
Para Minotaur kini melawan sekumpulan remaja yang tak sejalan dengan pemikiran manusia banteng itu untuk bersekutu melawan Oag.
Meski anak-anak terlihat takut, tapi karena mereka bersama-sama dan bekerjasama, rasa takut itu berubah menjadi keberanian.
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
"Begitu granat itu dilemparkan, kalian segera menjauh dan tahan napas. Kalian mengerti?!" tegas Rex memerintahkan kelima anak asal Amerika untuk melempari Minotaur dengan batu yang ada di sekitar halaman.
Anak-anak itu mengangguk mengerti seraya terus melempari lawan yang mulai mengamuk.
"Now, Nico!" seru Rex.
SWING! DUK! BUZZ!
"Run!" perintah Jubaedah.
Seketika, kumpulan anak-anak itu berlari menghindari kepulan asap di hadapan mereka. Para Minotaur yang terkena dampak dari Rainbow Gas warna kuning mulai mengerang kesakitan.
Mereka menggelepar di atas rumput memegangi leher seperti tercekik. Mirip kejadian yang menimpa para mermaid kala itu di kolam air asin.
"Apakah kalian merasa sesak napas atau sakit tenggorokan?" tanya Jubaedah kepada lima kawan baru mereka yang ikut berlari di belakang.
"No. We're fine," jawab salah satu anak dengan napas tersengal saat kembali berkumpul.
Di sisi lain.
"Hihi!" panggil Ryan lantang yang mengejar dua Minotaur saat makhluk banteng itu berhasil menangkap peri malang yang jatuh tersungkur di tanah.
Hihi menangis saat tubuh kecilnya diangkat dengan satu tangan oleh Minotaur tersebut. Vadim dan Pasha marah karena kawan peri mereka disakiti.
"Lepaskan Hihi! Kalian keterlaluan!" seru Vadim lantang berlari di belakang Ryan.
"Awas!" teriak Nico saat dirinya bersiap untuk melemparkan Rainbow Gas yang lain.
Seketika, Vadim, Pasha dan Ryan langsung berlari menghindar.
__ADS_1
DUK! BUZZ!
"Cepat telan cairan serum ini lalu selamatkan Hihi!" titah Azumi memberikan kapsul kuning.
Segera, tiga anak lelaki itu menekan kapsul yang berisi cairan kuning dan terbungkus dari plastik ke mulut mereka.
Azumi yang sudah meminum serum penawar, segera mendatangi Hihi yang ikut terkena dampak dari gas beracun tersebut.
Para makhluk Mitologi itu mengerang kesakitan termasuk Hihi. Saat Azumi berhasil mendekati Hihi dan akan memberikan penawarnya, tiba-tiba ....
"Argh! Lepaskan aku! Tolong!" serunya lantang karena kedua pergelangan kakinya dipegangi kuat oleh salah satu Minotaur yang mampu bertahan.
Makhluk itu sepertinya tahu jika Azumi memiliki obat dari sakit yang dideritanya. Banteng itu berusaha merebut serum dari tangan Azumi.
Namun, gadis itu memberontak dan berusaha mempertahankan kapsul itu dalam genggaman. Vadim dan Pasha segera menarik tubuh Hihi agar keluar dari kepulan asap beracun.
Ryan melihat Azumi mulai kewalahan dan seketika, keberaniannya muncul. Remaja itu menaiki tubuh makhluk setengah banteng itu dan memegangi dua tanduknya kuat.
Remaja keturunan Giamoco itu membenturkan wajah lawannya ke tanah dengan kuat meski makhluk itu terus melawan.
"Azumi! Serum!" panggil Pasha panik di kejauhan karena Hihi mulai tak sadarkan diri.
Tubuh peri itu mengejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Vadim menangis seraya memeluk Hihi karena merasa akan kehilangannya.
Seketika, mata Azumi melotot melihat Hihi mulai tergolek lemah. Namun, saat ia akan melemparkan kapsul itu, sungguh naas, cairan penawar yang digenggamnya pecah dan melumuri tangannya.
Praktis, air mata Azumi langsung menetes. Pasha berlari ke arahnya karena Azumi diam saja. Saat remaja bertubuh gemuk itu berhasil mendatanginya, Pasha ikut mematung.
"Hiks ... Pasha ... maaf," ucapnya begitu sedih dengan tangisan terisak.
Minotaur yang dinaiki oleh Ryan sudah tak bergerak lagi karena telah tiada. Tiga remaja itu menoleh perlahan ke arah Vadim yang menangis seraya memeluk peri malang itu.
"Hihi ... hiks, Hihi ...."
Seketika, tangis anak-anak itu pecah karena Hihi telah berpulang untuk selamanya. Tangan Azumi sampai gemetaran karena merasa bersalah.
__ADS_1
Nicolas ikut meneteskan air mata saat melihat Hihi tak bergerak lagi dengan tubuh terbujur kaku dan pucat pasi.
Para Minotaur yang berhasil dikalahkan karena terkena dampak gas beracun tersebut tergeletak tak bernyawa di beberapa sudut halaman bangunan.
Satu per satu, anak-anak mendatangi Hihi usai meminum kapsul penawar yang diberikan Jubaedah. Sayangnya, serum itu kini telah habis tak bersisa.
Saat itu juga, kabut muncul menyelimuti wilayah tersebut. Pepohonan, tanah dan sekitarnya berubah warna menjadi merah muda sebagai tanda duka jika makhluk Mitologi di Planet itu tewas.
"Sudahlah, Azumi. Ini bukan salahmu sepenuhnya. Ini ... salah kita semua," ucap Rangga yang sudah berhasil mendapatkan kapaknya kembali dan berdiri di samping gadis Jepang itu.
Azumi tak bisa berkata apa pun. Ia duduk di samping mayat Minotaur dan terus menangis. Ryan juga merasakan hal sama. Kesedihan menyelimuti hati semua anak yang mengenal sosok Hihi.
Semua anak bersedih dan menangis karena kepergian Hihi. Bahkan, saat portal muncul, anak-anak itu seakan tak peduli.
"Kenapa kau tak menolong Hihi, Oag?! Kalian kejam!" teriak Gibson marah dan melemparkan batu ke dalam portal meski benda itu hilang saat memasukinya.
"Kita kuburkan Hihi," ucap Mandarin dan semua anak mengangguk.
Pasha dan Vadim membopong mayat Hihi ke samping pohon dengan buah berbentuk unik seperti yang peri itu makan.
C dan L menemukan perlengkapan di dalam bangunan Minotaur yang bisa mereka gunakan untuk menggali tanah.
Azumi, Jubaedah dan Tina pergi mencari bunga untuk pemakaman Hihi. Sedang para remaja pria, menggali tanah bergantian.
Tak terasa, satu jam telah berlalu. Akhirnya, lubang untuk menguburkan Hihi telah siap. Harun dan Nicolas membungkus tubuh Hihi dengan kain biru yang mereka temukan di gua Yeti.
Kenta turun ke liang lahat untuk menerima jenazah Hihi yang telah terbungkus kain. Lazarus membantu Kenta naik ke atas saat posisi tubuh Hihi dirasa cukup untuk dibaringkan selamanya.
Kelima anak asal Amerika mulai menimbun jasad Hihi dengan tanah. Air mata kembali menetes karena mereka kehilangan Hihi untuk selamanya.
"Maafkan kami, Hihi. Kami sungguh-sungguh minta maaf. Jasamu, tak akan kami lupakan. Selamat jalan," ucap Mandarin berusaha tegar, meski hatinya begitu pilu.
Semua anak terhanyut dalam kesedihan. Kepala mereka tertunduk dengan wajah sendu menatap kuburan Hihi yang tampak cantik dengan bunga-bunga indah di sekelilingnya.
***
__ADS_1
maap epsnya pendek dulu. ngetik pake hp soalnya dan masih otw. kalo ada tipo koreksi aja. tengkiyuw ❤️