
Monster laut dengan sosok gurita raksasa itu dengan cepat menggerakkan tentakel-tentakelnya mengurung kapal alien bajak laut.
Semua anak panik, tapi para alien meminta mereka untuk tak berteriak. Suara decitan kapal karena tentakel Kraken mulai merontokkan kayu, membuat nyali anak-anak itu ciut seketika.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Kapan kita menyerang?" tanya Rangga terlihat sudah siap dan merasa kapal bocor karena air mulai masuk ke dalam celah-celah kapal yang retak.
"Tahan. Dia sengaja membuat kita panik. Dia akan senang saat mendengar jeritan ketakutan kita. Kali ini, kita tunjukkan pada Kraken bahwa lawannya tak bisa diremehkan," jawab Viper terlihat siap dengan jari pisaunya.
Jubaedah dan lainnya mengangguk mantap, hingga akhirnya ....
KREKK! KRAKK!
"SERANG!" seru Kapten bajak laut yang posisinya berada di atas lambung kapal.
Terdengar jelas suara benda patah sangat keras yang diyakini adalah tiang kapal. Praktis, teriakan-teriakan penuh semangat mulai menyeruak di sekitar kapal.
"Rex! Sekarang!" seru Jubaedah saat Bara dengan sigap membuka semua jendela bergantian yang sengaja ditutup di bagian lambung kapal.
Rex segera menuangkan minyak ke tentakel Kraken yang terus bergerak ke atas menggunakan botol minum.
Rangga dan Jubaedah dengan sigap ikut bergerak di belakang Rex begitu lelaki bermata sipit itu menuang minyak di tentakel lain melalui jendela lainnya.
Seketika, WHOOM!
"HORGHH!"
Suara erangan Kraken santer terdengar begitu monster itu merasakan tubuhnya terbakar. Seketika, senyum gadis asal Indonesia itu terkembang.
Rangga dan Jubaedah membakar tentakel Kraken dengan obor dalam genggaman tangan saat minyak-minyak tersebut melumuri tubuh monster laut tersebut.
"Jangan senang dulu. Ia akan mengamuk setelah ini. Bersiap!" seru Viper lantang.
Benar saja, BRAKK!!
"AAAA" Jubaedah spontan berteriak saat ujung tentakel Kraken menjebol jendela yang terbuka hingga sulurnya masuk ke dalam.
"Sekarang!" seru Bara saat melihat sulur itu seperti ingin meremukkan penyangga kapal.
"Juby mau masak Sushi! Hiyahhh!"
SRETT!!
"HORGGG!"
__ADS_1
Jubaedah menggunakan belati miliknya untuk menyayat dan menusuk tentakel Kraken yang memasuki lambung kapal tanpa ampun.
"Psstt! Kali ini, kau yang menjadi santapan kami, Kraken!" seru Viper saat ia dengan sigap memotong tentakel-tentakel besar itu dibantu oleh anak-anak yang lain.
Rangga, Bara, dan Rex mengganti senjata mereka dengan pedang yang sudah diikat pada punggung. Mereka menyayat dan menebas tentakel Kraken yang masuk ke lambung kapal.
Viper sudah mengajarkan strategi bagaimana mengelak dari serangan hisapan tentakel Kraken dengan tiarap atau berjongkok usai menyerang dan segera berpindah tempat.
"Gunakan gas itu, sekarang!" seru Viper yang dengan gesit bergerak menghindar menuju tangga menuju atas.
Dengan sigap, Jubaedah, Rangga, Bara, dan Rex mendorong tong-tong berisi gas beracun dari sosok naga Rex ketika dalam wujud Mitologi.
Gas hijau beracun itu ditampung dalam tong-tong kayu bekas dan ditutup rapat sebagai salah satu senjata untuk melumpuhkan Kraken.
Saran dari Rex ternyata diterima oleh para alien dan mereka menerapkannya. Sekejap, lambung kapal terselimuti gas hijau beracun tersebut.
"Naik ke atas!" titah Viper.
Jubaedah dan semua anak segera menaiki tangga saat tentakel Kraken yang terkena dampak gas tersebut mulai mengering seperti menyusut.
Pintu menuju lambung kapal ditutup rapat agar gas beracun tak menyeruak. Ternyata di geladak, serangan Kraken begitu buas.
DOOM! DOOM!
Suara dentuman meriam yang ditembakkan oleh para alien, membuat suasana peperangan sore itu terasa begitu mencekam.
Beruntung, perut mereka sudah diikat dengan tali ke bagian kapal sehingga saat kapal berguncang, mereka tak tercebur di lautan, tapi rasa sakit tetap dirasakan karena tertarik kuat.
"Segera ikat tubuh kalian! Jangan biarkan Kraken mengambil dan menyantap kalian!" seru alien siput yang bertugas khusus menyelamatkan anak-anak yang hampir jatuh dari kapal.
Tubuhnya yang bisa menempel di dinding dengan kuat, membuatnya seperti tak terkena dampak dari serangan mengerikan itu.
Jubaedah dan timnya segera mengikat tubuh mereka dengan tali yang sudah dipersiapkan.
"Bakar dia!" seru alien yang memiliki empat tangan seraya melemparkan botol-botol kaca bekas rum ke tubuh Kraken dibantu Boas dan Timo.
Botol-botol tersebut telah diisi dengan minyak. Tubuh Kraken kini sudah terlumuri cairan mudah terbakar itu di beberapa bagian.
Nicolas yang dipercaya untuk memanah karena wujud Elf saat dalam bentuk Mitologi, dengan sigap melesatkan anak panahnya yang sudah berkobar dalam api.
Vadim dan Pasha membantu dengan menusuk tubuh Kraken menggunakan tombak berbentuk Trisula yang sudah dilumuri oleh racun dari ekor kalajengking Manticore saat Pasha berwujud makhluk tersebut.
Kali ini, Kraken seperti tak menduga jika serangan kombinasi antara anak-anak manusia dengan para alien itu membuatnya sampai mengerang kesakitan.
Ide anak-anak untuk menggunakan racun wujud Mitologi mereka ternyata sangat membantu di mana persenjataan tak cukup untuk membunuh monster buas itu.
"Singkirkan tentakelnya! Kita masih bisa lolos dari perairan ini! Cepat!" seru Kapten bajak laut yang fokus pada kemudi dan lainnya sibuk menyerang Kraken.
__ADS_1
Tubuh Kraken terluka dan terbakar di beberapa bagian. Ditambah racun yang kini membuat delapan tentakel besarnya mengalami cacat, perlahan monster air besar itu seperti mengalah.
"Sulurnya mulai terlepas!" seru Gibson yang ikut melakukan penyerangan dengan mengincar kepala Kraken saat muncul dengan melemparinya menggunakan Rainbow Gas milik Rex ke dalam lautan.
Mereka terpaksa meracuni laut agar Kraken bisa dikalahkan. Siapa sangka, hal itu berhasil. Kraken mulai terkena dampak saat pergerakannya terbaca hampir di seluruh sudut kapal yang dijaga oleh alien dan anak-anak.
"Kami sudah melawanmu ratusan kali, Monster jelek! Kami sudah hapal teknik seranganmu! Hahahaha!" tawa sang Kapten saat mendengar raungan kesakitan dari mahluk besar tersebut karena terluka parah.
Gibson, Harun, Azumi, Ryan, Laika, dan Czar fokus menjatuhkan Rainbow Gas ke sisi bagian kapal saat kepala Kraken terlihat.
Sedang sisanya, menyerang kedelapan tentakel pembunuh itu dengan berbagai cara. Lazarus, Kenta dan Mandarin tampak sigap saat ikut membakar Kraken menggunakan obor seraya menusuknya menggunakan pedang.
"Haha! Mati kau, Kraken! Inilah akhir dari hidupmu!" seru Kapten bajak laut gembira saat tentakel-tentakel monster tersebut mulai terlepas dari kapal kayu miliknya meski beberapa bagian sudah runtuh, tapi tak menenggelamkan benda terapung tersebut.
"Yeah! Kita berhasil!" seru Mandarin senang.
Semua orang bersorak karena Kraken berenang menjauh dari kapal usai dirinya dibuat babak belur.
Namun tiba-tiba, "Oh! Apa yang terjadi?" tanya Timo panik saat ia melihat tubuhnya bersinar terang, begitupula beberapa anak lainnya.
"I-ini ...," sahut Kenta tampak gugup.
"Hewan penyimpan cadangan jiwa!" seru Vadim dan Pasha serempak.
Anak-anak itu segera menjatuhkan semua senjata. Mereka melepaskan tali pengikat dan berlari meninggalkan pos masing-masing.
Saat mereka akan memasuki pintu menuju lambung kapal, alien dengan corak biru menghadang anak-anak tersebut. Praktis, langkah para remaja itu terhenti seketika.
"Kalian masuk ke dalam, kalian mati," ucapnya.
Praktis, anak-anak itu langsung lemas seketika. Mereka baru sadar jika para makhluk penyimpan cadangan jiwa terkurung di dapur.
Tempat itu dipenuhi oleh racun hijau dari naga Rex. Semua anak lemas dan ambruk di lantai kapal usai mereka menyadari jika nyawa mereka kini telah utuh dan tak ada cadangan lagi.
"Kita akan mati di tempat ini," ucap Azumi pesimis.
Semua orang diam seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Uhuy makasih tipsnya diriku😆Kwkwkw lagi cemangat dubbing walaupun bijian biar gak utang kerjaan dan bisa urus debay dengan hati yang tenang. Hehe. Doain lele selalu sehat biar upnya lancar. Amin. Lele padamu LAP😍
__ADS_1