
Di sisi lain tempat Daniel Mandarin yang kini berkawan dengan Azumi.
Langit sudah berubah warna dan cahaya terang di langit mulai meredup. Mereka sudah berjalan cukup jauh hingga keluar dari hutan dan kini sedang menyeberangi padang savana yang luas.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Mandarin, aku lapar," ucap Azumi lemas dengan jalan mulai berbelok-belok.
Mandarin menatap gadis berambut hitam itu iba. Seharian mereka berjalan, tapi belum menemukan pemukiman atau kawasan yang memiliki banyak makanan. Hingga tiba-tiba ....
"Hoorggg!"
"Oh!" pekik Azumi seraya membungkuk saat melihat seekor naga melintas di atas mereka dari balik gunung di kejauhan.
Mandarin dan Azumi saling bertatapan dengan mata terbelalak lebar.
"Huwaaa!" teriak mereka panik dan langsung berlari menghindar dengan cepat.
"Run! Pergi ke hutan di bawah bukit itu!" teriak Mandarin lantang seraya menunjuk sambil berlari. Naga itu terus mengaum dan terbang berputar di atas padang savana.
WUZZ!
BRUKK!!
"Argh!"
"Azumi!" teriak Mandarin lantang karena gadis cantik itu jatuh tersungkur di atas rumput karena naga tersebut berusaha menangkapnya dengan cengkeraman kuku tajamnya.
"Argghh!" erang Mandarin yang kembali menghunuskan pedangnya untuk melindungi Azumi dari serangan naga tersebut.
Mandarin berlari mendatangi Azumi yang mengalami lecet di salah satu sikunya karena jatuh cukup keras.
"Horghhh!"
Mata Mandarin dan Azumi kembali melebar dengan jantung berdebar kencang saat naga itu mendarat di atas rumput dan kini mengerang dengan tubuh membungkuk, matanya membidik dua mangsanya yang berada tepat di hadapannya.
"Oh! Berubahlah! Berikan pedangmu!" pinta Azumi seraya memegang tangan Mandarin kuat dan menggoyangkannya.
Mandarin menatap Azumi yang terlihat yakin dengan permintaannya. Pemuda itu memberikan pedangnya kepada gadis cantik itu.
Dengan sigap, Azumi bersiap dengan kuda-kudanya. Mandarin segera membuka plastik yang menyimpan taring Ogre.
Seketika, "Harghhh!" balasnya mengaum meski perbandingan ukuran tubuh mereka sangat jauh berbeda.
Saat mereka sedang terdesak, tiba-tiba, BRUG!
Praktis, pandangan Azumi dan Mandarin beralih hingga tubuh mereka berputar setengah lingkaran karena suara kencang di belakang tubuh mereka.
"Oh! Oh!" kejut Azumi langsung ketakutan dan melangkah mundur dengan cepat, saat melihat seekor naga lain muncul dengan seekor kuda dalam genggaman cakarnya.
Tubuh Azumi gemetaran. Mandarin melihat Azumi kebingungan dalam memilih lawan.
__ADS_1
"Rooaarrr!" erang naga yang kini melangkah perlahan memutari Azumi dan Mandarin di mana keduanya berada di tengah-tengah dua hewan besar itu.
Namun, sebuah keanehan terjadi. Dua naga itu mengepakkan sayap hingga membuat tubuh Azumi seperti akan terhempas karena angin kencang yang ditimbulkan.
Dengan sigap, tangan Ogre Mandarin memegangi tubuh Azumi. Mandarin berlari membawa Azumi menjauh di mana ia memiliki firasat jika dua naga itu tak bermaksud untuk menyerang mereka. Benar saja ....
"Harrghhh!!"
Mandarin berhasil membawa Azumi dalam genggamannya menuju ke hutan di bawah kaki bukit saat dua naga itu terbang melayang saling berhadapan seperti saling berkomunikasi.
Mandarin mendekap tubuh ramping Azumi dalam sosok Ogre di balik rimbunan pepohonan yang menyamarkan tubuh keduanya.
"Rooghhh!"
Mandarin menurunkan Azumi perlahan dan ia kembali merubah wujudnya menjadi manusia. Dua anak manusia itu mengintip di balik semak untuk melihat apa yang terjadi.
Seketika, mata dua orang itu melebar. Ternyata, dua naga itu sedang melakukan ritual semacam perkawinan.
Dua insan tersebut malah melongo dan terpaku saat melihat dua naga berbeda warna tersebut saling bersinggungan, terus mengepakkan sayap, dan merobek daging kuda itu menjadi dua bagian untuk dimakan bersama.
"Oh! Kanibal," ucap Azumi memalingkan wajah, tapi Mandarin malah terlihat kagum.
Dua remaja itu malah terlihat asyik menonton hingga tak menyadari jika sinar terang cahaya matahari mulai meredup dan kini kegelapan datang menyelimuti perlahan di sekitar kawasan itu.
Dua naga itu terbang berdampingan meninggalkan wilayah kawin mereka.
Mandarin ikut terkejut. Keduanya berdiri perlahan dan tanpa sadar bergandengan tangan karena keindahan hutan di malam gelap.
"Haruskah kita masuk dan menyusurinya?" tanya Azumi terlihat takut, tapi penasaran.
"Ya. Siapa tahu di dalam hutan kita bisa mendapatkan makanan dan air, atau ... tempat untuk beristirahat," jawabnya.
Azumi mengangguk. Mandarin menyiagakan pedang dalam genggaman tangan kanan dan tangan kiri masih menggandeng Azumi.
Terlihat, gadis cantik itu seperti tak keberatan dengan perlakuan manis Mandarin yang bermaksud untuk melindunginya.
Rasa lelah dan takut yang tadi membebani dua remaja itu seakan sirna saat mereka memasuki hutan bercahaya itu semakin dalam.
Kaki keduanya terus melangkah seraya melihat sekitar di mana hutan itu tampak begitu romantis dengan cahaya lembut menenangkan hati.
"Oh, Azumi! Aku mendengar suara air! Seperti ... sungai!" ucap Mandarin menghentikan langkah seketika seraya menahan tangan Azumi dalam genggamannya.
Gadis itu diam sejenak untuk ikut mendengarkan dengan saksama. Kembali, keduanya saling memandang dengan senyum terkembang.
Azumi dan Mandarin berlari kencang menuju ke arah suara gemercik air yang terdengar dekat dengan tempat mereka berada.
Keduanya menerobos semak dengan bunga bercahaya kuning sebagai penerang mereka di kegelapan malam.
"Mandarin! Kau benar!" pekik Azumi riang saat mendapati aliran sungai di hadapan mereka yang terlihat begitu jernih dan menyegarkan.
__ADS_1
Mandarin melangkah lebih dahulu mendekati tepian. Ia meminta Azumi agar jangan terburu-buru mengingat banyak makhluk aneh berkeliaran di tempat yang tak mereka kenal.
Azumi ikut waspada dengan berdiri di belakang Mandarin menjaganya. Mandarin melongok ke dalam sungai yang terlihat dasarnya karena air tersebut sangat jernih.
Bahkan ada beberapa ikan dengan bentuk aneh berenang dengan sangat cepat seperti sedang balapan di arus.
Mandarin memberikan pedangnya kepada Azumi. Gadis itu segera menerimanya dan ia gunakan untuk melindungi keduanya.
Mandarin mencuci tangannya terlebih dahulu karena merasa jika kedua tangannya kotor. Ia lalu menelengkupkan kedua tangannya yang dijadikan seperti mangkuk untuk menampung air.
Azumi melihat Mandarin meminum air itu secara perlahan. Mandarin diam sejenak lalu kembali mengambil air dan meminumnya lagi.
"Bagaimana?" tanya Azumi menatap Mandarin lekat.
"Rasanya sedikit aneh, tapi ... segar," jawabnya masih berjongkok.
"Aneh? Beracun? Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Azumi cemas. Mandarin menggeleng.
"Aku rasa tak apa. Kemarilah. Kau harus minum," pinta Mandarin.
Azumi berjongkok perlahan seraya memegang punggung tangan Mandarin yang menjadikan kedua tangannya sebagai wadah untuk memberikannya minum.
Azumi terlihat sungkan, tapi merasa tak enak hati karena kebaikan pria yang baru dikenalnya itu.
"Bagaimana? Ada sedikit rasa seperti ... buah apa ya ...," ucap Mandarin menggantung terlihat berpikir.
"Ya, kau benar. Seperti rasa buah," jawab Azumi seraya mengecap.
Azumi meletakkan pedangnya di atas rumput. Ia membasuh kedua telapak tangannya seraya membersihkan lukanya. Ia lalu mengambil air dengan kedua tangannya.
Mandarin menatap Azumi saksama yang terlihat begitu cantik di tengah hutan antah berantah.
"Oh! Rasanya seperti melon!" serunya dengan senyum terkembang.
"Ah, ya, kau benar. Rasanya seperti melon," sahut Mandarin sependapat.
Dua orang itu kembali minum memuaskan dahaga mereka. Keduanya juga baru menyadari jika air tersebut membuat perut mereka kenyang. Keduanya terlihat senang dan berpikir untuk bermalam di sekitar tempat itu.
"Bagaimana jika kita tidur di atas pohon saja?" tawar Azumi, tapi membuat Mandarin melebarkan mata.
"Ti-tidur di atas pohon? Seperti monyet?" tanyanya yang malah membuat Azumi terkekeh.
Azumi melihat sekitar dan menunjuk sebuah pohon yang memiliki dahan besar dan melengkung, terlihat aman dan nyaman untuk dijadikan tempat bermalam. Mandarin menelan ludah, tapi ia mengangguk setuju meski senyumnya terpaksa.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy tengkiyuw tipsnya❤️adeh lele mau rehat. badan remek😩
__ADS_1