
Czar menemui sosok hitam tersebut ditemani kawan-kawannya. Makhluk berjubah hitam tanpa wajah itu menatap Lembuswana seperti Satyr yang ia hisap jiwanya.
Makhluk seperti gajah itu sepertinya tahu jika nyawanya terancam. Lembuswana memberontak dan membuat Ryan kesulitan memeganginya. Benar saja, KRAKK!!
"Agh!" erang Ryan saat tangan kayunya lagi-lagi dipatahkan oleh salah satu makhluk mitologi.
Czar dan lainnya panik karena Lembuswana berhasil kabur dengan mengepakkan sayapnya seperti ketakutan menghadapi sosok hitam itu.
Namun tiba-tiba, "Hoorrghhh!" erang Lembuswana saat tubuhnya tertarik ke belakang meski ia sudah berusaha untuk terbang menjauh.
Anak-anak yang melihat kemampuan sosok hitam itu dibuat tertegun. Mata mereka terfokus pada juluran tangan kiri sosok hitam seperti menarik tubuh Lembuswana yang berusaha lari darinya.
Seketika, "Oh! Jiwanya dihisap!" seru Nicolas heboh sambil menunjuk.
Anak-anak yang melihat kengerian tersebut tampak ketakutan. Mereka saling memegang lengan kawannya karena Lembuswana tersebut sampai tak bisa berkutik melawan kekuatan sosok hitam tersebut.
"Hoorgghh ... hoo ...."
BRUKK!!
"Di-dia mati," ucap Boas sampai tergagap saat melihat monster yang bisa berubah menjadi raksasa itu mengering dan tergeletak tak bernyawa di atas lantai batu.
Anak-anak melirik ke arah sosok hitam yang tampak puas usai menyantap jiwa dari Lembuswana. Para remaja itu menelan ludah dengan wajah pucat.
"Ke-kenapa dia dihukum olehmu?" tanya Lazarus memberanikan diri bertanya.
"Saat Lembuswana kehilangan tuannya, dia tak lagi mengabdi kepada para raja di tempatnya berasal. Ia hilang arah dan malah menjadi monster perusak hingga membuat beberapa manusia dan hewan di sekitar sungai tempatnya tinggal tewas. Atas kekejamannya di Bumi, Lembuswana diseret kemari untuk menerima hukumannya. Namun, selama di penjara, sikap buasnya tak bisa dikendalikan. Dia membuat para penghuni penjara Hades merasa terusik dan harus dilenyapkan," jawab sosok hitam itu yang membuat semua anak mengangguk paham dalam diam.
"Jadi ... apakah aku lolos misi level 7?" tanya Czar gugup.
"Selamat Czar, kau lolos. Kau bisa membantu kawan-kawanmu untuk menyelesaikan misi level 7. Ingat, hanya 13 anak yang dianggap lulus dalam level ini," tegas sosok hitam itu yang membuat senyum Czar terkembang.
"Terima kasih!" jawab Czar senang, begitupula anak-anak yang lain.
"Kalau begitu, bantu kami ya!" ucap Lazarus, dan Czar mengangguk mantap.
Anak-anak kembali masuk ke pintu penjara untuk berkumpul bersama Gibson dan lainnya. Tentu saja, kabar baik lulusnya Czar membuat semua anak lega. Satyr tersebut tampak bangga karena dia merasa sudah membantu.
Vadim terpaksa memberikan jaket yang ia dapatkan dari pohon natal kala itu sebagai hadiah.
Akan tetapi, Satyr tersebut menolaknya. Namun, Azumi berhasil meyakinkan Satyr tersebut jika jaket itu sangat berguna untuknya nanti dan menjaga tubuh tetap hangat.
"Coba saja kau pakai. Jaket itu sangat tebal dan hangat. Kau tak akan kedinginan meski tak ada api unggun," ucap Azumi dengan senyum manisnya.
Satyr tersebut mencoba memakai jaket tebal itu dengan wajah kesal. Namun, setelah jaket itu terpasang di tubuh bagian atas, ekspresi wajahnya tampak lain.
"Rasanya ... aku seperti dipeluk," ucapnya yang membuat anak-anak terkekeh.
__ADS_1
"Itu pemberian Santa Claus. Barang tersebut sangat berharga. Benda itu menyelamatkanku dari udara dingin yang membeku. Tanpa itu, pasti aku sudah jadi manusia es. Jaga benda itu baik-baik," tegas Vadim masih terlihat tak rela memberikan benda tersebut pada Satyr sombong itu.
"Hem boleh juga benda buatan manusia ini. Oke, jadi ... siapa buruan kita selanjutnya? Aku tak sabar mendapatkan hadiahku lainnya. Apa katamu tadi, natal? Hem. Anggaplah natal datang di penjara Hades," ucap Satyr tersebut dengan senyum terkembang dan tangan direntangkan.
"Dia ini memang aneh," ucap Bara mengernyitkan dahi, dan Lazarus mengangguk mantap tanda setuju.
"Berhubung kita dekat dengan sungai seperti yang kaukatakan sebelumnya jika ada Kappa di sana, kita tangkap makhluk itu. Bagaimana?" usul Mandarin.
"Hem, Kappa. Dia ... jarang terlihat, tapi dia berada di sungai itu. Kita harus memancingnya keluar. Kalian manusia, dan hanya satu diantara kalian yang bisa berenang. Itu akan berbahaya bagi Merman untuk menghadapinya sendiri," ucap Satyr tersebut yang terlihat unik karena jaket tebal ia kenakan.
"Lalu ... bagaimana cara memancingnya keluar dari sungai?" tanya Timo heran.
"Saat malam hari. Kita tunggu ketika kegelapan datang," jawab Satyr tersebut tenang dengan dua tangan melipat depan dada.
Semua anak saling memandang, tapi mengangguk setuju. Mereka mengikuti Satyr tersebut yang membawa mereka ke sisi lain sungai di mana ditumbuhi banyak tanaman air mengapung.
"Aku sudah menjelajahi seluruh wilayah ini. Tempat ini memang luas, tapi terdapat dinding batu yang sangat tinggi dan kokoh sehingga kami tak bisa keluar meskipun memiliki sayap untuk terbang," ucap Satyr tersebut saat ia menjumputi kayu untuk membuat api unggun.
"Apakah ... tempat ini dilindungi sehingga kalian tak bisa kabur?" tanya Harun menebak.
"Sosok hitam itu seperti memiliki mata di semua tempat. Entah dia hanya ada satu atau banyak, tapi tak pernah ada satu pun makhluk mitologi yang berhasil lolos dari cengkeramannya. Hal terakhir terjadi sekitar 500 tahun silam saat beberapa makhluk berhasil kabur dari penjara dan keluar dari gerbang. Kala itu aku tak ikut padahal mendapatkan peluang. Aku merasa, usaha itu sia-sia saja, dan ternyata benar. Para tahanan itu tewas setelah nyawa mereka dihisap oleh sosok hitam itu. Dia menunjukkan pemberontakan para tahanan kepada kami saat ia memasuki tiap wilayah di penjara Hades," ucap Satyr tersebut tampak takut dengan sosok hitam penghisap jiwa itu.
"Ahh, mungkin karena itu terdapat banyak panji-panji di luar gerbang. Meskipun tempat itu sepi, tapi ternyata bekas peperangan silam. Namun sepertinya, banyak zombie yang menjaga tempat itu. Buktinya, kami hampir di tangkap oleh para makhluk yang tak bisa mati itu," ucap Rex teringat kejadian beberapa waktu lalu.
"Ah ya, mayat hidup. Sosok hitam mengubah mereka menjadi makhluk terkutuk, tak bisa mati, tapi jiwa mereka merana. Merekalah para tahanan yang tewas karena dihisap jiwanya oleh sosok hitam itu. Mereka menjadi penjaga lembah kematian untuk memastikan tak ada tahanan kabur dari penjara Hades," jawab Satyr tersebut seraya duduk di atas batang pohon menatap tumpukan kayu yang berhasil dikumpulkan anak-anak untuk dibuat api unggun dekat sungai.
"Aku lapar," ucapnya kemudian seraya menatap anak-anak itu dengan wajah malas.
Kenta dan lainnya berdecak kesal. Saat Timo akan menyelam untuk menangkap ikan, kening Satyr itu berkerut.
"Kau yakin akan masuk ke air lagi? Bagaimana jika diserang oleh para tahanan penghuni sungai?" tanyanya ragu.
"Aku dan Gibson sudah menyelam sebelumnya. Banyak ikan di dalam sungai. Selain itu, kami tak menemui makhluk lain kecuali si Lembuswana," jawab Timo yakin.
"Namun, Lembuswana sudah tak ada. Pasti akan ada penguasa sungai yang baru. Entah makhluk apa berikutnya, tapi ... pasti ada. Semua makhluk mitologi di kawasan ini ingin menjadi penguasa. Aku hanya ingin mengatakan, hati-hati dan semoga kau kembali dalam keadaan utuh," ucap Satyr tersebut seraya mengambil buah anggur lagi lalu menikmatinya dengan santai.
Timo jadi terlihat ragu untuk menyelam usai mendengar penjelasan Satyr tersebut.
"Kita cari makanan lain saja," ucap Azumi khawatir.
"Baiklah. Kita cari makanan di dalam hutan," ucap Rangga kemudian.
"Di dalam hutan juga berbahaya. Kalian bisa dimangsa oleh makhluk mitologi buas lainnya," sahut Satyr tersebut yang membuat anak-anak bingung mengambil keputusan.
"Lalu kami harus bagaimana? Kau mendapat anggur itu dari mana?" tanya Kenta kesal.
Satyr itu hanya diam dan terus mengunyah. Kenta yang kesal bersiap untuk menghajar makhluk setengah kambing itu, tapi lagi-lagi dihalangi oleh kawan-kawannya.
__ADS_1
Satyr tersebut tertawa gembira karena berhasil membuat emosi Kenta meledak.
Namun, Satyr itu seperti melakukan sesuatu. Ia mengeluarkan seruling dari dalam tasnya dan memainkan sebuah musik yang terdengar indah di telinga para remaja itu.
Hingga tiba-tiba, "Jangan diam saja, bodoh! Lihat ikan-ikan itu melompat! Tangkap!" teriak Satyr itu garang saat menghentikan tiupan serulingnya.
Praktis, anak-anak yang malah terlena dengan suara merdu musik tersebut langsung menoleh ke arah sungai.
Ryan yang sudah pulih karena meminum ramuan ajaib, dengan sigap membuat sebuah jaring dari dahan yang ia rangkai dengan kemampuan tuan pohon.
Satyr tersebut mengamati gerak-gerik Ryan saksama tampak seperti terpukau dengan keahliannya.
"Gunakan ini untuk menjaring mereka," ucap Ryan seraya memberikan jaring buatannya yang berukuran cukup besar dan kuat.
"Wah! Kau keren sekali, Ryan! Kau sepertinya sudah mulai bisa menggunakan kemampuanmu!" ucap Gibson memuji, dan diangguki kawan-kawan lainnya.
Ryan segera berubah menjadi manusia lagi. Ia menunggu di dekat tumpukan kayu untuk membuat api unggun bersama kawan-kawannya.
Sedang Gibson dan lainnya, segera menuju ke arah sungai untuk menjaring ikan.
"Tuan Satyr! Ayo, mainkan musikmu lagi!" seru Gibson di kejauhan.
"Jangan menyuruhku! Tidak sopan!" gerutunya, tapi membuat anak-anak menahan senyum di mana mereka mulai terbiasa dengan sikap menyebalkannya.
Dengan sigap, Gibson menjaring ikan-ikan yang melompat di atas permukaan air sungai ketika makhluk berekor itu terkena dampak dari suara seruling Satyr.
"Hahaha! Banyak sekali!" seru Boas senang, begitupula Gibson, Harun dan Nicolas yang ikut memegangi jaring tersebut.
"Cepat bawa kemari!" panggil Azumi yang sudah duduk pada sebuah batu pipih ditemani Rex di sebelahnya.
Azumi akan membersihkan ikan-ikan itu di tepi sungai menggunakan belati yang dulunya dipakai oleh Jubaedah.
Rex terlihat sendu saat teringat akan kekasihnya yang biasa menggunakan alat itu untuk membersihkan ikan. Rex berpaling dan menjauh dari tepi sungai.
Ia ikut duduk di dekat Satyr dengan pandangan tertunduk melihat api unggun. Siapa sangka, Satyr tersebut seperti bisa melihat kesedihan dalam raut wajah Rex.
"Kau pasti sangat menyukainya. Wajahmu mengatakan demikian. Jadi ... di mana dia? Biar kutebak. Tewas karena menjalankan misi dari Oag?" tanya Satyr tersebut yang mengejutkan Rex dan lainnya.
"Jika sudah tahu, diam. Kau banyak mulut," tegas Rex garang dan kembali beranjak tak ingin dekat-dekat dengan Satyr yang banyak tahu itu.
"Hem, patah hati. Yah, itulah yang dirasakan oleh para manusia. Sejak dulu, tak pernah berubah. Mungkin itulah jati diri kalian sebenarnya," ucap Satyr itu cuek dan melanjutkan menikmati buah anggur terakhirnya.
***
Makasih Ajudan tipsnya. Aku padamu. Kwkwkw😆
__ADS_1