MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS

MONSTER HUNTER-13 DEMON KIDS
GERBANG HADES*


__ADS_3

Saat anak-anak itu sedang dirundung ketakutan dan berusaha untuk menenangkan diri, lagi-lagi sosok hitam tersebut membuat kejutan.


"AAAA!" teriak anak-anak histeris ketika tiba-tiba saja batu yang mereka pijak bagaikan lift yang lepas kendali.


Batu itu turun dengan cepat bahkan membuat beberapa diantara mereka langsung jatuh di atas lantai batu.


Anak-anak yang mampu untuk bertahan, segera memegangi kawan-kawan mereka yang hampir saja terlempar dari batu karena hal tak terduga itu.


Mata semua anak terpejam karena tak sanggup melihat kengerian yang akan mereka hadapi saat membuka mata. Hingga tiba-tiba, BRUKK!!


"Argh!" erang para remaja tersebut saat tubuh mereka menghantam dengan kuat permukaan yang keras.


Perlahan, mata mereka terbuka. Namun, saat mereka membuka mata, sosok hitam menyeramkan itu hilang dari pandangan.


Gibson yang jatuh dalam posisi tengkurap, perlahan bangun meski dadanya terasa sakit karena menghantam lantai batu tempatnya berjongkok tadi.


"Kalian tak apa?" tanyanya seraya mengelus dadanya dengan kening berkerut.


"Gibson! Sepertinya Vadim patah tulang! Lihat pergelangan tangannya seperti berbalik arah!" seru Rangga yang membuat semua anak melotot seketika.


Vadim mengerang kesakitan hingga ia menangis. Azumi memegang pergelangan tangan Vadim yang terlihat bengkak dan seperti terkilir.


"Oh! Ramuan dari Oag!" seru Timo mengingatkan.


Azumi dengan sigap mengambil ramuan itu dari dalam tas Vadim. Sebuah botol dengan isi cairan bening dan terdapat bunga-bunga di dalam seperti herbarium. Ada juga yang berisi seperti tanaman, akar, bulu, dan lainnya.



Azumi segera meminumkan seteguk dari ramuan itu kepada Vadim lalu menutupnya kembali.


Semua anak menatap remaja gemuk itu saksama karena menangis terisak seraya memegangi tangannya yang sakit.


Sedang yang lain, terlihat waspada dengan sekitar karena mereka masih berada di tempat menyeramkan dan semua terlihat redup.


"Oh, lihat! Sepertinya, ramuan ini mirip dengan khasiat permen saat itu!" ujar Laika dengan senyum terkembang saat napas Vadim mulai tenang dan tak menangis lagi.


"Bagaimana? Merasa lebih baik?" tanya Czar karena kawannya itu tergeletak dengan keringat bercucuran di atas lantai batu.


"Emph, ya. Aku rasa ramuan itu sangat mujarab. Namun, orang dengan pakaian hitam itu sungguh gila. Hampir saja kita jatuh dan terlempar. Dia kejam," gerutu Vadim kesal hingga wajahnya memerah.

__ADS_1


"Ya, aku rasa dia memang keterlaluan. Ayo, kita sebaiknya mencari tempat aman. Entah kenapa, suasana di tempat ini sangat berbeda dan membuatku tak nyaman," ucap Nicolas seraya membantu Vadim berdiri.


Semua anak tetap merapat meski mata mereka memindai sekitar. Saat Gibson mengajak kawan-kawannya untuk berjalan menuju ke wilayah yang terlihat sedikit menjanjikan, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kuda seperti berlari.


Praktis, anak-anak itu kembali dibuat tegang dengan mata terfokus pada pergerakan dari balik kabut hitam di kejauhan.


"Apa lagi sekarang?" tanya Harun was-was.


Seketika, mata anak-anak melebar saat melihat sebuah kereta dengan warna hitam berikut kuda yang menariknya tampak menyeramkan karena seperti tengkorak.


Kuda hitam dan kereta beroda itu berhenti di dekat kumpulan para remaja yang menjaga jarak dengan kemunculannya.



Ketakutan semakin melanda saat tak terlihat siapa orang yang mengemudikan kereta itu. Namun, lagi-lagi, keanehan muncul saat pintu kereta kuda itu terbuka dengan sendirinya.


"Jangan bilang kita suruh masuk ke sana," tebak Jubaedah yang sudah berkeringat dingin seraya memegang lengan Rex erat.


"Sepertinya begitu. Sudah, jangan banyak tingkah. Kita harus bergegas dan selesaikan misi ini. Aku tak ingin tinggal di tempat ini berlama-lama," ucap Boas tampak tertekan meski berusaha tegar.


Gibson mengangguk setuju dan melangkah lebih dulu mendekati kereta itu. Pemuda itu melihat kereta hitam tersebut dengan saksama di mana memang tak terlihat satu manusia pun atau makhluk Mitologi dalam kereta.


Nicolas memberanikan diri untuk masuk lebih dahulu dan disusul dengan Mandarin, Harun, Bara, dan Rangga.


Gibson memilih untuk duduk di depan bersama dengan Lazarus karena mereka penasaran ke mana kereta kuda tersebut akan membawa kumpulan para remaja itu.


Siapa sangka, ketujuh belas anak-anak dari Bumi itu muat dalam kereta kuda. Gibson tak melihat tali untuk mengemudikan kuda tersebut, tapi sepertinya hewan berkaki empat itu tahu ke mana harus pergi.


Kuda hitam itu segera melangkah dan berlari kecil meninggalkan wilayah tak dikenal. Anak-anak yang duduk bersebelahan di dalam kereta melongok ke luar jendela untuk mencari tahu.


Saat anak-anak itu masih mencoba untuk menenangkan hati yang berkecamuk karena rasa takut yang luar bisa mengingat misi level 7 terasa begitu sulit dan berbeda dengan level-level sebelumnya, mereka kembali di hadapi dengan pemandangan horor saat kereta kuda melewati jembatan sungai lava.



"Ya ampun. Bapak, kalau Bara punya salah, Bara minta maaf. Bara kayaknya bakal dicemplungin ke api neraka ini, Pak," ucap Bara ketakutan hingga tubuhnya gemetar.


"Bara jangan bilang gitu! Juby panik nih jadi mau pipis," keluhnya ikut gelisah sampai kedua kakinya bergoyang.


"Aku tak yakin bisa lolos dan selamat kali ini. Tempat ini sudah membuatku merinding," ucap Ryan pesimis. Ia memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana.

__ADS_1


"Aku tahu jika ini terlihat sangat mengerikan, tapi bukankah kita selalu bisa melewatinya? Kita berulang kali diuji dalam permainan ini baik mental atau pun fisik. Ini masih level 7 dan masih ada 3 level lagi yang harus kita selesaikan. Jangan menyerah!" seru Kenta memberikan semangat.


"Sayangnya, apa yang kulihat dan kurasakan di level ini sangat berbeda, Kenta. Tempat ini bagaikan neraka. Makhluk-makhluknya, dan juga wilayahnya. Semuanya api, lava, panas, gersang, dan tak terlihat tumbuhan hijau atau air jernih mengalir untuk melepas dahaga. Aku patah semangat," sahut Mandarin lesu.


Semua anak terdiam dan beberapa menangis karena tak sanggup membendung rasa takut luar biasa dalam diri.


Sedang Lazarus dan Gibson, terlihat serius meski wajah mereka pucat saat duduk di depan.


"Aku berusaha tegar, tapi ... entahlah, Gibson. Aku hanya bisa berharap kita tak tewas di level ini. Tinggal sedikit lagi," ucap Lazarus mencoba untuk tetap tegar meski nyatanya tidak demikian.


"Diantara kita harus ada yang lolos, Zar. Harus ada yang kembali ke Bumi dan memberitahukan kepada keluarga serta orang tua kawan-kawan kita yang tiada," tegas Gibson menatap pemuda asal Inggris itu lekat.


Lazarus mengangguk dan mengulurkan tangan seperti mengajak berjabat. Gibson menatap tangan itu dan menyambut ajakan tersebut.


"Aku sangat berharap, kita semua bisa bertemu di Bumi dan berkumpul bersama keluarga masing-masing," ucap Lazarus dengan senyum tipis.


Gibson mengangguk dan semakin kuat menjabat tangan Lazarus. Saat hati dua pemuda itu mulai bangkit dari keterpurukan, kereta kuda tersebut berhenti di sebuah gerbang batu dengan sungai lava di sekitarnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Rex penasaran seraya melongok keluar.


"Sepertinya begitu. Ayo turun," jawab Gibson yang diikuti oleh anak-anak lain.


Mereka berdiri di sebuah pintu gerbang yang menjulang tinggi layaknya untuk para raksasa. Gibson memberanikan diri mendorong pintu batu itu dan terbuka.


Semua anak tampak tegang dan pucat saat melihat di dalam gerbang itu terdapat reruntuhan bangunan seperti sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.


Namun setidaknya, tempat itu lebih manusiawi dari pada di luar meski berantakan.


"Ayo!" ajak Gibson dan diangguki semua anak yang mengikutinya dari belakang memasuki Gerbang Hades.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



uhuy tengkiyuw tipsnya diriku. lele padamu😘 jangan lupa like dan play audio book rekaman lele ya biar dapet bonus eps kalau target koin mencukupi. tengkiyuw💋 vote vocer sebelum hangus❤️

__ADS_1


__ADS_2