
Mereka bicara dalam bahasa Mitologi. Terjemahan.
Timo mematung dan terlihat tegang karena makhluk seperti rusa itu muncul. Timo yang tahu jika hewan tersebut dapat berubah wujud menjadi sosok menyeramkan dengan lengkingan menyakiti telinga mulai waspada. Makhluk bercahaya itu menatap pemuda asal Filipina tersebut dengan sorot mata tajam di kejauhan. Timo melirik ke arah Ryan, dan sosok Tuan Pohon itu tampak siap jika makhluk tersebut melakukan serangan.
Diam-diam, akar dari tangan Ryan bergerak dengan masuk ke dalam tanah ke tempat kawan-kawannya tertidur. Ryan sebenarnya tak ingin membangunkan mereka. Namun, mengingat rusa tersebut salah satu buruan dan sosoknya muncul entah apa yang membuatnya menampakkan diri, Ryan terpaksa mengusik waktu istirahat teman-temannya lagi.
"Emph," keluh Vadim saat Ryan mencoba membangunkannya dengan akar dari jari-jari tangan kayunya.
Namun, Vadim yang mengantuk kembali pulas. Ryan bergerak ke arah kawannya yang lain di mana ia yakin jika pemuda itu pasti akan terbangun.
"Hempf, eh?" kejut Lazarus seraya membuka mata saat melihat pergelangan tangannya terlilit akar. Lazarus menoleh dan menatap Ryan yang meliriknya.
"Jangan bergerak tiba-tiba. Rusa berkilau itu datang lagi dan kini sedang mengawasi kita. Namun, Timo berada di bawah dan makhluk itu seperti mengincarnya," ucap Ryan pelan, tapi membuat Lazarus langsung membuka mata.
Lazarus segera bangun dengan mata masih berwarna merah karena tak tuntas dalam tidur. Lazarus merangkak mendatangi Ryan yang duduk di tepi tebing. Pemuda asal Inggris tersebut ikut mengintip. Ia terkejut saat melihat Timo dipandangi dengan saksama oleh rusa berkilau dari kejauhan.
"Kenapa rusa itu diam saja?" tanya Lazarus heran.
"Entahlah. Mungkin ... dia sedang memastikan Timo ancaman atau bukan. Namun, tampaknya rusa ini berbeda dari yang sebelumnya. Dia berukuran sedikit besar dan ada tanduk di dahinya. Mungkin ... jenis pejantan? Sekilas mirip seperti tanduk Unicorn Azumi," bisik Ryan. Lazarus mengangguk paham.
Saat Lazarus dan Ryan mengawasi dari kejauhan, tiba-tiba Timo melangkah. Praktis, pergerakannya itu membuat rusa tersebut terkejut. Hewan itu mulai melakukan gerakan yang menunjukkan dirinya tak nyaman dengan gerak-gerik Timo. Ryan terlihat panik dari tempatnya duduk begitupula Lazarus.
Namun, Timo seakan tak peduli. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, Timo terus melangkah dan sesekali melirik ke arah rusa tersebut. Timo terus berjalan ke arah tebing tempat Ryan berada. Dan, benar saja ....
"Timo! Awas!" seru Lazarus dari atas tebing ketika melihat rusa bercahaya itu berlari kencang ke arah Timo seperti ingin menyerangnya.
Mata Timo melebar seketika. Ia berlari kencang dengan susah payah karena berulang kali terpeleset dan membuat tubuhnya kotor. Rusa itu mendatangi Timo dengan cepat seperti siap menyeruduknya dengan tanduk runcing di dahi.
"Timo!" seru Ryan yang dengan sigap melompat turun dengan sosok Tuan Pohon.
Kakinya berubah menjadi akar besar yang mencengkeram kuat tanah berlumpur sebagai pijakannya. Dua tangannya terjulur ke depan dan terus memanjang bagaikan sulur untuk menangkap Timo.
"Dia datang! Dia datang!" seru Lazarus panik yang melongok dari tepi tebing.
Teriakannya ternyata didengar oleh kawan-kawan lain. Para remaja itu bangun dan terkejut saat melihat Lazarus terus berteriak terlihat panik.
"Ada apa?" tanya Mandarin bergegas mendatangi Lazarus.
"Itu! Lihat!" seru Lazarus menunjuk ke arah kolam lumpur.
__ADS_1
Praktis, mata semua anak yang berada di atas tebing melotot seketika saat menyaksikan rusa yang memiliki tanduk layaknya unicorn, siap menusuk tubuh bagian belakang Timo.
"Heyahhh!"
GRAB!!
"Bagus, Ryan!" seru Rex senang saat melihat tangan kayu Ryan menangkap tubuh Timo dan mengangkatnya ke atas.
"HARGHHH!" raung Ryan mengusir rusa bercahaya itu dari hadapannya. Timo pucat dan berpegangan kuat pada tangan Ryan yang mengangkatnya ke atas.
"Timo!" panggil Czar yang dengan sigap berubah menjadi Griffin dan terbang menukik turun ke arahnya.
Ryan yang tahu jika Timo dijemput oleh Czar segera merenggangkan cengkeraman. Timo ditangkap oleh cakar elang Czar dan dibawa terbang kembali ke atas bukit.
"Hah, hah," engah Timo saat dua kakinya sudah memijak tanah lagi. Timo segera didatangi oleh anak-anak yang mencemaskan keadaannya.
"Kau tak apa?" tanya Rex panik seraya memeriksa seluruh tubuh kawannya itu.
"Ya, ya. Hah, hampir saja. Namun, aku berhasil. Aku sudah mendapatkan darah dua jenis makhluk itu," jawabnya dengan napas tersengal dan langsung duduk di atas tanah.
"Maksudmu?" tanya Harun bingung.
"Ah, untung saja kau terpikirkan hal itu, Timo. Kau pintar!" puji Rangga, dan Timo hanya tersenyum sebagai jawaban.
Namun, Ryan kini harus berhadapan dengan rusa bercahaya yang merasa sosok Tuan Pohon adalah ancaman baginya. Czar kembali terbang turun untuk ikut melindungi sahabatnya jikalau rusa tersebut menyerangnya. Rusa itu melakukan gerakan aneh, tapi bukan berubah wujud seperti yang terjadi pada dua rusa sebelumnya ketika diserang. Czar dan Ryan masih bertahan dengan posisi mereka tak melakukan gerakan menyerang. Saat tiga makhluk itu saling bertatapan tajam, lagi-lagi ....
"Rrrrr ... ak, ak!"
"Oh! Apa itu?" tanya Boas langsung menoleh ke sisi lain dari tebing karena suara tersebut terdengar cukup nyaring.
Anak-anak yang sudah terbangun langsung menyebar di tiap sudut atas tebing untuk mencari tahu. Vadim dan Kenta yang tertidur pulas, seperti tak terusik dengan keadaan di sekitar mereka. Mata para remaja itu menajam untuk mencari pergerakan di bawah tebing. Mereka ingin memastikan, hewan yang mengeluarkan suara aneh itu bukan ancaman.
"Lihat! Ada makhluk aneh lainnya di lumpur kering sebelah sana!" seru Nicolas yang berubah menjadi Elf agar penglihatannya lebih fokus.
"Hewan apa lagi itu? Buset dah!" pekik Bara langsung melotot.
"Oh, oh!" pekik Timo yang membuat semua anak kembali menatapnya.
"Ada apa?" tanya Harun menatap Timo lekat.
__ADS_1
"Itu hewan yang masuk dalam buruan terakhir kita! Aku ingat ekornya yang seperti tikus dan corak warnanya!" jawab Timo seraya menunjuk.
"Benarkah? Jujur, Bara gak ingat sama sekali dengan wujud makhluk-makhluk itu. Soalnya, pas tampilan muncul, Bara kebelet pipis," jawabnya lugu.
Semua anak berkerut kening, tapi beberapa dari mereka sependapat dengan Timo.
"Bagaimana jika dipastikan dengan cermin ajaib?" saran Lazarus.
Anak-anak lain mengangguk setuju. Timo bergegas mendatangi tas Kenta dan mengambil cermin itu perlahan agar tak membangunkannya. Timo berhasil membawa cermin itu untuk ditunjukkan kepada teman-temannya.
"Cermin ajaib. Tunjukkan pada kami empat makhluk yang harus diambil darahnya dari misi level 9 permainan Maniac," pinta Timo seraya menatap wajahnya yang terpantul di cermin itu.
Seketika, tampilan makhluk-makhluk yang harus mereka buru muncul. Semua anak menatap wujud hewan-hewan itu saksama hingga gambar terakhir.
"Oh! Kau benar, Timo! Wah, daya ingatmu sungguh luar biasa!" seru Mandarin memuji karena ternyata, pengamatan Timo tepat.
Tak lama, tampilan dari cermin itu padam. Anak-anak merasa beruntung, karena cermin matre itu tak meminta imbalan atas informasinya. Timo mengembalikan cermin itu ke dalam tas dengan hati-hati di mana Kenta masih tertidur pulas.
"Ini kesempatan bagus. Bagaimana jika kita bagi menjadi dua tim?" saran Rex.
Semua anak saling memandang dan pada akhirnya mengangguk. Timo yang merasa wujudnya tak berguna dalam peperangan kali ini, memilih untuk menjadi pengambil darah jika dua tim tersebut berhasil menangkap makhluk tersebut. Anak-anak terlihat bersemangat karena dua makhluk ini adalah yang terakhir untuk menuntaskan misi. Rex segera berubah wujud menjadi naga.
Anak-anak yang ikut dalam timnya untuk melawan makhluk berbulu cokelat itu segera menaiki punggung naga Rex. Tentu saja, makhluk jenis baru itu tampak terkejut saat melihat kedatangan segerombolan makhluk jenis lain sedang berdiri dihadapannya.
"Semuanya, berubah!" seru Rex lantang.
Seketika, Harun, Mandarin, Lazarus, dan Boas, berubah menjadi sosok Mitologi. Posisi mereka berada di balik tebing di wilayah Selatan di mana Czar, Ryan, Bara, Rangga, dan Nicolas berada di sisi Utara. Dua kelompok itu terhalang dinding batu besar di mana Kenta, Timo dan Vadim berada di atasnya. Timo yang panik mencoba membangunkan Vadim agar ikut mengawasi ketika dua kelompok harus bertarung melawan dua jenis makhluk untuk memenangkan misi.
"Dasar tukang tidur! Vadim, bangun! Jika tidak, kau akan kukencingii!" pekik Timo kesal karena ia sudah mencoba segala cara membangunkan Vadim, tapi remaja gendut itu begitu nyenyak bahkan mendengkur.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Otw tamat nih🥳 Yg nunggu update King D harap bersabar ya. Lalu, bantu like, komen, dan favoritkan Ghost Writer biar kontraknya segera acc. Supaya lele nanti prepare crazy up buat tamatin novel itu bulan ini juga. PR lele banyak uyy, adeh😩 tengkiyuw atas dukungannya selama ini. lele padamu❤️
__ADS_1