedang para lelaki, sibuk menelusuri sekitar bangunan seperti penasaran.
"Aku penasaran. Lalu ... Oag siapa? Kulihat tak ada manusia di planet ini, tapi beberapa banyak yang mirip seperti para Elf, lalu ... Kurcaci, para penyihir, dan lainnya. Ke mana para manusia yang dikatakan Dewa itu? Apakah ... mereka telah meninggal atau bagaimana?" jawabnya seraya menatap patung Hades lekat.
"Entahlah, aku juga bingung menyikapi hal ini. Semuanya rumit dan membuat kepalaku pusing. Aku lelah, lapar dan ingin segera tidur," jawab Kenta dengan wajah kusut.
Rex tersenyum dengan anggukan. Tak lama, sajian siap dari perbekalan yang mereka simpan pada petualangan sebelumnya.
Anak-anak makan dengan lahap dan tetap berbagi agar semuanya terbagi rata.
"Besok adalah hari yang berat. Jadi, tidurlah dengan nyenyak. Aku dan Rangga akan berjaga dulu selama dua jam, lalu dilanjutkan Harun dan Rex. Bagaimana?" saran Gibson menawarkan.
"Oke!" sahut Rex, Harun dan Rangga siap menunjukkan jempol.
Anak-anak yang lain segera tidur dan para gadis merapikan perlengkapan sebelum memejamkan mata.
__ADS_1
Gibson merubah wujudnya menjadi Hanoman, begitupula Rangga dengan sosok Minotaur untuk mengamankan kawan-kawannya jika terjadi serangan tak terduga.
Suasana yang tadinya sedikit ramai menjadi hening ketika anak-anak itu terlelap. Api unggun dinyalakan sebagai penerang dalam kegelapan meski tangan Ryan ikut bercahaya.
Sedang Rangga dan Gibson duduk bersebelahan terlihat serius mengamati wujud Mitologi mereka.
"Para ilmuwan itu sungguh hebat karena bisa melakukan kombinasi ciptaan seperti ini. Wujudku ... terasa sungguh nyata. Jika aku berhasil kembali ke Bumi, apakah ... aku masih bisa menggunakan kemampuan ini?" tanya Rangga serius.
"Entahlah. Aku juga penasaran. Bahkan, aku sudah menyiapkan banyak daftar pertanyaan untuk Oag jika bertemu dengannya," sahut Gibson seraya menunjukkan sebuah buku yang dituliskan olehnya sembari berjaga.
"Wow! Kau dapat dari mana benda itu?" tanya Rangga heran.
"Ryan," jawab Gibson santai seraya melirik kawannya yang tidur dengan dengkuran lirih.
Rangga terkekeh sembari mengambil buku itu lalu membacanya.
"Hahaha! Pertanyaanmu banyak sekali. Apakah Oag akan menjawab semuanya?" tanya Rangga sampai menggelengkan kepala.
"Yang penting sudah dipersiapkan. Biasanya, saat kita mendapatkan kesempatan, tiba-tiba lupa karena gugup. Nah, untuk mengantisipasi hal itu, aku menuliskannya mumpung sempat," jawab Gibson santai, dan Rangga mengangguk setuju dengan senyuman.
"Semoga Oag tak pusing karena pertanyaanmu sudah mirip wartawan," ucap Rangga yang membuat keduanya tertawa pelan.
Sedang di Markas Oag.
Para alien bercorak biru itu terdiam mendengarkan pembicaraan dari para anak manusia yang selamat dan kini bersiap untuk melanjutkan ke misi level 7.
Tiba-tiba, Oag meninggalkan ruangan dalam diam. Ia menuruni tangga batu memasuki kolam yang ternyata adalah kamarnya.
Oag menenggelamkan dirinya seperti makhluk air pada umumnya. Ia mengambil sebuah papan batu seukuran buku dan mengambil benda seperti pengukir.
"Hem, kurasa aku harus ikut bersiap. Pertanyaan Gibson cukup banyak dan sulit," guman Oag seraya menyiapkan jawabannya pada papan batu tersebut.
***
__ADS_1
ya ampun sampai gak sempet upš©rasanya pengen crazy up tapi entah bisa apa gak. doain aja lele selalu sehat. uhuy makasih tipsnya. lele padamuš